Trail LOVE

Trail LOVE
75. Malam yang panjang


__ADS_3

"Disya !!! Sadarlah...aku sudah beristri" teriak Kenan dan mencoba melepaskan tangan Disya dengan kencang hingga perempuan itu kesakitan namun Disya tak juga mau melepaskannya.


Seseorang datang dan menarik paksa tangan Disya hingga terlepas dan "Plaaakkk..." suara tamparan keras dipipi Disya.


Thalita menampar pipi Disya. Matanya melotot penuh amarah. Sangat menyeramkan bagi siapa saja yang melihatnya. Safira dan Winda yang melihat kejadian itu terkejut dan menutup mulutnya yang menganga..


"uuh...sakit banget tuh pasti" bisik Safira kepada Winda


"Pastinya.." jawab Winda


"Sekali lagi lo gangguin suami gw, gw abisin lo..!!" ancam Thalita kepada Disya sambil mencengkeram kedua pipi Disya.


"Sayang sudah.." ucap Kenan mencoba menenangkan istrinya itu


"Apa sayang sayang...??? Ayo pulang!!!" ucap Thalita dengan nafas yang masih tersengal-sengal karna emosinya.


"Pulang??" ucap Kenan, Safira dan Winda secara bersamaan


"Pulang kekamar" tegas Thalita sambil berlalu pergi meninggalkan semuanya dan disusul oleh Kenan.


Disya mengepalkan tangannya menahan amarahnya saat melihat Kenan berlalu meninggalkannya hingga tak terlihat punggungnya


"Panik ngga panik ngga" ledek Safira


"Paniklah masa engga" sambung Winda


"hahhaaa...." tawa Winda dan Safira sambil berlalu pergi membuat Disya semakin geram.


"Sialan!!!!! Awas aja kalian" teriak Disya


**Dikamar sepasang suami istri melanjutkan perdebatannya.


"Kamu ngapain disitu tadi"


"Aku cari kamu, kamu kemana tadi"


"Alesan aja. Nyari aku kok bisa kesitu.. kamu janjian ya sama dia"


"Ngga..sumpah.."


"Trus ngapain kamu disitu?"


"Tadi kan aku bilang, aku cari kamu"


"Ngapain nyari aku disitu, ngga ada tempat lain emang"


"Aku kekamar teman kamu, aku fikir kamu ada disitu. Setelah dari kamar teman kamu aku berpapasan dengannya bukan janjian"


"Papasan kok bisa peluk-peluk... gimana enak dipeluk sama dia. Kangen ya sama pelukannya atau..."


"CUKUP THALITA!!!.... " teriak Kenan kali ini ia sudah mulai lelah dengan kecurigaan Thalita terhadapnya


"KAMU.." teriak Thalita tak mau kalah


"Aku sudah muak dengan celotehmu itu, harus kukatakan beberapa kali lagi agar kau percaya hahh.." ujar Kenan dengan suara yang meninggi

__ADS_1


Thalita terdiam kali ini ia tak berani menatap suaminya, hanya dengan mendengar Kenan berbicara formal ia mulai menyadari bahwa Kenan sedang benar-benar marah.


"Kau memaksaku untuk mengatakan soal perasaanku padanya.. Baik.. aku akan jujur"


"Kalau kau tanya apakah aku masih memendam perasaan padanya jawabannya adalah "IYA" aku masih memendam perasan padanya.." ucap Kenan


Kali ini Thalita menoleh dan menatap wajah Kenan mendengar pengakuan Kenan soal perasaannya.


"Kau tahu perasaan apa itu? "BENCI" perasaanku padanya adalah perasaan benci bukan cinta. Cinta yang aku rasakan hanya padamu. Aku hanya mencintaimu..PUAS!!!.." jelas Kenan. Tentu saja pengakuan itu membuat Thalita bahagia dalam hatinya.


"Tapi sepertinya aku salah menilaimu, selama ini aku berfikir kau memiliki perasaan yang sama terhadapku. Ternyata tidak, kau sama sekali tidak mencintaiku.. menurutku kau sama saja seperti dia yang hanya ingin memainkan perasaanku saja" jelas Kenan.


"Apa..!!" Thalita terkejut dengan apa yang baru saja suaminya katakan. Hatinya yang tadi merasakan bahagia kini merasakan sakit. Perih rasanya mendengar pengakuan Kenan bahwa ia telah salah mencintaiku. ia terpaku, bibirnya serasa kelu, nafasnya terasa sesak.


"Baiklah.. aku sudah selesai bicara, setelah ini terserah padamu mau kau apakan hubungan kita ini.." Kenan melanjutkan ucapannya.


"Ma-maksudnya..?" tanya Thalita dengan bibirnya yang bergetar karna gugup sehingga suaranya tak terdengar oleh Kenan yang langsung saja beranjak pergi


"Brakkkk..." dengan keras Kenan membanting pintu kamar itu.


"Ken..kenaaann..." teriak Thalita.


Kini air matanya mengalir, rasa sesaknya pun ia tumpahkan dengan berteriak sambil menangis. Ia menyadari betapa bodohnya dirinya yang terlalu mencurigai Kenan. Itu semua karna ketakutannya, takut kalau perempuan itu merebut Kenan darinya.


Waktu terus berjalan, entah sudah berapa jam Thalita menangis dikamar itu sendiri. Suara kenan dan kata-katanya tadi masih terdengar jelas ditelinganya. Hingga akhirnya ia menyadari malam semakin larut namun Suaminya belum juga kembali kekamar. Sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang bagi Thalita.


