
Kirana duduk di sebelah ibunya. Menikmati makanan yang baru diambilnya. Sayangnya, selat solo yang tadi terlihat menggoda lidahnya tak bisa benar-benar dinikmati. Selera makannya menguap. Semua itu karena seseorang yang terus memata-matainya.
Dari kejauhan, lelaki tadi masih saja mencuri pandang ke arahnya. Meski dia tengah bercengkerama dengan seseorang. Dan orang yang sedang berbicara dengan pria asing itu sangat dikenali oleh Kirana. Karena dia adalah Pak Restu, ayahnya sendiri. Seperti sebuah kebetulan.
Kirana merasa semakin tidak nyaman. Jika bukan sedang berada di acara Syifa, sudah pasti dia akan pulang saat itu juga.tapi moment langka itu sayang untuk dilewatkan. Banyak teman-teman mereka yang belum datang. Karena acara-acara seperti itu sudah pasti akan menjadi ajang reuni.
"Kamu kenapa, Nduk? Nggak jadi makan?" tamya Bu Ambar melihat Kirana hanya membiarkan makanannya begitu saja.
"Nanti, Bu."
"Jangan nanti-nanti. Kalau sudah diambil ya dimakan. Mubadzir kalau dibuang."
"Iya.," sahut Kirana agar ibunya tidak lagi mengomel.
Meski kesal karena merasa diintai, Kirana sesekali melirik ke arah lelaki yang todak dikenalnya itu. Apakah dia tidak bisa melihat perut Kirana yang membuncit? Sehingga harus bertanya tentang statusnya yang single atau bukan. Atau mungkin lelaki itu salah satu tipe laki-laki yang mempunyai ketertarikan pada wanita hamil. Dan pertanyaan tadi hanya untuk menggodanya.
Tubuh Kirana memang terlihat lebih seksi saat perutnya sudah kelihatan membesar. Dada yang semakin membusung dan bagian panggul yang lebih berisi. Seketika perasaan takut menggelayutinya. Dia harus mencari tahu tentang lelaki yang tidak sopan itu.
Kirana mengambil ponselnya dari dalam tas. Pura-pura sibuk bermain ponsel padahal dia sedang berusaha mengambil foto. Lelaki itu sepertinya sadar kamera. Dia menatap ke layar dan wajah tampan tertutup masker itu tertangkap kamera ponsel Kirana. Tampan? Ya, alis tebal dan wajah yang bersih dan rambut tertata rapi mungkin saja mewakili wajah dibalik masker.
Kirana menyimpan kembali ponselnya. Jika ada kesempatan, dia akan menanyakan pada Syifa atau Baraka tentang laki-laki yang masih saja menatap ke arahnya. Salah satu di antara mereka pasti tahu pemilik alis tebal.itu.
Tamu undangan semakin banyak berdatangan. Karena acara akad dirangkai dengan resepsi Lalu lalang orang pun semakin ramai. Cukup untuk me.halangi tatapan elang pria aneh di ujung sana.Kirana pun dapat menikmati makanan yang diambilnya tanpa merasa diawasi.
Namun, makanan yang hendak ditelannya berhenti di ujung lidah saat suara pembawa acara yang begitu lembut dan merdu terdengar.
"Kepada Bapak dan Ibu Tristan Pratama mohon berkenan untuk berfoto bersama kedua mempelai."
Panggilan itu diulang sekali lagi. Kirana masih terpaku di tempat duduknya. Hingga colekan tangan ibunya membuatnya menoleh.
"Kamu diminta untuk foto, Nduk!"
Merasa suaminya bernama Tristan, Kirana pun meninggalkan tempat duduk. Ini pasti kerjaan Syifa yang menulis daftar-daftar yajg akan diminta foto. Sudah tahu datang senditri. Kenapa harus dipanggil juga nama orang yang tidak mungkin datang. Apa Syifa sengaja ingin mempublikasikan statusnya yang sudah menikah kepada tamu undangannya yang sebagian teman-teman sekolah mereka? Kirana menggerutu dalam hati.
Saat naik ke panggung pelaminan, ia terkejut. Dari arah yang berlawanan, seorang laki-laki naik ke atas pelaminan. Dia?!
Wajah Kirana memerah menahan malu. Dugaannya pun tepati. Ada tamu lain yang bernama sama dengan suaminya. Dengan menahan malu Kirana yang sudah berdiri di atas panggung pun menyingkir.
__ADS_1
"Na! Mau ke mana?" Suara Syifa terdengar memanggilnya.
Kirana pun membalik badan "Sorry. Salah dengar!" sahut Kirana tersenyum canggung.
"Enggak!" sahut Syifa menarik kembali tangan Kirana.
Kirana pun mengerutkan dahi. Seketika dia terperangah saat melihat pria dengan kemeja batik seragam yang berdiri di samping Baraka membuka masker atas permintaan salah satu orang dari tim dokumentasi.
Bagaimana bisa dia tidak mengenali suaminya sendiri? Tristan sedikit berubah. Tubuhnya bertambah kurus. Bulu di wajahnya pun dicukur habis. Rambutnya lebih rapi karena terlihat seperti baru dipangkas.
Ingin rasanya Kirana melempar high heelsnya pada laki-laki yang sejak tadi menguntitnya. Dengan wajah tanpa dosa, Tristan justru bersikap seolah tidak tidak menyadari kejailannya tadi yang membuat Kirana geram.
