
Ceklek
Terdengar suara pintu terbuka
"Thalitaaaaaa........" teriak Safira dan Winda bersamaan sambil berlari dan merentangkan tangan menghampiri Thalita
Kenan yang melihat sikap teman-temannya itupun buru-buru menghadangnya
"STOP! Kalian mau apa?"
"Mau peluk.." ucap Safira
"Ngga boleh!" tegas Kenan
"Ihhh...kita kan kangen......" jawab Safira dengan nada manja nya
"Aku bilang ngga boleh yaa ngga boleh... yang ada kalian malah akan membuatnya tambah sakit" ucap Kenan mempertegas dan membuat Safira berfikir sejenak.
"Iya juga si Win, liat tuh Thalita leher, tangan ma kakinya dibungkus" ucap Safira sedih.
"Lahh kok gw, yang mau peluk kan elo" ujar Winda
Thalita yang melihat expresi kedua wajah temannya itupun tertawa.
"Hahhahaa...... udah udah...lo pada kesini mo ngapain?"
"Yaa mo jenguk lo lahh..." jawab Winda dan Safira bersamaan
"Yaa Tuhan Thal... gimana ceritanya si bisa kaya gini, bagus lo masih idup thal.. huhuuu.... gw sedih liat lo kaya gini hiks..." ucap Safira
"Tenang aja gw ngga akan mati sebelum lo yang mati...hahhaa" ledek Thalita
"Sialan lo.." jawab Safira
"Lo juga pada kemana aja sih...parah yaa temen kecelakaan bukannya nemenin disini. Udah 5 hari lohh gw disini lo baru nongol.. sungguh TER LA LU !! " ujar Thalita
"Yee pas kita tau lo kecelakaan kita tuh ada disini kaleee... lo nya aja ngga tau" ucap Safira kesal
"Yaa gimana bisa tau si Fir dia aja pingsan" sambung Winda
"Oiya.. " ucap Safira sambil nyengir kuda
"Ehh... mau tau ngga, Dokter disini masih muda lohh...ganteng lagi, hahha..."
"Seriusss..." Safira menanggapi dengan wajah yang histeris.
Kenanpun merasa risih dengan kehadiran 2 gadis itu. Terlebih lagi Thalita yang mengidolakan Dokternya yang tampan.
"Hahhh...Aku mau keluar, disini terlalu berisik" ucap Kenan sambil berlalu keluar
Ketiga gadis itu menanggapi dengan memonyongkan bibir mereka seraya tak perduli.
"Thal, si Curut udah kesini?" tanya Winda
"Belom... belom ada yang jenguk gw, baru kalian yang dateng kesini" jawab Thalita
"Ooh..." jawab Winda dengan bibir membentuk O
"Kenapa emang? Dia bilang mau kesini?" tanya Thalita penasaran
"Kalau dia kesini, lo mau thal nemuin dia?" tanya Safira kepada Thalita
"Kenapa engga?" jawab Thalita datar
"Sebenernya dia dateng sama kita, tapi dia ngga berani masuk. Katanya takut lo benci ma dia" ucap Winda
__ADS_1
"Kenapa gw harus benci ma dia, bukannya kebalik yaa dia yang lagi marah sama gw" ujar Thalita
"Dia ngerasa bersalah banget Thal, pikir dia seandainya aja dia ngga ninggalin lo, mungkin kecelakaan ini ngga akan terjadi" sambung Winda
"Hemm... bukan cuma dia kok yang merasa bersalah atas kecelakaan ini, bokap gw juga" ucap Thalita sambil menghela nafasnya
"Tapi buat gw, ini murni kecelakaan, bukan karna siapa-siapa" sambung Thalita
"Emang awal mulanya gimana si Thal, bisa kecelakaan gini.. Lo kan ratu jalanan ngga mungkin lo nabrak" tanya Safira
"Rem gw blong.." Thalita memulai cerita kejadian kecelakaan itu dari awal hingga akhir.
"Ken.." panggil Revan yang saat itu melihat Kenan baru saja keluar dari kamar Thalita.
"Kau ada disini, kenapa ngga masuk?" tanya Kenan kepada Revan yang masih duduk dikursinya
"Iya...gw masih belum siap ketemu Thalita"
"Emm..oke. Aku mau kekantin, kau mau ikut?" ajak Kenan
"Emm... boleh" Revanpun menyetujui ajakan Kenan
Kenan dan Revan pun pergi kekantin bersama. Mereka saling berbincang. Mereka menjadi akrab saat Revan menceritakan semua tentang Thalita.
Tiba-tiba saja Kenan melontarkan pertanyaan yang membuat Revan terkejut.
"Apa kau mencintai Thalita?"
"Hah...mak-maksud lo?"
"Jangan menutupi Van, aku bisa lihat dari caramu membicarakan Dia. Sejak kapan kau jatuh cinta padanya?"
"Kalau boleh gw minta tolong sama lo" ucap Revan. Kenan yang mendengar itupun menatap Revan seperti memberi pertanyaan.
"Tolong jaga Thalita buat gw..buat dia bahagia dan jangan pernah lo sakitin dia" sambung Revan
"Cihh...haha" Kenan menanggapi dengan tertawa renyah
"Tanpa kau minta, aku akan melakukannya. Perlu kau tahu, kami sudah saling mencintai. Jadi jangan khawatir" tegas Kenan.
