
"Mau sama Bunda!" Mentari kembali merengek.
Tristan nyaris kehilangan kesabaran. Perasaan benci pada Kirana seolah semakin berlipat-lipat. Jika saja Mentari tidak pernah bertemu Kirana, dia akan tetap menjadi anak yang selalu menurut padanya. Tidak akan menuntut untuk memiliki mama. Dulu Mentari mengerti jika mamanya telah bahagia di surga. Kata-kata yang selalu disampaikan Tristan setiap kali anaknya menanyakan di mana ibunya Keinginan itu muncul semenjak Mentari masuk sekolah. Dan hak itu seolah membuat semuanya menjadi kacau.
"Bunda di mana, Pa?" tanya Mentari untuk ke sekian kalinya.
Tristan mengacak rambutmya. "Bunda pergi!" sahutnya bernada kesal.
"Nggak mungkin. Bunda sayang sama Mentari. Bunda nggak mungkin ninggalin Mentari. Papa harus cari Bunda."
"Iya Nanti Papa cari. Sekarang Mentari makan dulu." bujuk Tristan menahan diri untuk tidak kembali berkata kasar.
"Nggak mau! Mentari mau disuapi Bunda."
"Mentari!" Kesabaran Tristan benar-benar terkikis akhirnya. Mentari mengkerut seketika. Tangis anak itu pun pecah mendengar bentakan ayahnya untuk pertama kalinya. Dia tidak pernah melihat papanya berkata begitu keras dengan mata nyaris keluar.
Tristan semakin frustasi Melihat Mentari terisak-isak tentu saja dia tidak tega. Dia sungguh menyesal telah mengeluarkan suara yang bisa jadi akan membuat Mentari trauma. Tangan kekar itu pun terlulur hendak mendekap namun Mentari menepisnya dan berlari ke kamar.
"Papa jahat!"
BRAK!
Pintu kamar dibanting oleh Mentari.
PRANG!
Tristan menyapu meja hingga piring berisi nasi goreng yang baru saja dibuatnya hancur berserakan di lantai. Dia mengerang frustasi.
__ADS_1
"Astaghfirullah! Kamu apa-apaan, sih? Rumah kacau begini?" seru Bu Ratih lantai yang ceceran pecahan piring dan makanan menyatu di lantai.
Bu Ratih yang baru datang mengambil sapu untuk membersihkan lantai yang kotor karena ulah putranya. Mentari hampir dua minggu menginap di rumahnya. Karena dai selalu merengek menanyakan ibu sambungnya dan Tristan kewalahan untuk menenangkannya. Namun semalam Tristan memaksa membawa Mentari pulang saat anak itu sedang tidur. Dan keesokan harinya Mentari kembali menanyakan perihal Kirana. Hal itu memancing emosi Tristan yang semakin hari semakin kacau.
"Kamu tidak berusaha mencari Kirana?"
"Untuk apa, Ma?"
Bu Ratih membuang nafas kasar. Satu bulan tinggal bersama, ternyata Tristan tidak juga tersentuh hatinya. Wanita itu pun merasa bersalah pada Kirana. Keputusannya menjadikan Kirana menantu justru membuat perempuan itu tersiksa hidup bersama Tristan.
"Seharusnya kamu bisa introspeksi diri. Tidak sepenuhnya menyalahkan Kirana. Celaka di jalan itu bisa menimpa siapa saja. Mama hanya tidak mengerti dengan kamu,Tristan. Kamu bisa membelikan sekretarismu itu mobil. Tapi untuk istrimu sendiri kamu tidak mau memikirkannya. Berat ya, membelikan mobil untuk istri sendiri? Kamu justru menyalahkan Kirana dan motornya saat dia jatuh di jalan membawa Mentari. Jangan-jangan Kirana bukan pergi begitu saja. Tapi kamu yang menyuruhnya pergi."
Panjang lebar mamanya berbicara, tetapi Tristan tak berniat untuk menjawab. Dai tahu mamanya tidak begitu menyukai Silvia. Meski dia adik dari menantu kesayangannya. Silvia memang jauh berbeda jika dibandingkan dengan Elita.
"Mama sudah ke sekolahnya Mentari, dan Kirana tidak mengajar lagi di sana."
