Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
70. Curhatan Silvia


__ADS_3

"Kita ke rumah kamu dulu ya, Mas," ujar Kirana saat mereka sedang dalam perjalanan.


"Nggak apa-apa?"


"Hmm." Kirana mengangguk. "Silvia biar nenangin diri dulu di sana," imbuhnya.


Karena khawatir dengan kondisi Silvia, mereka mengajak pulang bersama. Namun Silvia sepertinya enggan untuk pulang ke rumah suaminya. Sehingga Kirana berpikiran untuk mengajak Silvia le rumah Tristan.


Tristan menghentikan mobilnya di depan rumah yang sudah beberapa bulan dikosongkan. Namun sesekali dia menyewa jasa cleaning service untuk membersihkan rumah itu agar tetap terawat.


"Masuk, Sil!" kata Kirana.


Rumah itu dan Silvia, mengingatkan dia akan masa-masa sulit hubungannya dengan Tristan. Kirana segera menepis bayangan itu. Dia tidak ingin mengotori dirinya dengan mendendam.


Kirana membuka lemari pendingin. Namun tidak ada sesuatu pun di sana. Dia meminta Tristan membeli minum dan camilan di minimarket yang tidak jauh dari rumah.


"Sorry, aku nyita waktu kalian," kata Silvia sungkan setelah Tristan keluar dari rumah.


"Nggak masalah," sahut Kirana.


Kendati dalam kepalanya diliputi rasa ingin tahu, Kirana tetap menghargai Silvia yang sepertinya ingin menyimpan sendiri masalahnya.


Atau mungkin Silvia merasa sungkan. Hubungan mereka sejak awal memang tidak terlalu baik. Bahkan Silvia sendiri yang memulainya.


Silvia bahkan tidak menyangka, jika Kirana kini justru menerimanya dengan baik. Tatapannya tetap hangat, seolah tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka.


Dalam hati Silvia merasa malu. Hati Kirana ternyata begitu bersih. Tidak terlihat setitik pun dendam padanya. Silvia pada akhirnya harus mengakui, jika Kirana memang lebih pantas untuk Tristan. Laki-laki itu pun sangat baik. Selalu memperlakukan wanitanya dengan istimewa. Hal itu satu-satunya alasan yang membuat Silvia berambisi untuk mendapatkan hati Tristan.


Setelah kebisuan yang terjadi beberapa lama, suara mobil Tristan terdengar berhenti di depan rumah. Pria itu datang dengan dua kantong belanja di tangannya.

__ADS_1


"Banyak sekali, Mas?" tanya Kirana menyambut kantong plasting berukuran besar itu.


"Bingung mau beli apa. Kamu tadi nggak pesen. Mas ambil saja beberapa biar kamu milih sendiri."


Kirana mendesah pelan. Sekian lama hidup bersama, Tristan sepertinya belum paham apa kegemaran Kirana. Ya, karena mood sang istri sedang naik turun tidak jelas


"Minum, Sil!" kata Kirana setelah menata beberapa minuman kemasan di meja.


"Makasih," sahut Silvia lalu mengambil botol air mineral dingin. Lalu meneguk isi botol itu beberapa tegukan.


Silvia meletakkan kembali botolnya di meja. Tanpa sadar Tristan dan Kirana memperhatikannya. Fisiknya memang berada di ruang tamu rumah Tristan tapi pikiran wanita itu mengembara tanpa arah.


"Kamu nggak ingin cerita apa pun, Sil?" tanya Tristan. "Sorry. Lucky teman saya, hubungan kita juga pernah sangat baik bahkan kamu saya anggap adik sendiri. Terlepas dari masalah-masalah yang pernah kamu buat dengan kami."


Meskipun pernah mengatakan jika dia tidak peduli lagi dengan Silvia, Tristan seolah merasa masih mempunyai beban moral untuk membantu Silvia. Dia tidak bisa melepaskan Silvia begitu saja. Hati kecilnya ternyata tidak setega itu.


"Aku malu sama kalian," ucapnya sambil terisak.


"Sudahlah, Sil. Lupakan yang sudah lewat. Berjanjilah pada dirimu sendiri untuk menjadi lebih baik," sahut Kirana.


Silvia mengangguk sambil berderai air mata. Dia meraih tisu yang diulurkan oleh Kirana.


Sesaat Silvia kembali terdiam, menyusut air matanya yang masih belum juga surut.


"Aku capek, Mas!" ujar Silvia kemudian. "Aku capek! Jika bukan karena anak ini, mungkin lebih baik jika aku kembali hidup sendiri." Silvia mengusap sudut matanya.


"Mas Tristan tahu kan, kalau Lucky tidak bisa cukup hanya dengan satu wanita?"


Tentu saja Tristan tahu hal itu. Dia pikir Lucky akan berhenti setelah menikah, namun temannya ternyata tetap enggan menyudahi petualangannya.

__ADS_1


"Aku sama seperti istri-istri lain, Mas. Aku punya hati yang tidak akan rela jika suamiku tidur dengan perempuan lain. Tapi Lucky …" Silvia semakin terisak mengingat kelakuan suaminya.


Kirana berpindah tempat duduk di samping Silvia. Dia tahu betul apa yang dirasakan Silvia. Karena dia pun pernah merasakannya meski akhirnya terbukti jika semua hanya sekedar fitnah belaka. Tristan tak seburuk yang dua duga.


"Aku bahkan sempat berpikir untuk menghilangkan anak ini. Agar urusanku dan Lucky selesai. Lucky tidak perlu lagi merasa terpaksa menjalani pernikahan ini karena tuntutan tanggung jawab. Tapi makin bertambah usianya, aku makin sayang ke dia," ungkap Silvia sambil mengusap perutnya yang membesar.


"Terus Lucky sekarang di mana? Di kantornya?" tanta


Silvia menggeleng. "Semalam kami bertengkar. Pagi tadi aku mencoba mengajaknya berbaikan. Aku minta dia untuk mengantar ke dokter tapi dia bilang sibuk mau ke luar kota dan pulang besok.Tapi ternyata dia ….." Tangis Silvia kembali pecah.


"Dia ke mana?" cecar Tristan.


Silvia yang masih terisak mengambil ponsel dari dalam tasnya. Membuka layar ponsel itu lalu meletakkannya di depan Tristan.


"Sejak pagi dia di sini."


Tristan masih berwajah datar saat Silvia menunjukkan gambar peta di mana Lucky berada saat ini. Sebuah hotel yang letaknya masih di dalam kota. Bahkan tidak jauh dari showroom mobil temannya itu.


Lalu Silvia mengambil kembali benda itu kembali dan membuka galeri ponselnya.


"Aku melihat perempuan ini naik ke mobil Lucky waktu mau berangkat ke rumah sakit."


Tristan tertegun dan Kirana tertegun. Melihat foto seorang wanita hendak masuk ke mobil Lucky.


"Brengsek!" umpat Tristan dengan mengepalkan tangannya.


"Kalian tunggu di sini!" ucapnya sambil menyambar kunci mobilnya.


"Mas mau kemana?" tanya Kirana namun diabaikan oleh suaminya. Dia beranjak dari sofa menyusul Tristan namun, suaminya telah melajukan mobilnya dengan kencang.

__ADS_1


__ADS_2