
"Kok.. mendadak perasaan gw ngga enak gini yaa.." ucap Thalita dalam hati
Ada perasaan takut dihati Thalita melihat tatapan Kenan. Tatapan itu seperti ingin membunuh, begitulah Kenan saat sedang marah. Sebenarnya pun Thalita tidak pernah takut kepada siapapun terkecuali Ayahnya. Namun entah kenapa melihat Kenan seperti ini membuatnya takut. Mungkin ia menyadari kesalahannya saat dikampus tadi.
Thalita mengalihkan pandangannya melihat kelukisan yang ada didinding.
"Tau apa kamu tentang lukisan?" ujar Kenan sambil membuka minuman kaleng yang ada ditangannya
"Hah.. ooh..emm.... ini lukisan..." belum sempat Thalita menyelesaikan kalimatnya Kenan langsung memotongnya hingga ia tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.
"Cukup. Aku mengajakmu kesini bukan untuk komentar tentang lukisan itu. Duduk!" tegas Kenan
Thalita pun menghela nafasnya dan menuruti perkataan Kenan, berjalan perlahan menghampiri dan duduk disamping Kenan.
Kenan menunggu Thalita bicara, namun gadis itu malah tidak peka. Dia pun ikut terdiam dan sesekali menggarukkan kepalanya padahal tidak gatal.
"Kenapa diam?" ucap Kenan. Thalita tak menjawab hanya meliriknya.
"Selama diperjalanan kamu banyak ngomong, bahkan sampai disinipun kamu masih banyak ngomong. Kenapa sekarang diam?" sambung Kenan
"Emm... oiya ada makanan ngga?..." tanya Thalita yang berusaha mengalihkan.
"Jelasin apa yang kamu bilang dikampus tadi" tegas Kenan
"Ooh... hemm... tadi itu kita mau ke Cafe udah lama ngga kumpul. Trus Cindy ngatain aku sampah.. malah dia ngatain aku pelacur siapa yang ngga marah coba" ujar Thalita memberikan penjelasan kepada Kenan
"Aku mau kamu jelasin apa yang udah aku dengar" tanya Kenan lagi
"Emm....yang mana yaa..?" Thalita mengalihkan dengan pura-pura lupa sambil memutar bola matanya seperti orang yang sedang berfikir.
"Kamu bilang ngga akan pernah jauhin Revan dan ngga akan pernah nyerahin Revan ke cewe itu" ujar Kenan
__ADS_1
"Ooh.. iya aku ngga mau aja Revan deket sama ulet bulu. Lagian Revannya juga ngga suka sama dia. Dianya aja yang ngejar-ngejar terus" jawab Thalita dengan santainya.
"Kenapa? Kamu ngga rela Revan deket sama cewe lain? Kamu cemburu? Jangan-jangan kamu cinta ya sama dia?" ucap Kenan dengan tatapan mengintimidasi
"Hah..yaa ngga lahh.. kalo aku cinta sama dia ngapain aku sama kamu" dengan santainya Thalita menjawab sambil tersenyum menggoda.
Tatapan Kenan yang mengintimidasi seketika luluh saat melihat Thalita tersenyum manis dihadapannya. Dia pun menjadi sedikit salah tingkah, dan langsung membuang tatapannya. Ia tak ingin terhanyut akan senyuman manis Thalita.
"Karna perjodohan. Iya kan..? Kalau kamu ngga cinta sama dia, ngapain kamu sampe berantem sama cewe itu cuma gara-gara cewe itu deketin Revan" suara Kenan kali ini semakin meninggi.
"Aku berantem sama dia karna dia ngatain aku pelacur..bukan karna Revan" jawab Thalita dengan suara sedikit menekan
"Tapi awalnya karna Revan kan? Sudah kuduga, laki-laki dan perempuan itu ngga bisa berteman. Mustahil diantara kalian ngga ada yang jatuh cinta" ketus Kenan
"Terserah dehh.. yang jelas aku sama Revan itu cuma sahabat, dia temen aku dari kecil, dia yang selalu ada saat aku lagi susah, sedih dan senang. Aku ngga bisa jauhin dia gitu aja" Thalita sedikit meninggikan suaranya karna mulai emosi.
