Trail LOVE

Trail LOVE
87. Aku mencintaimu part 2


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu, Semua sudah kembali ke jakarta. Mereka pun sudah kembali ke rutinitasnya masing-masing. Bahkan Rico dan istrinya juga sudah kembali ke Paris.


Selama sebulan itupun hubungan Thalita dan Ibu tirinya sedikit renggang. Sejak kejadian malam itu di Resort sikap Thalita kepada Ibu tirinya berubah. Bayu sudah meminta Vina untuk minta maaf kepada Thalita namun dia menolak. Pikirnya tidak ada seorang Ibu yang memohon maaf kepada anaknya, sementara pemikiran Bayu berkata lain, yang salahlah yang harus minta maaf tidak perduli apa posisinya. Karna keduanya keras kepala, Bayu mengalah untuk tidak memaksa keduanya untuk berbaikan dan berharap waktu yang akan mengubah keadaan seperti semula. Sementara Thalita hanya bisa mengunjungi Ayahnya dikantor.


****


"Thalita lama bener deh..."


"Bentar lagi palingan.."


Seperti biasa dikantin kampus sudah ada Safira dan Winda yang sedang menikmati Bakso nya menunggu Thalita yang masih berhadapan dengan dosen.


"Wuihhh makan enak nih.. mau dong" ucap Revan yang baru saja datang langsung menyambar mangkuk Baso milik Safira.


"Ngga!! pesen sendiri sana" Safira menepis tangan Revan yang hendak meminta Bakso nya.


"Pelit lo ahh.."


"Bodo!"


Revan melirik ke arah Winda yang juga srdang memakn Bakso, Revan mendekati Winda dan membuka mulutnya lebar-lebar.


"Win, Aaa..."


"hemm... nihh" Winda menyuapi Revan, belum juga sampai dimulut Revan Thalita sudah menyambar sendok itu lalu memasukkannya kedalam mulutnya.


"eitss... ammm nyam nyam.."


"Thal..!! ahh parahh lo, gw udah mangap mangap juga"


"kelamaan si lo mangap nya, hahhaa.... bu mau es jeruk yaa"


"Lo lama banget Thal, ngapain aja" tanya Winda


"Gila ya itu Dosen baru killer abisss... gw disuruh ngejar materi yang ketinggalan kemaren. Mumet otak gw.." keluh Thalita


Tak lama Ibu kantin membawakan es jeruk pesanan Thalita. Dengan cepat Thalita menyeruput habis es jeruknya itu. Tenggorokannya merasa segar setelah meminum es jeruk itu, seperti mendapat amunisi Thalita kembali bersemangat lelahnya pun langsung hilang.


"Ehh katanya Dosen baru ganteng.. emang iya??" pertanyaan Winda membuat dia mendapatkan tatapan tajam dari Revan.


"Emang kenapa kalo ganteng? Mau ngapain emang?" tanya Revan dengan nada tidak senang


"Yaa kenalan lahh lo gimana si.. siapa tau bisa jadiin pacar ya ngga Win?" ucap Safira


"emm... bisa bisa hahaha" sambung Winda membuat Revan semakin kesal.


"Lagian lo kenapa si sewot aja.. kaya lo pacarnya aja?"


"Hahh!!! serah lo pada deh.."


"Dihh ngambek, ehh mo kemana lo?? yaa dia ngambek.."

__ADS_1


"Gw kok ngerasa Revan jealous gitu ya Win, lo ngga ada apa-apa kan sama dia"


"eeng.. ngga ada apa-apa"


"Apa jangan-jangan dia suka sama lo Win?"


"uhuk..uhuk... Apaan sih.. orang dia juga ngga ngomong apa-apa. Selagi dia diem yaa gw mah biasa aja"


"Yahh... Kenan ngga jadi jemput nih, kalian mo kemana? nongki yuk.."


"Emm...sorry hari ini gw ngga bisa, gw mau jemput nyokap dibandara"


"kalo lo Fir?"


"Jangan hari ini dehh... badan gw lagi lemes banget, kayanya mau dateng bulan nih"


"hemm... yaudah deh, gw kekantor laki gw aja"


"Bareng aja, kita juga mo balik"


"Anterin yaa..hehhee..."


"iyaa..."


"Asekkk.... thank you mmuachhh"


"isshhh...geli gw"


***


Seorang Pria tampan yang sedang sibuk dimeja kerjanya itu mendelik tajam kearah pintu. Hanya matanya saja yang bergerak kearah itu.


Ia menghela nafasnya dan menghentikan aktifitasnya saat melihat seorang wnaita bertubuh langsing menerobos masuk diikuti oleh sekertarisnya.


