
Kepergian Bayu bukannya membuat Thalita senang, malah membuatnya menangis histeris. Entah apa yang dirasakannya saat ini.
Dia benci Ayahnya karna merasa sudah tidak menyayanginya lagi, namun dia juga sangat menyayangi Ayahnya. Disaat kondisinya seperti ini dia sangat membutuhkan pelukan Ayahnya. Namun..ego nya mengalahkan segalanya.
5 hari sudah Thalita dirawat di Rumah sakit. Thalita mulai memperlihatkan raut wajahnya yang badmood. Thalita merasa bosan karna aktifitasnya hanya diranjang.
Cervical Coral dilehernya sungguh membuatnya tidak nyaman, karna dia tidak dapat bergerak, ditambah salah satu kaki dan tangannya yang juga tidak bisa digerakkan.
Thalita yang melihat Kenan sedang duduk di sofa itu terlihat begitu fokus membaca koran pagi ini.
"Ken.. gw bete!"
"Lalu?" Kenan menjawab santai dan masih tetap fokus membaca korannya.
"Pengen pulang"
Kali ini mendengar ucapan Thalita Kenan melipat korannya dan meletakkannya dimeja lalu beranjak dari sofa dan berjalan keluar dari kamar itu.
Thalita hanya memandangi Kenan yang pergi keluar meninggalkannya.
"Lahh...malah pergi" Thalita semakin kesal, dia pun terus menggerutu.
"Dasar cowok sialan... Cewenya lagi bete malah ditinggal, ngga peka banget si. Nyebelin !!! "
Mulut Thalita tak henti-hentinya menggerutu, hingga akhirnya pintu terbuka dan dilihatnya Kenan yang masuk dengan membawa kursi Roda.
"Kenapa bibir kamu?" tanya Kenan dengan gaya cueknya
"Kenapa emangnya" jawab Thalita yang masih cemberut.
"Itu monyong-monyong gitu? Minta dicium yaa..?" ledeknya.
"Ishh...apaan si...!"
"Udah lanjutin nanti aja menggurutunya, Ayo.." Kenan mengulurkan tangannya
"Kemana?"
"Katanya bete.. Ayo bangun duduk disini, kita cari udara segar"
"Oh..jadi dia keluar buat ambil kursi roda buat gw...ahh gw salah sangka. Jadi ngerasa salah" gumam Thalita dalam hati.
"Kenapa cuma diliatin, Ayoo..."
Thalita pun memutar tubuhnya mencoba untuk turun dan duduk dikursi roda dibantu oleh Kenan.
__ADS_1
Thalita sudah duduk dikursi roda, Kenan mulai mendorong kursi roda itu menuju ke taman. Kenan memberhentikan kursi roda itu tepat di taman yang penuh dengan bunga-bunga. Mereka memandangi pemandangan dan merasakan angin yang bertiup.
"Hahhhh... adem bangeett.." Thalita menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.
"Akhirnya gw bisa keluar juga. Rasanya kangen banget sama angin, langit pohon.. hemmm" Thalita begitu senang. Sudah lama dia tidak merasakan hembusan angin dan melihat pemandangan diluar, baginya 5 hari seperti 5 bulan.
Kenan yang melihat Thalita tersenyum pun ikut bahagia, karna sudah beberapa hari ini wajahnya selalu murung. Mungkin karna Dia selalu teringat akan Ayahnya.
--
"Mas, sampai kapan kamu seperti ini? Ayo kita kerumah sakit mas?" ajak Vina.
"Sudahlah Vin, percuma saja. Thalita tidak mau melihatku" ucap Bayu dengan raut wajah sendu
"Tapi Mas..."
"Pulanglah Vin, Aku mau istirahat"
Bayu berlalu meninggalkan Vina dan pergi kekamarnya. Saat itu Vina semakin merasa bersalah. Semua berawal dari Vina yang memaksakan Bayu untuk segera menikahinya.
**Siapa Vina?
Vina adalah Sahabat dari Ibunya Thalita Lusy Wilona. Vina juga merupakan kekasih Bayu Ayah Thalita. Entah sejak kapan mereka mulai saling mencintai, hanya merekalah yang tahu.
Saat Thalita berusia 5 tahun, Lusy mengalami kecelakaan. Saat itu Bayu sangat terpukul atas kematian Istrinya. Bahkan Bayu sempat depresi, berat rasanya menerima kematian Lusy.
Saat itu Vina merasa kasihan kepada Bayu dan juga Thalita. Vina yang juga merasa kehilangan sahabatnya itu berusaha untuk tegar, biar bagaimanapun Bayu adalah suami dari sahabatnya dan Thalita adalah anak dari sahabatnya.
Tidak tega rasanya melihat Thalita yang masih kecil harus kehilangan Ibunya, ditambah lagi keadaan Bayu yang seperti itu. Vina sangat menyayangi Thalita sejak ia terlahir.
Sejak itulah Vina merawat Thalita. Thalita pun merasa nyaman didekat Vina, dia merasakan sosok Ibu nya ada dalam diri Vina. Namun saat Thalita berusia 10 tahun semua perasaan Thalita ke Vina berubah menjadi benci saat Vina mulai memperhatikan Bayu.
Thalita merasa Vina ingin merebut Bayu darinya. Thalita pun merasakan sikap Bayu kepada Vina berbeda dari biasanya. Kesalahpahaman inilah yang membuat Thalita benci kepada Vina. Thalita tidak ingin ada wanita yang menggantikan posisi Ibunya dan mengambil Ayahnya darinya.
derrrttttt.....
Kenan merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya yang bergetar. Dilihatnya nama "PAPA" tertera disana.
"Hallo Pah..."
"Son...apa kau dirumah sakit? bagaimana keadaan Thalita?"
"Iya Pah, Ken lagi ada di taman dirumah sakit bersama Thalita. katanya Thalita bosan dikamar terus"
tuuttuttut... panggilan beralih ke panggilan Video
__ADS_1
"Halo Pah.."
"Mana Istrimu..
"Hah..istri. emm ini"
"Hi Om.."
"Lohh kok masih panggil Om sih.. panggil Papa doong.."
"Ehh eng.. iya Pah"
"Gimana keadaan kamu Nak? sudah membaikkah?
"Sudah Om..eh Pah"
"Syukurlah kalau begitu, maaf yaa Papa belum bisa kesana karna ada sedikit trouble disini"
"Ngga apa-apa kok Pah.. sebentar lagi juga Thalita sembuh"
"Baiklah. Suamimu merawatmu dengan baik kan?
"ahh...su-suami? Maksudnya Kenan?"
"iya..Kenan suami Kamu"
"Kok suami, kan ngga jadi nikah"
"ssttt...ngga boleh ngomong seperti itu, kalian hanya menunda bukan batal. tapi Papa sudah menganggap kalian suami istri, hahahaa...."
Mendengar itu wajah Thalita memerah tersipu malu.
"yasudah.. Papa mau ada meeting. Kamu harus banyak istiraha yaa..supaya cepat sembuh. Ken rawat istrimu dengan baik ya.."
"Iya Pah..." jawab Kenan dan Thalita bersamaan.
Rico pun mengakhiri panggilannya.
Hari sudah semakin siang, matahari kini tepat berada diatas kepala. Angin yang bertiup pun tak lagi sejuk.
"Emm.. udah siang. Mataharinya juga udah mulai panas, kita masuk ya..." ajak Kenan dan dianggukkan oleh Thalita.
.
.
...----------------...
__ADS_1