
Disya memicingkan senyumnya, sedikit ide terlintas dalam benaknya. Ia pun melancarkan aksinya. Disya melepaskan bambu dari genggamannya saat Thalita hendak menginjak bambu itu sehingga membuat Thalita terjatuh.
"Aaakkhh.." suara jeritan kesakitan keluar dari mulut Thalita
"THALITAAA......"
Semuanya panik dan berteriak memanggil namanya lalu membuang bambu yang mereka pegang saat itu, mereka terperanjat dan menghampiri Thalita.
"Aw..aw...aduhhh..." Thalita meringis kesakitan sambil memegang pergelangan kakinya.
Kenan yang melihat istrinya kesakitan itupun marah. Matanya melotot penuh amarah menatap Disya.
"Kau ini bagaimana, bisa main atau tidak. Atau kau sengaja mencelakai istriku hahh??!!!" bentak Kenan
"Ngga Ken, A-aku ngga sengaja aku ngga bisa menahan bebannya" jawab Disya
Ingin rasanya Kenan menampar wajah sok lugu itu, namun Miko memintanya agar membawa Thalita masuk. Miko tidak ingin ada keributan.
"Tuan Ken, sudahlah..lebih baik bawa istrimu kekamar. Aku akan meminta Dokter untuk mengobatinya" pinta Miko
Kenan pun menuruti perkataan Miko lalu menggendong Thalita dan membawanya kekamar. Namun Thalita menolak dibawa kekamar karna pergelangan kakinya sudah tidak begitu sakit.
"Ken dudukin aja aku disitu, aku ngga apa-apa kok"
"Apanya tidak apa-apa, tadi kau menjerit kesakitan"
"Iya itu karna kaget, lagian kaki aku udh ngga kenapa-napa kok..tuhh udah bisa digerakkin" ucap Thalita sambil menggeralan telapak kakinya dengan gerakan memutar lalu kedepan dan lebelakang.
"Iya Thal, mending lo kekamar deh istirahat" ucap Winda
"Bener Thal gw ngeri kaki lo yang patah kemaren patah lagi" sambung Safira
"Husshhh... kalo ngomong suka bener lo" disambung lagi oleh Revan
"Ishhh... omongan tuh Doa tau ti ati" ujar winda setelah menyenggol lengan Revan dengan sikunya
"Untungnya yang keseleo bukan kaki itu, aman kok tenang aja" ujar Thalita sambil tersenyum menghilangkan kelhawatiran kepada teman-temannya.
"Kau yakin?" tanya Kenan dan dibalas anggukkan oleh Thalita
"Aku pijit yaa.." tanya Kenan lagi dan Thalita pun mengangguk sambil menahan senyumnya.
"Hemmm...mulai dahh, pamer ke uwuan. Cabut yuk ahhh" ucap Revan jengah lalu dengan Reflex ia merangkul Winda mengajaknya meninggalkan mereka berdua.
Safira pun melongo dibuatnya " Woyy gw ngga diajak" teriak Safira lalu menyusul mereka
Axe yang melihat Safira pergi itu hendak menyusulnya
"Saf..." panggil Axe kepada Safira yang sudah berlari jauh. Saat Axe hendak menyusulnya tiba-tiba Kenan memanggilnya membuat Axe mengurungkan niatnya
"Axe.. sekarang juga kau minta pelayan untuk membawakan air yang berisikan es batu? aku ingin mengompres kaki istriku"
"Baik Bos..."
Tak berapa lama Pelayan datang membawa sebuah wadah besar berisikan air dan es batu serta handuk kecil. Kenan berjongkok dihadapan Thalita yang sedang duduk di Sofa, dengan telaten Kenan mengompres kaki Thalita. Tak segan Thalita memainkan rambut Kenan dengan lembut, mengusapnya dan membelainya.
Ditempat permainan tadi terlihat semua berkumpul.
"Baiklah..sepertinya kita tidak bisa melanjutkan permainan terakhir tadi.. jadi saya sudahi permainan kita silahkan beristirahat untuk persiapan nanti malam, dan Saya ucapkan Terima kasih" ucap Johan mengakhiri kegiatan hari ini
"KALIAN...." teriak Johan dengan penuh semangat sambil mengepalkan tangannya
"LUAR BIASA" semua menjawab Johan dengan teriakan yang lebih kencang dan penuh semangat, setelah itu saling memberikan tepuk tangan lalu membubarkan diri.
