
"Terlalu kejam nggak sih Mas, kalau kamu sampai memecat mereka. Mereka sampai sujud-sujud loh sama kamu. Aku sampai nggak tega melihat mereka," kata Kirana setelah pintu ruangan Tristan tertutup.
Dua karyawan yang baru saja menerima surat PHK memaksa menemui Tristan di ruangannya. Mereka meminta maaf agar tidak dipecat. Dengan alasan karena mereka tulang punggung keluarga, tentu saja hal itu menyentuh hati Kirana. Meski ucapan kedua karyawan itu sudah sangat keterlaluan.
"Menurutmu saya harus memaafkan orang yang telah terang-terangan menghina istri saya? Seharusnya mereka berpikir sebelum berrbicara. Mereka menghina kamu sama saja menghina saya. Menghina pemilik tempat mereka mencari nafkah. Dan orang seperti mereka tidak pantas untuk dipertahankan. Biar saja untuk pembelajaran karyawan lain."
"Tapi kasihan, Mas."
Tristan tidak habis pikir dengan istrinya. Baru beberapa satu jam yang lalu Kirana menangis sesenggukan karena digunjing oleh karyawan yang baru saja dipecat, dia sudah berubah pikiran dan justru kasihan pada mereka. Entah kenapa dirinya yang tegas dan kaku namun takdir hidupnya selalu mempertemukannya dengan wanita-wanita yang berhati selembut kapas.
Tristan pantang mengubah apa yang sudah diputuskan. Bisa jadi esok Kirana akan merasakan sakit hati lagi dan kembali menumpahkan air mata. Tristan akan sangat merasa bersalah jika sampai hal itu kembali terjadi.
Ucapan Kirana dia abaikan. Tristan mengambil tas kerjanya lalu melipat laptopnya.
"Pulang, yuk!" ajaknya.
"Kok pulang? Ini baru jam dua lewat."
"Kepala saya nyut-nyutan kalau harus menahannya lebih lama lagi. Di sini kita tidak bisa melakukannya dengan rileks. Pintu ruangan ini pasti akan sering digedor."
Baru saja bibir Tristan merapat, pintu ruangannya kembali diketuk seseorang. Dan betapa tidak sopannya orang di balik itu membuka pintu meski belum dipersilakan masuk.
"Selamat siang, Bapak Tristan. Perkenalkan saya calon asisten baru Anda!"
Seorang wanita mengenakan blazer dan celana panjang. Dan rambut panjang berwarna keemasan tersenyum rama di depan pintu.
Kedatangan wanita itu justru membuat Tristan berdecak kesal. Pembuat onar yang selalu membuat Tristan sakit kepala jika wanita itu muncul di dekatnya. Dan kemunculannya yang tidak terduga kali ini membuat Tristan memijit kepala.
"Siapa yang nyuruh lo ke sini?"
"Tante Ratih, dong. Masa Mami Tiara," jawab perempuan bernama Nabila seraya berjalan mendekati meja Tristan.
"Apa kabar, Kirana? Wah udah tumbuh aja tuh kecebong. Udah berapa bulan, Na?" Nabila menyapa Kirana yang duduk kursi suaminya.
"Empat bulan, Bil."
__ADS_1
Bukan hal yang aneh bagi Kirana, meski tidak mengenal dekat, namun mereka sering terlibat dalam kegiatan kampus. Dan ucapan random perempuan yang dulu terkenal tomboy itu tentu bukan hal yang asing baginya.
"Udah paling bener lo tinggal di Aussie. Ngapain balik lagi ke sini? Ngaku-ngaku calon asisten gue, lagi. Ogah banget! Gue emang buka lowongan buat sekretaris baru tapi bukan buat elo," ujar Tristan semakin kesal benihnya dibilang kecebong.
Nabila menghempaskan diri di kursi duduk berhadapan dengan Kirana.
"Selow, Brother. Gue nggak bakal ke sini kalau bukan Tante Ratih yang minta. Kalau mau protes, protes aja sama Tante Ratih. Dan ingat, gaji gue di sini harus lebih banyak dari gaji gue sebelumnya. Karena kerja gue rangkap di sini. Jadi sekretaris plus asisten plus bodyguard lo."
"Lo mau kerja apa meras gue? Lagi pula gue nggak butuh bodyguard. Apalagi elo jadi bodyguard, bisa apaan emangnya?"
Nabila menarik sudut bibirnya. "Banting lo aja gue bisa. Gue di sini buat jagain lo dari nyamuk-nyamuk nakal."
Ucapan Nabila sontak membuat Kirana terkekeh. Namun tidak demikian dengan Tristan. Lelaki tersenyum misterius menatap sepupunya.
