Trail LOVE

Trail LOVE
64. Malam Pertama part 1 (Gagal)


__ADS_3

Pesta makan malam sudah selesai, kini tinggalah acara santai. Para tamu menikmati iringan musik dan nyanyian dari homeband terkenal. Sambil menikmati minuman dan berbincang-bincang dengan tamu-tamu lain.


Para tamu yang tersisa pun dari kalangan pengusaha-pengusaha. Sepertinya pesta ini juga bisa jadi ajang bisnis untuk para Tamu. Karna dari pesta ini mereka bisa saling memperkenalkan diri dan Perusahaan mereka.


Beda halnya dengan anak-anak muda dari tamu Thalita, mereka lebih memilih melanjutkan ke Bar and Lounge yang ada di Hotel itu.


Setelah berbincang dengan Bayu dan Rico Kenan memilih pamit terlebih dahulu karna melihat Thalita yang beberapa kali menguap.


"Pah, Yah.. Maaf Kenan harus kekamar, sepertinya Thalita sudah lelah" ucap Kenan


"Ah yaa... silahkan, ajak istrimu kekamar. Lanjutkan pestanya dikamar, hahaaha.." ledek Rico


"Benar Ken, jangan kasih ampun hahahaa..." ledek Bayu


Ledekan kedua Pria tua itu berhasil membuat Kenan menjadi slaah tingkah dan gugup.


"Ehemmm... ya sudah Kenan permisi"


Kenan menghampiri Thalita dikursinya, dan mengulurkan tangannya.


"Ayo..kita kekamar"


"Eh..trus tamu-tamu gimana?" tanya Thalita


"Ada Ayah dan Papa" jawab Kenan


Thalita mengangguk dan menerima uluran tangan Kenan. "Baguslah, rasanya udah ngga sabar pengen rebahan" begitulah yang ada difikiran Thalita. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju Lift khusus hingga Lift terbuka.


Kenan membuka kamarnya dan betapa terkejutnya mereka saat mereka memasuki kamar yang sudah dihias cantik oleh para panitia Weeding Organizer. Lampu yang redup dibantu cahaya lilin membuat susana semakin romantis. Tercium aroma therapy yang membangkitkan gairah sexual. Siapapun yang masuk kekamar ini pasti akan terbawa suasana malam yang romantis dan gairah sexual yang bergejolak.


Thalita mematung merasakan gugup dan detakan jantungnya yang berdebar. Rasa kantuknya mendadak hilang. Begitupun dengan Kenan yang berusaha menutupi kegugupannya.


"Emm..ko gelap sih" ucap Thalita dengan salah tingkahnya, kemudian berjalan dan meraba dinding mencari saklar lampu namun tidak menemukannya.


"Ehh udah nyala" Thalita terkejut saat lampunya menyala setelah terdengar tepukaan tangan Kenan.


"Lampu disini pakai sensor, tinggal tepuk tangan aja tidak perlu sikring untuk menyalakannya. Dasar Norak!" ledek Kenan


"Iya iya.. belom ada sehari jadi suami udah nyebelin. Huhh.."


"Ahh..Aku mau mandi dulu" ucap Kenan menutupi salah tingkahnya.


"Ehh...aku dulu. A-aku kebelet minggir..." Thalita menghentikan langkah Kenan dan buru-buru ngacir masuk kekamar mandi.

__ADS_1


Didalam kamar mandi Thalita bernafas dengan lega karna berhasil menghindari rasa canggungnya. Dia berbicara dengan dirinya sendiri didepan cermin.


"Ini kamar kenapa jadi serem gini yaa auranya" gumamnya


"Duhh kalo dia minta anu gimana.. aaahhh gw belom siap, gimana dong??"


Thalita mondar mandir sambil mengacak ngacak rambutnya, dia dihantui rasa gelisah. Entah mengapa, kamar seromantis ini dibilang seram.


Thalita merasa badannya terasa segar setelah mandi, ditambah wangi sabun yang membuat tubuhnya menjadi Relax. Dia tidak mengetahui bahwa semua yang ada dikamar ini disiapkan oleh para pakar khusus persiapan menghadapi malam pertama.


Mulai dari aroma ruangan yang ditempatkan dikamar dan di kamar mandi, serta sabun dan shampo yang memberikan aroma ketenangan dan kenyamanan bagi pasangan baru dan membuat terus menerus ingin bercumbu.


Thalita sudah keluar dengan memakai jubah handuknya. Ia mencari pakaiannya dilemari namun tidak menemukannya. Ia terlihat kebingungan dan mencari tasnya.


Saat ini Kenan sudah berada dikamar mandi untuk membersihkan diri sedangkan Thalita masih sibuk mencari bajunya.


"Duhh baju gw ko ngga ada? Masa iya ngga ada yang bawain gw baju"


Kenan sudah selesai dengan rutinitasnya, kini tubuhnya merasa segar kembali. Ia melihat istrinya masih dengan jubah handuknya sedang sibuk mencari sesuatu.


"Kau mencari apa?" tanya Kenan


Thalita menoleh saat Kenan bertanya, namun bukannya menjawab dia malah tercengang menatap Kenan yang hanya menutupi sebagian tubuhnya dengan handuk yang melingkar dipinggangnya sambil mengacak-ngacak rambutnya dengan handuk kecil.


