Trail LOVE

Trail LOVE
84. CERAI !!


__ADS_3

"Lihat kan anakmu itu benar-benar keterlaluan, aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri tapi apa?? Kau dengar kan apa yang dia katakan padaku?" ucap Vina dengan air mata yang tanpa permisi sudah mengalir dipipinya.


Bayu menghela nafasnya, lalu memilih keluar untuk menenangkan pikirannya. Ia sungguh terpojok disituasi seperti ini. Ia hanya bisa menghela nafasnya dan membuangnya. Bayu lelah akan pikirannya, hatinya kacau. Ia tak tahu harus berpihak kepada siapa? Ingin rasanya ia membela putrinya namun ada Vina yang saat ini berstatus istrinya.


Rico menghampiri Bayu yang sedang duduk dengan kepala tertunduk. Wajah frustasinya sangat terlihat jelas. Rico mendudukkan dirinya disamping Bayu yang masih menundukkan kepalanya.


"Huhhh...melelahkan sekali ya malam ini" ucap Rico berbasa basi. Tak ada jawaban dari Bayu.


"aku tahu kau adalah orang yang sangat bijak dalam mengambil keputusan. Tapi hari ini aku tidak melihat kau seperti itu. Menurutku kau sungguh gegabah, seharusnya kau tanyakan terlebih dahulu penjelasan Thalita. Kita kan tidak tahu kronologinya seperti apa, kita tidak bisa hanya mendengar dari satu pihak saja" ujar Rico


Bayu mendengarkan setiap perkataan sahabatnya itu. Ia mengangkat kepalanya dan menyandarkannya didinding.


"Entahlah Rico, emosiku terpancing begitu saja mendengar pernyataan Vina tadi" ucap Bayu dengan suaranya yang berat.


"Aku tahu dia istrimu Bay, tapi Thalita juga anakmu, dia anak kandungmu. Baru satu tahun kau hidup bersama Vina tapi bersama Thalita kau sudah hidup puluhan tahun. Maaf bukan aku menjelekkan istrimu, tapi..harusnya kau lebih mengenal Thalita daripada istrimu. Fikirkan juga perasaan anakmu, jangan sampai kau menumbuhkan kebencian dihatinya entah kepadamu atau kepada Ibu sambungnya"


Ucapan Rico membuat Bayu terdiam. Ia sama sekali tak menjawabnya. Namun bayu memikirkan semua yang dikatakan sahabatnya sekaligus besannya itu. Ia pun menyesal kenapa ia tak menanyakan kejadian yang sebenarnya terlebih dahulu, dia pun tak mencari bukti atas tuduhan itu.


Saat tiba diparkiran, ponsel Revan berdering dan terlihat nama "Om Bayu" memanggil. Revan menggeser tombol hijau diponsel itu.


"Win, Fir.. kalian balik duluan aja ya..tadi Om Bayu telfon dia minta gw kekantin ada yang mau diomongin katanya" ujar Revan setelah mengakhiri obrolannya dengan Bayu ditelfon tadi.


"Pasti mau ngomongin masalah ulet keket tuh.." ucap Safira


"Gw ikut dehh.. kita jelasin sama-sama biar Om Bayu tau kalau itu bukan perbuatan Thalita" pinta Winda


"Iya gw juga ikut.. demi sahabat tercinta.." sambung Safira


"Tapi kan..." belum selesai bicara Revan sudah mendapat tatapan sinis dari kedua wanita itu.


"Hahh... yaudahlah" ucap Revan pasrah.


***Dipantai


Suara deburan ombak mengiringi suara tangis seorang wanita. Dipelukan suaminya ia menangis sekencang-kencangnya.


"Menangislah agar hatimu tenang, aku akan selalu ada untukmu" hanya itulah yang bisa Kenan ucapkan.


"Hikkss... Aku ngga ngelakuin itu Ken, kamu percaya kan sama aku?"


"Tentu saja, aku kan suamimu jelas aku lebih percaya kamu daripada wanita itu"


"Tapi kenapa Ayah ngga percaya sama aku ken.. huaaaaa.... sepertinya Ayah udah ngga sayang lagi sama aku Ken..huuu...huuu..."


