
"Sial..!!! Kenapa aku selalu gagal menyingkirkan perempuan itu.. aarrgghhh..." emosi seorang wanita itu makin memuncak.
Disya semakin geram, bagaimana tidak sudah dua kali ia mencoba menyingkirkan Thalita namun selalu gagal.
"Sudahlah Disya, hentikan rencana kamu itu.. apapun yang kamu lakukan Kenan tidak akan kembali padamu, sayang.." pinta Maminya yang begitu khawatir akan putrinya itu.
Mendengar itu Disya langsung menoleh dan menatap tajam Maminya
"Apa maksud Mami...?"
"Mami cuma khawatir sama kamu Nak.. sudahlah lupakan Kenan" kali ini Maminya benar-benar memohon namun tak dihiraukan oleh Disya.
"Ngga akan. Disya akan melakukan apapun agar Kenan kembali bersama Disya" tegas Disya membuat Maminya menghela nafasnya lemas.
"Baiklah kalau itu maumu.. tapi Mami mohon, jangan ada tindakan kriminal. Mami khawatir Mami takut terjadi apa-apa dengan mu. Ingatlah Nak, Kenan bukan orang sembarangan. Dengan mudah dia akan menyelidikinya. Bagaimana kalau dia tahu ini perbuatanmu. Bagaimana kalau dia mencebloskanmu ke penajara atau dia akan mencelakaimu seperti apa yang sudah kau lakukan pada perempuan itu?"
"Mami tenang aja kali ini Disya tidak akan memakai kekerasan. Disya akan menemuinya dan mencoba mendekatinya lagi dan menghasut perempuan itu. Dengan begitu perempuan itu akan membatalkan pernikahan mereka" ucap Disya dengan menyunggingkan senyum sinisnya membuat Maminya menggelengkan kepala.
Dikantin kampus begitu ramai, terdengar suara tawa dari meja ujung. Meja yang berisikan Thalita, Safira, dan Winda. Tak ketinggalan Revanpun ada disana.
Seorang laki-laki tampan memasuki kantin, matanya menjelajahi seluruh isi kantin. Membuat mata para gadis yang ada dikantin itu menatapnya kagum akan ketampanannya.
"Gila yaa... tuh Cowo gantengnya ngga abis-abis"
"Iya..beruntung banget tuh si Thalita dapetin Kenan"
Begitulah bisik-bisik para gadis yang membicarakan Kenan.
"Ehh..Thal itu bukannya Kenan ya?" tanya Safira dengan menyenggol lengan Thalita saat melihat Kenan berjalan kearah meja mereka.
"Apa iya? Oiya bener. Lo liat aja si.." jawab Thalita sambil menegaskan matanya melihat Kenan.
"Buset... lo ngga tau Thal, kalau liat cowo ganteng mah lensa matanya udah ngalahin teropong, hahhaaa.." ucap Winda
"Hahhaaha..." tawa mereka bersamaan. Mereka berhenti tertawa saat Kenan datang dengan wajah yang tak ramah.
"Dimana ponselmu?" tanya Kenan kepada Thalita.
"Ada. Kenapa?" dengan santainya Thalita menjawab.
"Dimana?" Tegas Kenan.
"Kenapa sih.. dateng-dateng sewot aja" ujar Thalita
"Kenapa?? Apa kau tahu betapa aku khawatirnya sama kamu. Aku menelfonmu berpuluh kali namun tidak ada jawaban" kali ini Kenan benar-benar kesal.
__ADS_1
"Uuuhh... so sweet banget" bisik Safira kepada Winda namun terdengar oleh Thalita dan Kenan membuat mata mereka melirik kearah kedua gadis itu.
Revan yang ada disitu tak menggubrisnya sama sekali. Ia masih asyik dengan game online nya.
Thalita merogoh tasnya mencari ponselnya namun dia tidak menemukannya. Thalitapun merogoh sakunya namun tak juga menemukan posnelnya.
"Ehh...Hp gw dimana ya..?" tanya Thalita
"Ditas ngga ada?" tanya Winda dan dijawab gelengan kepala oleh Thalita
"Dikantong baju? Celana?" sambung Safira dan dibalas gelengan kepala lagi oleh Thalita.
"Lahh terus kemana?" ucap Safira
"Coba lo inget-inget lagi deh..." sambung Winda
Thalita mencoba mengingat-ingat, rasanya dia benar-benar lupa dimana ia mengeluarkan ponselnya. Karna terlalu lama mengingat dan sepertinya Thalita pun tidak mengingatnya Kenan langsung mengajaknya pulang karna merasa tak nyaman berlama-lama dikantin itu.