"Biarkan saja. Ini urusan rumah tangga Tristan. Mama tidak usah lagi repot-repot ikut mengurusnya."
"Papa jahat, Oma." Mentari mengadu sambil tetisak.
"Papa nggak jahat. Papa lagi capek. Mentari harus nurut sama Papa supaya Papa nggak marah."
"Tapi Mentari mau sama Bunda."
"Iya, Nanti kita telpon Bunda "
Bu Ratih mengusap pipi Mentari yang basah. Kemudian mengajak cucunya itu keluar dari kamar. Membawa Mentari kembali ke rumahnya saat ini jalan yang terbaik. Tristan sudah bukan lagi ayah yang penuh kesabaran menghadapi putrinya. Terlebih dengan sikap Mentari yang memang sering merengek semenjak Kirana pergi dari rumah itu.
__ADS_1
"Biarkan Mentari tinggal di sini, Ma," ujar Tristan tidak rela saat mamanya menggandeng Mentari seraya menyeret travel bag mungil berwarna pink.
"Tidak akan. Urus saja dirimu sendiri!" jawab Bu Ratih ketus.
Tristan semakin kesal. Tinggal di rumah tanpa celotehan Mentari hidupnya akan terasa kosong. Meskipun akhir-akhir ini dia sering dibuat jengkel oleh rengekan Mentari, namun itu lebih baik daripada tidak mendengar cicitannya. Ribuan hari hari telah dilewatkan berdua dengan Mentari, dia tidak suka jika dalam hati Mentari kini ada orang lain yang lebih mendominasi. Apalagi orang itu tidak mempunyai ikatan apa-apa dengan Mentari Tristan ingin, Mentari hanya membutuhkan dia. Kehadiran Kirana justru mengacaukan semuanya. Mentari kini lebih sayang pada Kirana dan tidak pernah lagi meminta Tristan untuk bercerita tentang mamanya.
Tristan menyambar kunci mobil lalu beranjak mengikuti mamanya dan Mentari yang telah meninggalkan halaman rumah dengan mobil yang dikemudikan Pak Cip. Laki-laki itu pun mengikuti mobil sedan silver yang berjalan menuju ke rumah utama.
"Papa ngapain ikut ke sini? Mentari benci sama Papa!" seru Mentari saat ayahnya keluar dari mobilnya. Sejak kapan Mentari tahu kata benci dan jahat. Pasti Kirana yang mengajarinya. Tristan pun mendesah kasar.
"Papa minta maaf."
"Nggak mau! Mentari mau Papa jemput Bunda."
"Iya, nanti Papa jemput Bunda. Tapi dimaafin dulu, dong."
"Benar?"
Tentu saja ucapan Tristan tadi hanya untuk mengelabui Mentari dengan kepalanya yang mengangguk. Anak kecil yang masih polos itu pun bersorak. Lalu menyambut uluran tangan ayahnya yang hendak menggendongnya. Diabaikan Mentari beberapa menit saja Tristan sudah tidak sanggup. Biarlah nanti dia mencari cara untuk membuat Mentari melupakan Kirana.
Setelah melalui perdebatan panjang dengan sang mama, akhirnya Tristan berhasil membawa Mentari kembali ke rumahnya. Tristan bukan tidak mau menginap di rumah mamanya, namun saat ini situasinya sedang tidak kondusif. Mamanya pasti tidak akan berhenti mengomel terkait dengan perginya Kirana. Dia pasti juga akan mendesak Tristan untuk mencari Kirana.
"Pa, mau susu." Rengekan Mentari terdengar saat Tristan tengah sibuk di depan laptopnya. Pria itu tak lantas menyahut hingga Mentari harus mengulang ucapannya.
"Tunggu sebentar, ya."
Kirana pun duduk di samping ayahnya sembari mengerucutkan bibir. Menunggu kata sebentar yang tak kunjung terkabulkan.
__ADS_1
Suara Mentari yang tidak terdengar berisik lagi diabaikan oleh Tristan. Sesaat kemudian terdengar bunyi benda pecah dari arah dapur.Tristan menyadari jika Mentari tak lagi ada di dekatnya. Dia segera beranjak meninggalkan laptopnya dan berlari menuruni anak tangga.
"Mentari!"