Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
82. Ternyata


__ADS_3

Setelah ponsel Nabila berhenti berdering, Kini ponsel Tristan yang mendapat teror dari mamanya Nabila. Saat panggilan kedua, Tristan mengangsur handphonenya ke hadapan Nabila.


"Nyokap lo!" ujarnya.


"Biarin aja, Bang."


Tristan berdecak. "Nggak sopan lo sama orang tua."


Tristan pun menerima panggilan itu sambil mengeraskan suara ponsel.


"Hallo, Tan!"


"Kalian bekerja sama agar Nabila bisa memiliki alasan untuk memutuskan pertunangannya dengan Ravi? Supaya Nabila bisa kembali lagi sama teman kamu itu? Harusnya kamu bilangin Nabila, Tristan. Kalau sampai kapan pun Nabila dan Daniel nggak bisa bersama." Suara mama Nabila melengking menuding Tristan.


"Mana Nabila? Tante mau bicara sama dia!"


"Nabila di sini, Tan. Dia dengar, kok."


"Kamu loudspeaker?"


"Iya."


"Matiin!"


Tristan dan Nabila pun menahan tawa. Mama Tiara yang anggun tentu akan merasa malu jika sampai ada orang lain yang mendengar suaranya saat mengomel.


"Habis makan siang Tante ke kantor kamu. Tante mau bicara sama Nabila."


"Iya, Tan. Boleh."


Panggilan pun ditutup oleh mama Nabila. Tristan kembali meletakkan gawainya di meja.


Nabila justru cengengesan membayangkan kepanikan sang mama saat ini. Karena yang mamanya tahu, Ravi adalah sosok laki-laki yang baik, tidak neko-neko, tampan, karirnya mapan. Tentu saja dia akan terkejut saat melihat video yang dikirim olehnya.


"Lo nggak sedih lihat tunangan lo jalan sama cewek lain. Nggak nyesel kalau harus kehilangan dia?"


"Sama sekali nggak. Emang sih dia cakep pintar dan mapan. Tapi secakep-cakepnya dia masih kalah sama abang gue. Bang Tan tetap yang di depan."

__ADS_1


Tristan memicingkan mata. "Kok jadi bawa gue juga. Apa urusannya."


"Ya iyalah. Segitu gantengnya Ravi dengan semua kelebihannya, nyatanya nggak bisa bikin hati Kirana luluh. Kalah sama abang gue yang duda anak satu tapi bisa bikin Kirana jatuh….hatinya." Nabila terkekeh melihat Tristan yang mendengus padahal dalam hatinya berbunga-bunga.


Tristan tertegun. Ternyata Nabila mengetahui tentang masa lalu Ravi dan Kirana. Atau mungkin hal itu yang menyebabkan Nabila enggan menerima perjodohan dengan Ravi. Terlepas dari status Ravi yang katanya sudah mempunyai kekasih. Meski baru saja dia melihat tunangan Nabila itu jalan dengan wanita lain, namun segala kemungkinan bisa saja terjadi. Toh Nabila juga belum mematikan jika Ravi dan wanita yang bersamanya mempunyai hubungan spesial.


"Udah paling bener kalau dulu Kirana nolak Ravi. Cewek sebaik dia sayang banget kalau harus masuk perangkap kadal buntung," ujar Nabila.


"Lo ngomongin apa sih, Bil. Gue berasa jadi tukang ghibah kalau lagi sama lo."


Nabila terkekeh. "Jadi Ravi itu dulu kan suka sama Kirana. Cuma katanya, ditolak sama bini lo itu. Ya kali orang sebaik Kirana harus jadi mangsanya buaya. Kan sayang banget."


"Buaya?!" Tristan mengernyit. Kirana tidak menyinggung tentang hal itu. Semua yang dijelaskan Kirana memgenai Ravi hanya hal-hal baik dari tunangan Nabila itu.


"Jujur gue sempat ngerasa khawatir waktu Tante Ratih nunjukin foto Kirana dan bilang itu calon istri lo."


"Kenapa memangnya?"


"Ya….gue kasihan sama dia kalau sampai dia nanti harus makan hati jadi istri lo yang orang kaku gitu. Gue nggak yakin lo bakal bisa bersikap baik sama dia. Bahkan gue juga bilang sama Tante Ratih buat batalin rencananya," sahut Nabila lalu dia tertawa.


Tristan terbelalak. Karena setahunya, Nabila salah satu supporter pernikahannya dengan Kirana. Mengingat Nabila sampai rela terbang dari Perth ke Jakarta demi bisa hadir saat akad nikahnya.