"Sudahlah..lupakan saja ponselmu itu. Ayo kita pulang.." ajak Kenan
"Dihh...enak aja main lupain. Kamu tuh ya..apa-apa dianggap gampang" protes Thalita
"Yaa memang gampang. Aku bisa membelikanmu ponsel yang lebih bagus dari ponselmu itu" tegas Kenan
"Aku bisa mengganti foto-foto itu dengan foto-foto kita. Kita akan buat kenangan indah bersama" ujar Kenan tak mau kalah
Perdebatan mereka membuat Revan risih. Ia pun mematikan game online nya dan mencoba menghubungi nomor Thalita.
"Sst...bisa ngga sih kalian ngga usah berisik. Nih gw coba telfon lagi. Kali aja ada orang baik yang ngamanin" ucap Revan
"Halo..."
"Halo..sorry ini siapa ya? Jadi ini Hp temen gw ilang, bisa tolong dikembaliin ngga. Kita bisa janjian dimana gitu?"
"____"
"Okee..."
"Dah tuh... dia mau balikin nanti malem di Cafe Entry. Tapi dia maunya gw yang ngambil" ucap Revan
"Ahh syukurlah.. itu cewe apa cowo yang nemuin?" ucap Thalita
"Cewe" jawab Revan singkat
"Ooh... oke. Thanks yaa hehehe..." ucap Thalita
__ADS_1
"Thanks apaan..?" tanya Revan
"Lo udah mau ngambilin Hp gw nanti malem" jawab Thalita
"Dihh.. kenapa jadi gw. Lo aja yang ngambil, Hp kan Hp lo" ujar Revan
"Lahh.. tadi lo bilang dia maunya lo yang ngambil, trus lo juga jawab Oke tadi. gimana si.." ujar Thalita tak mau kalah
"Tau lo Van, gimana si lo..?" sambung Winda
"Yaa dia bilang kaya gitu karna dia cewe. Paling dia mau kenalan ma gw, secara gw kan ganteng" ucap Revan
"Najis.. lo pede banget si!" ketus Safira
"Bodo amat. Intinya tuh cewe cuma manfaatin Hp lo buat kenalan ma gw" ucap Revan
"Yakali Van. Itu karna lo cowo bukan karna lo ganteng juga kali, emang dia pernah liat lo apa" ucap Safira
"Udah udah...trus hp gw gimana jadinyaa..?" tanya Thalita yang sudah mulai resah.
"Lo suruh aja nih orang buat ngambil, dia kan cowo. Bener kata Winda, dia cuma cewe iseng yang lagi nyari cowo" ucap Revan sambil menunjuk ke wajah Kenan dan langsung ditepis oleh Kenan.
"Aku..? Yang benar aja. Kau harusnya yang bertanggung jawab karna sudah mengiyakan untuk bertemu di Cafe" protes Kenan
"Trus Hp aku gimana Ken..?" tanya Thalita dengan nada sedihnya
"Sudahlah lupakan saja. Aku akan menggantinya dengan ponsel keluaran terbaru yang lebih canggih tidak seperti ponselmu yang sudah kuno" ujar Kenan
"Nggak... enak banget kalo ngomong. Van.. ayolahh..kan lo tadi yg bilang Oke" jawab Thalita kesal lalu memohon kepada Revan untuk mengambil ponselnya.
"Iya van..udahlah lo aja emang napa si" ucap Winda
"Hadehh...ribet amat ya. Lo juga berguna dikit kek jadi cowo. Dia kan calon bini lo masa disuruh ngambil Hp aja ogah" ujar Revan sambil kepada Kenan.
"Hey.. ini bukan soal berguna atau tidak. Kau harusnya yang bertanggung jawab karna sudah mengiyakan untuk bertemu di Cafe itu. Cafe entry itu bukan Cafe tapi Bar and Launge. Aku tidak suka ketempat seperti itu kecuali urusan bisnis" ujar Kenan
"Yaa anggep aja ini bisnis, lo lagi meeting sama orang penting" ucap Revan tak mau kalah
"Mana bisa seperti itu" ucapnya lagi
"Bisalah.." jawab Revan tak mau kalah
Thalita merasa geram mendengar perdebatan kedua laki-laki itu. Dia pun berdiri dari duduknya dan menggebrak meja sekeras mungkin.
"Kalian jadi cowo pada perhitungan banget sih... pokonya ngga mau tau nanti malem kalian berdua dateng ke Cafe itu dan ambilin tuh Hp, awas aja kalo ngga!" ujarnya sambil menunjukkan tinjunya dan mata yang membulat lebar seperti hampir copot membuat Kenan dan Revan menelan saliva nya.
__ADS_1