Melihat Thalita yang tak berkedip Kenan berjalan perlahan mendekatinya, dia menyunggingkan senyumnya saat tubuhnya sudah dekat dengan Thalita.


"Sudah puas lihatnya?"


Suara Kenan membuyarkan otak mesumnya, dia terkejut dan gugup.


"Hahh...ang.. engga itu apa anu..." jawab Thalita dengan kikuk


"Cih.. bicara saja kau tidak bisa. Kamu terpana melihat tubuhku?Mau pegang?" ujar Kenan


"Ishh..apaan si. Itu baju..aku cari baju tapi ngga ada, dan baju kamu juga sepertinya ngga ada. Hahh...kenapa mereka bisa lupa bawain baju ganti sih.." jawab Thalita sambil mengalihkan pandangannya dari Kenan.


Kenan menarik lengan Thalita dan meletakkannya di dada Kenan, hingga tangannya menyentuh dada bidang Kenan.


"Kita tidak membutuhkannya saat ini"


"Eh.." Thalita terkejut mendengar ucapan Kenan. Dia mendorong dirinya kebelakang sedikit menjauh dari tubuh Kenan namun tangan Kenan lebih sigap melingkarkan tangannya ditubuh Thalita dan mendorongnya kedepan hingga menempel ditubuhnya.


Kenan mentap lekat Thalita, menundukkan kepalanya menyentuh bibir Thalita dengan bibirnya. Meninggalkan kecupan hangat kemudian ia lepaskan.

__ADS_1


Kenan menepukkan kedua tangannya dan lampupun mati. Hanya ada cahaya lilin. Kembali bersitatap, kini telapak tangan Kenan beralih ke tengkuk Thalita mendorongnya ke wajahnya dan menyatukan bibir mereka. Thalita mulai menikmati kini tangannya beralih melingkar dileher Kenan. Dia membalas setiap gerakan bibir dan lidah Kenan.


Tubuh mereka semakin memanas saat Kenan mulai menjelajahi bibirnya keleher membuat Thalita sedikit berdesah saat Kenan membuat tanda merah disana. Tangan Kenan perlahan turun dan berhasil membuka ikatan jubah handuk yang dipakai Thalita.


"Ehh..." Thalita terperanjat dan mendorong Kenan saat tangan Kenan masuk dan menyentuh benda bulat yang ada didadanya dan hendak menciumnya.


"Kenapa?" tanya Kenan dengan nafas yang tersengal-sengal karna gairahnya sudah mulai memuncak


"Ahh.. anu..kebelet" thalita langsung ngacir masuk kekamar mandi. Sebenarnya Thalita tidak benar-benar kebelet, dia hanya melarikan diri dalam situasinya.


"Aahhh...aduh.. gimana ini..? Tarik nafas Thal..tarik nafas.. heemmm....huhhh.."


Thalita memberanikan diri keluar dari kamar mandi, Dia melihat Kenan yang sudah berada diatas ranjang setengah duduk sedang memainkan ponselnya.


Perlahan Thalita naik keatas ranjang dan membaringkan tubuhnya agak jauh dari tempat Kenan. Gugup itulah yang Thalita rasakan sehingga membuat dirinya salah tingkah.


"Kamu lagi apa?" Thalita mencoba mencairkan suasana.


"Ahh..hanya cek email.." jawab Kenan.


Kenan meletakkan ponselnya diatas meja, lalu menurunkan tubuhnya dan berbaring.


"Sudah malam, ayo tidur"


"Eh.. iya" jawab Thalita kikuk


Thalita tidur terlentang, kemudian miring kanan lalu miring kiri menghadap Kenan.


"Kok tidur, padahal gw udah siap-siap tadi kirain mau dilanjutin. Tapi baguslah kalo ngga jadi hihihiii..." gumam Thalita dalam hati. Meski dirinya belum siap namun sejujurnya dia menikmati kejadian tadi dan berharap Kenan melanjutkannya.


Thalita memandangi wajah Kenan yang sudah memejamkan matanya sambil senyum-senyum sendiri.


"Ternyata bener yaa.. lo tuh emang ganteng banget dalam kondisi apapun tetep ganteng" berbicara dalam hati


"Baru nyadar kalau aku ganteng, diliatin terus dari tadi" ucap Kenan dengan mata yang masih terpejam membuat Thalita terkejut kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Kenan.


"Sialan...ko dia bisa tau si gw ngomong apa, ngga mungkin kan dia denger hati gw" ucap Thalita lagi dalam hatinya.


Degg... Thalita terkejut matanya melotot jantungnya pun berdegup kencang saat Kenan melingkarkan tangannya dipinggang Thalita memeluknya dari belakang. Wajahnya menempel ditengkuk Thalita membuat bulu kuduknya merinding namun terasa nyaman.


"Ehh..apa nih peluk-peluk. Jangan-jangan mau lanjutin yang tadi" ucap Thalita yang masih bergelut dalam hatinya.


"Istirahatlah sudah malam, jangan kebanyakan menghayal" ucap Kenan sambil mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Thalita pun bernafas dengan lega, lalu memejamkan matanya dengan senyum mengembang dari wajahnya merasakan kenyamanan dan hangatnya pelukan Kenan.


__ADS_2