Trail LOVE

Trail LOVE
47. Merasa Bersalah


__ADS_3

Thalita mengerjapkan matanya dan menggeliat. Ia terkejut bukan main saat membuka matanya dan melihat sekeliling kamar itu.


"Ini dimana ya..kok bisa gw ada disini"


Thalita mendudukkan dirinya dan mengingat ingat apa yang ia alami semalam hingga bisa ada disini


"Seinget gw, semalem itu makan malem sama Ayah, trus Ayah ngelamar tante Vina. Abis itu gw diajak kepantai trus gw nangis.. abis itu apalagi yaa..?" thalita masih mengingat ingat.


"Habis itu tidur dibahuku, dan susah dibangunin jadi aku gendong kamu dan bawa kamu kesini. Dasar kebo" ucap Kenan yang baru saja selesai mandi


Yaa..semalam Thalita menangis cukup lama hingga terisak. Mungkin karna lelah dia tertidur dibahu Kenan. Karna jarak dari pantai kerumah Thalita bisa memakan waktu yang cukup lama, Kenanpun berinisiatif untuk bermalam dihotel. Kenan juga tidak ingin memulangkan Thalita dengan keadaan wajah yang sembab dan mata yang masih basah karna terlalu lama menangis. Kenan pun menghubungi Bayu kalau mereka bermalam diHotel dekat pantai, dengan alasan Thalita kelelahan. Bayu pun mengizinkan karna dia juga tidak ingin Thalita terlalu lelah, dia takut bisa menghambat kesembuhan kaki putrinya itu.


Entah Thalita mendengarkan atau tidak, namun wajahnya seketika melongo matanya tak berkedip saat melihat Kenan yang baru saja selesai mandi.


Thalita hanya bisa menelan saliva nya melihat sosok laki-laki didepannya itu. Bagaimana tidak Kenan yang keluar dengan bertelanjang dada hanya dibalut handuk yang menutupi pinggang kebawah. Rambut yang acak-acakan dan setengah kering. Perutnya yang six-pack membuat Thalita terpana, sungguh pemandangan yang indah pagi ini.


Kenan yang melihat Thalita bengong itu tersenyum dan langsung menghampirinya. Mata Thalita mengikuti pergerakkan Kenan namun belum tersadar dari otak mesumnya.


Kenan membungkukkan wajahnya hingga wajahnya tepat berhadapan dengan wajah Thalita. Otak jahilnya mulai meronta ronta.


"Mau liat yang lebih dari ini ngga?" Kenan meledek Thalita sehingga membuat Thalita melotot dan tersadar dari otakny yang berkeliaran.


Sontak Thalita langsung menarik selimut dan menjatuhkan tubuhnya. Malu.. yaa malu yang dia rasakan.


"Hahhaha..... lucu banget sih kamu hahhaaa" kenan tertawa terbahak-bahak


"Kamu ngapain si andukan doang. Pake baju sana" teriak Thalita dari balik selimut dengan nada marah


Kenan sudah rapih dengan pakaiannya, namun Thalita belum juga membuka selimutnya. Dia masih bersembunyi dan menahan malunya. Ingin rasanya dia kabur dari Kenan, dia sangat malu atas sikapnya tadi.


"Ishhh....oon banget gw. Kenapa gw ngga bisa ngontrol mata gw si... aaahhh maluuuuu" gumam Thalita


"Hey... mau sampai kapan kamu dibalik selimut itu. Cepat keluar lalu mandi"


Tidak ada jawaban...


"Baik. Kalau kamu ngga mau keluar aku tarik selimutnya"

__ADS_1


Masih tidak ada jawaban. Kenanpun berjalan menghampiri tempat tidur lalu menarik selimutnya namun Thalita menahan selimutnya dia berusaha agar Kenan tidak bisa membukanya. Jadilah adegan tarik menarik selimut. Namun sekuat apapun Thalita Kenan lah yang lebih kuat. Akhirnya selimut itu terbuka kini Thalita beralih kebantal. Dia menutup wajahnya dengan bantal.


Melihat posisi Thalita kenan senyum licik. Posisi Thalita yang berbaring miring tanpa selimut hanya wajahnya yang bersembunyi dibalik bantal.


"Yaudah kalau gitu, kita tidur lagi aja" ucap Kenan dan langsung memeluk Thalita dari belakang.


Karna terkejut menerima pelukan dari Kenan. Thalita langsung melepaskan tangan Kenan yang melingkar diperutnya lalu bangkit dari tempat tidur dan ngacir kekamar mandi. Sepertinya dia lupa akan kondisi kakinya. Namun belum sampai kekamar mandi dia langsung terjatuh dan merasakan sakit dikakinya.


