
Winda memejamkan matanya merasakan sentuhan bibir Revan yang lembut. Namun seseorang datang mengejutkan mereka.
"Sedang apa kalian?"
Dengan terkejut keduanya menoleh kearah sumber suara tanpa merubah posisi tubuh mereka.
"Kenan.." ucap Revan dan Winda secara bersamaan
"Hahh...sial. aku sedang mencari ketenangan malah melihat orang pacaran" keluh Kenan sambil membuang pandangannya kesembarang arah membuat Winda dan Revan tersadar
"Hahh..." Revan dan Winda saling tatap dan membulatkan matanya.
Mereka bergegas bangun saat menyadari posisi tubuh mereka. Winda tercengang, malu itulah yang ia rasakan begitu pula dengan Revan.
"Ki-kita ngga pacaran" jawab Winda dengan gugup.
"Masa? Tapi aku lihat kalian sedang berc.." mulut Kenan terbungkam telapak tangan Revan hingga tak bersuara lagi
"eehhh...hahhaa...ngga ngga lo salah paham"
"Hhhh...what ever. aku juga tidak perduli dengan apa yang terjadi pada kalian" ucap Kenan setelah menepis tangan Revan yang membungkamnya lalu duduk diatas pasir
Wajahnya berubah sendu dan berkaca kaca menghela nafas panjangnya sambil menatap lautan yang tergulung ombak. Winda dan Revan menatapnya dengan iba. Revan duduk tepat disebelah Kenan. Sedangkan Winda memilih untuk duduk menjauh dari mereka dan membiarkan para lelaki itu berbincang.
Revan mengajaknya berbicara, ia menceritakan bagaimana sedihnya Thalita karna tidak menemukan Kenan. Panjang lebar Revan berbicara memberitahunya bagaimana kondisi Istrinya, dan meminta Kenan untuk tak menyakitinya. Namun Kenan tetaplah Kenan, ia sama sekali tak merespon. Meskipun Revan sudah bicara panjang lebar namun tal sepatah katapun yang keluar dari mulut Kenan.
Namun meski begitu, Kenan mendengarkan dan mencerna apa yang Revan bicarakan. Hanya saja ia tak ingin terlihat lemah dimata orang lain. Sebenernya ia pun merasa bersalah kepada istrinya atas apa yang telah ia ucapkan tadi. Tapi ia pun butuh dimengerti.
Belum selesai Revan bicara, Kenan sudah berdiri hendak pergi. Revan yang melihatnya pun ikut berdiri.
"Ehhh...mo kemana? Gw belom kelar ngomong"
"Aku mau tidur, ocehanmu bikin kepalaku pusing. Daripada terus ngoceh, lebih baik kau lanjutkan adegan tadi dan nikmati malam indah ini" ucap Kenan sambil menepuk nepuk pundak Revan lalu melenggang pergi.
Revan tidak menegerti apa maksud ucapan Kenan barusan. Matanya melihat kesembarang arah mencoba mencerna ucapan Kenan dan terlihatlah disana Winda yang sedang berdiri memandangi lautan, saat itulah jantung Revan berdebar meski hanya melihatnya dari kejauhan. Tanpa ia sadari bibirnya tersenyum.
"Win.." panggil Revan. Sontak saja Winda terkejut mendengar suara Revan, bahkan membuat jantungnya berdetak kencang.
__ADS_1
"Astaga...lo ngangetin aja si..jantung gw hampir copot" ucap Winda
"Masa si...gw manggil lo pelan banget kayanya. Masa sekaget itu si.." jawab Revan
"Hahh...i-iya juga si..." ucap Winda gugup. Namun ia masih berfikir kenapa hatinya berdebar saat Revan memanggil namanya, bahkan detakannya semakin kencang saat Revan ada didekatnya kini. Winda pun tak berani menatapnya.
"emm... Kenan kemana?" tanya Winda karan tidak melihat sosok Kenan
"Dia dah balik ke Resort"
"Hahhh...Syukurlahh" Winda menghela nafasanya merasa lega . "Yaudah kita balik juga yuk.." ajak Winda
Revan mengangguk pelan, mereka pun berjalan bersama beriringan. Entah kenapa keduanya merasakan hal-hal yang berbeda. Bulu kuduknya merinding, hatinya berdebar, jantungnya seperti mau copot dan tidak ada yg berani bicara satu sama lain bahkan menatap pun mereka tak berani. Hanya ada rasa canggung yang mereka rasakan.
