Trail LOVE

Trail LOVE
83. Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Lama Sudah Tak Kulihat


Kau Yang Dulu Kumau


Kadang Ingat Kadang Tidak


Bagaimana Dirimu


Kau Cantik Hari Ini


Dan Aku Suka


Kau Lain Sekali


Dan Aku Suka


Entah Ada Angin Apa


Kau Berdiri Disana


Berhenti Aliran Darahku


Kau Menatap Mataku


Kau Cantik Hari Ini


Dan Aku Suka


Kau Lain Sekali


Dan Aku Suka


Tak Kan Kubiarkan Lagi


Kau Menghilang Dari Kehidupanku


Oo.yeaa


________________


Revan memetikkan gitar dan menyanyikan lagu "Cantik Hari Ini" dipersembahkan untuk semua wanita dipesta malam ini, meskipun sebenarnya lagu itu ia tujukan untuk Winda.


Winda tahu jika lagu itu ditujukan untuk dirinya karna secara terang-terangan Revan mengucapnya tadi. Disamping itu Winda jadi teringat kejadian memalukan tadi, ia pun tertawa namun masih bisa ia tahan. Jika saja saat ini ia bukan berada di pesta mungkin ia akan tertawa terbahak-bahak.


"Lo kenapa Win..cengengesan aja. Emang ada yang lucu" tanya Safira yang melihat Winda tertawa sendiri.


"Ahh...hhehee ngga kenapa-napa" jawab Winda sambil memamerkan giginya.


"Dihhh anehh... sakit jiwa lo yaa.."


Suasana semakin hidup saat Revan dan Thalita bernyanyi bersama diatas panggung. Mereka bukan hanya pasangan di arena balap liar, mereka juga pasangan dipanggung. Mereka mengajak semua untuk ikut bernyanyi dengan bahagia. Revan dan Thalita memang pintar membangkitkan suasana menjadi ramai dan semua bergembira.


Sementara dimeja sana ada sepasang mata yang menatapnya sinis dan menyunggingkan senyumnya sinis.


"hemmm... nikmatilah Thalita, ini adalah lagu terakhir yang kau nyanyikan karna sebentar lagi kau akan kehilangan suaramu" gumam Disya dengan senyum jahatnya.


Suara tepuk tangan membuyarkan pandangan Disya, Revan dan Thalita kini turun dari panggung. Pujian demi pujian ia dapatkan karna suaranya yang bagus. Tak lama seorang pelayan datang dan memberikan minuman kepada Thalita dan juga yang lainnya. Disya menatapnya dengan tajam, menantikan adegan seru yang ia buat.

__ADS_1


"Mari kita bersulang untuk malam ini" ajak Revan sambil mengangkat gelasnya.


Semua pun bergerak untuk mengangkat gelas yang ada ditangan mereka masing-masing.


Ceeeeerrrrrsssss..... suara kompak terdengar dari mulut mereka sambil memantulkan ke gelas-gelas minuman mereka lalu meminumnya.


Disya meminum minumannya sedikit demi sedikit sambil menatap Thalita tak berkedip ada rasa puas dalam hatinya, karna Thalita meminumnya dengan habis. Rupanya bernyanyi tadi membuat Thalita haus.


Winda dan Revan tersenyum memperhatikan Disya yang melayangkan senyum jahatnya.


"Sekarang dia bisa senyum, sebentar lagi dia nangis nangis hahha.." bisik Revan kepada Winda


"Thal, aus banget lo.. kaya abis marathon aja, hahha..."


"Maklumlah dah lama gw ngga nyanyi teriak teriak gini hahha..." jawab Thalita


Disya terkejut mendengar Thalita masih bisa bicara. Raut wajahnya berubah memerah karna marah. Senyum yang tadi keluar dari bibirnya kini padam redup karna sepertinya rencananya tak berjalan dengan lancar. Mungkin obatnya belum bereaksi pikirnya.


Disya menyeruput minumannya sambil terus memandangi Thalita, ia sangat menantikan adegan dimana Thalita akan merasakan sakit yang luar biasa ditenggorokannya hinga menyebabkan suaranya hilang. Ia tersenyum membayangkan bagaimana wajah Thalita saat khayalannya menjadi kenyataan.


"Ekhem..." Disya mulai merasakan sakit ditenggorokannya, rasanya panas dan tajam seperti ada yang menusuk-menusuk.


"kenapa tenggorokkanku sakit sekali" gumamnya dalam hati. Ia meletakkan telapak tangannya dilehernya dan mengusapnya sambil sesekali berdehem membatukkannya.


"Kamu kenapa sayang..." tanya Vina yang melihat Disya terus mengusap-usap tenggorokkannya


Saat Disya ingin menjawab, tiba-tiba saja suaranya hilang terdengar hanya bisikan.


"Suaraku kenapa, kenapa dengan suaraku... ahh apa pelayan itu salah memberikan minuman, minuman yang kuminum apakah minuman yang seharusnya Thalita minum" ia berbicara dalam hatinya.


"Tante...sakit tan..sakit" lirih Disya kepada Vina yang terdengar hanya suara bisikan.


"Disya, kamu kenapa Nak? Mas bagaimana ini?"


"Kebetulan di Resort ini ada Unit kesehatan dan disana juga ada Dokter jaga. Sebaiknya kita bawa Disya kesana"


Sampailah mereka di Unit kesehatan, Dokter langsung memeriksa Disya. Dokter memberitahukan bahwa kemungkinan ia meminum campuran bahan kimia sehingga menyebabkan peradangan dipita suara nya. Dokterpun menyarankan agar Disya dibawa kerumah sakit untuk perawatan lebih intens.


