Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
51. Memecat Silvia


__ADS_3

"Saya mendapat laporan, kalau sering menghilang saat jam kerja. Ke mana?" Tristan menatap datar Silvia yang duduk di depannya.


"Berlebihan. Hanya beberapa kali dan nggak sering. Akhir-akhir ini kepala saya sering pusing. Saya nggak bisa melanjutkan pekerjaan jadi buat apa bertahan di kantor."


Tristan mendesah kasar. Kelakuan Silvia semakin hari semakin berani. Seoalh menunjukkan oembangkangan sebagai wujud unjuk rasanya karena dia dimutasi ke tempat yang tidak diinginkan.


"Kamu tahu tidak ada siapa pun yang berani menegur kamu di sini karena karena mereka segan dengan saya. Tapi bukan berarti kamu bisa berbuat semaumu. Pergi begitu saja seolah kamu tidak punya atasan di sini. Setidaknya minta izin pada Bu Keke sebagai atasan kamu. Kamu memang benar-benar tidak bisa menghargai orang lain ," tutur Tristan dengan tegas.


Namun hal itu tidak sama sekali membuat Silvia menjadi ciut. Dia tetap terlihat tenang di tempat duduknya.


"Dan apa maksud kamu video call saya malam-malam dengan penampilan topless begitu? Apa urat malumu sudah benar-benar putus Silvia? Kamu sadar siapa saya, bukan? Saya masih menganggapmu adik ipar. Saya sudah berkeluarga. Dan saya ini bos kamu. Astaga, Silvia! Saya tidak habis pikir dengan kelakuan kamu sekarang ini."


"Mas! Apa Mas Tristan tidak bisa melihat usaha saya sedikit saja. Saya menginginkan kamu, Mas. Jauh sejak Mbak Elita masih ada. Tapi saya sadar saya tidak mungkin menjadi orang ketiga di antara kalian. Saya memendam perasaan ini sendirian. Saya sakit sendirian. Dan setelah Mbak Elita meninggal, saya pikir Mas Tristan akan menoleh pada saya. Saya berusaha mati-matian untuk bisa kamu pandang. Tapi apa? Kamu malah menikah dengan perempuan lain. Mas tahu bagaimana perasaan saya? Hancur, Mas!" Lelehan air mata pun menganak sungai di kedua pipi Silvia.


Tristan menepis rasa kasihan pada perempuan di depannya. Dia mengulurkan kotak tisu dan membiarkan Silvia mencabutnya sendiri.


Dia menyayangi Silvia sepenuh hati. Tetapi sebatas seorang adik. Tak pernah menyangka jika pada akhirnya Silvia justru akan menaruh hati padanya. Bahkan mengaku jika perasaan itu muncul sejak Elita masih ada. Rupanya sikap baiknya diartikan lain oleh adik iparnya. Selalu membantu semua kesulitannya padanya pada akhirnya justru membuat Silvia ingin memilikinya.


Tristan pernah berjanji pada Elita. Saat istrinya itu sedang sekarat di ruang ICU. Dia akan menjaga Sivia demi Elita. Paling tidak sampai Silvia menemukan pasangan hidupnya. Tristan harus memastikan jika Silvia mendapat laki-laki yang baik. Itu semua janjinya pada Elita. Namun jika kelakuan Silvia seperti ini, janji itu pun terpaksa dia ingkari.


Ada hati yang harus dia jaga. Kebahagiaan keluarga yang memang sejak dulu selalu dia kedepankan dari segala kepentingannya. Keberadaan Silvia dengan sikap nekatnya itu akan mengancam keharmonisan yang baru saja dibangunnya bersama Kirana.


"Maaf, Sil. Saya sudah berulang kali mengingatkan. Buang jauh-jauh perasaanmu. Karena saya tidak mungkin membalasnya. Kamu pun tahu, saya sudah punya istri."


Silvia tersenyum sinis. "Mas Tristan terpaksa menerima pernikahan itu karena Mentari, bukan? Sampai kapan Mas mau menyiksa diri?"

__ADS_1


Tristan menggeleng. "Itu bukan urusan kamu," jawabnya. "Sekarang saya beri kamu pilihan. Mengundurkan diri, atau saya harus mengeluarkan surat pemberhentian kerja untuk kamu."


Silvia terbelalak. Dia tak menyangka jika ucapan itu benar keluar dari mulut Tristan.


"Mas benar-benar tega sama aku? Besar sekali pengaruh perempuan yang baru kamu kenal itu ya, Mas. Hebat!" balasnya diiringi senyum miring.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Kirana. Ini murni kesalahanmu. Beberapa kali meninggalkan kantor saat jam kerja tanpa ijin? Kamu juga sering mangkir sejak menjadi staf keuangan. Maaf, Saya tidak bisa mempertahankan kamu. Aturan di kantor ini berlaku untuk semua karyawan tanpa kecuali," tegas Tristan.


