
Pagi yang cerah secerah hati Thalita.
"Morning Ayah...mmuach" Thalita menyapa dan mengecup pipi Ayahnya
"Morning sayang...wahh anak Ayah semangat banget pagi ini" ucap Bayu yang senang melihat anaknya tersenyum pagi ini.
Tidak seperti biasanya yang selalu bermuka malas karna bangun pagi. Disela makan pagi nya bel pintu berbunyi pertanda ada Tamu datang.
Ting nong.. ting nong..
"Sepagi ini ada tamu?" tanya Thalita kepada bayu. karna tidak biasanya ada tamu yang datang dipagi hari.
"Entahlah" jawab Bayu sambil mengangkat kedua pundaknya
"Siapa Bi?" Tanya Bayu kepada Bi Een.
Belum sempat Bi Een menjawab, Seseorang muncul dan menyapa terlebih dahulu.
"Selamat Pagi Om" sapa orang itu.
Thalita yang mendengar suara Kenanpun segera menoleh kesumber suara saking terkejutnya.
"Lohhh... Ken. Kebetulan ayo duduk, kita sarapan bareng" ajak Bayu kepada Kenan.
"Terima kasih" Kenan menjawab dengan tersenyum dan menarik kursi disebelah Thalita.
"Pagi.. sayang" sapa Kenan kepada Thalita sambil berbisik
"Hah!! sa-sayang" Thalita bergumam dan menahan senyumnya dengan wajah malu-malu
"Oiya ken, kok tumben pagi-pagi kesini" tanya Bayu
"Maaf tidak memberitahumu sebelumnya"
"Tidak apa-apa, sering-seringlah datang. Om senang kok.. Thalita apalagi, iya kan sayang"
"Hahh... Biasa aja" jawab Thalita datar menyembunyikan rasa grogi nya.
"Oh ya Om. Aku dan Thalita siang ini mau kebutik untuk fitting gaun pengantin"
"Apa!! Fitting gaun?" Thalita terkejut
"Oh iya..Pernikahan kalian sebentar lagi ya? Hem.. maaf Om jadi lupa karna akhir-akhir ini jadwal meeting Om sangat padat"
"Tidak apa-apa, tidak usah khawatir semua sudah Kenan serahkan kepada Axelle" jawab Kenan
"Ahh..Syukurlah. Maaf yaa karna kamu harus mengurus ini sendiri, harusnya Om yang urus sebagai pihak perempuan"
"Tidak masalah Om. Thalita akan membantu Kenan untuk cek semuanya" ucap Kenan sambil melirik kearah Thalita
"Hahh...kata siapa??" gumam Thalita
"Ya sudah Ayah berangkat. Ken Om duluan ya.."
"Hati-hati dijalan Om"
"Kalau dia suka membantah jewer saja telinga nya" ucap Bayu berbisik namun terdengar oleh Thalita
"Ayahh!!..."
Mereka pun menyudahi sarapannya. Thalita pergi kekampus diantar oleh Kenan.
Didalam mobil selama perjalanan tak ada obrolan. Hanya ada rasa canggung dan beberapa kali Thalita melirik Kenan yang sedang fokus menyetir.
Kenan yang sedari tadi menyadari itupun menjadi salah tingkah. Ia berusaha menahan grogi nya, namun lama kelamaan Kenan jadi tidak fokus. Hingga akhirnya Kenan memilih untuk menepikan mobilnya. Menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya.
"Kenapa berenti?" tanya Thalita heran
"Kamu ini kenapa?" Kenan bertanya denan nada tegas
"Eh.. gue? Kenapa?"
"Apa kamu sadar, kamu sudah membuatku tidak bisa fokus menyetir"
"Trus salah gw apa?" Thalita masih belum mengerti dari ucapan Kenan. Kenanpun mendekatkan wajahnya ke wajah Thalita yang sedang bingung itu, hingga mata mereka beradu.
"Lihat aku. Sebentar lagi kamu akan selalu melihat wajah tampan ini setiap hari dan setiap detik. Bukan hanya saat aku menyetir, bahkan saat aku makan dan tidur. Kau akan selalu melihat wajah ini"
Thalita masih terdiam, mencerna setiap ucapan Kenan. Namun otaknya tak bisa berfikir, jantungnya mendadak berdetak kencang melihat wajah Kenan yang begitu dekat dan jelas. Sangat jelas dimatanya.