Sesampainya didepan Resort Revan menghentikan langkahnya dan memanggil Winda "Win.."
Windapun menghentikan langkahnya "Ke-kenapa?"
Revan menghampirinya, namun entah kenapa saat tepat berada didepan Winda dan tatapan mereka bertemu Revan tak berani lagi bicara, mulutnya serasa kaku. Namun ada hasrat lain yang bergejolak saat melihat bibir Winda, wajahnya tergerak maju mendekat wajah Winda dan "Cuppp".
Revan mengecup bibir Winda, dan melepasnya kemudian mengecupnya lagi. Winda terkejut namun tak bisa menolaknya, tubuhnya serasa kaku tak bisa digerakkan seakan-akan menerima sentuhan bibir itu. Ia pun memilih untuk memejamkan matanya.
"Heyy..." Suara itu mengejutkan Revan dan Winda hingga saling melepaskan ciumannya dan menoleh kesumber suara
"ahhhh sial.. kenapa aku harus melihat adegan ini lagi.. Hhh.." ucap Kenan, kemudian melanjutkan langkahnya dan memasuki Resort meninggalkan mereka berdua sambil menggelengkan kepalanya.
Windapun menjadi gugup dan malu "Gw duluan ya.." dia pun berlari masuk kedalam Resort meninggalkan Revan.
"Hhh... Kenannn ganggu aja lagi enak juga. Ehh..tapi kenapa gw bisa ciuman ma dia yaa..gw kan tadi mo bilang makasih... Jantung gw...aaarrrggghhh..." ucap Revan sambil meremas dadanya.
**Pagi Hari
Pagi ini di Resto sudah berkumpul para orang tua Kenan dan Thalita untuk sarapan Pagi, tak ketinggalan Disya pun ada disana.
"Sepi sekali tidak ada anak-anak, mereka kemana" tanya Bayu
"Mereka masih dikamarnya, tadi Kenan memberitahuku kalau mereka tidur larut semalam jadi mungkin mereka akan terlambat untuk sarapan. Dia meminta Kita untuk tidak menunggunya" jelas Rico
__ADS_1
"Aahhh...begitu. Hemm..pasti mereka bergadang karna membuat cucu hahhaaa..." jawab Bayu membuat semua tertawa. Namun tidak dengan Disya, membayangkannya saja dia Jijik.
"Brengsekkk...masih pagi begini ada saja yang membuatku emosi hhhhh...." gumam Disya dalam hati
"Selamat pagi" sapa Axelle yang baru saja datang dari perjalanan bisnisnya
"Pagi Axe.. Ayo gabung kita baru saja memulainya" ajak Bayu
Axepun menurut dan duduk bergabung dengan keluarga itu. Ia melirik Disya sekilas namun tak menyapanya. Tak lama Miko datang bersama para pelayan yang membawakan menu sarapan pagi ini.
"Selamat pagi.. selamat menikmati sarapan pagi ini" sapa Miko
"Pagi Miko.. bergabunglah dengan Kami, rasanya sepi sekali tidak ada anak-anak" ajak Rico
"ahh...terima kasih tapi.."
"Ayolah Mik, jangan sungkan. Kau sudah seperti bagian dari keluargaku bukan" ucap Bayu
"Ahh..baiklah" Miko pun menyetujui permintaan Bayu untuk sarapan bersama. Miko menarik kursi disebelah Axe berhadapan dengan Disya.
Entah bagaimana awalnya tatapan Miko dan Disya bertemu, namun Disya segera menepisnya. Miko dan Disya tak sengaja bersentuhan tangan saat keduanya hendak mengambil selai kacang yang ada dimeja. Keduanya tersadar dan langsung menarik kembali tangan mereka
Miko berdehem karna gugup "ehemm...emm maaf, silahkan kau duluan"
Disya pun mengambil selai kacang itu tanpa menjawab ucapan Miko. Vina yang memperhatikan Disya dan Miko itu tersenyum dan menyenggol Bayu dengan sikunya.
"Sepertinya mereka cocok, bagaiman kalau kita jodohkan" bisik Vina kepada Bayu, Bayu pun ikut memeperhatikan lalu mengiyakan ide istrinya itu
"Sepertinya ide bagus" jawab Bayu
.
.
.
.
__ADS_1
...----------------...