
Hari sudah pagi, suara bel pintu membangunkan Kenan dari tidurnya. Kenan mengerjapkan matanya merasakan berat diatas punggungnya hingga kesulitan untuk bangun. Kenan menoleh sedikit kebelakang dilihatnya Thalita yang tertidur setengah tubuhnya berada diatas punggung Kenan.
Tingnong tingnong
"Siapa?"
"Pelayan Tuan, saya ingin mengantarkan pakaian yang Tuan pesan" jawab seorang Pelayan Hotrl itu dari balik pintu
"Gantung saja dipintu" teriak Kenan
"Baik Tuan, Saya permisi" jawab Pelayan itu lagi, lalu menggantungkan sebuah Paper Bag di handle pintu.
"Hey..Thalita bangunlah" ujar Kenan sambil menggoyangkan punggungnya, namun Thalita tak juga bangun.
"Thalita menyingkirlah, ahh...dasar kebo. Bagaimana bisa dia tidur dipunggungku begini" sambung Kenan
"THALITA..." teriak Kenan berharap kali ini Thalita akan bangun mendengar teriakannya.
"Emmm...brisik banget si ahh" ucap Thalita sambil menggeliatkan tubuhnya, namun belum juga menyingkir dari punggung Kenan.
"Baiklah, kalau kamu ngga mau bangun kita lanjutkan yang semalam tertunda" ancam Kenan
"Hahh!!! Iya iya gw bangun ehh aku bangun" ucapan Kenan membuat Thalita terperanjat
Kenan beranjak dari tempat tidur setelah Thalita menyingkirkan tubuhnya dari punggung Kenan. Ia menggerakkan tubuhnya kekanan dan kekiri karna merasa pegal-pegal.
Kenan membuka pintu untuk mengambil Papper Bag berisikan pakaian yang dibawakan Pelayan Hotel tadi lalu memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai dengan kegiatan mandinya Kenan menghela nafasnya panjang sambil menggelengkan kepalanya saat melihat istrinya yang kembali tertidur pulas.
"Heyy..ayo bangun, mandi sana kita sarapan" ucap Kenan sambil menggoyang-goyangkan tubuh Thalita
"Emm...duluan aja" jawab Thalita yang masih dengan mata yang terpejam.
"Aku sudah mandi, cepat bangun!!!" ujar Kenan
"Iya, sebentar 5 menit" jawab Thalita yang masih belum mau membuka matanya
Saat Kenan hendak menarik paksa tangan Thalita untuk membangunkannya, ponsel Kenan berbunyi dilihatnya dilayar nama "Mama"
"Iya Ma..."
"___"
"Apa!! Lalu bagaimana keadaannya?"
"___"
"Oke.."
Raut wajah Kenan berubah setelah menerima telfon dari sang mama. Entah apa yang dikatakan mama nya.
"Thalita, Ayo bangun.. kalau tidak aku buka jubah handukmu" ancam Kenan namun sepertinya Thalita tidak terpengaruh
"Emm...." Thalita langsung melindungi tubuhnya dengan kedua tangannya
"Wahhh....kamu mau main-main yaa?" ujar Kenan yang sudah mulai kesal karna Thalita masih belum membuka matanya
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menggendongmu ke bath up.. tapi sebelumnya aku akan membuka jubah handukmu terlebih dahulu" sambung Kenan dan bersiap menggendong tubuh istrinya hingga ia terkejut.
"Eehh...jangan.. iya nih aku bangun"
"Yasudah mandi sana, atau mau kumandikan"
"Iyaa..." Thalita berjalan menuju kamar mandi dengan langkah lunglai dan bibir cemberutnya membuat Kenan tersenyum tipis melihat tingkah Thalita seperti anak kecil.
Niat Kenan sarapan pagi di Resto Hotel pun dia urungkan. Akhirnya dia memilih untuk sarapan dikamar. Ia menelfon layanan Hotel dan meminta Pelayan untuk membawakan sarapan.
"Kenapa kita ngga sarapan dibawah?" tanya Thalita yang melihat Kenan sedang menata makanan dimeja.
"Memang kenapa?" tanya Kenan balik
"Yaa kan biar sarapan bareng sama Bunda Ayah, Papa sama Mama juga" jawab Thalita
"Mereka udah sarapan, nungguin kamu bangun aja 2 jam belum nunggu kamu mandi bisa-bisa lambung mereka kesakitan karna nungguin kamu?"
"Ooh yaa maap, pagi-pagi udah sewot aja.. ntar gantengnya ilang loh"
"Hemm... sudahlah.. makan sarapannya, setelah ini kita ke Rumah sakit"
"Hah?? Ke Rumah sakit? Siapa yang sakit?"
"Kamu!!"
"Aku??"
"Iya, kamu sakitkan?"
"Sakit Jiwa"
"Ihh..sialan, kampr..."
"Berani ngomong kasar sama suami?! Mau kuhukum sampai ngga bisa ngomong?"
"Hukuman apa sampe ngga bisa ngomong?"
"Kamu lupa kejadian semalam? Mulutmu sama sekali tidak bisa bicara, aku hanya mendengar kau bicara "ahh".." ujar Kenan membuat wajah Thalita memerah karna menahan malu.
"Hahhaa....expresi wajahmu lucu kalau begitu"
"Ishh.... aku serius nanya Ken, kita ngapain ke Rumah sakit"
"Oke..aku kasih tau kamu habis sarapan. Aku mau makan dengan tenang, oke?"