"Senjata makan tuan" gumam Winda sambil tersenyum kecut.


Vina mengelus-elus kepala Disya yang terus saja menangis karna menahan sakitnya. Namun sebenarnya bukan karna sakitnya ia menangis tapi karna rencananya yang gagal itu. Harusnya Thalita yang merasakan seperti ini bukan Disya.


................


Dirumah sakit Disya berbaring dengan infus yang menempel dipunggung tangannya setelah Dokter memeriksanya. Dokter mengatakan bahwa keadaannya tidak terlalu parah karna tidak sampai mengenai pita suaranya. Untung saja Disya hanya meminum sedikit sehingga kemungkinan 1 minggu atau 2 minggu suaranya akan berangsur pulih kembali.


"Kok bisa sih..ada bahan kimia diminuman kamu?"


Disya menggelengkan kepala dan masih dengan air mata yang mengalir deras. Ia pun menatap tajan Thalita dan menunjuk Thalita membuat semua bingung dan bertanya-tanya.


"Gw...? kenapa?"


Disya menggoyangkan tangan Vina dan meminta Vina mendekat kepadanya. Ia pun membisikkan sesuatu kepada Vina. Entah apa yang Disya katakan namun tatapan Vina beralih ke wajah Thalita. Vina menatap Thalita dengan tatapan marah. Matanya sungguh tajam dan membidik.


Tanpa berkata apa-apa Vina langsung menghampiri Thalita dan menamparnya.


Plaaakkk...

__ADS_1


"VINA!!" teriak Bayu


"Bunda tahu kau membencinya Lita, tapi Bunda tidak menyangka kau akan berbuat seperti ini..!! Apa kau ingin membunuhnya HAHH..!!"


"Apa maksudmu?" tanya Bayu


"Mas, Anakmu ini yang sudah membuat Disya seperti ini. Dia yang sidah mencapur bahan kimia kedalam minuman Disya Mas.." jawab Vina yang sudah sangat marah dengan Thalita.


"Apa itu benar Lita" tanya Bayu


"Ngga Yah..Lita ngga ngelakuin apa-apa" jawab Thalita seraya menggelengkan kepalanya


"Hemm...lumayanlah ada hiburan gratis" ucap Disya dalam hati. Ia tertawa dalam hatinya karna sangat menikmati pemandangan didepan matanya itu.


"Mas aku tau dia putrimu tapi Disya juga kerabatku. Aku tidak akan membiarkan siapapun mencelakainya meskipun itu perbuatan anakku sendiri" ujar Vina


"Hemm.. untungnya aku bukan anakmu, Asal kau tau, kalau aku benar-benar orang jahat, orang yang akan aku celakai pertama kali adalah Kau" ujar Thalita kepada Vina


"LITA...!!" teriak bayu sambil melayangkan tangannya hendak menampar wajah Thalita namun dihentikan oleh Kenan.


"Ayah..sudah Yah.." ucap Kenan mencoba menenangkan Ayah mertuanya


"Jadi Ayah juga mengira ini semua perbuatan Lita?? Hhhh.." ujar Thalita sambil terkekeh lalu memutar pandangannya melihat Disya yang terbaring.


"Hehh.. cewek laknat, asal lo tau ya... kalau gw mau, bukan suara lo aja yang gw bikin ilang tapi juga mata lo yang akan gw bikin buta biar lo ngga bisa liat muka suami gw lagi" ujar Thalita kepada Disya


"CUKUP LITA !!!" teriak Bayu yang semakin heram dengan ulah putrinya itu.


"Ya ya yaa.. silahkan kalian urus tuh perempuan laknat" ujar Thalita lalu melenggang keluar dari ruangan itu.


"Maaf Ayah..Aku mengenal siapa istriku dan aku juga mengenal siapa wanita itu Thalita tidak mungkin melakukan perbuatan itu. Dan untuk Bunda, Maaf..Aku juga tidak akan membiarkan siapapun menyelakai istriku apalagi memfitnahnya. permisi" ujar Kenan lalu ia pun pergi menyusul Thalita.


"Maaf Om, kami juga permisi dulu.." pamit Revan


"Disya, cepet sembuh yaa.." ucap Winda lalu memdekatkan wajahnya ke wajah Disya


"gimana rasanya masuk keperangkap yang lo buat sendiri" bisik Winda lalu menyunggingkan senyumnya seraya meledeknya.


Perkataan Winda membuat Disya membulatkan matanya karna terkejut. Ditambah senyuman Winda seperti sedang mengejeknya.


Rasanya Disya ingin melemparkan hujatan demi hujatan untuk Winda, namun ia hanya bisa menggerakkan bibirnya tanpa bersuara.


"sssttt... ngga usah banyak ngomong dulu, gw tau lo mau bilang makasih kan. Udah santai aja, gw ikhlas kok hahaha... Pamit yaa.." ucap Winda sambil memepuk lengan Disya beberapa kali kemudian melepasnya dan meninggalkannya.


"Mari Om..tante..."


Revan, Winda dan Safira pun pamit. Mereka bertiga keluar meninggalkan ruangan itu. Saat sudah agak jauh dari ruangan tempat Disya terbaring Revan dan Winda tertawa terbahak-bahak lalu melayangkan Tosnya.


"Kita berhasil hahhaa...."


Setelah bertos ria sepanjang jalan Revan melingkarkan tangannya dipundak Winda. Tanpa mereka sadari dibelakang mereka ada sepasang mata yang melihat mereka dengan heran.


.


.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2