Disya menghentikan langkahnya ketika ada yang menarik tangannya. Ia menoleh dan menatap laki-laki itu.
"Kenapa?" tanya Disya sinis
"Kenapa kau lakukan itu?" tanya Miko dengan tatapan mengintimidasi
"Melakukan apa?"
"Jangan mengelak Disya, kau fikir aku tidak tahu. Kau sengajakan melepas bambu itu agar Thalita jatuh" ujar Miko
__ADS_1
"Aku kan sudah bilang, bambunya ngga sengaja terlepas. TERLEPAS bukan DILEPAS, paham??" jelas Disya lalu menghempaskan tangan Miko yang mencengkeram pergelangan tangannya
Disya melangkahkan kakinya lagi, namun Miko dengan cepat menahannya lagi.
"Aku mohon Disya, sudahi niat jahatmu itu. Mau sampai kapan kau akan bersikap seperti ini? Ini hanya membuatmu semakin menderita Disya"
"Bukan urusanmu"
"Disya.. Kenan adalah masa lalumu, lupakanlah dia. Kau berhak bahagia Disya"
"Sudah kubilang ini bukan urusanmu.. oh iya, sebelumnya kita tidak saling mengenal kan?..So..tetaplah seperti itu, karna aku tidak ingin mengenalmu" ketus Disya lalu melangkah dengan cepat meninggalkan Miko disana.
"Hhhh....dasar keras kepala" gumam Miko sambil menggelengkan kepalanya
Hari ini tepat pukul 3 sore semua kembali kekamar mereka masing-masing untuk membersihkan tubuh mereka dan beristirahat sambil menunggu acara nanti malam.
Winda keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan mandinya dan berpakaian santai namun masih berbalut handuk dikepalanya.
"Ehh... bangun mandi sana" Winda menggoyangkan tubuh Safira yang tertidur di Sofa.
Safira menggeliat namun sulit untuk membuka matanya.
"bentar bentar win, bentar lagi yaa gw ngantuk banget sumpah..."
"Ngga ngga...jorok tau. Badan lo kan keringetan Fir, udah bangun lu cepetan. Kumannya nempel tuh di Sofa"
"Iya Win, gw bangun..."
"Yaudah cepet jangan iya iya doang.." ujar winda yang melihat Safira masih memejamkan matanya
"Fir..gw videoin lo yaa.. abis itu gw kirim deh ke Axelle" ucap Winda lagi mengancam Safira karna sahabatnya itu belum juga membuka matanya.
"Hahh...jangan Win jangan Pleasss..."
"tergantung.."
"Iya iya gw mandi" ucap Safira yang melihat Winda merebahkan dirinya di kasur yang empuk sambil menatap layar ponselnya menakut-nakuti Safira.
Windapun cengengesan melihat Safira masuk kamar mandi, padahal dirinya hanya menakut-nakuti Safira. Ia pun membuka aplikasi WA nya untuk melihat-lihat postingan status teman-temannya. Tak lama ada panggilan masuk dari Revan.
Winda membulatkan matanya, jantungnya tiba-tiba berdebar..
"Kok gw deg-degan yaa Revan nelpon.. kaya ngga biasanya gini"
Perlahan Winda menggeser tombol hijaunya.
"Haloo..Van.."
"Halo Win.."
"Iya kenapa.."
"Gw tunggu dibawah, sekarang yaa.."
"Mau ngapain"
"Nanti juga lo tau, gw tunggu yaa..bye"
Revan memutus panggilannya, Winda pun terdiam ia merasakan ada firasat dalam hatinya entah buruk atau baik yang jelas jantungnya berdebar tak karuan. 5 menit sudah ia bergelut dengan hatinya pergi atau tidak.
"Samperin ngga yaa... tapi, kalo ngga gw samperin pasti dia nungguin.. kalau gw samperin..duhh gimana yaa... hahh...samperin ajalah mumpung Safira masih dikamar mandi"
Benar saja sesampainya dibawah ia melihat Revan yang sedang berdiri menunggunya. Namun entah kenapa ia melihat Revan dari belakang saja sudah membuat jantungnya semakin berdebar.
"Anjrittt...jantung gw kenapa si..ngeliat dia kaya liat hantu sekarang.. tarik nafas win, tarik nafas huhhh"
ucap Winda dalam hati, ia pun memberanikan diri untuk memanggil Revan.
