Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
6. Godaan Silvia


__ADS_3

"Sampai kapan kamu akan terus-terusan seperti ini? Jangan hanya menuruti perasaanmu. Pikirkan juga tentang Mentari." Kalimat sang mama kembali terngiang kala memintanya untuk menikah lagi. Meski dia tidak tahu pasti sedekat apa Mentari dengan gurunya, namun melihat putrinya yang terlihat sangat manja, hubungan mereka tentu bukan selayaknya guru dan murid pada umumnya. Mentari tak pernah sedekat itu dengan orang lain. Bahkan dengan tantenya sendiri pun dia tidak begitu dekat.


Jangan ditanya bagaimana hati Tristan kala itu. Tentu saja menolak. Namun dia tidak tega saat putrinya sakit dan selalu mengigau tentang mama. Hati orang tua mana yang tidak teriris melihatnya. Meski berat, Tristan pun mengabulkan permintaan Mentari.


******* kasar keluar dari organ nafas pria itu.


"Elita." Bibirnya memggumam pelan.


Tristan mengemasi barang-barangnya. Semua karyawan sudah pulang karena jarum jam sudah menunjuk angka 8. Dia memang sengaja berlama-lama di kantor. Bukan tidak rindu pada rumah dan putrinya. Namun karena enggan terlalu sering bertatap muka dengan Kirana.


Pemikirannya ternyata salah. Ketukan pintu menandakan jika masih ada karyawan yang belum pulang. Tristan mempersilakan orang yang berada di balik pintu untuk masuk.


"Belum pulang kamu, Sil?" tanyanya melihat Silvia melangkah masuk ruangannya.


"Belum, Mas. Nunggu Mas Tristan.


Mau numpang, tadi mobilku mogok." Silvia mendekati kursi Tristan.


"Bukannya mobilmu belum terlalu tua?"


"Nggak tahu, Mas. Nggak ngerti mesin."


Silvia, selain sektetarisnya, dia adalah adik ipar Tristan. Terkadang mereka memang berbicara informal saat di luar jam kerja.


Elita sangat pencemburu. Dia tidak rela Tristan mempunyai sekretaris perempuan. Itu kenapa dia meminta Tristan mengangkat adiknya sebagai sekretaris. Silvia yang tergolong pintar dan mampu menyesuaikan diri dengan cepat pun diterima oleh Tristan.


"Kenapa tidak naik taksi? Sampai harus menunggu saya pulang malam begini."


"Nggak papa, Mas. Siapa tahu Mas Tristan butuh teman. Memangnya Mas nggak kesepian?" Silvia semakin mendekat ke arah Tristan. Dia bahkan berani duduk di meja. Rok mini yang dikenakannya mengekspos hampir setengah pahanya.


"Lain kali berpakaian yang lebih sopan, Sil. Kamu masih lajang. Sayang jika harus banyak mata laki-laki melihatnya cuma-cuma. Apa kamu tidak bisa meniru kakakmu?" tutur Tristan selayaknya seorang kakak.


Silvia justru terkekeh. "Saya bisa menjadi seperti Mba Elita, Mas. Menyiapkan semua keperluan Mas Tristan, mengurus Mentari, apalagi …. menghangatkan ranjang Mas Tristan yang sudah lama kedinginan."


Silvia menyukai Tristan, hal itu sudah sejak lama ditunjukkan terang-terangan. Perempuan itu tidak segan-segan merayu kakak iparnya setelah menduda. Jika bukan karena amanah dari Elita, tentu Tristan sudah melemparkan surat mutasi ke meja Silvia.


"Kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari saya, Sil. Jangan mengobral dirimu seperti perempuan murahan."


" Saya tidak peduli Mas Tristan mau bicara apa. Saya hanya mau kamu, Mas."


"Gila kamu!" Tristan menoyor kepala Silvia.


Tristan tak menyangka gadis remaja lugu yang dibesarkannya bisa menjelma menjadi wanita seberani itu. Tristan tak menampik jika Silvia memang cantik. Beberapa bagian wajahnya mirip dengan Elita karena mereka satu darah. Meski kadang naluri kelelakiannya muncul saat Silvia merayunya, namun sejauh ini dia masih mampu mengendalikan diri.

__ADS_1


Tristan membuang wajah saat Silvia sengaja melebarkan kakinya.


"Kita pulang sekarang!" ujarnya sambil menyambar tas lalu beranjak dari kursinya. Meninggalkan Silvia dalam ruangan itu sendiri.


Tak lama kemudian, bunyi ketukan sepatu Silvia mengikuti di belakangnya. Mereka masuk ke dalam lift bersamaan. Tidak ada orang lain di dalam lift itu membuat Silvua bebas bertingkah nakal. Merapatkan tubuhnya pada Tristan meski pria itu sengaja menjaga jarak.


