
Cahaya mentari pagi hari ini menembus kaca jendela rumah sakit. Thalita mengerjapkan matanya saat indera penciumannya menangkap aroma masakan, seperti masakan Ibunya.
"Ibu..." Thalita memanggil Ibunya dengan mata yang masih terpejam lalu kemudian perlahan membuka matanya.
Saat matanya terbuka dia melihat sosok lelaki tampan yang sedang tersenyum menatapnya.
"Morning sayang..." ucap Kenan sambil tersenyum manis
Sungguh pemandangan yang indah bagi Thalita.
"Emmm...morning" jawab Thalita sambil menggeliatkan sedikit tubuhnya.
"Kamu mimpiin Ibu yaa... tadi aku dengar kamu panggil Ibu" tanya Kenan
"Ngga, cuma aku nyium bau masakan Ibu, ngga sengaja jadi panggil Ibu" wajah Thalita terlihat sedih
"Oh maksud kamu bau ini" ucap Kenan sambil menyodorkan semangkuk sup.
"Hah...Sup Udang..." Mata Thalita berbinar wajahnya berseri seketika melihat Sup Udang kesukaannya.
Thalita memang sangat menyukai Sup Udang dari kecil hingga sekarang. Dulu Ibunya selalu memasak Sup udang untuknya. Namun setelah sang Ibu meninggal Thalita sudah jarang memakan sup udang. Karna sup udang buatan Bi Een tak seenak buatan Ibunya. Dia jadi teringat Vina, karna Sup udang buatan Vina sama persis rasanya dengan Sup udang buatan Ibunya.
"Lahap banget makannya... laper ya" ledek Kenan yang melihat Thalita makan begitu nikmat seperti belum makan selama sebulan.
"Enak banget Ken, mirip masakan Ibu gw" saking fokusnya dia melahap sup nya sampai lupa bilang "gw"
"Hemm..ngomong apa tadi?" ucap Kenan dengan sorotan mata yang membidik.
"Ups... maaf Ken keceplosan, makanya kamu diem dong jangan ganggu aku makan" protes Thalita dengan mulut yang penuh dengan makanannya.
"Baiklah, aku ngga akan ganggu. Tapi setelah makan bersiaplah menerima hukuman dariku"
Thalita hanya mendengarkan tanpa merespon ancaman Kenan. Dia benar-benar menikmati sup udang itu dengan lahap hingga tak terasa sup itu habis tak tersisa sedikitpun.
"Wahh...jahat, aku ngga disisain? daritadi aku nungguin lohh..."
"Lohh...kamu mau?? Kenapa ngga bilang tadi"
"Gimana mau bilang kamu makan kaya orang kesurupan"
"Yahh...maaf. abis sup nya enak banget sih. Ini dari mana sup nya? Ngga mungkin Bi Een kan, karna rasanya beda"
"Tadi ada Wanita cantik kesini memberiku sup ini, dia bilang ini spesial buat kamu"
"Wanita cantik? Siapa ya?" Thalita mengernyitkan dahinya seraya berfikir siapa Wanita cantik yang Kenan maksud.
Bukannya menjawab, Kenan malah beranjak untuk mengambil kursi roda yang ada kamar itu.
"Emm...kita ketaman yuk..Wanita itu nunggumu ditaman"
__ADS_1
Setelah dianggukkan oleh Thalita, Kenan mengangkat tubuh Thalita dan mendudukkannya di kursi Roda.
Kenan mendorong kursi roda itu melewati lorong Rumah sakit menuju Taman. Sesekali Kenan mencium pucuk kepala Thalita memberikan kenyaman kepada kekasihnya itu.
Setelah sampai ditaman, benar saja ada seorang Wanita sedang duduk dikursi taman itu menunggunya. Thalita terkejut saat Wanita itu menoleh dan tersenyum padanya. Wajahnya tidak asing lagi bagi Thalita. Wajahnya masih secantik dulu meskipun usianya kini sudah memasuki 40an seumuran dengan Ibunya.
"Ta-tante Vina"
"Jadi Sup ini...." Thalita melirik kearah Kenan
"Iya, Sup yang kamu makan seperti orang kesurupan tadi itu masakan Tante Vina"
"Oh..." Thalita jadi malu dengan ucapan Kenan.
"Sama-sama sayang" jawab Vina dengan senyum mengembang dari bibirnya. Dia senang karna ternyata Thalita memakan lahap Sup udang buatannya.
"Baiklah, Tante.. aku tinggal dulu ya" Kenan pamit kepada Vina. Dan dijawab anggukkan oleh Vina sambil melemparkan senyum.
"Eh..mo kemana?" tanya Thalita sambil menahan tangan Kenan yang hendak pergi
"Aku lapar, kamu enak udah kenyang. Aku kekantin dulu oke?" jelas Kenan, Kenan sengaja meninggalkan mereka berdua agar bisa saling bicara.
Sebenarnya Thalita tidak mau kenan pergi, dia ingin ditemani oleh Kenan. Namun Thalita juga kasihan karna Kenan belum makan.
Kenanpun pergi meninggalkan mereka berdua setelah mendapat anggukkan dari Thalita pertanda "ok" namun sebelumnya Kenan mencium pucuk kepala Thalita.
"Emm..." jawab Thalita cuek.
Vina menyadari sikap Thalita yang dingin itu. Bahkan dia melihat Thalita yang tidak mau menatapnya.