"Van.."
"Heyy.. laper ngga? Cafe yuk.." ucap Revan.
"Udah ayoo.." karna tak ada jawaban dari Winda Revan meraih pergelangan tangan Winda dan menariknya membuat Winda tersentak namun juga tak bisa menolak.
__ADS_1
Selama perjalanan menuju Cafe Revan mencoba menghilangkan kegugupannya dengan menceritakan hal-hal yang tidak penting.. bahkan ia pun membicarakan setiap apa yang ia lihat selama perjalanan itu. Namun tidak dengan Winda ia diam seribu bahasa, bahkan suara Revanpun tak terdengar..ia hanya mendengar suara detakan jantungnya. Hingga Revan menyadarkannya.
"Win..kok bengong aja si, lo ngga suka ya jalan ma gw?"
"Hahh...eng..anu.." Winda gugup ia melihat tangannya yang masih digenggam oleh Revan
Mata Revanpun beralih mengikuti arah mata Winda.
"Ehh..sorry hhehe... abis nyaman. Ngga apa-apa kan" ucap Revan yang masih menggenggam tangan Winda, Winda pun mengangguk perlahan membuat Revan tersenyum lebar.
"apa dia bilang..nyaman. Yaa Tuhan..jantung gw brisik banget...semoga aja dia ngga denger"
Kini mereka sampai di Cafe dan mulai memesan makanan. Mereka makan tanpa ada sepatah katapun. Winda terlihat menikmati makanannya meski sebenarnya ia sulit untuk menelan efek detak jantung yang tak karuan.
Setelah selesai makan, Revan mengeluarkan sesuatu dari saku Hoodie nya. Ia membuka sebuah kotak dan meletakkannya diatas meja menunjukkanya kepada Winda.
Winda terpesona seketika melihat gelang tali berukuran 1mm yang didesain dengan mata gelang terbuat dari bahan batu alam dan ornament yang unik.
"Gelang couple? lucu banget...punya siapa? Kenan pasti ya..?"
"Bukan. Lo ngga liat dibatunya masing-masing gelang ada hurufnya. Yang satu huruf R yang satu lagi huruf W"
"Ooh...tapi R sama W tuh siapa?" Winda bertanya namun Revan hanya teesenyum sambil menatapnya.
"Oh gw tau, R itu inisial nama lo ya.. trus W nya itu.." Winda menghentikan ucapannya dan menatap Revan yang masih terus tersenyum padanya.
"W itu siapa ya... gw bukan yaa.. ahh ngga mungkin jangan ge er Win.."
Winda terus berucap dalam hatinya, namun Revan terus saja menatapnya dengan senyuman manis dibibirnya membuat Winda salah tingkah.
"Haduhh Van... baru nyadar gw ternyata lo ganteng juga yaa.. Plisss Van jangan ngeliatin gw kaya gitu.. salting gw"
"Lo ngapain si liatin gw mulu..? ucap Winda
"Udah tau belum W nya ini siapa?" tanya Revan, Winda menggelengkan kepalanya ia takut dugaannya salah.
"W nya itu Winda, nama lo?"
deg..deg.. tuhh kan bener nama gw, makin degdegan aja nih gw
"Hahh...kok kok nama gw?" tanya Winda
"Iya. gw pengen kita berdua pake gelang ini sebagai tanda kalau kita..." jawab Revan kemudian menggantungkan ucapannya
"Kita apa? Mak-maksudnya gimana ya ?"
"Jadi gini Gw...emm...gw.. hehhe gimana ya ngomongnya.."
"Yaa.. ngomong aja"
dalam hati Winda berbicara
"Haduhhh kayanya Revan mo nembak gw nih..kalo bener gw mesti jawab apa yaa... Ibu tolong bu... jantung aku mo copot bu.."
Revanpun bergumam dalam hatinya
"Ahhh sial...kenapa gw jadi susah ngomong gini si... gw pasti bisa, harus bisa.. biar tenang hidup gw"
Revan menarik nafasnya panjang panjang lalu mengeluarkannya. Ia mencoba menenangkan dirinya dan memberanikan untuk bicara.
"Sebenernya gw suk..."
"Windaaaaaa....."
Seseorang baru saja memasuki Cafe itu dan berteriak memanggil Winda membuat Revan terkejut dan tak dapat melanjutkan ucapannya tadi.
.
.
.
...----------------...
__ADS_1