"Sialan! Emang apa masalahnya sama duda?" umpat Tristan dengan jengkel.


Nabila pun kembali tertawa. Tapi beneran. Lo beruntung dapat cewek sebaik Kirana. Dia orang yang hampir nggak pernah nyakitin orang. Makanya dia dulu banyak yang suka. Tapi namanya Kirana ya gitu banyak orang bisa mendapatkan senyumannya, tapi nggak dengan hatinya," sahut Nabila mengurai tentang sifat Kirana yang dia ketahui.


Tristan menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Dia memanggil waitress untuk meminta tagihan pesanan mereka.


Setelah menyelesaikan transaksi, Tristan meminta Nabila untuk kembali ke kantor naik taksi.


"Lo mau ke mana?"


"Mau pulang! Mau peluk istri dulu," sahut Tristan melenggang ke tempat parkir mobilnya.


"Sialan! Tahu gini gue tadi bawa mobil sendiri!" Nabila berdecak kesal.


Tristan memang menyebalkan. Seringkali pamer kebucinan di depan Nabila yang membuat sepupunya itu semakin meratapi nasibnya. Nabila pun membuka ponselnya untuk memesan taksi online.

__ADS_1


Sementara Tristan, dua puluh menit menempuh perjalanan pulang, kini dia sudah tiba di rumah. Kamar yang ditujunya kosong, begitu juga ruang keluarga tempatnya lalu lalang. Dan dia mendapati Kirana tengah sibuk di dapur.


Grep!


Kirana berjengit saat mendapatkan pelukan tiba-tiba. Dari langkah kaki aromanya, sekalipun tidak menoleh dia tahu jika yang kini memeluknya adalah suaminya.


"Tumben pulang, Mas. Mau makan siang di rumah?"


"Nggak. Barusan makan siang sama Nabila," sahut Tristan sambil mengendus leher istrinya. Dia tidak peduli meski Kirana merasa terganggu karena tengah membuat adonan kue.


"Nanti dilihat Bi Elis atau Nining nggak enak, Mas," Kirana mengingatkan sambil memasukkan mentega cair. Hampir saja tumpah saat Tristan mengendus belakang telinganya.


Namun Tristan tidak peduli. Lengan pria itu tetap melingkar di pinggang istrinya. Hal itu tentu saja membuat ART di rumah itu segan untuk masuk ke dapur. Sampai Kirana benar-benar minta dilepaskan karena harus memasukkan loyang yang berisi adonan kue ke dalam oven.


Tristan sudah menyarankan Kirana untuk memesan saja kue untuk ulang tahun Mentari. Agar dia tidak terlalu capek harus berkutat di dapur. Namun, Kirana ingin memberikan yang spesial dengan olahan tangannya. Meski mungkin tidak sebagus buatan toko kue.


Alat dapur yang kotor diletakkannya begitu saja di wastafel. Beberapa lama tidak pernah masak, Kirana merasakan bahwa tenaganya saat hamil tidak seperti sebelum. Kendati hanya membuat adonan kue, ternyata membuatnya cukup lelah.


"Capek!" ujarnya sambil berjalan ke ruang ruang keluarga.


"Mas bilang juga apa?" timpal Tristan.


"Nggak papa. Setahun sekali juga."


"Tapi lihat kondisi kamu juga. Bawa perut aja udah susah."


Kirana tertawa pelan. Dia menerima gelas berisi air putih yang diulurkan suaminya. Rasanya sudah sangat tidak nyaman dengan perutnya yang besar. Duduk terasa begah tiduran pun susah mendapatkan posisi yang nyaman. Jika sesuai perkiraan, maka persalinannya tinggal seminggu lagi. Kirana berusaha mengusir rasa takut dan cemas yang seringkali menderanya. Membayangkan saat harus merasakan sakit dan bertaruh nyawa saat melahirkan.


"Mas, aku kok semakin deg-degan, ya?" ungkap Kirana.


"Deg-degan kenapa? Takut kuenya bantat?"


"Bukaaan!" sahut Kirana tertawa geli mendengar jawaban suaminya.


"Terus kenapa?"


"Aku….takut kalau nanti saat melahirkan…"

__ADS_1


"Sssst!" Tristan meletakkan telunjuknya di bibir Kirana. "Jangan berpikir macam-macam. Mas akan menemani kamu."


Kirana hanya mengangguk pelan. Meski kecemasan itu belum juga sirna.


__ADS_2