
Thalita terbangun dari tidurnya, ia merasakan berat yang menindihi tubuhnya hingga merasa sesak. Benar saja saat ia membuka matanya tubuhnya berada didalam dekapan tubuh Kenan. Ia mencoba melepaskan tangan dan kaki Kenan yang berada yang mengunci tubuhnya namun Kenan malah semakin erat memeluknya.
"Keeen...lepas, aku ngga bisa nafas" keluh Thalita namun Kenan tak membuka matanya dan tak mau melepaskannya.
"Keen.. lepas ngga, aku tonjok kamu ya.." ujar Thalita dengan ancamannya.
Mendengar itu Kenan tak juga melepaskannya. Tubuhnya bergerak semakin menempel lagi ketubuh Thalita, ia menenggelamkan kepanya dileher Thalita hingga Thalita merasa geli karna nafasnya mengenai lehernya.
"Ken...ihh berat, aku sesek nihh.." Segala upaya tak juga membuat Kenan melepas dekapannya
Thalitapun sudah kehilangan kesabaran, ia pun berteriak karna sudah merasa kesal dengan Kenan.
"Keeeennn... kamu mau aku mati ya.. yaudah bunuh aja aku sekarang, biar kamu puas"
Mendengar Thalita berteriak dan marah-marah Kenanpun membuka matanya, lalu melepaskan dekapannya.
"Siapa yang mau bunuh kamu, aku kan cuma peluk kamu apa itu bisa bikin kamu mati"
"Aku sesek tau ngga, kalo kelamaan apa aku ngga mati karna kehabisan nafas" ujar Thalita
Thalita berdiri untuk mengambil ponselnya yang sedari tadi berdering. Dilihatnya nama "Safira jutex" dilayar ponselnya.
"Apaan.."
"Ya ampun jutek amat lo, gw laper nih..tadi ngga sarapan. Lo udah makan belom, makan yuk.."
"yaudah gw mandi dulu, entar gw nyusul"
Thalita mengakhiri obrolannya ditelfon bersama Safira dan melangkahkan kakinya kekamar mandi.
"Ehh..mau kemana" tanya Kenan
"Mandi, mau ikut?" jawab Thalita dengan ketus sambil berjalan menuju kamar mandi
Dengan senyum liciknya, Kenan berlari mengejar Thalita dan ikut masuk kekamar mandi.
"ehh...mau ngapain?" tanya Thalita yang hendak menutup pintu namun Kenan sudah masuk terlebih dahulu dan menutup pintu kamar mandi
"Mau mandi"
"ihh apain si... aku dulu" ucap Thalita sambil mendorong Kenan agar keluar dari kamar mandi
"Tadi kan kamu ngajak aku, yaudah aku ikut"
"ihh ngga gitu Ken.. udah sana ahh.."
__ADS_1
Thalita terus mendorong tubuh Kenan agar keluar dari kamar mandi namun Kenan terkekeh untuk tetap didalam, bahkan Kenan mengunci pintu itu dan mendorong Thalita agar lebih kedalam lagi. Kenan juga membuka paksa pakaian Thalita, meski Thalita memberontak namun Kenan tetap memenangkan permainannya. Thalita akhirnya menyerah dan pasrah dengan perlakuan suaminya itu.
1jam sudah Safira dan Winda menunggu, namin Thalita tak juga kunjung datang.
"Temen lo mandi apa ngapain si lama bener" tanya Winda penuh dengan kekesalan
"Temen lo juga kan.. jangan-jangan dia molor lagi" jawab Safira
"Telfon lagi coba, udah laper banget nih gw" perintah Winda
Safirapun menelfon Thalita kembali setelah beberapa kali tak ada jawaban akhirnya Thalita menjawab Telfonnya.
"Sebentar lagi katanya, dia baru selesai mandi" ucap Safira kepada Winda
Disela menunggu Thalita, Safira melihat Revan yang baru saja datang. Safira memanggil Revan dengan melambaikan tangannya.
"Van, sini" panggil Safira. Winda terkejut saat Safira memanggil Revan
"Lo ngapain si manggil dia kesini" Winda langsung salah tingkah melihat Revan berjalan menghampiri meja mereka.
"Lahh emang kenapa, kan biasanya juga dia bareng kita kan?"
Winda berdecak kesal, setelah kejadian semalam rasanya ia ingin menghilang dari kehidupan Revan.