"Ehh...kamu kenapa? Kenan langsung berlari menghampiri Thalita


"Ken.. kaki aku sakit banget" ucap Thalita dengan mata berkaca-kaca.


"Kita kerumah sakit" Kenan langsung menggendong Thalita dan berlari menuju mobilnya yang ada diparkiran.


Kenan melajukan mobilnya sangat kencang. Melihat Thalita menangis kesakitan membuatnya panik. Sungguh tak tega melihatnya kesakitan seperti itu.


"Sabar yaa sayang.." Kenan meraih tangan Thalita dan mencium punggung tangan Thalita untuk memberikan ketenangan. Lalu melepasnya dan kembali fokus pada stirnya.


Bersyukur jalan pagi ini sangat lancar hingga tidak membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai dirumah sakit.


Kenan menggendong Thalita sambil berlari membawa Thalita ke IGD. Kebetulan Dokter yang menangani Thalita baru saja datang sehingga Thalita bisa langsung ditangani.


"Dilihat dari respon pasien sepertinya sakitnya luar biasa, jadi saya akan melakukan Rontgen"


"Lakukanlah" perintah Kenan


"Dari hasil Rontgennya pasien harus dipasang gips lagi dan dirawat 1 minggu. Setelah itu dilakukan pengecekan lagi perkembangannya" ucap Dokter memberi penjelasan


"Tapi tidak parah kan Dok?


"Tidak. Hanya saja ini mengantisipasi agar tidak menjadi parah"


"Baik Dok terima kasih"


 


Dikamar pasien Kenan meratapi Thalita yang sedang tertidur pulas mungkin efek dari Obat penahan sakitnya. Perasaan rasa bersalah menyelimuti hati Kenan saat ia lihat kaki Thalita yang terbalut gips kembali.

__ADS_1


Kenan duduk dikursi sambil menggenggam tangan Thalita. Sedih... itu yang dirasakan. Ingin rasanya menangis mengingat kejadian dihotel tadi.


Saat itupun Bayu datang bersama Vina. Kenan beranjak dari kursinya dan berdiri menyambut Bayu yang baru datang.


"Om..." sapa Kenan


Plakkkkk.... sebuah tamparan yang menggelegar mendarat dipipi Kenan, amarah Bayu benar-benar tidak bisa ditahan lagi. Vina yang terkejut mencoba menahan Bayu namun Bayu tidak menggubrisnya


"Mas.." teriak Vina


"Apa yang kau lakukan hah?!!! Kenapa putriku bisa seperti ini? Kau bisa menjaganya atau tidak ??" ucap Bayu dengan penuh amarah sambil menodongkan jari telunjuknya ke wajah Kenan.


Tidak ada perlawanan dari Kenan, dia hanya terdiam dan tertunduk merasa bersalah. Yaa menurutnya dia memang pantas disalahkan.


"Mas sudah, tenangkan dirimu. Nanti Thalita bangun" Vina mencoba menenangkan Bayu.


Bayu menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.


"Pergi kamu... untuk sementara ini jangan dekati anakku" ucap Bayu kepada Kenan sambil memalingkan wajahnya.


"Om...maafkan Kenan Om.. tolong jangan seperti ini" wajah Kenan seraya memohon namun Bayu tak perduli.


"Om... Kenan tidak bisa meninggalkan Thalita saat dia seperti ini. Kenan ingin selalu ada disampingnya. Kenan ingin menjaganya dan..."


"Menjaganya??? Lalu apa ini? Pergilah Ken..."


"Tapi Om.."


"Ken.. " Vina memegang lengan Bayu dan memanggut memberi isyarat agar Kenan menuruti permintaan Bayu sebelum emosi Bayu memuncak.


"Baik Om. Kenan pamit. Sekali lagi Kenan minta maaf"


Dengan lunglai Kenan melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Ia mendudukkan dirinya dikursi tunggu yang berada tidak jauh dari kamar pasien tempat Thalita berada. Dia tertunduk lesu air matanya mulai menetes, menyesali kejadian pagi ini. Andai saja ia tidak menggoda Thalita kejadian ini pasti tidak akan terjadi.


Kenan menyeka wajahnya yang basah karna air mata, lalu dia beranjak dari kursinya. Dia melewati setiap jalan dirumah sakit itu, langkah yang terasa amat berat. Sesekali dia manarik nafasnya lalu membuangnya mencoba menenangkan diri.


.

__ADS_1


.


...----------------...


__ADS_2