"Hemm... itu karna kamu nyaman kan sama dia sampai kamu ngga rela dia deket sama cewe lain. Gimana kalau dia punya cewe, dia akan jauh dari kamu karna lebih memilih cewe itu. Itu kan yang kamu takutkan?" jelas Kenan
"Kalau kamu ngga rela jauh dari dia, buat apa kamu nerima lamaran aku?" tanya Kenan
"Yaa karna.. kamu Cinta sama aku" jawab Thalita
"Revan juga cinta sama kamu. Oh aku lupa dia belum melamarmu ya? Apa mungkin kalau dia melamarmu akan kamu terima juga?" ujar Kenan
"Mau kamu apa sih?" Kali ini suara Thalita mulai meninggi. Emosinya mulai memuncak
"Justru aku yang tanya sama kamu, mau kamu apa? Kamu udah punya aku tapi masih deket sama cowo lain, bahkan sampe ngga rela kehilangan dia" tegas Kenan
"Ken ngga usah dibesar-besarin dehh..." ucap Thalita yang semakin bingung menanggapi ucapan Kenan
"Aku cuma butuh penjelasan? Kamu rela terluka demi dia, kamu juga ngga rela dia direbut sama cewe lain. Jadi menurut kamu itu masalah kecil? Lalu aku kamu anggap apa?"
__ADS_1
"Udahlah Ken aku capek.. tadi Cindy ngajak ribut sekarang kamu... baru aja aku ngerasain keluar rumah lagi, ngerasain kekampus lagi berharap bahagia malah kaya gini..."
"Aku cuma mau minta penjelasan kamu aja kok kenapa marah"
"Marah??? Daritadi kamu yang marah, aku jelasin juga percuma kamu pasti ngga akan percaya. Semakin aku jelasin semakin kamu mojokin aku"
"Harusnya kamu..." kalimat Kenan terpotong oleh Thalita hingga tak bisa melanjutkannya
"Ken, aku terima lamaran kamu karna aku cinta sama kamu. Aku berharap banyak sama kamu. Aku berharap kamu jadi orang yang paling bisa ngertiin aku, nenangin aku dan bahagiain aku. Tapi dengan kamu kaya gini, aku ngga yakin kamu bisa lakuin itu semua. Maaf kayanya aku salah orang. Permisi..!" ujar Thalita, lalu melenggang pergi.
"Kamu mau kemana?" Kenan menarik lengan Thalita untuk menahannya pergi.
"Sebaiknya aku pergi dan jangan temuin aku lagi..." ucap Thalita dan menepis tangan Kenan dari lengannya
"Mak-maksud kamu?" tanya Kenan
"Aku minta maaf, aku ngga bisa hidup sama orang yang ngga bisa percaya sama aku" Thalita pun melangkah keluar dari kamar Apartemen Kenan.
Kenan terdiam sejenak, mencerna kalimat yang dilontarkan Thalita kemudian mengejarnya.
"Tunggu..." teriak Kenan dan menarik tangan kiri Thalita.
Thalita memberontak agar tangannya terlepas dari cengkeraman tangan Kenan, namun tenaga Kenan semakin mencengkeramnya kuat hingga Thalita meringis kesakitan.
Bukkhh..
Karna sudah tak tahan Thalita pun menonjok perut Kenan, hingga Kenan membungkuk kesakitan. Kenanpun melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Thalita pergi.
Kenan meraup wajahnya kasar melihat Thalita pergi dalam keadaan marah. Kenan kembali masuk dan menajatuhkan tubuhnya di sofa sambil menghela nafasnya secara kasar.
"Kenapa Dia marah, apa salahku? Harusnya dia mengerti" gumam Kenan
__ADS_1