"Maaf kalau Tante kesini mengganggu kenyamanmu"
Thalita mendengar namun tak merespon. Mereka saling diam hingga Vina melanjutkan ucapannya lagi.
"Tante minta maaf, atas apa yang terjadi antara kamu dan Ayahmu. Ini semua salah tante. Ayahmu ngga salah apa-apa" ucap Vina dengan wajah penuh penyesalan.
"Dia sangat menderita saat kamu bilang tidak ingin melihatnya lagi. Sejak itulah Ayahmu tidak pernah berani menemuimu itu karna Ayah tidak ingin melihat kamu menangis dengan tatapan penuh kebencian" jelas Vina.
Thalita mendengarkan dan mencerna penjelasan Vina. Suara Vina yang mulai sendu membuat Thalita sedikit mencair.
"Untuk itulah Tante kesini, Tante mohon jangan benci Ayahmu. Kalau ada yang harus kamu benci itu Tante bukan Ayah. Tante yang sudah masuk kekehidupan Ayah setelah Ibumu." sambung Vina. Kali ini suaranya semakin sendu, terdengar sedih karna Vina berusaha menahan tangisnya. Namun akhirnya air mata yang susah payah Vina tahan jatuh juga.
"Maafkan Tante....Maaf..." seketika tangis Vina pecah dan itu membuat Thalita menitikkan air matanya juga namun masih enggan menatap wajah Vina.
Vina menghela nafasnya, dan mengusap air matanya sebelum melanjutkan kembali ucapannya.
"Ini pertama kali dan terakhir Tante menemuimu setelah 13tahun lamanya. Setelah ini Tante akan menjauh dari kehidupan kalian, Tante janji tidak akan lagi menghubungi Ayahmu. Tante akan berangkat ke Jepang dan menetap disana"
Suara Vina terdengar semakin berat. Vina menggenggam tangan Thalita lalu menyikap rambut Thalita yang menutupi wajahnya itu, dia sangkutkan ketelinganya.
__ADS_1
"Jaga dirimu juga Ayahmu. Tante berharap kalian akan selalu hidup bahagia. Tante tidak ingin memisahkan kalian"
Mendengar itu air mata Thalita semakin deras. Entah kenapa Thalita merasakan pedih saat mendengar Vina akan pergi untuk menjauh.
Perlahan Vina melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Thalita lalu mengambil tasnya dan menggantungkan dipergelangan tangannya. Dengan berat hati Vina beranjak dari duduknya bersiap untuk pergi, Vina melangkahkan kakinya perlahan meninggalkan Thalita. Setelah beberpaa langkah, langkahnya tertahan saat Thalita membuka suaranya.
"Jangan pergi.."
Vina terkejut dan menoleh kebelakang menatap Thalita. Thalita yang tidak dapat menoleh itupun merasakan keberadaan Vina yang belum jauh dari tempatnya tadi.
"Jangan pergi...Tante" ucap Thalita lagi. Kali ini matanya sendu dan mengeluarkan air mata.
Vina yang mendengar itu langsung berbalik dan menghampiri Thalita. Dia berjongkok tepat didepan kursi roda Thalita. Dia tatap mata Thalita mencari kepastian disana.
"Lita mohon tante.. jangan pergi. Bahagiakan Ayah, Lita sadar selama ini Ayah kesepian. Lita yakin cuma tante wanita yang bisa membahagiakan Ayah setelah Ibu.." Thalita tertunduk Air matanya semakin deras.
Vina mengangkat wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menatapnya dengan mata yang berbinar hingga menitikkan air mata. Rasanya tak percaya atas apa yang barusan didengarnya.
Tangan kanan Thalita meraih punggung tangan Vina. Dia turunkan tangan Vina dari wajahnya lalu menggenggamnya.
"Tante mau kan, tetap disini dan bahagiain Ayah?" tatapan sendu dan air mata Thalita menunjukkan bahwa ia benar-benar tulus mengatakan itu.
Vina pun mengembangkan senyumnya dan menitikkan air mata kebahagiaan. Spontan Vina langsung memeluk Thalita setelah menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih sayang... terima kasih. Tante janji akan selalu membahagiakan kamu dan Ayahmu. Tante janji" ucap Vina kemudian melepaskan pelukannya, mereka saling senyum dan tertawa karna bahagia.
Kenan yang sedari tadi melihat pertunjukkan dua wanita itupun ikut terharu.
Yaa Kenan berbohong kepada Thalita, dia tidak pergi kekantin melainkan ketempat sedikit menjauh dari Thalita, dia tidak berani meninggalkan Thalita karna khawatir Thalita marah dan terjadi sesuatu padanya.
Pikirnya bisa saja Thalita marah lalu berusaha pergi dari taman untuk menghindari Vina mengingat Thalita adalah gadis yang nekat.
"Wahhh...ada apa nih ko pada senyum senyum.... emmm pasti ngomongin ketampanan seorang laki-laki yang bernama Kenan yaa..." ledek Kenan.
"Ishhh....apaan si. Pede banget" ucap Thalita sambil mencubit perut Kenan hingga kesakitan.
"Aww... tapi emang aku tampan kan"
"Hahaha..." mereka tertawa bersamaan.
Sungguh pemandangan yang indah bagi Kenan melihat Thalita yang tertawa begitu lepas. Satu persatu bebannya terlepas sudah. Tinggal selangkah lagi dia akan merasakan kebahagiaannya lagi.
.
.
...----------------...
Terima kasih banyak atas respon teman-teman semua..🥰🥰
__ADS_1