"Hi.. Win, gimana semalem bisa tidur?" sapa Revan
"Ehh..oh..iya bisa kok" jawab Winda dengan gugup.
Tak lama Thalita dan Kenan pun datang, Thalita berjalan lebih dulu diikuti Kenan dibelakangnya.
"Tuhh mulut, dari semalem ngga udah-udah manyunnya. belom kelar apa marahanya" tanya Revan
"Gimana mau kelar, belom baikan udah bikin masalah baru" Thalita menggurutu namun Kenan memberikan senyum nakalnya saat Thalita menatapnya dengan sinis
"Katanya mau makan, mana makannannya" tanya Thalita
"Gw ma Winda rencana mau makan diluar Resort . Dimana win ?" jawab Safira
"Dideket pantai ada Cafe kayanya Cozy banget deh tempatnya. Gimana mau kesana ngga? sambung Winda
Tanpa pikir panjang Kenan langsung menyambar tangan Thalita "Okee..ayo kita jalan"
Mereka berjalan beriringan menuju Cafe. diperjalanan Revan menyambar tangan Winda hingga Winda melangkah mundur dan berjalan disamping Revan.
Winda langsung menepis tangan Revan, ia takut teman-temannya melihat.
__ADS_1
"Lo ngapain si..ntar kalo mereka liat disangka ada apa-apa lagi" bisik Winda
"Sorry..." hanya itu yang Revan ucapkan. Keduanyapun saling diam hanya hati mereka yang berbicara.
"Win, Gw mau minta maaf soal semalem.. gw ngga tau kenapa tiba-tiba aja gw pengen nyium.." ucapan Revan terputus karna Winda langsung memotong pembicaraan
"Oh..itu ngga apa-apa kok, udah ya ngga usah dibahas lagi. Gw udah lupain kok"
"Tapi gw ngga bisa lupain kejadian itu"
Winda menghentikan langkahnya dan menatap Revan, dalam hatinya berkata "sejujurnya gw juga ngga bisa lupain itu Van, sentuhan bibir lo masih berasa banget dibibir gw"
"Woyy..pada ngapain lo disitu?" Teriak Safira mengagetkan keduanya. Windapun tersadar dari lamunanya dan segera membuang pandangannya dari wajah Revan
"Win, dimana Cafe nya?" teriak Thalita
"Oh iya itu..dimana yaa... disana kayanya deh.." jawab Winda menunjuk sembarang arah. Fikirannya menjadi tidak fokus karna Revan.
Akhirnya setelah berkeliling mereka sampai di Cafe yang Winda maksud. Ternyata tempatnya tidak jauh dari Resort namun karna Winda yang tidak Fokus membuat mereka berkeliling mencari Resort itu.
"Emm..ternyata enak ya makanannya" ucap Safira
"Iya enak banget sih menurut gw. Punya kamu enak ngga?" sambung Thalita dan bertanya kepada Kenan tentang makanannya. Tanpa menjawab Kenan langsung saja menyuapi Thalita dengan tatapan mesra.
"Gimana? enak?" tanya Kenan dengan suaranya yang lembut, Thalita mengangguk pelan dan tersenyum manis.
Entah kenapa Winda dan Revan yang melihat adegan itu menjadi canggung. Sebenarnya mereka sudah sering melihat adegan mesra pasanhan suami istri itu, namun kali ini rasanya berbeda begitu juga dengan Revan.
"Win, lo kenapa si kok dari tadi diem aja, kaya ngga biasanya" tanya Thalita
"Iya.. sama nih ama si curut, biasa bacotnya ngga diayak ini diem aja kaya marmut. Lo berdua lagi kenapa si..? sambung Safira
"Engga apa-apa kok" jawab Winda dan Revan bersamaan membuat salah tingkah
Thalita dan Safira pun merasa heran dengan perubahan sikap mereka berdua. Kenan yang melihat sikap mereka justru menahan tawanya dibalik punggung Thalita, ia teringat akan apa yang ia lihat semalam.
"Kamu ngetawain apa si.." tanya Thalita sambil menggoyangkan bahunya yang menjadi sandaran kepala Kenan. Namun Kenan malah semakin tak kuat menahan tawanya, ia tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk wajah Revan membuat Revan membulatkan matanya. Sedangkan Winda hanya bisa menunduk menyembunyikan wajah malunya
.
.
.
...----------------...
__ADS_1