
Hari demi hari telah berlalu, waktu seakan berjalan begitu cepat.
Thalita yang sedang berada dikamarnya kini sedang terbaring ditempat tidurnya namun tidak tidur. Ia masih memikirkan ide-ide untuk membatalkan rencana Ayahnya untuk menjodohkannya dengan laki-laki yang belum dikenalnya.
Dalam lamunannya Thalita mendengar suara ketukan pintu disertai teriakan memanggil namanya. Tentu saja suara itu tidak asing lagi bagi Thalita.
Tok..tok...tok..
"Thalitaaaa.... thal...." panggil Safira dan Winda sambil terus mengetuk pintu.
Ceklek..
Thalita membuka pintunya, Safira dan winda pun langsung masuk sebelum Thalita mempersilahkannya.
"Lo kemana aja si Thal, ditelfonin ngga diangkat-angkat. Bikin khawatir aja tau ngga!!!" seru Winda
"Tau ihh...gw kira lo gantung diri ditelfonin ngga diangkat-angkat" ucap Safira
"Lo kira gw udah gila, gw masih waras kali.." jawab Thalita
"Gw cuma mumet aja mikirin gimana caranya supaya gw ngga jadi dijodohin" sambung Thalita dengan nada kesal dan sedih.
"Yaudah si terima aja..siapa tau dia jodoh yang baik buat lo" ucap Winda
__ADS_1
"Cihhh...ngga akan! Pokonya gw ngga mau nikah muda. Gw masih pengen bebas, gw masih pengen seneng-seneng..ngga kebayang deh gw, punya pacar aja gw ogah apalagi punya suami.. ngga dehh!!" Seru Thalita
"Lahh trus lo ngga mau nikah gitu" tanya Safira
"Yaa mau tapi nanti kalo gw udah siap, gw udah puas dengan masa muda gw dan gw udah mencapai titik keberhasilan gw sebagai Arsitektur" ucap Thalita.
"Hemm...." kedua sahabatnya saling pandang dan membuang nafasnya kasar
Suara kamar pun hening, hanya terdengar suara hembusan angin dari balkon kamar yang menjadi satu dengan ruang belajar.
Diruang belajar inilah mereka berada saat ini. Ruangan ini bagai ruang multifungsi bagi Thalita, bisa untuk santai, saat ada masalah atau saat banyak tugas dan bisa dikatakan tempat untuk menenangkan diri.
Tak lama kemudian Winda mendapatkan ide, entah Thalita setuju atau tidak
"Thal gimana kalo lo bilang sama bokap lo kalo lo itu udah punya cowo" ucap Winda
"Lo yakin? Tapi kan gw ngga punya cowo?" Ucap Thalita
"Ehhh cowo pura-pura aja, ngga usah beneran. Lo cari cowo lo ajak dia buat jadi pacar pura-pura lo, abis itu lo kenalin ke bokap lo trus lo bayar, bereskan" seru Winda
"Wahhh gila...trus kalo bokap gw minta dia buat nikahin gw gimana?" Ucap Thalita
"Gampang..bilang aja orang tua cowo lo itu lagi ada diluar negri jadi nunggu balik kesini baru nikah. Nahh kalo bokap lo nanyain lagi tinggal bilang aja kalo lo udh putus. Gampang kan?? Yang penting aman dulu sampe perjodohan lo batal..gimana gimana? Oke ngga ide gw" seru Winda sambil senyum senyum sekalian memainkan alisnya naik turun
__ADS_1
"Oke juga" ucap safira yang menyetujui ide winda. Namun tidak dengan Thalita, dia masih ragu apakah Ayahnya akan menerima laki-laki yang akan dia bawa nantinya.
"Udah Thal coba aja dulu ngga ada salahnya kan, daripada lo cuma bengong aja ngga gerak gerak" ucap Safira
"Okelah..gw coba. Tapi...cowo nya siapa ya? Yang pasti cowo itu harus pengusaha juga dong, karna Ayah gw kan jodohin gw sama dia karna dia pengusaha" Ucap Thalita sambil berfikir dan diikuti kedua temannya itu.
"Ehh gimana kalo si pengusaha itu, siapa namanya? Itu loh yang ada dikartu nama" ucap Safira
"Kenan" winda dan Thalita menjawab bersamaan
"Nahh iya Kenan, dia kan pengusaha tuh cakep lagi" ucap safira
"Trus gimana caranya gw ngomong sama dia yaa.. apa dia mau?" tanya Thalita kepada kedua sahabatnya itu
"Yaa lo pikir lah.. gw yang ngasih ide masa gw juga yang mikir.. giliran lo deh tuh, gw tinggal bantu doa aja semoga berhasil" ucap Winda sambil diselingi tawa.
Safira dan Winda pun pamit untuk pulang. Mereka pun pergi meninggalkan Thalita dikamarnya yang masih berfikir.
.
.
.
__ADS_1
...----------------...