"Jaga sikapmu Sil? Atau kamu mau saya mutasi ke bagian lain?" Ancaman itu keluar juga dari mulut Tristan. Silvia pun mendengus kesal. Betapa susahnya meruntuhkan hati kakak iparnya.


Sejak keluar dari lift Tristan tidak mengeluarkan suara. Pikirannya sudah terlalu penuh dengan urusan pekerjaan, urusan keluargamya, ditambah tingkah Silvia yang seringkali membuatnya pusing.


Laki-laki itu masih terdiam dengan tatapan fokus pada jalanan yang terlihat begitu padat. Dia melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata. Alih-alih mengantar Silvia pulang, Tristan justru membelokkan kendaraannya ke salah satu pusat hiburan malam. Sedang apartemen Silvia masih jauh dari tempat itu.


"Kok ke sini, Mas? Besok masih kerja loh."


"Pusing." Tristan menyahut seraya membuka pintu.


"Kamu bawa mobil saya. Nanti saya pulang sama Daniel. Besok pagi kamu jemput saya," lanjutnya.


Namun Silvia mengabaikan perintah Tristan. Dia mengambil kunci mobil lalu mengikuti Tristan masuk ke dalam club. Meski Tristan sudah melarangnya, Silvia tidak peduli. Dia tahu jika Tristan tidak pernah kuat minum. Laki-laki itu memang tak pernah memiliki kebiasaan minum. Bahkan dulu pria itu jauh dari dunia malam. Setelah ditinggal sang istri, tempat itu kerap kali dikunjunginya. Pusing, selalu itu alasan Tristan. Dan Silvia beberapa kali harus mengantar Tristan pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Pulang aja Sil! Nggak baik di tempat seperti ini," ujar Tristan saat beberapa pasang mata laki-laki menatap Silvia dengan tatapan lapar. Kalimat itu yang selalu dia ucapkan untuk mengusir Silvia dari tempat itu.


"Kalau nggak baik kenapa Mas Tristan le sini?"


"Memang Mas Tristan sudah nggak mau jagain saya?"


Tristan tak menyahut. Dia meneguk minuman yang baru saja diberikan oleh bartender. Jika sedang menunggu Tristan minum, Silvia serasa sedang mengasuh anak bermain. Menunggu hingga laki-laki itu teler dan tergeletak di sofa.


Bosan menunggu Tristan, Silvia melepas blazernya menyisakan blus tanpa lengan. Lalu dia turun ke dance floor Tristan hanya menggeleng seraya menipiskan bibir melihat Silvia meliuk-liukkan badan sesuka hatinya. Kendati terkesan melepas, namun Tristan tetap mengawasi adik iparnya. Karena jika bukan dia, siapa lagi yang akan peduli dengan perempuan itu. Silvia tidak punya siapa-siapa lagi selain dirinya.


Laki-laki yang hampir kehilangan kesadaran itu berjalan sempoyongan saat melihat beberapa pria mendekati Silvia.


"Jangan ganggu dia!" Tristan menghardik dua laki-laki itu.


"Apa urusannya sama lo?" tanya salah satu dari mereka dengan nada menantang.


"Gue kakaknya. Kenapa?" Tristan menarik lengan Silvia dan menghempaskan tubuh sintal itu ke sofa.


"Jangan merepotkan saya! Diam di sini!"


Silvia mendengus. Meski tak dipungkiri jika dia besar kepala karena Tristan sangat peduli dengannya. Menjaga dengan baik ucapan Elita untuk menjaga dan melindunginya.


Silvia benar-benar bosan harus duduk diam saja. Menyentuh minuman pun tangannya pasti akan ditepis oleh Tristan. Tidak baik, selalu itu alasannya. Saat diajak pulang, Tristan justru menyuruh Silvia pulang lebih dulu. Hingga laki-laki itu akhirnya tak berdaya menyandarkan kepalanya di sofa. Jika sudah seperti itu, bukan Silvia yang merepotkan Tristan. Namun sebaliknya.

__ADS_1


Tristan meracau tidak jelas saat Silvia memapahnya ke tempat parkir. Silvia tahu jika Tristan sangat terpukul dengan kepergian Elita. Bahkan saat mabuk hanya nama Elita yang tak henti terucap dari bibir pria itu.


"Elita! Kenapa kamu ninggalin aku?"


Silvia tersenyum miris di belakang kemudi mendengar racauan Tristan. Tiga tahun bukan waktu sebentar. Namun sedetik pun Tristan tidak bisa berpaling dari istri terrcintanya.


"Aku butuh kamu. Mentari butuh kamu, Elita! Kami butuh kamu! Kenapa kamu justru pergi?" Tristan terkekeh setelah racauan pilu itu kembali terdengar dari mulutnya.