Revan yang mendengar itu, merasakan sakit dihatinya namun ia berusaha menepisnya. Bagaimanapun Thalita tidak akan bisa mencintainya. Terlebih lagi diantara mereka berdua memang sudah dijodohkan.
Kini Revanpun ikhlas Thalita menjadi milik Kenan, asalkan Thalita bahagia pikirnya.
Saat dikantin Kenan menceritakan masalah Thalita dengan Ayahnya dan meminta Revan untuk datang menemuinya. Biar bagaimanapun Revan adalah orang yang selalu ada disamping Thalita jauh sebelum Kenan datang.
Kenan juga meminta bantuan Revan untuk menasihatinya agar dia bisa memaafkan Ayahnya dan menerima Vina sebagai Ibunya.
Tok..tok..tok..
Ceklek...
Suara pintu membuat tiga gadis cantik itu beralih pandang pada sosok laki-laki yang baru saja masuk.
"Ehh elo Van, gw kira Dokter ganteng" ucap Safira.
"Hemm....cowo mulu loh. Disuruh kekantin lo ma Kenan, mo ditraktir katanya" ucap Revan
"Hahh...seriuss... yaudah Thal kita ke kantin dulu ya" Safira dan Winda bergegas pergi kekantin.
Thalita mengangguk pelan, sambil berfikir seakan tak percaya kalau kenan memanggil 2 anak ini.
__ADS_1
"Tumben... beneran Van Kenan yang nyuruh mereka buat kesana?" tanya Thalita dengan wajah bingungnya.
"Hahhaaaa.... ngga, gw boong" jawab Revan dengan tawa renyahnya
"Dihh jahat lo... hhahaaa..." Thalita pun ikut tertawa
Yaa Revan membohongi Safira dan winda karna Revan ingin ngibrol dengan Thalita beedua. Revan pun mulai membuka obrolannya.
"Thal.." panggil Revan
"Emm..."
"Gw minta maaf ya, waktu malem itu perasaan gw lagi ngga karuan"
"Iya Van, gw ngerti kok.. gw juga salah ngga ngasih tau lo sebelumnya. Sorry yaa.."
"Hemm.... Sekarang gw udah ikhlas kok lo sama Kenan asalkan lo bahagia"
"Lo ngomong gini bukan buat jauhin gw kan?"
Revan hanya tertunduk tak menjawab sepatah katapun. Melihat sikap Revan Thalita menjadi khawatir, khawatir kalau Revan tidak akan menjadi sahabatnya lagi.
"Van..pliss Van, gw sayang sama lo. Sampe kapanpun lo orang yang paling spesial dihidup gw. Lo sahabat gw Van selamanya.." Thalita menitikkan air matanya. Namun Revan masih terdiam hingga Thalita melanjutkan ucapannya lagi.
"Oke..gw emang ngga bisa mencintai lo Van, tapi lo punya tempat tersendiri dihati gw. Gw juga salah karna gw ngga jujur soal Kenan, tapi pliss jangan jauhin gw Van.. hikss..." ucap Thalita dengan mata berkaca-kaca
Mendengar Thalita yang hampir menangis itu, Revan mengangkat kepalanya dan memandang Thalita.
"Lo kenapa? Yang mau jauhin lo siapa emang? Gw cuma bilang gw ikhlas lo sama Kenan,, yang penting lo bahagia" Revan mencoba menjelaskan
"Thal, gw ngga akan jauhin lo, gw janji" tegas Revan.
"Thanks Van.."
"Jelek banget muka lo kalo lagi nangis" ledek Revan
"Rese lo..." ketus Thalita sambil mengusap air matanya.
"Oiya..soal Bokap lo, menurut gw lo terlalu jahat Thal.."
"Hah...maksud lo?" tanya Thalita yang merasa bingung dengan ucapan Revan. Revanpun melanjutkan ucapannya.
"Bokap lo dan Tante Vina itu udah saling mencintai, tapi mereka ngga mau nikah karna Bokap lo mau nunggu sampe lo bener-bener siap"
"Menurut gw sekarang udah waktunya bokap lo menemukan kebahagiaannya Thal, tapi bukan berarti hidup sama lo dia ngga bahagia.
"Dia laki-laki apalagi diusianya yang udah ngga muda lagi... dia juga butuh pendamping hidup yang bisa ngurusin dia. Apalagi nanti lo bakal nikah dan pasti lo akan tinggal sama suami lo... trus bokap lo pasti bakal kesepian"
"Thal..jangan siksa bokap lo kaya gini. Dia sayang banget sama lo Thal, tante Vina juga orang baik. Harusnya lo bersyukur Bokap lo ketemu sama Tante Vina"
Revan menasihati Thalita panjang lebar dan berharap Thalita dapat memahami semua ucapan Revan.
Thalita yang tak bicara sedikitpun saat Revan bicara akhirnya menitikkan air matanya. Sepertinya ucapan Revan benar-benar bisa dicerna oleh Thalita.
"yaudah Thal, gw pamit yaa.. Lo istirahat, jangan lupa makan.. anak-anak udah pada kangen sama lo"
"ahh.. iya Van, salam ya buat anak-anak"
Revan mengangguk kemudian mengusap kepala Thalita dengan kasih sayang, lalu pergi keluar meninggalkan Thalita.
.
.
...----------------...
__ADS_1