
"Ngomong-ngomong, kapan Mas Baraka ke rumah kamu. Kayaknya kamu sengaja nutupin dari aku."
Kisah tentang sahabatnya dan Baraka menjadi hal menarik untuk dikulik oleh Kirana. Bahkan hingga mereka dalam perjalanan pulang Kirana tidak tahan untuk menuntaskan rasa penasarannya. Karena Syifa sepertinya enggan membicarakan perihal lamaran Baraka lebih banyak lagi.
Sebenarnya dia sedikit kesal karena Syifa mulai tidak terbuka. Alasan untuk menjaga perasaannya tentu saja terdengar tidak masuk akal.oleh. Dirinya dan Baraka tidak pernah ada hubungan apa-apa selain pertemanan. Terlepas dari Baraka yang menyimpan perasaannya sendiri. Meski sinyal-sinyal itu kerap ditunjukkan akhir-akhir ini.
Hembusan nafas kasar pun terdengar dari Syifa.
.
"Dua minggu lalu."
"Dua minggu lalu? Dan kamu nggak pernah cerita apa pun?"
"Aku juga batu tahu seminggu setelahnya," sahut Syifa dengan wajah terlihat seolah penuh beban.
"Kok bisa?"
"Mas Baraka sama Umi datang waktu aku lagi kerja. Kamu kan tahu sendiri orang tua mana yang bisa menolak Mas Baraka. Bu Ambar saja sampai kesengsem mau mengangkat dia jadi menantu."
Benang merah itu pun semakin nampak. Syifa merasa kesal karena dia tidak diminta peryimbangan oleh orang tuanya. Ya, orang tua mana yang tidak ingin punya menantu seperti Baraka. Keinginan itu juga yang sempat dimiliki oleh orang tua Kirana.sebelum Tristan datang dan dalam sekejap menggeser posisi Baraka di hati ibunya.
Senyum getir pun terbit di bibir Kirana. Sejak kapan dia mulai membanding-bandingkan orang? Tak perlu dibandingkan pun Tristan dan Baraka sudah jelas jauh berbeda. Baraka yang selalu teduh saat dilihat. Berbeda dengan Tristan yang terlihat angkuh dan dingin.
"Kamu menjadi wanita paling beruntung bisa mendapatkan Mas Baraka, Fa." Kalimat lirih itu pun lebih terdengar.
Syifa tertegun mendengarnya. "Kamu bukan sedang menyesal dengan apa yang jadi pilihanmu kan, Na?" ucapnya dengan tatapan menyelidik.
Selama ini Syifa memang diam. Tetapi dia bukan tidak memperhatikan Kirana. Ada banyak hal yang juga disembunyikan oleh Kirana darinya. Sesekali dia mendapati Kirana termenung di saat sela-sela mengerjakan sesuatu hal. Kirana tak lagi seceria dulu. Sikap seolah tidak terjadi sesuatu hal dalam diri sahabatnya itu tentu saja tidak mampu membohonginya.
"Jadi kapan rencananya mau sah?" Alih-alih menjawab pertanyaan Syifa, Kirana justru menjawab dengan pertanyaan lain.
Syifa tak menyahut. Sejujurnya dia pun ragu. Andai saja Baraka membicarakannya lebih dulu sebelum datang ke rumah, tentu dia akan mencegahnya lebih awal. Tetapi jika kedua pihak keluarga sudah bertemu, bagaimana dia bisa menghindar. Bahkan ibunya Baraka meminta secepatnya mereka menikah. Dalam bulan ini hubungan mereka sudah harus tercatat di KUA.
__ADS_1
Sementara ketika Syifa mengkonfirmasi pada Baraka, ketika itu akan menjawab jika semua maunya Umi. Hubungan yang akan dijalani berdua atas dasar kemauan orang lain. Syifa tak bisa membayangkan bagaimana mereka menjalaninya nanti.
"Apa yang membuat kamu ragu dengan orang sebaik dia, Fa?" tanya Kirana karena Syifa tak kunjung memberi jawaban.
Syifa menipiskan bibirnya hambar. "Mas Baraka juga manusia, Na. Nggak mungkin sempurna."
"Nyari yang sempurna tentu saja tidak mungkin ada. Setidaknya dia lain dari laki-laki pada umumnya."
"Termasuk suamimu?" Pertanyaan itu seolah memukul telak Kirana. Dan berhasil membuatnya bungkam.
Syifa terlalu peka. Bahkan mimik wajah yang dibuat normal secepatnya pun mampu tertangkap olehnya.