Matanya menjelajahi setiap sudut wajah Lelakinya itu. Alisnya tebal, mata yang sipit dengan bola mata coklat kekuningan, hidung yang mancung, bibirnya yang tipis kemerahan, ditambah kulitnya yang putih bersih mulus, tak ada jerawat ataupun bekasnya. Sungguh perpaduan yang sempurna.
Kenan tersenyum memperhatikan Thalita seperti orang yang terhipnotis. Matanya tak berpaling sama sekali dari wajahnya.
Kenanpun melakukan hal yang sama, dia memperhatikan satu persatu yang ada diwajah Thalita. Matanya bulat, bulu mata yang lentik, hidungnya kecil dan mancung, pipi yang sedikit chubby serta bibir mungil merah alami.
Kenan semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan dan akhirnya Kenan menempelkan bibirnya dibibir Thalita.
Thalita terkejut namun tidak ada penolakan. Kini tangan Kenan beralih memegang tengkuk leher Thalita dan menciumnya lebih dalam. Thalita menikmati setiap permainan yang Kenan mainkan.
__ADS_1
Awalnya hanya sebuah kecupan tapi lama kelamaan menjadi ciuman maut dipagi ini.
Kali ini mereka sama-sama menikmati.
Cukup lama mereka berciuman, hingga akhirnya mereka kehabisan nafas dan menyudahi ciumannya. Kenan tersenyum sambil menempelkan keningnya di kening Thalita.
"Udah puas belum?" ledek Kenan
"Isshhh....apaan si"
Thalita mendorong dada Kenan dan menahan tawanya karna malu.
Kenan yang melihat reaksi Gadisnya itupun tersenyum lebar dan melajukan mobilnya kembali.
*Dikampus
"Huhhh...syukurlah belum telat" ucap Thalita dengan lega
"Pulang jam berapa nanti?" tanya Kenan
"Hari ini cuma 1 mata kuliah, paling jam 10an udah selesai"
"Oke..Aku akan menjemputmu"
"Oke..Bye"
Thalita keluar dari mobil dan berjalan. Saat itu juga Revan baru datang dan melihat Thalita yang sedang berlari.
"Thalita.." panggil Revan
Revan menghampiri Thalita dan merangkulnya. Mereka pun berjalan bersama. Mereka tidak mengetahui jika ada sepasang mata yang memperhatikan dari dalam mobil.
"Siapa dia, kenapa Thalita mau dipeluk laki-laki itu... hah!! Awas saja nanti"
--
Selesai sudah aktivitas belajar mengajar dikampus itu. Thalita, Safira dan Winda keluar kelas bersama dan menuju kantin.
Sesampainya dikantin mereka memilih tempat dipojok seperti biasanya. Tempat itu kini memang selalu kosong karna tidak ada yang berani duduk disitu.
Jika ada yang duduk disitu pasti kena usir Thalita, jika tidak mau mengalah maka Thalita akan membuatnya babak belur. Jiwa barbar Thalita itu muncul sejak ia SMP.
Revan datang menghampiri mereka yang sedang menyantap makanan yang sudah mereka pesan.
"Pada makan apa nih..?" tanya Revan kepada ketiga gadis itu
"Uuh..jutek banget Non. Lo bisa ngga si kalau ngomong sama gw yang lembut gitu?"
"Ngga bisa!" ketus Safira
"Cih..jadi cewe ngga ada manis-manisnya banget lo..." ucap Revan sambil meraupkan tangannya kewajah Thalita
Pegawai kantin datang membawakan pesanan Bakso Revan.
"Makasih mba.. makanan lo mana Thal?
"Gw ngga makan, gw minum jus aja"
"Tumben..nih berdua sama gw aja"
"Ngga, lo makan aja sendiri. Gw ngga pengan makan"
"Tumben. Awas lo ya minta Bakso gw"
Mereka berempat pun menyantap makanannya diselingi dengan obrolan dan candaan. Mereka makan dan tertawa, suasana kantin selalu ramai jika ada mereka karna suara tawa yang begitu keras.
"Curut.. kayanya Bakso lo enak dehh.." ucap Thalita
"Truuuuusss..."
"Bagi.." ucap Thalita sambil nyengir
"Ngga ngga. Ngerecokin gw aja lo ahh"
"Yaelaa... satuuuuuu aja.." ucap Thalita sambil mengedipkan matanya
"Yaudah nih.. mangap"
Thalita pun membuka mulutnya dan menyantap Bakso yang diberikan Revan.