Silvia tentu saja tidak bisa menerima begitu saja keputusan Tristan. Kehilangan pekerjaan dengan tiba-tiba, Silvia tidak pernah membayangkannya. Dia justru berharap akan mengembalikannya ke posisi semula sebagai sekretaris. Tentu saja dengan gaji dan fasilitas yang dia terima selama ini.


"Kamu tega, Mas! Kalau saya dipecat saya harus apa?"


Tristan membuang nafas kasar melihat air mata Silvia kembali menitik. Kali ini dia harus sedikit tegas pada Silvia. Meski rasa tidak tega itu masih menyelinap. Silvia tidak punya siapa pun selain dirinya. Tidak punya banyak link karena selama ini waktunya dia habiskan untuk bekerja. Menuruti ritme kerja Tristan yang menggila semenjak ditinggal oleh Elita.


"Jika kamu tetap saya pertahankan di sini, maka pandangan karyawan akan buruk pada saya. Mereka akan menilai saya tidak konsisten dengan aturan yang saya buat," sambungnya.


"Kamu tidak perlu khawatir tentang kendaraan dan tempat tinggal. Pakailah mobil yang selama ini kamu pakai. Saya tidak akan memintanya kembali."


Jika tidak mengingat Elita, Tristan tentu akan mengabaikan Silvia. Dia tidak akan peduli lagi bagaimana Silvia akan menjalani kehidupan selanjutnya.


Silvia pun kembali besar kepala. Senyum penuh kemenangan terukir di bibirnya. Dia yakin Tristan tidaka akan pernah benar-benar tega membiarkan dirinya repot mencari pekerjaan. Selama ini dia sudah mengenal Daniel dengan baik. Teman Tristan itu meski sedikit brengsek tapi Silvia tahu jika hati lelaki itu pun sama lembutnya dengan Tristan.


"Makasih ya, Mas. Aku tahu kamu pasti melakukan ini semua. Kamu memang terbaik."


Silvia beranjak dari kursinya kemudian berjalan mendekati kursi Tristan. Kaki jenjang dengan kulit putih tanpa cela itu terpampang di hadapan Tristan karena rok di atas lutut yang dikenakan Silvia. Aturan berpakaian kerja yang lagi-lagi dilanggar oleh Silvia. Tanpa sungkan Silvia mendekatkan wajah dan berbisik,

__ADS_1


"Bolehkah aku balas semua budi baikmu, Mas?"


Bibir berlapis gincu merah merona itu mendarat tanpa permisi di bibir Tristan. Tristan pun terkejut dengan apa yang dilakukan Silvia secara tiba-tiba.


"Assalam …."


Pintu ruangan yang baru saja dibuka kembali tertutup dengan kasar. Seketika Tristan mendorong tubuh Silvia hingga terpental. Dia beranjak dari kursinya dan mengejar Kirana yang menghilang di balik pintu.


Langkah pendek Kirana tentu saja dengan mudah disusul oleh Tristan. Lelaki itu pun meriah tangannya untuk menahan langkah Kirana.


"Sayang! Tunggu!"


Kirana menyentakkan tangannya meski tidak berhasil karena cekalan Tristan jauh lebih kuat.


"Lepas, Mas! Saya mau pulang!" ujar Kirana dengan suara tertahan karena tidak ingin memancing perhatian orang.


"Nggak. Kamu harus dengar penjelasan saya. Saya tidak akan membiarkanmu pergi dengan kesalahpahaman."


"Penjelasan apalagi? Penjelasan bahwa apa yang aku lihat tidak seperti yang aku pikirkan?!"


Kirana mendadak mengubah mimik wajahnya setenang mungkin saat Silvia melintas. Perselisihannya dengan Tristan tentu akan membuatnya merasa jumawa. Dia pun terpaksa menurut saat Tristan mengajaknya kembali ke ruangannya.


Dengan mulut terkunci, Kirana duduk di sofa dia meletakkan bekal makan siang yang dibawanya. Bayangan dua orang bercumbu di kursi kerja Tristan mendadak melintas. Bahkan otaknya kembali memutar memori beberapa bulan yang lalu saat dia memergoki Tristan yang tengah mabuk berciuman dengan Silvia di dapur rumah Tristan.


Kirana menepis lengan Tristan yang hendak meraih jemarinya. Rasanya terlalu muak jika terus-terusan dibohongi. Dia kembali meragu. Apakah keputusannya kembali pada Tristan adalah kesalahan. Jika benar, dia akan merasa menjadi perempuan paling bodoh yang rela mempertaruhkan perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2