
Kirana menutup ponselnya lalu meletakkan begitu saja di atas ranjang. Ibu mertuanya baru saja menelponnya. Tentu saja untuk menanyakan keberadaannya. Kirana sebenarnya enggan berterus terang. Tapi tidak sepatutnya orang tua sebaik Bu Ratih harus terkena imbas dari permasalahannya dengan Tristan.
Kabar jika Mentari selalu menanyakan tentangnya pun membuatnya sedih. Mentari tidak mau sekolah bahkan selalu mengurung diri di dalam kamar. Setiap saat selalu menanyakan hal tentangnya. Rasa rindu pada gadis kecil itu pun semakin tak tak terbendung.
Kirana menatap wallpaper ponselnya. Gambar dirinya, Mentari dan Tristan. Foto satu-satunya yang dikirim oleh Mentari ke ponselnya. Kirana yakin Mentari akan baik-baik saja. Dulu mereka tak saling mengenal. Mentari tumbuh dengan baik bersama ayahnya. Sekarang pun juga akan demikian, Tristan pasti akan melakukan yang terbaik untuk putrinya. Jadi apa yang harus Kirana risaukan? Ada atau tidak dirinya di samping Melati, semua akan tetap baik-baik saja.
"Nduk, di depan ada Nak Baraka. Katanya sudah janjian sama kamu." Suara ibunya membuat Kirana terkesiap.
Kirana memang telah membuat janji dengan Baraka. Tapi dia tidak menyangka jika pria itu masih konsisten dengan kebiasaannya yang selalu tepat waktu. Disiplin yang selalu diterapkan dalam kesehariannya.
Kirana menyambar kerudung rumahan sebelum menemui Baraka. Lelaki itu tampak sedang mengobrol dengan ayahnya di ruang tamu. Ditemani dua cangkir teh dan satu jar camilan. Sikap santun Baraka memang memikat para orang tua untuk menjadikan dia menantu. Terlebih Baraka laki-laki yang pintar bahkan telah berhasil membangun beberapa usaha. Salah satunya budidaya sayuran organik yang menyuplai supermarket tersohor di beberapa kota.
Melihat Kirana muncul dari dalam rumah, Pak Restu meninggalkan mereka berdua untuk berbincang di ruang tamu. Karena Baraka sudah memberitahu perihal maksud kedatangannya.
"Apa kabar, Na?" Basa basi Baraka setelah Kirana duduk berseberangan dengannya.
"Baik, Mas. Agak beda ya lihat Mas Baraka sekarang."
"Beda di mananya?"
"Di kacamatanya," sahut Kirana mengomentari penampian Baraka dengan kacamatanya.
Baraka pun terkekeh. Kirana tukang bercanda dia sudah tahu sejak dulu. Justru sekarang Kirana menjadi lebih pendiam daripada saat dia masih duduk di sekolah menengah.
"Jadi gimana Na, tentang planning yang aku sampaikan kemarin?" tanya Baraka.
Kirana tak menyangka. Jika Baraka datang dengan perencanaan yang cukup matang. Mereka sedang berencana untuk mengaktifkan kembali TPQ yang sejak lama tidak berjalan. Anak-anak kampung yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain gadget mengetuk hari Baraka. Dulu dia dan beberapa temannya termasuk Kirana mendirikan sebuah tempat mengaji dengan memakai rumah kosong yang akhirnya justru dihibahkan untuk dijadikan TPQ. Tempat itu kini terbengkalai setelah mereka pada akhirnya melanjutkan pendidikan tinggi ke luar kota.
Baraka meminta Kirana untuk membantu merekrut remaja putri. Karena Baraka tahu menghadapi anak-anak adalah salah satu kepiawaian Kirana. Dia berharap Kirana bisa menjadi mentor untuk memberikan pengetahuan bagaimana menyikapi anak-anak nantinya.
"Ok, Mas. Kita buat list dulu nama-nama anak remaja yang bisa membantu kita mengajar."
"Nah itu dia. Aku kurang paham anak-anak sini yang bisa membantu kita."
__ADS_1
Kirana menjulingkan mata. "Masa nggak ngerti, Mas? Sombong banget. Aku yang pulang paling setahun dua kali aja paham."
"Ya udah kamu aja. Sekalian nomor kontaknya. Nanti aku yang buat undangannya.online aja."
"Masih sempat, Mas? Nggak mau minta bantuan juga?" sarkas Kirana.
"Ya disempatkan. Masa iya aku minta kamu yang buat juga. Kamu kan banyak kerjaan, Na. Aku malah nggak enak ama kamu. Aku yang bikin program malah kamu yang sibuk."
"Nggak, Mas. Kerjaanku nggak lebih banyak dari kerjaan Mas Baraka. Ini aku malah lagi nganggur."
Baraka kembali terkekeh. "Ok Bu Sekre, minta tolong kalau memang sempat. Tapi aku nggak maksa, ya."