Usai sarapan mereka meninggalkan Hotel. Kenan mengajak Thalita ke Rumah sakit, selama perjalanan Thalita terlihat gusar. Setelah sarapan tadi Kenan sudah memberitahukan bahwa mamanya telfon dan memberitahukan bahwa Vina dilarikan ke Rumah sakit karna merasakan sakit diperutnya hingga mengeluarkan darah. Vina juga harus kehilangan bayinya karna Bayinya sudah tidak bisa diselamatkan. bahkan Dokterpun memberitahukan bahwa Vina sudah tidak bisa hamil lagi.
Mobil Kenan memasuki area Rumah sakit. Terpampang jelas nama Rumah sakit itu "Rumah Sakit Dermawan". Dirumah sakit besar milik Bayu inilah Vina dirawat.
Thalita berlari memasuki Lift dan menuju lantai atas dimana lantai itu hanya ada beberapa kamar VVIP mereka menamakannya lantai Family dimana lantai itu hanya diperuntukkan Keluarga saja.
"Ayah.. gimana Bunda" Thalita langsung menghamburkan pelukannya bertemu dengan Bayu yang baru saja datang dari ruangan Dokter.
"Ayo..masuklah, Bunda ada didalam" jawab Bayu
Thalita mengikuti Bayu memasuki kamar itu diikuti oleh Kenan, didalam sudah ada Rico dan Sonya.
__ADS_1
"Pa..Ma.." sapa Kenan dan Thalita kepada Rico dan Sonya
"Bundaa..." teriak Thalita yang langsung memeluknya saat melihat Vina terbaring pucat.
"Bunda ngga apa-apa sayang" ucap Vina yang masih lemas
Thalita hampir mengeluarkan air mata melihat wajah Vina pucat.
"Tapi dede Bayinya..." Thalita menggantungkan ucapannya dan meneteskan air mata
"Ngga apa-apa. Belum rezeky. Lagipula usia Bunda ini kemungkinannya kecil untuk hamil, kalaupun bisa resikonya sangat besar. Sudah yaa jangan sedih lagi.. Bunda ikhlas kok" jawab Vina sambil mengusap air mata yang menetes di pipi Thalita
"Iya sayang. Bunda kamu aja bisa ikhlas, jadi kamu juga harus ikhlas yaa.. jangan sedih, kasian kan Bunda" ucap Sonya sambil mengusap kedua punggung Thalita
"Iya Ma.. oiya Ayah kenapa ngga kasih tau Lita kalau semalam Bunda dibawa ke Rumah sakit" ujar Thalita
"Kejadiannya itu jam 3 dini hari, mana mungkin Ayah gangguin malam pertama kamu, hahhaa..." jawab Bayu dan Rico pun ikut tertawa membuat Kenan dan Thalita salah tingkah mengingat kejadian semalam
"Em.. Papa dan Mama sejak kapan ada disini?" tanya Thalita menghindari rasa canggungnya
"Sejak 2 jam yang lalu" jawab Sonya
"Mama kenapa ngga ajak Lita, kita kan bisa pergi bareng" tanya Thalita lagi
"Mana mungkin kami ganggu tidur kalian, kalian pasti lelah setelah malam pertama, hahhaa..." jawab Rico sambil tertawa tak mau kalah dengan Bayu yang meledeknya
"Ishh..apa sih nih Bapak-bapak" gumam Thalita dalam hati
"Oiya Bun, awalnya gimana sih kok bisa kaya gini" tanya Thalita kepada Vina
"Kata Dokter sih kemungkinan karna kecapean, lagipula rahim bunda juga lemah" jawab Vina
Mendengar jawaban Vina, Thalita kembali menangis, ia merasa bersalah. Seandainya saja tidak ada pesta mungkin Vina tidak akan kehilangan Bayinya dan melahirkan adik Thalita. "Hikss...maafin Lita ya Bun, pasti gara-gara pesta kemarin tuh Bunda jadi kecapean hiks.."
"Huss...ngga boleh ngomong gitu, kemarin itu hari yang paling bahagia dan istimewa lohh.. bukan cuma kamu tapi juga keluarga dan seluruh dunia ikut bahagia menyaksikan pernikahan kamu dan Kenan, jangan pernah salahkan pernikahan kamu atas musibah ini yaa.." jelas Vina
"Sudah-sudah masa pengantin baru nangis sih.. pengantin baru harusnya bahagia ngga boleh sedih-sedih. Lagipula kan masih ada kamu yang bisa kasih Baby buat bunda kan, buat Kami juga. Iya kan Ken" sambung Sonya membuat Kenan terkejut
"Ahh...i-iya Ma, doakan saja" jawab Kenan
"Hahh...maksudnya gimana ya.." tanya Thalita heran
"Hhahaa...kamu polos banget sih sayang, Mama jadi gemes nih hahha..." ucap Sonya
"Sepertinya semalam belum sukses yaa Ken, anak Ayah kok masih oon.. hahaha" ledek Bayu
"Ihh..Ayah sopan yaa???!! Lagian Mama gimana masa Bunda yang kehilangan Anaknya malah Lita yang suruh gantiin" ujar Thalita
"hahahaa....."
"Ken, eksekusi yaa nanti malam biar dia ngerti..." ujar Bayu
"hahhaa...."
Kenan hanya manggut manggut saja mendengarkan celoteh kedua orang tuanya dan kedua mertuanya itu.
Diruangan itu menjadi ramai suara tawa yang menertawakan Thalita si tomboy namun polos untuk masalah begituan.
__ADS_1