Ia keluar dari kamarnya mencari keberadaan suaminya ditemani Safira dan winda. Revan juga ikut membantu. Namun mereka tak menemukan sosok Kenan.


Mereka berpencar, Thalita ditemani Safira dan Winda. Sedangkan Revan mencari sendiri. Mereka duduk dikursi taman menunggu Revan. hingga akhirnya Revanpun muncul


"ihh..serius dong Van.. kita tuh lagi nyari orang bukan kecoa" ketus Safira


"Tau.. lo liat nih Thalita nangis ngga udah-udah. Pokoknya cari ampe ketemu" sambung winda sambil mengelus-elus rambut Thalita yang terus menangis dipelukannya


"Ya ampun Win, mau nyari kemana lagi??" ucap Revan


"Yaa kemana kek, pokonya cari" perintah Winda


"kalau dia ninggalin gw gimana hikss...masa gw jadi janda huaaahhahaaa...." tangisnya semakin pecah dipelukan Winda


"kalau lo jadi janda gw siap nampung lo" ledek Revan


"Van.." teriak Winda dan Safira sambil melototinya


"becanda yaelah.." ucap Revan


"Ngga mungkin lah Thal, dia tuh Cinta mati ama lo" ucap Safira


"yaudah gini aja, ini kan udah jam 2 pagi yaa.. mending kita tidur aja dulu, ntar pagi kita cari lagi kan enak tuh udah terang jadi keliatan" sambung Revan


"Iya Thal, nanti lo sakit lagi. Kita istirahat dulu aja yaa.. Yuk gw anter kekamar" ucap Winda


"Ngga. gw ngga mau. Kalian aja yang tidur, gw ngga bisa tidur. Biar gw aja sendiri yang cari dia" ucap thalita terkekeh


"eehhh...aduhh Thal, Kenan kan udah gede ntar juga dia balik sendiri" ucap Revan

__ADS_1


"Gw ngga tenang Van sebelum gw tau dia ada dimana. Udahlah kalo kalian ngga mau bantu kalian tidur aja, biar gw cari sendiri" ucap thalita


"HHAAAHHH....yaudah yaudah gw cari. Tapi gw minta lo balik kekamar biar gw aja yang nyari ya. Kalian istirahat biar nanti pagi gantian kalian nyari gw tidur" bujuk Revan


"Nahh iya gitu aja" sambung Winda


"Gw ikut, gw ngga percaya ma lo. Bisa aja kan lo boong bukan nyari malah tidur" ucap Thalita


"Astaga Thalita, bener-bener lo ya..curigaan banget pantes aja Kenan kabur" ujar Revan


"Bodo amat pokoknya gw ikut" tegas Thalita


"Gini aja deh biar Winda aja, ma Revan yang nyari ya.. lo balik kamar ma gw" ucap Safira


"Kok gw si.." bisik winda kepada Safira


"Ayolahh Win..gw ngantuk banget sumpah, lo mah enak tadi udah tidur bentar gw kan belom" jawab Safira sambil berbisik kepada Winda


"Ngga apa-apa gw aja. kalian tidur aja" ucap Thalita. lalu berdiri dari duduknya


"eehhh...iya iya, biar gw ma Revan yang nyari. Lo tidur aja ya ditemenin ma safira. Lo istirahat jangan lupa berdoa dan siapain tenaga buat besok oke.."


Thalita pun mengiyakan, dan kembali kekamarnya bersama Safira. Kini tinggalah Winda dan Revan.


"Trus kemana kita sekarang"


"kemana kek..pokoknya nyari tuh orang ampe ketemu"


"Yaa Tuhan. Hahhh...gini amat yaa nasib gw. Awas aja lo Ken kalo ketemu gw unyeng-unyeng lo" ketus Revan. Winda menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Revan


Winda dan Revan berjalan mengelilingi Resort itu dan berteriak memanggil nama Kenan, namun tak juga menemukan sosok Kenan. Akhirnya Winda pun mengajak Revan untuk mencari Kenan dipantai. Karna pantai adalah tempat yang pas untuk menghilangkan penat.


Sudah cukup jauh mereka mengelilingi pantai, namun tak juga mendapatkan Kenan. Mereka akhirnya memilih untuk kembali karna sudah berjalan terlalu jauh.


"Kita duduk dulu yuk disitu.. pegel kaki gw" keluh Revan lalu duduk ditepi pantai beralaskan pasir putih.


"Letoy banget si lo jadi cowo, udah ayo cari lagi ngga kasian apa lo ma Thalita"


"Mau cari kemana lagi si..udah duduk aja dulu, sini.." Revan menarik tangan Winda, namun karna tarikannya terlalu kencang Windapun terjatuh dipelukan Revan hingga Revan terbaring diatas pasir karna tertindih tubuh Winda.


Tatapan mereka bertemu, wajahnya hanya berjarak 1 jengkal. Mereka terdiam saling tatap, merasakan detak jantung yang berdebar. Tak ada kata yang keluar dari bibir mereka, hanya mata dan hati mereka yang bicara tentunya hanya merekalah yang tau.


Tatapan Revan beralih kebibir Winda. Ada getaran yang tak biasa ia rasakan. Ia pun menggerakan kepalanya agar lebih dekat lagi dengan wajah Winda. Kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Winda hingga bibirnya menyentuh bibir Winda.


Winda memejamkan matanya merasakan sentuhan bibir Revan yang lembut. Namun seseorang datang mengejutkan mereka.


"Sedang apa kalian?"


.


.


.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2