"Baiklah, kalau begitu hari ini lo mulai training. Lo handle nih kerjaan gue.!"
Tristan menarik tangan Kirana agar beranjak dari kursi. Meski tidak mengerti maksud suaminya, Kirana menurut.
"Lo mau kemana?" tanya Nabila.
"Sialan! Kalian mau ***-***, terus gue suruh kerja keras gitu?!"
"Lah, kan elo yang minta kerjaan. Kerja yang baik ya, Nabila Pratiwi. Jangan telpon-telpon gue. Kalau bingung jongkok aja!" sahut Tristan sambil menggandeng Kirana keluar dari ruangan itu.
Bisa terbayang bagaimana kesalnya Nabila. Gadis itu pasti akan menggerutu tidak ada habisnya.
Kirana pikir, Tristan hanya bercanda. Tetapi mobil yang dikemudikan suaminya itu ternyata benar-benar masuk ke pelataran hotel yang tidak jauh dari kantor.
"Mas, kok ke sini?"
"Kan tadi saya sudah bilang. Ayo turun!"
Kirana menghela nafas pelan. Semenjak kehamilannya semakin besar, Tristan justru menginginkannya lebih banyak. Kirana tentu saja tidak menolak. Karena kehamilan di trimester kedua dirinya mengalami peningkatan libido karena pengaruh hormon kehamilannya.
Setelah mengantongi kunci kamar, mereka naik lift menuju ke lantai 5. Saat keluar dari lift, Kirana sempat melihat sekelebat bayangan seseorang yang dikenalnya. Hingga dia menghentikan kakinya. Hanya sepersekian detik dan pintu kamar itu telah tertutup.
__ADS_1
"Sayang, ada apa?"
Kirana tersentak. "Ah, tidak ada. Kepalaku tiba-tiba pusing."
Tristan mendesah kasar. Meski tidak diungkapkan, Kiraman tahu jika Tristan kecewa. Keluhan pusingnya pun hanya alasan yang terlontar begitu saja dari mulutnya. Karena sebenarnya, dia sedang dalam mood yang begitu bai lk saat ini.
Kirana mengulas senyum tipis seraya mengambil kartu di tangan suaminya. Dia menyusuri lorong mencari nomor kamar mereka. Hanya selisih satu kamar dari kamar yang beberapa menit lalu tertutup meninggalkan rasa penasaran dalam benak Kirana.
Namun dia sedang tidak ingin memikirkan hal yang bukan urusannya. Karena hal yang harus diurusnya saat ini adalah suaminya yang melipat wajah karena mengira dia benar-benar sakit.
Mungkin, siang ini adalah aksi paling berani yang ditunjukkan Kirana. Melepas satu persatu kain penutup tubuhnya. Hingga menyisakan underwearnya.
Pemandangan itu tentu saja membuat pertahanan Tristan runtuh seketika. Keluhan pusingnya Kirana tang sejak tadi membuatnya iba pun lenyap.
Hampir satu jam bergulat di atas matras berukuran king size itu, mereka terkapar kelelahan dengan peluh yang membasahi tubuh keduanya. Kirana menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Lambat laun, keduanya pun memejamkan mata.
Hingga beberapa jam kemudian, terdengar bunyi ponsel bergetar tanpa henti. Tangan Tristan meraba-raba untuk mencari benda canggih miliknya
"Bang! Lo di mana, sih? Anak lo nyariin!" Suara Nabila melengking di seberang telepon.
Tristan menggerutu kesal. "Iya, gue balik ke kantor sekarang."
Tawa kencang pun terdengar memekakkan telinga. "Bangun woi! Kantor udah tutup kali jam segini."
Mata Tristan seketika membelalak. Dia melihat jam di layar ponselnya.
"Astaga!" Tristan terperanjat melihat angka di layar ponselnya yang memperlihatkan angka delapan dua puluh.
Tanpa mempedulikan suara Nabila yangpasti sedang menertawakannya, Tristan membangunkan Kirana. Perempuan itu pun tak kalah paniknya. Mereka telah melewatkan banyak hal selama hampir lima jam terlelap.
"Mas kenapa nggak bangunin aku dari tadi, sih?" gerutu Kirana sambil menyeret langkahnya ke kamar mandi.
"Kita sama-sama terlambat. Terbangun juga karena Nabila yang telpon barusan," jawab Tristan menyusul langkah Kirana.bahkan telpon dari sepupunya itu pun belum ditutupnya.
"Gini amat sih cuma mau quality time, ada saja yang ganggu." Tristan mendumel pelan.
__ADS_1