Trail LOVE

Trail LOVE
82. Malam Puncak 2


__ADS_3

Sesi penyerahan kini telah selesai, Bayu pun sudah menyerahkan Resort itu kepada putri semata wayangnya didepan orang-orang yang hadir malam ini sebagai saksi.


Alunan musik mengiri pelukan dan ucapan selamat kepada Thalita dari orang-orang terdekat. Mereka mulai membicarakan bisnis kepada Thalita agar ia dapat memahami bisnis.


"Ahh...ternyata rumit ya mengelola bisnis itu. Lita kan belum pernah belajar bisnis sama sekali, Ayah ngga takut kalau Resort ini bangkrut" ucap Thalita


"Hushh... hati-hati, omongan itu Doa lohh" ujar Vina


"Ayah percaya sama kamu sayang, kamu pasti bisa. Apalagi sekarang ada Kenan disampingmu, dia pasti akan membantumu. Apa kamu tidak tahu suamimu itu lebih hebat dari Ayah kalau soal bisnis" sambung Bayu sambil melirik menantunya itu. Kenan hanya menundukkan kepalanya dan tersenyum.


"Aku pun masih banyak belajar Ayah" ucap Kenan


Mereka berbincang panjang lebar mengenai bisnis, menyenangkan bagi mereka membicarakan topik yang satu itu namun tidak dengan Thalita. Ia nampak bosan dengan perbincangan itu. Ia pun beralih ke meja lain dimana teman-temannya berkumpul.


"Ngapain lo kesini.. tempat lo kan disono noh.." ujar Revan sambil menunjuk ke arah meja tempat keluarganya berkumpul


"Bete ahh..disana pada ngomongin bisnis, ngga ngarati gw" jawab Thalita


"Justru itu lo harus belajar, udah sana..." usir Revan


"Lo kenapa si..ngga suka banget gw disini. Gw bukan mau nemuin lo ya.. gw mau sama Safira ma Winda"


"Yeee...lo liat dong disini udah berpasang-pasangan, nahh pasangan lo mana?" ujar Revan. Tentu sjaa itu membuat thalita terkejut karna dimeja itu ada Safira, Winda, Revan dan juga Axelle.


"Lohh kalian...?" tanya Thalita sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah kanan dan kiri.


"ahh hahhaa... boong dia, curut lo percaya hehee...lo apaan si Van, bikin malu aja" jawab Safira dengan malu nya karna tak enak hati dengan Axe


"Lahh emang bener kita kan berempat, kalau dia disini ganjil dong"


"Hahh...serah lo deh" ujar Thalita


"emm...gw ketoilet dulu ya" ucap Winda lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan meja.


Revan terus memandangi kepergian Winda, hingga sampai tak terlihat barulah Revan beranjak dari kursinya.


"Mo kemana lo?" tanya Thalita


"Ikut yuk..."


"kemana?"


"Toilet, temenin gw buang air"


"ihhh...najis.. gw tampol lo ya.."


"hahhaaa...."

__ADS_1


Revan pun pergi menyusul Winda dan sampainya di toilet ia tak melihat winda, mungkin winda masih didalam pikirnya. Revanpun memilih untuk menunggunya. Sambil memainkan gelang ditangannya yang akan diberikan kepada Winda, ia masih setia menunggu Winda. Namun selang beberapa lama ia mulai bingung karna sudah lama ia menunggu namun Winda tak juga keluar.


"Sebenernya Winda ditoilet apa ngga ya..masa ketoilet lama amat. orang buang air besar juga ngga lama-lama amat kali" ucap Revan dengan kegusarannya.


"Mba, didalem masih ada orang ngga?" tanya Revan kepada wanita yang bertugas membersihkan toilet saat itu yang baru saja keluar dari dalam toilet.


"Kosong Mas"


"Hah..kosong"


"Benar Mas, tadi Saya habis bersihkan semua toilet didalam"


"Oke Mba makasih ya.."


"Baik Mas, Saya permisi"


"Kemana tuh anak" Revan berjalan menjelajahi mencari Winda. Tak jauh dari toilet Revan melihat Winda yang bersembunyi dibalik dinding. Ia tak tahu siapa yang sedang dilihatnya. Revan pun perlahan mendekati Winda dan menepuk pundaknya.


"Hehh...ngapain lo disini, main petak umpet?"


"sssttt.... jangan brisikk.."


"ada apaan sih? maling?"


"Tuh ulet keket"


"ssstttt....udah gw bilang jangan brisik ngerti ngga si lo"


"Sekali lagi lo ngomong, gw robek mulut lo" ancam Winda membuat Revan menutup mulutnya dengan tangannya.


