
Nabila melajukan mobilnya perlahan. Melihat ke luar jendela untuk mencari nomor rumah yang pernah disebutkan calon ibu mertuanya, Jalan Gaharu 3 no 25. Deretan rumah di perumahan kelas menengah itu tak luput dari pengamatannya. Hingga dia berhenti di sebuah rumah yang pagarnya bertulis angka 25. Rumah yang tergolong lebih sederhana dari rumah orang tua Nabila.
Rumah itu tampak sunyi. Karena menurut informasi yang lagi-lagi dia dapatkan dari calon ibu mertuanya, hanya orang tua Ravi yang menghuni rumah itu. Sementara kakak perempuan Ravi sudah menikah dan menempati rumah sendiri. Begitu juga dengan tunangan Nabila, yang sejak mempunyai pekerjaan sudah berinvestasi dengan membeli sebuah rumah yang sekarang ditempati olehnya. Di mana rumah Ravi berada Nabila pun tidak tahu. Jangankan rumah. Nomor kontak tunangannya saja dia tidak tahu.
Nabila nekad mengunjungi rumah itu pun karena dia kesulitan untuk menemui tunangannya. Sehingga siang ini juga, dia membulatkan niat mengunjungi rumah calon mertuanya.
Seorang wanita membukakan pintu setelah Nabila mengetuk pintu pagar. Wanita berkacamata yang mengenakan daster menyambutnya dengan senyum lebar.
"Ayo masuk!"
"Iya, Tan." Nabila mengangguk sopan.
"Kok, Tan. Bunda dong."
Nabila kembali mengangguk dengan senyum canggung. Lalu mengulurkan paper bag berisi kue yang dia beli random saat perjalanan tadi.
"Maaf, Tan. Saya datang ke sini untuk mengembalikan ini." Nabila melorot cincin yang seminggu lalu disematkan oleh Ravi di jarinya.
__ADS_1
Tentu saja hal itu membuat mamanya Ravi terkejut. "M-maksud kamu apa, Nabila?" tanya wanita itu terbata.
"Iya, Tan. Saya minta tidak bisa melanjutkan hubungan dengan Kak Ravi."
"Tapi apa masalahnya? Bukankah kamu juga sudah setuju dengan perjodohan ini?"
Nabila sebenarnya tidak tega, melihat raut kecewa di wajah mama Ravi. Wanita itu bahkan sangat berharap, secepatnya dia dan Ravi menikah.
"Sejak awal saya menolak bukan tanpa alasan. Kak Ravi pernah bilang di sudah punya pacar. Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba dia menyetujui perjodohan ini. Saya memutuskan untuk mengembalikan cincin ini, karena saya tidak ingin menyakiti hati wanita lain. Karena saya telah membuktikan sendiri, jika ucapan Kak Ravi itu benar. Dia sudah punya kekasih, bahkan mereka masih berhubungan sampai saat ini."
Mama Ravi tampak kembali terkejut. Dia kembali mengambil cincin itu lalu meletakkannya di telapak tangan Nabila.
Nabila mendesah pelan. "Maaf, Tan. Awalnya saya memang ingin mencoba membuka hati untuk Kak Ravi demi Mami. Namun setelah melihat kenyataan di depan saya, maka tidak ada lagi yang menjadi alasan bagi saya untuk melanjutkan perjodohan ini. Saya minta maaf kalau Tante harus kecewa." Ucapan Nabila membuat mamanya Ravi terdiam. Nabila ingin merengkuh wanita paruh baya itu, namun dia tahan. Mendadak dia justru kehilangan respect karena mama Ravi terkesan menutupi kelakuan anaknya.
"Tante ingin minta tolong sama kamu. Tolong pertimbangkan keputusan kamu ini. Apa yang kurang dari Ravi, Bila?" ujar mama Ravi seolah menggunggulkan kelebihan anaknya. Tidak salah, Ravi memang sosok yang nyaris sempurna. Terlepas dari kebiasaannya dulu yang suka berganti-ganti gandengan.
"Tante janji, hubungan Ravi dan perempuan itu akan selesai secepatnya. Tante memang tidak pernah menyetujui hubungan mereka. Karena perempuan itu seperti benalu yang terus memanfaatkan Ravi. Berkali-kali Tante mengingatkan dia, namun Ravi seolah tertutup hatinya," lanjut wanita itu setengah memaksa.
__ADS_1
Ingin rasanya Nabila mengumpat wanita di sampingnya. Namun dia masih menahan diri untuk tetap bersikap seolah baik pada sahabat mamanya itu. Niat mamanya Ravi menjodohkan dia dan anaknya ternyata hanya untuk memanfaatkan Nabila. Agar Ravi bisa terlepas dari jerat perempuan yang sekarang menjadi kekasih pria itu. Licik sekali ternyata.
"Maaf, Tan. Itu urusan Tante dan anak Tante. Tolong jangan libatkan saya."
Nabila yang kadung kesal beranjak dari sofa ruang tamu. Meninggalkan wanita itu beserta cincin yang telah diletakkan kembali di meja.
Sepanjang perjalanan pulang, dia mengumpat. Dan berkali-kali memukul stang bundar di depannya. Dia menggumam kesal menyayangkan sikap gegabah mamanya yang menerima begitu saja tawaran perjodohan atas dasar persahabatan. Terlebih dengan melihat fisik Ravi dan karir laki-laki itu yang moncer, mamanya terus mendesak Nabila untuk mengikuti kemauannya.
Nabila mendesah pelan saat handphone berdering. Dia memasang earphone untuk menerima panggilan.
"Hallo, Mi!"
"Mami di kantormu. Kamu ke mana?" Suara mamanya menyahut.
"Di jalan. Bentar lagi nyampe."
Nabila sudah menduga setelah ini dia akan mendapat penataran dari mamanya. Karena kabar dia memutuskan pertunangan dengan Ravi tentu sudah sampai ke telinga mamanya. Entah dengan versi apa.
__ADS_1
City car hitam itu pun merapat di tempat parkir. Di samping mobil bosnya yang sepertinya sudah kembali ke kantor.
Nabila melenggang dengan santai seolah bebannya telah terlepas. Tidak peduli jika mamanya sudah bertanduk dan duduk menunggu di mejanya.