"Maaf Pak, Saya sudah melarang Nona Disya untuk masuk tapi Dia memaksa" ucap Sekertaris Kenan dengan gugup sambil sedikit membungkukkan badannya.


"Aku rasa kau sudah mulai bosan bekerja denganku, haruskah aku memecatmu"


"Ma-maaflan Saya Pak, Saya sudah melarangnya tapi.." ucapannya terhenti saat melihat Bos nya mengibaskan telapak tangannya pertanda memintanya keluar.


"Ba-baik Pak, permisi" Sekertaris itupun berjalan mundur beberpaa langkah kemudian berbalik dan melangkah keluar dari ruangan Presdirnya yang menyeramkan itu.


"Mau apa kau kemari?"


"Ken..tolonglah.. beri aku kesempatan untuk mengembalikan semuanya"


Kenan berdiri dari kursi kejayaannya dan berjalan menghadap kaca jendela lalu membukanya dan memandangi pencakar langit yang terlihat.


"Daripada susah payah untuk mengembalikannya, lebih baik kau buang saja karna aku tidak sudi menerimanya"


Mendengar suara dingin itu, Disya berlari mendekap Kenan yang membelakanginya. Ia peluk laki-laki itu dari belakang lalu mulai menitikkan air matanya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Ken..beri aku kesempatan. Aku mohon..hiks..."


"Lepaskan"


"Tidak..aku tidak akan melepaskanmu. Aku sangat mencintaimu Ken, aku merindukan mu..."


"SUDAH KUBILANG LEPASKAN !!!"


Suara Kenan yang menggelegar tak juga membuat Disya melepaskan tangannya. Ia justru semakin mengeratkan pelukannya.


"aaaakkkhhhh" Disya berteriak kesakitan, membuat Kenan terkejut dan menoleh kebelakang.


Saat Kenan berbalik badan ia semakin terkejut dengan kehadiran wanita lain yang sedang menarik rambut Disya.


"Thalita..." lirihnya dengan mata yang membulat sempurna.


Thalita datang bersamaan dengan sekertarisnya yang keluar. Ia pun bertanya kepada Sekertarisnya karna ia keluar dengan wajah yang tegang.


Sekertarisnya pun memberitahukan apa yang terjafi, Thalita membuka pintu ruangan Kenan secara perlahan, mengintipnya dari celah pintu yang ia buka sedikit dan menyaksikan apa yang dilakukan Disya.


Awalnya Thalita diam, ia ingin melihat bagaimana sikap Kenan kepada wanita itu. Namun lama kelamaan Thalita geram dan hilang kesabaran saat melihat Disya memeluknya dan Kenan meminta melepasnya namu Disya semakin erat memeluknya. Yang lebih geram lagi kenapa Kenan tidak bergerak untuk melepaskan tangan Disya, ia hanya berteriak dan berteriak.


Thalita masuk lalu menarik rambut Disya hingga ia melapaskan tangannya yang melingkar di perut suaminya itu.


Setelah tangan Disya terlepas, Thalita pun melepaskan tangannya yang menarik rambut Disya.


"KAMU !!!!!!" teriak Disya sambil mengarahkan jari telunjuknya kewajah Thalita dengan mata yang melotot.


"APA???? Mending lo pergi deh.. apa perlu gw jambak rambut lo kaya tadi sambil gw seret keluar dari sini??" jawab Thalita yang wajahnya tak kalah menyeramkan.


Disya pun keluar dengan emosi yang berkobar. Sedangkan Kenan hanya menganga menyaksikan kedua wanita itu.


"Ehh.. ngapain bengong" tanya Thalita yang melihat suaminya diam seperti patung.


"Eh..emm.. ehem... kenapa tidak bilang mau kesini?"


"Kenapa?? Ohh...kamu ngga mau aku liat adegan mesra-mesraan kamu ya..?"


"Mesra-mesraan apa?" Ngga ada yang mesra-mesraan"


"Hahh!!! jadi pelukan tadi itu ngga mesra maksudmu?"


"Hem..kalau mesra tuh seperti ini.."


Kenan mendekati Thalita lalu melingkarkan tangan Thalita di pinggangnya setelah itu mendekapnya sehingga terlihat sedang berpelukan. Kenan menghujani wajahnya dengan ciuman ciuman kecil lalu menenggelamkan wajah Thalita di dadanya serta memberi kecupan di pucuk kepalanya.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.. hanya kamu wanita satu-satunya dalam hatiku dan dalam hidupku"


Ucapan Kenan terdengar begitu lembut ditelinganya. Hatinya seakan menari-nari karna bahagia yang amat sangat.


Thalita mendongakkan kepalanya, memandangi wajah Kenan seolah mencari ketulusan disana. jari jemarinya menelusuri setiap inci wajah Kenan. Kenan tersenyum menatap istrinya dengan penuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2