"Ssttt... mungkin Ayah hanya terkejut, dia tidak bicara dari hatinya. Dia hanya terbawa emosi. Tidak mungkin Ayah tidak menyayangimu, buktinya dia bisa menjagamu dengan baik selama ini dan kau tumbuh menjadi wanita yang cantik" ucap Kenan yang mencoba menenangkan istrinya itu.


Kenan melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Thalita "Sudah yaa..jangan menangis lagi"


"Emm..kita kembali ke Resort yuk.." ajak Kenan setelah Thalita berhenti menangis


"Tapi..aku masih mau disini, suara ombak bikin aku tenang" jawab Thalita


"Hahh...kau sungguh tidak pengertian"


"Maksudnya?"


"Kau tau tidak, sebenarnya dari tadi aku menahan diri untuk...."

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Sudahlah jangan banyak tanya, ayo kita kembali ke Resort, aku lelah"


Kenan menarik tangan Thalita, menggenggam telapak tangannya dengan erat. Berjalan beriringan menelusuri pantai menuju Resort. Selama perjalanan Kenan terus menciumi punggung Thalita membuat Thalita merasa nyaman dan melupakan masalah yang sedang ia hadapi.


Sesampainya diResort, ada Revan, Winda dan Safira yang sudah menunggunya sejak lama beserta Axe yang juga ada bersama mereka.


"Thaaall..." Winda berteriak dan langsung memeluk Thalita. Sambil menangis ia meminta maaf kepada Thalita. "maafin gw Thal maafin hiks..."


"Lo kenapa si..lo bikin ulah apa sama gw?" tanya Thalita heran


Winda melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya dan mulai bicara. Dengan bantuan Revan, Winda menjelaskan kronologi yang dialami oleh Disya.


"APA!!!! Sepertinya hukumanku mendeportasinya tidak membuatnya jera" ucap Kenan dengan jengkelnya.


"Maafin gw ya Thal...pliiiissss... gara-gara gw lo jadi kena imbasnya"


"Ngapain minta maaf si..lo kan udah nyelametin gw. kalo aja ngga ada kalian mungkin gw ngga bakal punya suara lagi. Gw jadi ngga bisa ngata-ngatain lo lagi.. hahhaa..."


"Sialan lo...."


"becandaa... sini peyuk.." Thalita merentangkan tangannya kepada Safira dan Winda, merekapun langsung berhambur kepelukan Thalita.


Revan dan Kenan tersenyum melihat lersahabatan itu dihiasi dengan tangis bahagia.


"Gw ikutan doong..." ucap Revan sambil merentangkan tangannya namun ditepis oleh Kenan.


"Lita..." suara berat seorang Pria paruh baya memanggilnya. Thalita melepaskan pelukan para sahabatnya itu dan menoleh kesumber suara yang memanggil namanya.


"Ayah" panggil Thalita dengan suara datar


"Yaudah Thal, kita kekamar yaa.. Lo selesaiin deh masalah lo, biar ngga berlarut-larut" ucap Winda dan dibenarkan oleh Safira


"Lo tenang aja, Ayah lo udah tau kok semuanya. Tadi di Rumah sakit dia minta ketemuan sama gw buat jelasin kronologinya" sambung Revan


"Ken, kamu temenin aku kan"


"Em..tentu saja"


Bersama Kenan Thalita masuk ke ruang Office setelah sebelumnya mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk.


Bayu menatap Kenan dengan tajam sesaat saat melihat Putrinya membawa serta suaminya masuk kedalam.


"Maaf Ken, bisa tinggalkan kami, Aku ingin bicara pada putriku" ucap Bayu setelah mengalihkan pandangannya.


Mendengar ucapan Ayahnya itu, Thalita malah menggenggam erat genggaman tangan Kenan.


"Maaf Ayah, Aku suaminya. Apapun yang menyangkut dengannya itu akan menjadi urusanku"


"Ckkk...urusanmu?? lalu bagaimana kau akan mengurus Disya?"


"Kau lihat kan, kalau bukan karna Winda dan Revan mungkin saat ini pita suara Thalita sudah rusak, dia sudah tidak dapat bicara lagi. Bagaimana kau menjaganya Hahhh!!!!! BAGAIMANA????"


"AYAH... kenapa Ayah jadi marahin Kenan. Langsung aja pada intinya, Ayah mau bicara apa sama Lita?"


"Bercerailah" pinta Bayu

__ADS_1


"CERAI???" ucap Kenan dan Thalita secara bersamaan karna terkejut.


