
Malam penuh haru, tangis bahagia mengiri makan malam kali ini. Sungguh suasana yang berbeda. Vina tak henti-hentinya tersenyum begitu juga dengan Bayu. Mereka seperti pasangan kekasih yang baru dipertemukan kembali.
Namun entah mengapa, wajah Thalita mendadak sedih melihat mereka. Air matanya tak tertahankan lagi, bukan ia tak bahagia hanya saja ia teringat akan mendiang Ibunya. Dia menyeka wajahnya yang basah dan ikut tersenyum berusaha menahan meski ada rasa sesak didadanya, biar bagaimanapun ia juga tak ingin merusak suasana bahagia ini menjadi kesedihan.
Kenan yang sedaritadi melihat Thalita meraih tangan Thalita dan menggenggamnya erat.
"Bagaimana kalau kita pergi dari sini, aku ingin mengajakmu kesuatu tempat" bisik Kenan
Thalita menoleh dan menatap kenan yang sedang tersenyum padanya. Lalu ia menganggukkan kepalanya pelan pertanda setuju.
"Om..Tante.. Kami pamit duluan.. Kenan ingin mengajak Thalita kesuatu tempat jika diizinkan" ucap Kenan meminta Izin kepada calon mertuanya.
"Oh iya silahkan Ken, lakukanlah apa yang membuat kalian senang asalkan Thalita bahagia.." jawab Bayu sambil menatap putrinya sambil tersenyum.
"Terima kasih Om. Kami pamit" ucap Kenan lalu beranjak dari duduknya
"Ayah, tante... Thalita pergi dulu yaa.." pamit Thalita, dia pun beranjak dari duduknya dibantu oleh Kenan untuk berdiri
"Selamat bersenang-senang yaa sayang.. Ken..hati-hati yaa, jaga Thalita baik-baik" pinta Vina
"Baik Tante" jawab Kenan
----
Didalam mobil, Kenan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia ingin mengajak gadisnya itu kesuatu tempat yang bisa membuatnya tenang.
"Kita mau kemana sih" tanya Thalita
"Liat aja nanti" ucap Kenan dengam mata yang masih fokus menyetir
__ADS_1
Mereka sudah sampai ditempat yang Kenan tuju. Thalita melihat sekeliling.
"Pantai.." tanya Thalita kepada Kenan.
"Hehem...." Kenan mengangguk lalu keluar dari mobil dan membuka bagasinya untuk mengambil 2 kursi lipat.
Kenan membuka pintu mobil dan menggendong Thalita lalu mendudukkannya dikursi lipat yang sudah ia siapkan tadi.
Mereka duduk bersama menghadap kearah laut. Thalita memandang takjub akan keindahan pantai ini.
"Wuahhhh..... indah banget Ken, aku belum pernah lihat pantai dimalam hari seindah ini" ucap Thalita dengan tatapan takjubnya
"Lihatlah, Pasir-pasir di bibir pantai ini bercahaya seperti langit malam ini yang penuh dengan bintang, bahkan lebih bercahaya" ucap kenan
"Wuahhh....keren. airnya juga nyala Ken? Dapat cahaya dari mana ya...?" Thalita begitu takjub melihat keindahan pantai ini. Airnya menyala berwarna biru membuatnya heran.
"Hemm..walaupun ini seperti diberi efek pencahayaan, tapi cahaya-cahaya ini memang bersumber dari alam, tepatnya dari organisme laut yang jumlahnya banyak sekali" jelas Kenan.
"Wahhhh.... Kamu pinter juga yaa soal ilmu Alam" ucap Thalita kagum sambil bertepuk tangan
"Hahhaa...thank you thank you.." ucap Kenan sambil berdiri dan membungkuk dengan tangan diletakkan didadanya seperti sedang berada diatas panggung
Thalita yang melihatnya pun tertawa. Kenan puas karna bisa membuat Thalita tertawa. Kenan kembali kekursinya dan duduk kembali disamping Thalita. Dia menatap gadisnya itu dan berkata
"Kamu tahu, kenapa aku mengajakmu kepantai ini?"
Thalita menggeleng, karna memang dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Kenan disini.
"Aku melihat senyum palsu dari wajahmu. Aku ingin kamu membuang jauh sedihmu disini bersama angin. Aku ingin melihatmu bahagia tanpa beban. Aku ingin melihat wajahmu bersinar seperti pantai ini"
__ADS_1
Thalita menghela nafasnya, mendengar ucapan Kenan. Memang benar adanya, saat ini ada beban dihatinya.
"Ken, apa aku salah karna tidak rela tante Vina menggantikan posisi Ibu"
"Tidak. Tidak ada anak yang rela posisi Ibunya digantikan dengan orang lain"
"Memang benar posisi seorang Ibu tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun. Namun Ayahmu menempatkan posisi tante Vina ditempat yang baru bukan ditempat Ibumu berada. Sampai kapan pun posisi Ibumu masih pada tempatnya belum berubah sedikitpun. Itulah yang Ayahmu lakukan"
"Thalita... selama beberapa tahun ini Ayahmu mengalah pada keadaan. Dia menahan diri untuk melupakan cintanya karna dirimu. Sebentar lagi kamu akan memulai hidup yang baru, bersama keluarga kecilmu. Lalu bagaimana dengan Ayahmu?"
"Sudah waktunya Ayahmu bahagia dengan kehidupan barunya juga. Sudah waktunya dia melupakan kepedihan karna kehilangan Ibumu"
Thalita tertunduk mendengar ucapan Kenan. Matanya mulai berkaca-kaca. Kenan meraih tangan Thalita dan menggenggamnya sebelum ia melanjutkan ucapannya.
"Lepaskanlah disini... buang bebanmu dan luapkan amarahmu. Menangislah... aku akan menemanimu bersama bintang-bintang malam ini"
Thalita semakin menunduk dan tak terasa air matanya mulai jatuh. Kenan meraih kepalanya dan menyandarkan dibahunya. Thalita semakin menangis tersedu disandaran bahu Kenan.
Kenan hanya terdiam, memberikan kesempatan kepada Thalita untuk menangis, untuk melepaskan bebannya. Tangan kirinya masih menggenggam erat tangan Thalita dan tangan kananannya mengusap lembut kepala Thalita.
Suara ombak mengiringi isak tangisnya. Angin pantai membelai rambutnya dan membawa beban dihatinya. Menusuri lautan yang luas.
Ibu.... Ibu.... Ibu....
Lumayan lama Thalita menangis dibahu Kenan, hingga tak terdengar suaranya lagi. Dilihatnya gadis itu sudah memejamkan matanya. Sepertinya angin sudah membawa beban yang menyesakkan dadanya. Angin membelainya hingga ia tertidur pulas dengan tenang tanpa ada beban.
.
.
__ADS_1
...----------------...