Winda kembali diam-diam mengawasi orang yang ia sebut ulet keket itu. Karna penasaran Revan pun ikut mengawasi orang itu meski ia belum tahu siapa orang itu dan sedang apa mereka. Revan hanya melihat ada dua orang yang sedang berbincang, seorang wanita yang berbicara dengan seorang laki-laki yang memakai seragam pegawai Resto di Resort itu. Revan belum sadar kenapa Winda memperhatikan mereka.


Setelah beberapa menit akhirnya wanita itu berbalik badan sehingga wajahnya terlihat sangat jelas.


"Ehh.. itu Disya kan?" ucap Revan saat melihat Disya yang berjalan kearah mereka.


Winda buru-buru menarik kerah jas Revan dari belakang dan mengajaknya masuk kedalam ruang janitor yang ada didekatnya untuk bersembunyi agar tak terlihat oleh Disya.


Ruangan itu begitu sempit karna memang ruangan itu hanya untuk tempat meletakkan alat kebersihan saja. Tanpa sadar tubuh Winda berhadapan dengan tubuh Revan dan hanya berjarak beberapa centimeter saja, mungkin bisa dibilang saat ini posisi mereka seperti pasangan yang hendak berdansa hahhaa...


Namun beda dengan Revan yang menyadari keadaan dirinya itupun tak bisa berkutik, tubuhnya seakan kaku bibirnya seakan kelu karna detak jantung yang tak karuan. Revan terus memandangi Winda, sementara Winda terus melihat keluar dari celah pintu dan memastikan Disya sudah menjauh dari sana.


"Win.." Revan memberanikan diri untuk memanggil Winda


"Apaan" jawab Winda tanpa menoleh kran masoh mengintip keluar.


"Lo cantik banget sih"

__ADS_1


"APA!!" Winda langsung menoleh karna terkejit mendengar perkataan Revan


"Lo cantik, caaaaantik bangett...sumpah"


"emm...apaan sii..ngga jelas" ucap Winda yang langsung memalingkan wajahnya dan menahan semyumnya karna malu.


"Lahh..jelas begini juga. Sini tangan lo" Revan menarik tangan Winda dan memakaikan gelang Couple yang gagal ia berikan saat di Cafe waktu itu.


"Apa nih"


"gelang. masa ngga tau"


"yaa tau gelang, maksudnya..."


Cupp.. Revan mengecup pipi Winda singkat lalu melepasnya dan melayangkan senyumnya. Tentu saja tingkah Revan itu membuat wajah Winda bersemu merah karna malu.


"Ihh....apaan si lo..." ucap Winda sambil memukul dada Revan, namun Revan malah menarik tangan Winda hingga semakin dekat lagi dengannya, sedangkan tangan satunya menahan tubuh Winda agar tak bisa menghindar.


"emm...kayanya udah aman diluar, engap gw lama-lama disini" ucap Winda dengan gugup karna terlalu lama didekapan Revan.


Revan tidak menggubris ucapan Winda, diruangan sempit itu Revan merasakan kenyamanan. Bebauan yang tak enak serta hawa panas dan engap itu tak dapat ia rasakan. Saat ini yang ia rasalan hanyalah berada ditempat yang paling romantis bersama wanita yang membuatnya jatuh cinta.


Winda pun menatap Revan dengan penuh tanya, namun ia juga tak dapat menghindari dari posisi nyamannya saat ini.


"Baru sadar gw, ternyata Revan ganteng juga ya... yaaa Tuhan...semoga Revan ngga denger suara jantung gw.." ucap Winda dalam hati


Cukup lama mereka saling bertatapan, saling mengagumi satu sama lain. Hingga tangan Revan tergerak menyentuh tengkuk Winda dan mengusap pipi Winda dengan ibu jarinya membuat Winda memejamkan mata seperti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Revanpun tersenyum dan mengira Winda menginginkan Revan menciumnya. Dengan senang hati Revan memulai aksinya. Ia memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka bersentuhan. Baru saja bibir mereka bersentuhan, mereka dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka.


Dengan sigap mereka menoleh kearah pintu dan betapa terkejutnya mereka saat melihat seorang Office boy membuka pintu itu. Haduhh kebayangkan malunya gimana..


"!Mas, Mba... maaf Saya tidak tahu kalau ada orang didalam"


"eeeenggg... ngga apa-apa mas, tadi kita kekunci. makasih yaa udah bukain pintunya.. misi mas"


Revan langsung menarik tangan Winda dan membawanya pergi dari situ. Sambil berjalan mereka menahan tawa mengingat kejadian tadi, namun akhirnya mereka saling menatap dan tertawa bersama karna tak bisa lagi menahan tawa mengingat kejadian tadi.


"Sumpah yaa lo bikin gw malu tau...." ujar Winda


"Emang lo doang yang malu, gw juga" sambung Revan.


"Hahahhahaaa..."


.


.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2