Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
10. Diusir Dari Rumah


__ADS_3

Kirana membawa Mentari masuk ke dalam kamar anak itu. Mengganti baju yang koyak di beberapa bagian. Jaket Mentari pun ikut terkoyak. Melihat luka di kaki dan tangan Mentari membuatnya ngilu. Bahkan Kirana mengabaikan luka di tubuhnya sendiri yang lebih parah.


"Maafkan Bunda ya, Sayang." Kirana mengecup lama kening Mentari lalu membawanya ke dalam pelukan. Dia merasa gagal menjaga Mentari. Seharusnya dia tidak terpancing dengan ucapan Tristan yang bukan pertama kali ini menyulut emosinya. Titik bening itu pun meluncur tanpa bisa dicegah.


"Bunda kenapa nangis? Mentari sudah nggak sakit lagi."


"Nggak. Nggak apa." Kirana mengusap matanya yang masih basah. Kemudian mencoba mengulas senyum.


Hampir satu jam dia berada dalam kamar Mentari tidak ada tanda-tanda keberadaan seseorang. Kirana pun mengintip keluar kamar. Rasa penasaran menuntunnya menaiki tangga. Di dalam kamar atas pun tidak ada siapa-siapa. Tas kerja Tristan yang biasa tergeletak di meja sudah tidak terlihat.


Kirana kembali turun lalu pergi ke dapur untuk mengambil air putih. Ada beberapa obat yang dia dapatkan dari rumah sakit harus diminum.


Bibirnya melengkung getir saat melihat kotak bekal masih teronggok di meja makan. Tristan sama sekali tidak menyentuhnya. Ah sudahlah! Kirana enggan menjejalli pikirannya dengan segala sesuatu tentang Tristan. Dia sedang ingin istirahat. Memar di beberapa bagian tubuhnya menyebabkan nyeri. Belum lagi lukanya yang menghambat aktivitasnya.


Saat dia berbalik hendak ke kamar Mentari, Tristan sudah berdiri tak jauh dari kamar Mentari. Menatap tajam ke arahnya dengan tangan bersedekap. Langkah kaki pria itu bahkan tidak tertangkap gendang telinga Kirana. Entah bagaimana tiba-tiba Tristan sudah berada di tempatnya berdiri dan membuat Kirana berjengit karena terkejut.


"Berapa kali saya bilang jangan bawa Mentari dengan motormu itu!"


"D-dari mana Mas tahu kalau kami …. ?"


"Itu tidak penting untuk kamu ketahui! Kamu terlalu keras kepala! Saya pikir kamu bisa menjaga anak saya dengan baik. Saya menyesal telah membawa kamu ke rumah ini. Sekarang kemasi barangmu dan pergi dari rumah ini!"


Kirana terperangah mendengar ucapan suaminya. Tristan telah mengusirnya? Ya, dia tidak salah dengar. Suara Tristan begitu lantang dan jelas. Tidak perlu pengulangan untuk memahaminya.


"Ini kecelakaan, Mas. Bukan sesuatu yang disengaja," jelasnya mencoba memberi pengertian pada suaminya.


"Saya tidak mau tahu. Kecelakaan atau sengaja mencelakai bagi saya sama saja. Mentari tetap saja terluka. Dan saya tidak akan mengampuni siapa pun yang menyebabkan anak saya menderita."


"M-mas ...."


"Pergi dari sini sebelum saya melempar barang-barangmu keluar!"


Kirana menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Air matanya tidak boleh tumpah di depan Tristan. Dia boleh mencintai Mentari setulus hati. Bahkan dia tak menampik jika hatinya telah jatuh pada Tristan. Namun Kirana harus tetap menggunakan akal sehatnya. Dia tidak mau menjadi budak cinta hingga harus tetap mengiba.


"Baik! Saya akan pergi!" Kirana menatap sengit seraya meletakkan gelas yang sejak tadi dipegangnya ke atas meja. Dirinya sudah tidak diinginkan. Bahkan memang tidak pernah diinginkan oleh Tristan. Bertahan sendiri memang menyakitkan. Kirana sudah mencobanya selama 30 hari. Dan sekarang dia dipaksa untuk menyerah.

__ADS_1


Koper berisi pakaian dia seret menuruni tangga. Tristan masih berdiri di tempatnya. Mematung menatap Kirana yang kewalahan membawa koper berukuran besar. Hatinya terlalu keras untuk berempati sehingga membiarkan begitu saja tubuh mungil Kirana yang penuh luka itu menyeret koper besarnya.


"Saya pergi, Mas."


Kirana tak mengharap jawaban apa pun. Pria itu pun tetap membisu. Sejenak dia berdiri di depan kamar Mentari. Gadis kecil itu sedang tidur setelah minum obat tadi. Dia tak mampu membayangkan jika nanti Mentari terbangun dan pasti akan mencarinya. Titik bening itu pun berkumpul di sudut mata Kirana. Secepatnya dia menarik koper keluar dari rumah sebelum Tristan melihat tumpahan air matanya. Karena dia sudah tidak mampu lagi membendungnya.


Taksi online yang dipesan Kirana melaju membawanya ke tempat kost yang memang sudah dia bayar per 3 bulan. Masih ada sisa satu bulan lagi. Mungkin Kirana akan memperpanjangnya. Tempat itu sudah dihuni sejak dia kuliah. Dia masih betah hingga sampai sekarang belum berniat untuk pindah.


