
"Kamu ngga apa-apa?" ucap seorang laki-laki tampan yang baru saja keluar dari mobilnya.
Thalita membelalakkan matanya, senang rasanya melihat wajah tampan laki-laki itu. hingga akhirnya mereka pun saling adu pandang.
"Ahh...ganteng banget" ucap Thalita dalam hati
"Ken, tahan dia.." teriak Bayu kepada laki-laki bernama Kenan itu.
Thalita tersadar dari tatapan kagumnya lalu segera melanjutkan aksi nya. Kenanpun menahan Thalita yang hendak berlari itu dengan memegang pergelangan tangannya.
"Apaan si... lepasin!!" ketus Thalita sambil memberontakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman Kenan.
Saat tangan Thalita berhasil terlepas, Thalita melanjutkan aksinya. Namun baru selangkah maju Kenan menahannya kembali. Kini bukan pergelangan tangannya yang ia raih, tapi tubuhnya. Kenan melingkarkan tangannya diperut Thalita lalu menariknya kepelukan Kenan. Posisi Kenan kini berada dibelakang Thalita yang memeluk dirinya.
"Ishhh....ngapain sih. Lepas ngga??!!" ujar Thalita
"Maaf sayang, Ini perintah Ayah mertua" bisik Kenan dan mempererat pelukannya
"Jangan modus deh.." sinis Thalita
"Hahhaa...." tawa Bayu yang baru saja sampai dihadapan mereka.
Kenan melepaskan tangannya dari tubuh Thalita dan beralih menggenggam tangannya.
"Apa kabarmu hari ini Ken?" tanya Bayu
"Hah..sebenarnya kurang baik Om. Karna calon istriku tidak mau membalas pesanku, telfonpun tidak diangkat" ucap Kenan sambil melirik ke arah Thalita hingga membuat Thalita jengah.
"Maaf yaa..Thalita sudah banyak merepotkanmu" ucap Bayu dan dibalas senyuman oleh Kenan.
"Ayo kita masuk Ken... dan kau anak nakal, sepertinya kamu kangen dengan hukuman Ayahmu ini Hahh!!..." Bayu mempersilahkan Kenan masuk kemudian menjewer telinga Thalita hingga kesakitan.
"Aww... Ayah sakit" pekik Thalita
"Om maaf.. Kenan mau ajak Thalita keluar sebentar, boleh?" ucapan Kenan menghentikan langkah Bayu dan memitar tubuhnya kembali menghadap Kenan.
"Hemm..." Bayu berfikir sejenak, ia ingin mengizinkan tapi ia juga ingin menghukum Thalita.
"Gw ngga bisa. Lo ngga denger tadi kalau gw lagi dihukum" tegas Thalita kepada Kenan.
__ADS_1
Bayu mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Thalita. Hingga ia pun paham kalau putrinya itu sedang ngambek. Terlihat dari raut wajahnya kalau Thalita tidak ingin bertemu dengan Kenan.
"Ayah, ayo masuk. Lita siap terima hukuman apapun dari Ayah. Ayo..." ajak Thalita yang sudah melingkarkan tangannya di lengan Bayu.
Bayu pun mempunyai ide, sepertinya hukumannya lebih berat dengan mengizinkannya pergi bersama Kenan.
"Aahh....tentu saja Ken, silahkan bawa anak nakal ini" ucap Bayu sambil melepaskan tangan Thalita yang melingkar dilengannya dan sedikit mendorong tubunya ke tubuh Kenan
"Ayah...Lita ngga mau pergi sama dia" ujar Thalita
"Tadi bukannya kamu mau pergi, Silahkan pergi Ayah izinkan" jawab Bayu
"Tapi bukan sama dia.." ujar Thalita kembali namun tak digubris oleh Bayu
"Sudah pergi sana, Ken nanti makan malam dirumah ya... sekalian Om mau bicara sama kamu" ucap Bayu.
"Baik Om.. Ayoo sayang" senyum lebar terlihat manis dari wajah Kenan.
"Oke.. tapi gw mau nya ke Cafe, Safira sama Winda ada disana"
"Okee..." jawab Kenan lalu mengemudikan mobilnya ke Cafe.
Merekapun menyodorkan tangannya dan Tos ala Thalita.
"Hi.. Ken" tak lupa mereka juga menyapa Kenan yang berdiri dibelakang Thalita.
Kenan menarik kursi untuk Thalita kembudian menarik kursinya lagi untuk dirinya sendiri.
"Gw kira ngga bisa keluar lo, lama bener" ucap Winda
"Iya..syukurlah lo masih idup" sambung Safira
"Bisalah... kaya ngga tau gw aja lo" ujar Thalita
"Iyalah ada pangeran penyelamatnya" sambung Revan yang membuat Winda dan Safira tertawa
Thalita melambaikan tangan kepada pelayan Cafe lalu memesan makananya, mengingat dia sangat lapar karna pagi ini dia melewatkan sarapannya. Belum lagi tenaga yang terkuras saat menghadapi Ayahnya.
Setelah memesan beberapa menu untuk dirinya dan juga Kenan, Thalita melanjutkan obrolannya.
__ADS_1
"Eh Curut... Thanks yaa lo dah anterin gw pulang semalem... btw lo diomelin ngga sama bokap gw" ucap Thalita kepada Revan yang sedang Asyik menyantap Spagethy nya itu.
"Emm...jangan bilang makasih sama gw, bukan gw yang nganterin lo" jawab Revan sambil mengunyah Spaghety dalam mulutnya.
"Oh bukan lo.. trus siapa dong. Abang taxi?"
"Nih..orangnya" ucap Revan sambil menununjuk Kenan dengan jari telunjuknya.
"Oh..kenapa ngga lo aja sih yang nganterin gw?" ucap Thalita
"Ngapain amat.. udah ada calon suami masih aja lo ngerepotin gw" jawab Revan
Thalita menoleh kearah Kenan dan menatapnya beberapa saat. Kenanpun menjadi salah tingkah dan sesekali meliriknya.
Pandangan Thalita teralihkan saat pelayan datang membawa pesanan.
Seperti biasa merekapun berbincang dan tertawa bersama, tak lupa menyantap makanan yang dipesannya.
Tak terasa hari sudah sore. Merekapun berniat untuk pulang. Merekapun meninggalkan Cafe setelah Kenan membayar pesanan mereka.
Sebelum pulang Kenan mengajak Thalita ke rumahnya. Mengingat nanti malam Kenan akan makan malam dirumah Thalita. Kenan harus mandi dan mengganti pakaiannya yang sudah seharian ia pakai.
Ini pertama kalinya Thalita kerumah Kenan. Selama ini Kenan hanya mengajaknya ke Hotel atau ke apartemennya. Sebagai seorang Arsitektur Thalita kagum melihat Design interior dan eksterior rumah itu.
"Aku mau mandi. Kamu mau tunggu disini atau dikamarku" ucap Kenan
"Ihh...ngapain gw kekamar lo. Minta gw mandiin?" jawab Thalita
"Boleh..sekalian mau kasih hukuman ke kamu karna sebut "gw,lo" sama aku" ujar Kenan
"isshh... serah gw lahh mau ngomong apa" sinis Thalita
Kenan mendekatkan wajahnya kewajah Thalita membuat Thalita melangkah mundur. Kenan terus mendekat dengan mata yang menatapnya lekat serta senyum manis dibibirnya. Thalita masih terus melangkah mundur untuk menghindar hingga akhirnya terpentok sofa dan jatuh terduduk disofa tentu saja membuat Kenan mempermudah aksinya.
.
.
...----------------...
__ADS_1