Silvia menghentikan kendaraan itu di carport rumah Tristan. Lalu kembali memapah Tristan yang semakin kacau. Smart key dengan kode angka sudah dia hafal di luar kepala. Karena memakai tanggal lahir Elita. Tristan memang memberikan akses masuk ke rumah pada Silvia karena sudah menganggap Silvia keluarga terdekat. Bahkan seringkali Silvia diminta untuk mengambil barang jika ada yang tertinggal di rumah.


Sementara itu, Kirana yang masih terjaga menunggu kepulangan Tristan sudah berdiri di ujung tangga saat melihat suaminya pulang dipapah oleh seorang wanita. Wanita yang sama dengan yang dia lihat di coffee shop bersama Tristan waktu itu. Ternyata dia tidak perlu capek-capek mencari tahu. Akhirnya mereka muncul bersamaan di rumah itu.


"Siapa kamu?" tanya Silvia melihat Kirana mengenakan piyama panjangnya sedang menatap tajam ke arah mereka berdua. Tristan yang tidak kuat berdiri menjatuhkan diri di sofa ruang keluarga.


"Seharusnya saya yang bertanya siapa kamu. Ini rumah suami saya."


"Suami?" Oh, sepertinya telinga saya sedang mengalami gangguan."


Kirana tersenyum miring. "Apa perlu saya ambilkan buku nikah kami. Supaya kamu percaya jika kami sudah menikah. Dan kamu, ada hubungan apa dengan suami saya? Hingga selarut ini pulang berdua."


Silvia terkejut. Rasanya dia tidak percaya dengan penuturan Kirana. Satu bulan dia tidak berkunjung ke rumah itu ternyata banyak hal yang tidak dia ketahui. Termasuk pernikahan Tristan. Kendati hatinya ingin menyangkal, tetapi tidak mungkin jika Kirana hanya seorang baby sitter. Tristan tidak pernah suka ada orang lain tinggal di dalam rumahnya.


"Saya Silvia sekretaris Mas Tristan. Saya juga adik Mbak Elita. Pastinya kamu tahu siapa Mbak Elita, bukan?" balas Silvia dengan senyum remeh.


Kali ini Kirana yang dibuat terbungkam oleh jawaban Silvia. Namun hanya sesaat. Karena Kirana pantang diintimidasi.


Silvia melangkah menaiki tangga tanpa sungkan. "Saya mau menginap di sini. Kebetulan tidak bawa baju ganti jadi saya mau pakai baju Mbak Elita," ujar Silvia sambil berlalu di depan Kirana. Lalu dia membuka pintu kamar Tristan.


Lagi, Kirana tertegun. Silvia terlihat begitu biasa masuk ke kamar Tristan. Tidak ada rasa canggung sedikitpun. Ribuan tanya tentang hubungan mereka di luar yang dikatakan Silvia pun menari-nari di benak Kirana. Tidak sepantasnya seorang adik ipar keluar masuk rumah apalagi kamar kakak iparnya sebebas itu. Terlebih status Tristan yang sudah ditinggal oleh istrinya.


"Tunggu!" cegah Kirana saat Silvia akan masuk ke kamar..


"Apa kamu memang tidak tahu etika? Mas Tristan laki-laki, dia juga sudah beristri. Tidak sepantasnya kamu masuk dengan sembarangan ke kamarnya." Ucapan itu menghentikan langkah Silvia di depan pintu.


Kirana masuk ke dalam kamar. Dua lemari yang ada di dalam kamar salah satunya memang tidak pernah dibukanya. Dengan pelan dia memutar kunci yang tergantung. Dia tertegun melihat deretan bahu perempuan yang begitu rapi. Tentu saja itu baju-baju Elita. Kirana mengambil salah satu piyama di tumpukan paling atas. Lalu menutup kembali lemari itu. Kemudian menyerahkannya pada Silvia yang masih berdiri di depan pintu.


Kirana menuruni tangga setelah Silvia masuk ke dalam kamar tamu. Dia mengambil air hangat dan juga kain handuk. Dilepasnya satu persatu sepatu Tristan lalu mengelap tubuh pria itu sekenanya. Kirana pun berusaha membangun suaminya. Namun Tristan sepertinya enggan beranjak. Akhirnya Kirana membiarkan begitu saja Tristan tidur di sofa. Sedangkan dia sendiri memilih tidur menemani Mentari karena khawatir Tristan bangun tengah malam dan naik ke kamar. Kirana tidak cukup bernyali untuk tidur satu ranjang orang mabuk.


Meski sudah berusaha memejamkan mata, Kirana masih terjaga. Bunyi berisik di dapur memancing rasa ingin tahunya. Kirana beringsut dari tempat tidur untuk menengok ke luar. Mungkin Tristan yang kelaparan atau butuh sesuatu.


Namun seketika darahnya mendidih melihat pemandangan yang tertangkap lensa matanya.


"Sedang apa kalian?!"

__ADS_1


__ADS_2