Sebuah rumah kost putri dua lantai sudah berdiri di depannya. Sepi, karena semua penghuni kost mungkin sedang sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Kebanyakan anak kuliah. Dan sisanya karyawan.


Kirana membuka kunci kamar kostnya. Masih bersih setelah seminggu lalu fia sempat berkunjung untuk mengambil barang yang tertinggal. Bed single itu seolah melambai pada Kirana. Tubuhnya yang nyeri akibat benturan pun tak sabar untuk segera dibaringkan. Kirana mengambil remot kemudian menyalakan pendingin ruangan. Tidur di kamar kostnya ternyata lebih nyaman dari pada tidur satu kamar dengan suaminya yang tidak pernah memberikan rasa nyaman untuknya.


******* pelan pun lkeluar saat Kirana mendengar pintu kamarnya diketuk.


"Na, ini gue! Sasha!" Suara teman kostnya terdengar dari balik pintu.


"Masuk aja, Sha!"


Kirana urung beranjak dari tempat tidurnya setelah mengetahui jika Sasha, penghuni kamar sebelah yang mengetuk pintu. Mereka berteman baik sejak empat tahun terakhir. Sejak Kirana dan Sasha sama-sama baru pindah ke rumah kost itu.


"Nggak kerja, Sha?" tanya Kirana pada gadis yang bekerja di sebuah bank swasta.


"Cuti? Kok nggak pulang."


Sasha merebahkan diri di samping Kirana. "Gue cuti mau istirahat. Kalau pulang yang ada tambah pusing sama ponakan gue. Bocil dua tapi berisiknya minta ampun!"


"Ini tangan kaki lo kenapa? Habis jatuh?" tanya Sasha kemudian melihat beberapa luka di tangan dan Kaki Kirana.


"Iya. Jatuh dari motor," jawab Kirana singkat.


"Terus lo ngapain bawa-bawa koper ke mari. Jangan bilang kalau lo …. minggat dari rumah suami lo." Ucapan Sasha membuat Kirana tertegun sejenak.


"Ya nggak lah. Gue mau ….mau beresin barang-barang yang masih di sini."


Kali ini justru Sasha yang dibuat agak terkejut. Karena seharusnya dia tidak heran jika Kirana memang tidak akan tinggal di tempat kost itu lagi.

__ADS_1


"Jadi lo udah nggak bakal balik ke sini lagi?!"


"Kayaknya enggak."


"Yang benar? Terus kita nggak bakal ketemu lagi dong, Na?!" Sasha memeluk Kirana sambil wajah sedih yang dibuat-buat.


"Lebay lo!"


Sasha pun terbahak. Hidup Kirana selama bersama Tristan terlalu banyak menelan getir sehingga dia nyaris lupa bagaimana cara tertawa. Bersama Sasha, kegesrekannya mungkin akan kembali lagi. Kirana yang dulu ceria, bahkan sangat konyol jika sudah bersama Sasha. Berbanding terbalik dengan saat dia mengajar. Yang berkesan sebagai wanita anggun dan keibuan.


"Gue kangen jalan sama lo tau, Na. Berasa nggak punya teman di sini," celetuk Sasha.


"Makanya jadi ibu kost jangan galak-galak. Jadi pada nggak mau kan dekat sama lo."


Sasha terbahak. Sejak Kirana tidak tinggal di kost, Dia yang didaulat oleh pemilik kost untuk membantu memantau anak-anak kost jika ada yang melanggar aturan. Seringkali ada yang masih ngeyel membawa masuk teman prianya meski sudah disediakan ruang tamu. Dan Sasha memang paling anti jika ada laki-laki masuk ke kamar kost. Dia tak segan untuk mengusir mereka tanpa peduli dengan teman kosnya yang mungkin akan membencinya.


"Namanya aturan, ya mesti ditegakkan. Kalau nggak bisa jadi tempat mesum ini kpst-kostan. Lo kan tau sendiri anak jaman sekarang pacarannya suka kelewatan."


"Nggak pernah ngerasain pacaran sih, lo!" balas Kirana.


"Lah, sendirinya aja tau-tau kawin. Eh, betewe, enak nggak, Na?"


"Enak apanya?"


"Belah duren. Eh sumpah ya, belah duren yang belah duren juga. Duh nggak kebayang gimana rasanya. Yang satu masih polos yang satu udah pro. Auw! Sakit, Na!" Sasha meringis sat merasakan cubitan di lengannya.


"Lo mending cari suami sana daripada ngebayangin suami orang."


"Cie, cembukur! Tapi beneran Na. Ada nggak teman suami lo yang modelan kaya Pak Tristan gitu. Nyes-nyes gimana .... gitu. Tapi pasti kalau di kamar hot kan, ya? Karena menurut survei, laki-laki model gunung es gitu kalau sama istrinya bakalan sayaaaang banget, katanya."


"Lo surveinya ke drakor!" sahut Kirana.


Sasha terkekeh. "Tapi bener nggak sih, Na?"


"Tau ah!" Kirana menjawab ketus sambil meraih ponselnya yang berbunyi.

__ADS_1


Aku sudah di rumah, Na. Ada rencana pulang dalam waktu dekat, nggak?


Kirana membalas pesan dari Baraka. Mungkin memang ini saatnya dia pulang. Bertemu dengan ibunya dan berharap hubungan mereka akan kembali mencair. Kirana tahu, ibunya masih kecewa dengan keputusannya. Selain itu dia juga akan membahas sebuah rencana dengan Baraka yang sudah sekian lama tertunda.


__ADS_2