Kirana tertawa renyah. Serasa mereka tengah kembali ke masa lalu. Saat Baraka menjadi ketua remaja masjid dan Kirana menjadi sekretarisnya. Bahkan di sekolah pun Kirana harus menjadi sekretaris Baraka yang pernah menjadi ketua OSIS.
"Mas Baraka serius ini mau pulang kampung?" tanya Kirana memastikan ucapan Baraka saat di telepon waktu itu.
"Serius, Na. Sudah sampai di sini masih ditanya."
Kirana kembali terkekeh. "Ya barangkali tiba-tiba ke Surabaya lagi."
"Wah, bau-baunya mau nyalon kades, nih!" seloroh Kirana.
"Ya, boleh. Nanti kamu yang jadi Bu Kadesnya."
Kirana terbahak. Namun seketika tawa itu berubah senyum canggung. Apa ini ceritanya Baraka sedang menembaknya? Kirana menunduk. Namun Baraka kini justru tertawa melihat Kirana yang mendadak jadi gugup.
"Na? Serius amat mukanya?"
"Nggak. Nggak papa. Jadi tadi rencana selanjutnya gimana, Mas?" Kirana sengaja mengalih pembicaraan ke topik semula.
"Untuk sementara itu saja dulu. Nanti kita bahas lagi saat pertemuan dengan anak-anak. Secepatnya saya kita atur. Semoga minggu ini bisa clear. Dan minggu depan sudah bisa mulai. Takutnya nanti kamu harus buru-buru balik ke Jakarta."
"Nggak, Mas. Kayaknya aku agak lama di sini."
__ADS_1
Kepala Braka mengangguk-angguk. "Cuti berapa minggu?"
"Mungkin selamanya."
"Serius?!" sahut Baraka dengan dahi berkerut.
Ada gurat rasa bahagia yang muncul di wajah pria itu saat Kirana mengangguk mengiyakan.
Kirana pun sebenarnya masih ragu. Dia akan kembali mengajar atau berhenti. Namun surat resign sudah dia buat. Dia sedang meneguhkan niat untuk mengirimkannya. Selanjutnya, entah dia akan kembali ke kota atau tidak. Namun mengingat Tristan yang telah begitu kasar mengusirnya, Kirana tidak mau terlalu berharap untuk kembali ke rumah itu. Sakit hatinya masih terasa begitu menyayat. Seolah dia tidak ada harga dirinya di depan Tristan. Dia pun tidak tahu akan ke mana arah biduknya bersama Tristan. Kirana lelah mengayuhnya sendiri meski masih dalam hitungan hari. Ternyata dia tak sekuat itu menghadapi suami yang seperti manusia tak berhati.
Baraka pamit setelah tidak ada lagi yang dibicarakan. Kiran mengantar sampai laki-laki itu keluar dari pagar rumahnya. Mengingat candaan Baraka yang terdengar serius tadi, tiba-tiba ada rasa iba yang melintas. Kirana tidak tahu kenapa dia justru merasa bersalah pada Baraka.
Kirana kembali ke dalam dan membawa cangkir teh yang telah kosong ke dapur.
"Ngobrol apa sampai ketawa-tawa?" tanya Ibu saat Kirana mencuci cangkir.
"Itu, Mas Baraka ngajakin Nana buat ngajar TPQ lagi."
"Ooh, baguslah. Ibu-ibu di sini juga sering pada curhat. Mereka mengeluh anak-anak yang sekarang susah dibilangin. Kebanyakan main hp. Di rumah nggak ada kuota, mereka rame-rame ngumpul di balai desa," terang Ibu.
"Nah, itulah yang membuat Mas Baraka prihatin," balas Kirana sambil meletakkan cangkir di rak piring.
"Anak itu ternyata tidak berubah. Bu Syarif memang hebat bisa mendidik anak laki-lakinya menjadi orang yang sangat peduli dengan orang lain. Beruntungnya yang menjadi istrinya Baraka nanti. Sudah tampan, santun, masih muda tapi sudah mapan."
Kirana tak berniat menyahut ucapan ibunya yang memang selalu memuji Baraka setinggi langit. Tidak salah juga karena Baraka memang patut untuk dipuji. Hanya saja pujian ibunya disertai harapan jika Kirana dan Baraka bisa bersatu. Dan itu sesuatu yang masih menjadi rahasia. Karena status Kirana masih istri sah Tristan.
"Kue dari siapa, Bu?" tanya Kirana melihat box kue di atas meja makan.
"Dari Bu Syarif. Tadi Baraka yang bawa."
Kirana tertegun. Bu Syarif, ibunya Baraka. mengirimkan kue sebanyak itu untuk apa? Roman-romannya tidak mengenakkan. Tapi Kirana mencomot juga sepotong brownis yang juga sedang dimakan oleh ibunya. Kue buatan ibunya Baraka memang enak. Karena memang dia jago membuat kue.
Kirana duduk di depan ibunya sambil mengunyah kue itu.
__ADS_1
"Suamimu nggak berniat untuk jemput kamu?" Rasa manis kue yang baru dikunyah Kirana mendadak menjadi getir mendengar pertanyaan ibunya.