Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
8. Mentari Minta Adik


__ADS_3

"Kamu belum berangkat mengajar?" tanya Tristan melihat Kirana masih memakai piyama semalam. Padahal jam sudah menunjuk angka delapan.


"Mana mungkin saya pergi mengajar. Sementara Mas sedang sakit." Kirana meletakkan nampan berisi makan pagi untuk Tristan.


"Silvia sudah berangkat?" tanya Tristan lagi.


"Sudah dari tadi. Memangnya dia tidak pamit sama kamu?" Nada bicara Kirana terdengar sedikit ketus.


Kehadiran Silvia memang membuat suasana rumah semakin tidak nyaman. Sementara Kirana tidak punya kuasa apa-apa untuk melarang Silvia datang ke rumah. Dalih tentang urusan pekerjaan ataupun bertemu dengan Mentari pasti akan dipakai perempuan itu.


Kirana mulai menyendok nasi lalu menyuapkannya pada Tristan. Entah apa yang bersemayam.dalam diri lelaki itu pagi ini. Dia begitu penurut membuka mulutnya dan perlahan mengunyah makanan yang disuapkan oleh Kirana.Namun beberapa saat kemudian perutnya terasa mual. Hingga nasi yang baru saja berhasil masuk harus keluar lagi di wastafel. Kirana pun memberikan air putih hangat setelah Tristan mengeluarkan isi perutnya.


"Kata dokter Alan, Mas tidak boleh minum alkohol lagi," ujar perempuan itu sambil meraih gelas dari tangan Tristan.


"Bukan cuma dokter Allan, agama kita pun melarang minum alkohol. Berikan contoh yang baik untuk Mentari. Apa kata dia kalau melihat Mas pulang dalam keadaan seperti tadi malam."


Tristan memijat kepalanya mendengar ceramah pagi dari Kirana. Tubuhnya yang terasa tak bertulang kembali terhempas ke atas ranjang. Dan Kirana masih saja terus bercicit seperti seorang ibu sedang mengomel pada anaknya. Tristan merasa semakin hari Kirana memang semakin bawel.


"Dicoba makan lagi ya, Mas?" ujar Kirana sambil mengulurkan sendok penuh makanan. Namun ditolak oleh Tristan dengan alasan mual. Penyakit lambung yang dideritanya semenjak beberapa tahun terakhir memang begitu menyiksanya. Pola makannya sangat buruk karena tidak ada yang memperhatikan. Selama ini dia sudah terlanjur bergantung dengan perhatian Elita. Sesibuk apapun istrinya itu akan selalu mengingatkan untuk makan. Bahkan juga mengirim makanan jika dia tidak sempat mengantarnya sendiri. Kehilangan Elita membuat pola yang sudah tertata rapi menjadi berantakan.


Tatapan pria itu pun mengarah pada bingkai foto yang ada di depannya. Lama, hingga Kirana mau tak mau harus melihat wajah Tristan yang terlihat sendu. Meski hatinya tersayat, tak bisa dipungkiri jika dia pun merasa sedih. Apa yang dirasakan Tristan tentu saja dia paham. Tapi tidak bisakah laki-laki itu tersentuh hatinya. Menoleh padanya sedikit saja. Bahwa di sampingnya kini ada perempuan yang sudah diikat dengan janji pada Tuhan. Mungkin Kirana tidak sesempurna Elita. Namun dia pun ingin memberikan yang terbaik dalam perannya sebagai istri. Dan kesempatan itu seolah tidak pernah diberikan oleh Tristan. Jika bukan karena sedang berbaring, tidak mungkin dia bisa duduk di samping Tristan bahkan hingga terlibat percakapan yang panjang dengannya.


Kirana mengemasi makanan yang tidak dihabiskan oleh Tristan. Kemudian meninggalkan kamar itu sebelum kaca di kedua matanya pecah. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan Tristan. Kirana terlalu gengsi. Dia tidak ingin mengemis cinta laki-laki yang mungkin sangat membencinya.


Kirana mengecek Mentari yang sedang makan pagi sendiri. Pagi ini anak itu tidak terlalu manja, sehingga Kirana bisa lebih leluasa mengurus Tristan.


"Papa masih sakit ya, Bunda?"


"Masih. Bunda mau buat bubur dulu buat Papa. Makannya dihabiskan ya, Sayang!" Kirana mengusap rambut Mentari yang tergerai. Anak kecil itu pun mengangguk.


Selain bubur, Kirana juga membuat sup dengan bahan seadanya yang tersisa di kulkas. Dia menemukan sedikit daging sapi untuk membuat kaldu. Dengan gesit Kirana menyiapkan semua bahan lalu memasaknya. Tidak lebih dari satu jam dia kembali ke kamar membawa bubur dan semangkuk sup.

__ADS_1


Mentari sudah duduk di atas tempat tidur saat Kirana masuk ke kamar. Tangan mungil itu tampak memijat-mijat lengan berotot papanya sambil berceloteh.


"Besok Mentari kalau sudah besar mau jadi dokter seperti Mama. Biar bisa ngobatin Papa kalau lagi sakit." Ucapan Mentari membuat papanya tersenyum.


"Wah,cita-cita yang hebat." Kirana menimpali sambil meletakkan nampan di nakas.


"Memangnya jadi dokter hebat ya, Bunda?"


"Hebat, dong. Karena bisa membantu orang sakit."


Mentari tampak mengangguk-anggukkan kepala. "Tapi Mentari ingin seperti Bunda, banyak teman anak-anak kecil."


"Kalau begitu, Mentari bisa jadi dokter anak."