Posisi mereka kini justru berbalik. Kirana tak mampu mengelak semua pertanyaan yang diberondongkan oleh Syifa. Syifa dan dirinya adalah satu. Sahabat yang akan saling mendukung dalam segala hal. Saling menyembunyikan masalah pun akhirnya akan terkuak oleh masing-masing.
Perjalanan mereka pun penuh dengan curahan hati Kirana. Yang tidak mampu lagi membendung semua beban hatinya. Terlalu sakit jika harus ditanggung sendiri. Berbagi dengan Syifa sedikit melegakan, sesak di dalam dadanya sedikit berkurang.
Hingga tanpa terasa, gapura kampung mereka sudah di depan mata. Kirana membelokkan kemudi menyusuri jalan kampung beraspal. Dia menghentikan mobilnya di depan rumah bercat putih dengan pagar besi. Di teras rumah tampak dua lelaki sedang duduk berdua. Hal itu tak urung membuat Kirana tak tahan untuk tidak menggoda Syifa.
"Apaan sih, Na?"
Kirana pun terkekeh. Srmentara stifa tetap berdiam diri di kursinya seolah enggan turun.
"Udah sana! Ditungguin, tuh!" Kirana menunjuk ke arah teras rumah.
Terlihat Baraka yang beranjak dari kursi lalu bersalaman dengan ayah Syifa. Pria itu pun meninggalkan rumah itu bersama motornya.
Kirana sengaja membuka kaca mobil untuk menyapa Baraka.
"Kok pulang, Mas?" tanya Kirana basa basi dari dalam mobil.
"Iya. Cuma ngantar kiriman Umi. Baru pulang kalian?"
"Iya. Maaf ya, Mas. Kelamaan bawa Syifa. Sampaikan ke Umi, calon mantu selamat sampai di rumah."
__ADS_1
Baraka membalas dengan senyum yang dipaksakan. Kemudian kembali melajukan motornya setelah berpamitan pada Kirana.
Tawa Kirana meledak setelah Baraka menjauh. Semakin kencang saat Syifa memperlihatkan wajah kesalnya.
"Nggak usah gitu-gitu amat sih, Fa. Buruanlah halal. Biar nggak jutek-jutekan gitu."
"Tau ah!" Syifa menarik gagang pintu lalu keluar dari mobil.
Kirana kembali tertawa seraya menginjak pedal gas melanjutkan perjalanan pulang menuju ke rumahnya. Tidak terlalu jauh dari rumah Syifa. Hanya butuh waktu lima menit dia sudah memasukkan mobilnya ke garasi.
Rumah tampak sepi. Karena ibunya hanya sendirian di rumah pada jam-jam menjelang Isya. Kirana masuk melalui pintu samping.
"Pulangnya sampai malam, Nduk?" Suara ibunya menyapa Kirana dari arah ruang tengah.
"Iya. Tadi Syifa bikin acara kejutan sama teman-teman di sana."
"Dalam rangka ulang tahunmu?"
Kirana mengangguk. Dai bahkan hampir lupa jika hari ini adalah tanggal kelahirannya. Jka saja ibunya tidak mengingatkannya tadi pagi. Kirana memang tak pernah lagi membuat perayaan-perayaan seperti saat masih kecil hingga remaja. Terakhir kali saat dirinya berusia tujuh belas tahun. Setelah itu, dia melewati tahun-tahun setelahnya seperti biasa. Bahkan kadang terlupa begitu saja.
"Makan dulu, Nduk."
"Tadi udah makan banyak. Takut melar," sahut Kirana sambil mengisi gelas dengan air putih lalu meneguknya.
"Nana ke kamar dulu, Bu. Capek," ujarnya sambil melenggang ke kamar.
Tujuannya untuk mencari bahan-bahan produksi berakhir di sebuah kafe. Di luar dugaannya jika Syifa membuat surprise dengan mengundang teman-teman dekat mereka yang berdomisili di Jogja. Acara yang sengaja dibuat sekaligus reuni setelah bertahun-tahun tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.
Saat membuka pintu kamar, dia dikejutkan oleh banyak benda asing di atas meja riasnya. Sebuah bingkisan dan buket bunga mawar. Kirana mendekat dengan penuh rasa penasaran. Rasanya tidak mungkin jika ibunya yang melakukan semuanya.
Buket bunga mawar yang cukup besar itu dilihatnya berulang-ulang. Tidak ada nama pengirimnya. Begitu juga kotak yang bersanding dengan sebuah boneka beruang berukuran besar.
Kirana meletakkan kembali buket itu lalu bergegas keluar dari kamar untuk menanyakan pada ibunya siapa pengirim barang-barang yang ada di kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat netranya menangkap sosok seseorang tengah terlelap di tempat tidurnya dengan tubuh tertutup selimut.
__ADS_1