Kenan berjalan menuju kantin setelah keluar dari ruang Dekan untuk mengurus surat izin cuti Thalita. Dia menghampiri Thalita yang sedang disuapi Revan.
"Ehem..."
Mereka berempat langsung menoleh kesumber suara. Semua menatap laki-laki itu dengan heran.
Seorang laki-laki berpakaian rapi dengan kemeja tanpa jas yang digulung bagian lengannya sampai siku, dan memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya.
"Sedang apa kalian?" tanya Kenan dengan nada Ketus.
__ADS_1
Thalita terkejut ketika mendengar suara yang dia kenal itu. Tentu saja dia langsung mengetahui siapa pemilik suara itu.
"Apa kamu tidak punya tangan sampai harus disuapi"
"Ehh udah dateng, kok ngga nelfon" ucap Thalita seraya mengalihkan pembicaraan
"Ehh itu kaya Kenan ya.."
"Kayanya sih iya"
Safira dan Winda saling berbisik
Berbeda dengan Revan yang masih bingung dengan laki-laki didepannya itu.
"Ayoo...kita sudah telat" Kenan menarik tangan Thalita dan berjalan.
"Ehh iya.. gw duluan yaa" Teriak Thalita sambil berjalan mengikuti Kenan.
"Daaahhhh...." safira dan winda melambaikan tangannya
"Kayanya dia jealous tuh hahha...." ucap Winda
"Paling juga dimobil perang, hahhaa" ucap Safira.
Revan yang mendengar obrolan mereka pun memandang mereka dengan tatapan menyelidik. Safira dan Winda terdiam baru sadar kalau disitu ada Revan yang belum mengetahui hubungan Kenan dengan Thalita.
"Emm..girls. ke Cafe yuk.." ajak Revan
"Cafe? Ngapain? jawab Winda
"Yaa makanlah.. lo boleh pesen apa aja, gw yang bayar"
"Hahh...seriuss" ucap Safira hysteris
"Iyaa. Kalau perlu smaa mas mas cafe nya gw bayarin buat lo"
Safira dan Winda menyetujui ajakan Revan, tanpa mengetahui maksud dan tujuan Revan.
-
Didalam mobil, seperti biasanya tidak ada obrolan hanya ada rasa canggung. Bahkan kali ini lebih canggung karna Kenan yang memasang muka masam tidak seperti biasanya.
"Ken... muka lo kenapa, kusut amat"
"Siapa dia?
"Ehh.. dia? Yang mana?
"Baru mesra-mesraan tadi sekarang sudah lupa"
"Ooh itu Revan, dia sahabat gw juga"
"Cihh....sahabat! Sahabat rasa Pacar???"
"Kenan kenapa yaa...ko sewot gitu si. Apa dia jealous yaa hahha gw kerjain ahh" ucap Thalita dalam hati
"Yaa bisa dibilang begitu" jawab Thalita cuek
"Hahh.. dasar" gumam Kenan
"Malah kadang gw yang suapin dia, trus dia juga sering gendong gw dibelakang kalo gw lagi males jalan..ooya.. kita juga pernah......" Thalita melanjutkan ucapannya
Namun belum selesai bicara Kenan memotong pembicaraannya karna cemburu. Telinga nya seakan panas mendengarkan cerita Thalita
"STOP!! dasar cerewet, suaramu tuh bikin kuping panas tau?? Mulai sekarang jangan deket-deket dia lagi" ucap Kenan kesal
"Dihh..kenapa? Dia sahabat gw dari kecil dan sampai kapanpun akan tetap bersahabat" jawab thalita kesal dan tak mau kalah
"Dasar bodoh!! Tidak ada persahabatan yang kekal antara laki-laki dan perempuan, yang ada juga dari sahabat jadi cinta"
"Cinta?? Maksudnya Revan cinta sama gw gitu.. hahhahaa... yaa ngga mungkinlah"
"Why Not? Dia laki-laki. Pokonya aku ngga suka kamu deket-deket dia lagi. Titik!!!"
"Dihhh... kenapa? Kok jadi ngatur-ngatur gitu. Gw paling ngga suka ya diatur-atur. Emang lo siapa ngatur-ngatur gw??"
"Aku calon suami kamu... ayo turun"
"Ishh...baru juga calon"
Merekapun mengakhiri perdebatannya karna mobil sudah sampai diparkiran butik.
.
.
...----------------...
jangan lupa vote yaa😘
__ADS_1