Kekesalan Kirana harus terjeda karena kuru foto memintanya untuk berdiri di samping Syifa. Dan beberapa gaya pun diambil. Namun tak cukup foto berempat. Kirana meminta foto berdua dengan sahabatnya dengan memakai ponselnya.
"Mas ambilin fotonya!" Kirana mengulurkan ponselnya pada Baraka.
"Ya kali penganten ngerangkap jadi tukang foto," sahut Baraka. Namun diambilnya juga ponsel Kirana dan dia turun dari panggung.
Setelah mengambil foto sampai kedua wanita itu bosan, Baraka mengembalikan ponsel Kirana. Dia pikir urusan Kirana dan Syifa selesai ternyata masih ada dra peluk-pelukan dan tangis-tangisan. Seolah mereka akan terpisah jauh.
"Awas ya, Mas! Jangan coba-coba memisahkan aku sama Syifa," ancam Kirana dengan nada bercanda.
Kirana terkekeh melihat wajah masam Baraka. Dia turun dari panggung karena antrian tamu yang hendak mengucapkan selamat pada mempelai sudah mengular.
Di ujung tangga, Tristan sudah menunggunya. Meski dalam hati menahan kesal, dia membiarkan Tristan membantunya menuruni tangga. Karena perhatian tamu undangan kini memusat pada mereka. Pasangan suami istri yang tidak terdengar kabar pernikahannya.
"Apa kabar calon ibu anakku?" Tristan membuka percakapan setelah beberapa saat keduanya hanya saling diam. Saat ini mereka tengah duduk di meja VIP sesuai arahan panitia.
Kirana memalingkan wajah menghindari tatapan suaminya. "Kenapa kamu bisa ada di sini?"
Senyum tipis terbit di wajah Tristan menanggapi wajah Kirana yang dilipat-lipat.
"Saya baca undangan di meja kamarmu Mr and Mrs Pratama. Saya dan kamu, bukan?.Makanya saya datang."
Undangan dari Syifa memang tertulis nama suami istri bagi yang sudah berkeluarga. Kirana hampir lupa jika Syifa pun memberikan 2 set baju. Satu set untuk ayah dan ibunya. Satu set lagi untuknya dan Tristan. Meski dia sudah menolak karena Tristan tidak akan mungkin hadir. Namun di luar dugaan, suaminya kini duduk bersamanya. Entah kapan dia datang, karena semalam Kirana menginap di rumah Syifa.
"Saya baru tahu kalau ternyata kamu itu judes. It's ok. Jadi tidak sembarang laki-laki bisa mendekati kamu."
__ADS_1
"Sama sekali tidak lucu!" sahut Kirana ketus.
Tristan terkekeh sembari menggeser kursinya lebih dekat dengan Kirana. Tangan kekar itu terulur mengusap perut yang membuncit. Kirana tak bisa menepis rasa haru yang kembali menyelinap. Bagaimanapun juga,di lubuk hatinya tersimpan keinginan menjalani kehamilan seperti wanita hamil kebanyakan. Yang bisa bermanja pada suami dan mendapat perhatian lebih dari ayah sang bayi. Meski selama ini keinginan itu terpaksa dipendamnya karena dia tidak tahu, apakah kehadiran bayi itu memang benar-benar diinginkan oleh Tristan.
"Saya berharap menjadi orang pertama yang akan menyentuhnya. Tapi justru menjadi orang yang ke sekian," ucap Tristan terdengar lirih.
"Tapi tidak apa-apa. Saya masih bisa menjadi ayah siaga setelah ini," ralatnya yang tidak mendapat tanggapan apa pun dari Kirana.
Tristan tidak kehabisan bahan untuk tetap berusaha mengajak istrinya bicara. Meski tanggapan Kirana hanya diam atau berkata dengan nada ketus.
"Kamu tidak ingin makan sesuatu? Saya lihat tadi kamu tidak jadi makan."
"Bagaimana saya mau makan. Kamu mengawasiku seperti penguntit!"
Tristan kembali terkekeh, dia beranjak mengambilkan makanan yang sama dengan yang diambil Kirana tadi. Dua potong rolade daging dan sayuran ditambah saus.
"Saya tidak mau makan itu!" tolak Kirana saat piring berisi selat solo terhidang di depannya.
"Terus mau makan apa?"
"Asinan."
"Tidak ada menu asinan di sini." sahut Tristan. Suara lelaki itu entah kenapa terdengar seperti orang yang begitu penyabar.
"Pokoknya saya mau asinan."
Tristan membuang nafas pelan. "Ayo pulang! Kita cari asinan di luar!" ajaknya kemudian.
"Kita? Ya kamu lah. Saya malas harus panas-panasan."
"Iya. Saya yang beli, kamu tunggu di rumah," jawab Tristan dengan sabar.
Mereka pun beranjak dari kursi. Kemudian berpamitan pada pemilik acara sebelum pulang.
Kirana melihat mobil sedan hitam yang dia kenali menyala Rupanya Tristan datang membawa kendaraan sendiri. Demi laki-laki itu rela menempuh jalan darat yang memakan waktu lama untuk sampai ke rumahnya.
"Jangan pulang kalau belum dapat asinannya," ujar Kirana sebelum dia turun dari mobil.
__ADS_1
"Iya."
Kirana tertawa dalam hati. Andaikan Tristan tahu, mencari asinan di kota kecil tempat tinggal Kirana tidak semudah mencari makanan itu di kota tempat tinggalnya.