"Sepertinya Ayah telah salah memilih orang untuk jadi suamimu. Ayah justru menempatkanmu kedalam bahaya. Laki-laki itu tidak bisa melindungimu"


"Ayah apa-apaan sih..Lita ngga mau!!"


"LITA!! Apa kau tahu apa yang menyebabkan kecelakaanmu waktu itu hingga kakimu patah tanganmu patah dan sekujur tubuhmu penuh dengan luka? Itu semua perbuatan Disya... jika kau tidak percaya tanyakan pada suamimu, Dia tahu apa yang dilakukan perempuan itu tapi Dia malah melindunginya.." ujar Bayu


"Apa benar Ken?" tanya Thalita, lalu melepaskan genggaman tangan Kenan saat Kenan menundukkan kepalanya tanpa ada jawaban.


"Katakan Ken, kenapa kau melindunginya? Apa kau masih mencintainya? Lalu untuk apa kau menikahi putriku kalau kau masih mencintai wanita itu?"


"Tidak Ayah bukan begitu.." ucap Kenan setelah mengangkat kepalanya, namun Kenan tidak tahu harus mulai menjelaskan darimana


"Ahh... tentu saja ini bukan salahmu, tapi ini salahku yang mengira kau bisa menjaga putriku dengan baik" ucap Bayu lagi


"Ayah..maafkan aku" lirih Kenan


"Maaf.. apa kau akan meminta maaf juga jika anakku mati? hanya itukah yang bisa kau lakukan?"


ucap Bayu lalu menarik tangan Thalita membawanya pergi.


"Lita..ayo kita pulang.. tinggalkan laki-laki ini"


"Ayah..Ayah.. hukumlah aku. Tapi tolong jangan pisahkan Aku dengan Istriku..aku mohon" Kenan bersujud didepan Bayu, memohon untuk tidak membawa Thalita.


"Tidak ada hukuman yang pantas untukmu selain menjauhkanmu dari putriku. Ayo..." ujar Bayu lalu menarik tangan Thalita dan membawanya pergi.


Kenan terus mengejar Thalita meraih tangannya agar dia tidak pergi.


"Thalita.. sayang.. aku mohon jangan tinggalkan aku.. aku mencintaimu sayang.."


"Ayah..ijinkan lita untuk bicara sebentar sama Kenan, Lita janji setelah ini akan ikut Ayah pulang"


"Bicaralah...Ayah akan tunggu disini"


"Sayang...kau tidak akan meninggalkanku kan?" lirih Kenan yang sejak tadi menahan tangisnya.


"Ken..sepertinya dugaan aku tentang kau masih mencintainya itu benar, karna tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menjauh darinya. Bahkan ngga ada yang bisa kamu lakuin setelah tau apa yanh fia lakuin sama aku.." ucap Thalita


"Thal..aku juga tidak tahu tentang rencananya itu, kalau saja aku tau aku tidak akan membiarkan itu terjadi" jawab Kenan


"lalu bagaimana dengan kecelakaan itu, dimana aku hampir mati karna kecelakaan itu. Apa yang kamu lakukan Ken? Kamu justru menyembunyikan itu dari aku, padahal kamu tau aku dan temen-temen masih mencari pelakunya"


"Maafkan aku Thalita... maaf"


"Entahlah Ken, yang pasti aku bener-bener kecewa sama kamu, aku harus pergi"


Kenan menangis, ia menjatuhkan tubuhnya, ia duduk bersimpuh didepan Istrinya. Menggenggam tangan istrinya dan memohon "Sayang...sayang..aku mohon, jangan pergi. Aku mohon maaf kan aku, jangan pergi sayang, jangan hukum aku seperti ini"


"Waktuku udah abis Ken, Aku ngga mau buat Ayah marah, ijinkan aku pergi" Sambil menangis Thalitapun melangkah meninggalkan Kenan yang masih bersimpuh.


"Thaaaall.... THALITAAA..."


Kenan hanya dapat berteriak memanggil istrinya dan memandangi kepergian istrinya. Ia seperti kehabisan tenaga. Kaki nya tak mampu berdiri seperti tak bertulang. Masih dengan duduk bersimpuh ia menangisi kepergian istrinya.


.

__ADS_1


.


...----------------...


__ADS_2