"Seperti Dokter Diana?" Mentari menyebut nama dokter yang kerap memeriksanya yang juga teman mamanya. Kirana hanya mengiyakan ucapan Mentari karena dia tidak tahu dokter mana yang dimaksud.


Kirana duduk di tepi ranjang sambil membawa mangkok dan mengaduk-aduk kuah sup agar lebih cepat dingin. Asap dari mangkok masih mengepul karena baru diangkat dari atas kompor.


"Coba supnya ya, Mas. Atau mau bubur?" ujarnya. Karena perut Tristan harus terisi sebelum minum obat.


"Papa, kalau mau sembuh harus makan yang banyak."


Tristan terkekeh melihat Mentari berbicara menirukan gaya bicara dokternya.


"Baiklah Bu Dokter Mentari. Tapi …. Papa makannya disuapi Ibu Dokter, boleh?"


"Papa sudah tua manja!"


Tristan tertawa lepas. Kirana nyaris tak percaya melihat Tristan sebahagia itu hanya dengan mendengar celotehan dari bibir mungil putrinya. Mentari memang menggemaskan. Selalu membuat siapa saja yang melihat ingin mencubit gemas pipinya.


Tangan kecil Mentari pun mulai menyuapkan kuah sup untuk ayahnya. Sedikit demi sedikit makanan itu masuk ke perut Tristan. Meski hanya beberapa suap dan Tristan meminta Mentari berhenti menyuapinya.

__ADS_1


Obat-obat yang tadi diantarkan oleh kurir disiapkan oleh Kirana di atas nakas bersama segelas air putih. Mentari juga yang menyuapkan obat itu. Putrinya itu satu-satunya pelipur di kala Tristan sedang lara. Menatap Mentari sedikit mengobati kerinduannya pada Elita.


"Terima kasih, Bu Dokter."


"Sama-sama, Papa. Sekarang Papa istirahat, ya. Biar cepat sembuh." Mentari membetulkan selimut yang berantakan.


"Peluk Papa, dong. Papa sudah lama nggak tidur di peluk anak Papa yang cantik dan pintar ini." Tristan memijit hidung Mentari.


Mentari menghambur ke dalam pelukan papanya. Hidup berdua sejak tiga tahun terakhir membuat bonding keduanya sangat erat. Mentari sangat manja pada ayahnya. Begitu juga Tristan yang tak bisa jauh dari Mentari. Sejak kedatangan Kirana dalam rumah itu, lambat laun Mentari menjadi lebih bergantung pada Kirana. Hal itu kadang yang membuat Tristan merasa cemburu. Dia takut jika Mentari akhirnya benar-benar tidak membutuhkannya lagi.


"Bunda! Sini, dong!" Mentari memanggil Kirana yang sedang membereskan sisa makan dan obat-obatan. Dia menepuk sisi ranjang yang kosong agar Kirana berbaring di sebelahnya. Kirana memutar iris matanya melirik ke arah Tristan. Meski hubungan mereka sedikit cair, namun terkadang Tristan bisa berubah beku seketika. Hal itu masih membuat Kirana segan.


Mentari kembali memanggil Kirana. Perempuan itu pun menatap suaminya seolah meminta persetujuan. Melihat Tristan diam saja, tidak menolak ataupun mengiyakan, Kirana mengangkat nampan berisi mangkok sup dan bubur untuk mengembalikannya ke dapur.


"Bunda kenapa sih, Pa? Takut sama Papa?"


Tristan tertawa pelan. "Emang Papa nggigit? Bunda harus bereskan sisa makanannya. Kalau nggak cepat diberesin nanti semutnya datang.,"


"Tapi kok nggak naik-naik dari tadi?".


Beberapa saat kemudian Bunyi pintu dibuka membuat keduanya menoleh. Kirana berdiri di pintu dengan baju yang sudah berganti. Rambutnya basah diigelung ke atas dengan handuk.


Mentari pun batal merajuk. Dia meminta Kirana naik ke tempat tidur namun lagi-lagi tertunda karena Kirana justru mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya. Dan membuat Mentari kembali menunggu hingga rambut panjang lebat itu kering.


"Bunda lama," protes Mentari.


"Kan mandi dulu. Kalau belum mandi nanti Papa nggak mau dekat-dekat sama Bunda.," sahut Kirana. Wajah Tristan mendadak kesal karena mendapat sindiran.


Kirana naik ke atas ranjang mengabaikan Tristan yang masih menahan kesal. Dia melingkarkan lengannya pada tubuh Mentari ketika anak itu meminta untuk dipeluk. Lagi-lagi Tristan tak mampu menolak saat putrinya meminta hal yang sama padanya. Mungkin benar jika seorang anak bisa menjadi perekat kedua orang tuanya. Kendati Mentari bukanlah anak kandung Kirana, nyatanya anak itu seringkali mencairkan hubungannya dengan Tristan.


"Pa, foto, Pa!" celetuk Mentari.

__ADS_1


Tristan mengambil gawainya di atas nakas untuk mengambil foto mereka bertiga. Sebuah foto menampakkan senyum lebar ketiganya bak sebuah keluarga bahagia pun tersimpan dalam memori ponsel Tristan. Kebahagiaan Mentari tidak terbendung. Sementara kedua orang dewasa di sampingnya berkecamuk dengan pikirannya masing-masing.


"Bunda, adik Mentari kapan lahirnya?" Celetukan Mentari yang tiba-tiba membuat Tristan dan Kirana saling tanpa sengaja saling berpandangan.


__ADS_2