Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
44. Demi Kamu


__ADS_3

"Aku nggak marah, Mas. Kalau memang itu privacy kamu sama Mama, aku akan menghargainya. Jangan merasa terbebani," ujar Kirana diiringi tipis.


"Benar? Kamu nggak mau dengar penjelasanku?"


Kirana menggeleng. "Saya mau mandi. Habis itu mau rebahan. Capek banget seharian di jalan. Cepat ambilkan baju gantinya!"


Tristan membuka salah satu lemari yang penuh dengan gantungan baju.


"Baju-baju kamu semua ada di sini."


Kirana mengernyit. Dia mendekat ke arah lemari. Di dalam lemari yang juga terlihat baru itu tertata rapi baju-baju perempuan. Tapi bukan miliknya


"Ini baju-baju Mbak Elita?"


Tristan terkekeh pelan. "Bukan. Ini semua baju kamu. Ukuran bajumu tidak sama dengan ukuran dia."


"Tentu saja. Karena dia lebih tinggi dari aku." timpal Kirana.


"Katanya ikhlas. Kok masih cemburu," Tristan menarik pipi Kirana gemas.


"Kan nggak berlebihan, Mas."


Kirana meneliti baju dalam lemari itu. Semua masih baru dan sebagian besar label masih menempel dengan ukuran yang sesuai untuknya. Namun dulu, sebelum perutnya membesar. Saat ini, dia lebih menyukai baju-baju longgar semacam daster. Dia pun melorot satu baju berwarna biru muda yang berada dalam tumpukan. Kain berbahan rayon yang menjadi favoritnya semenjak hamil.


,"ini semua kamu yang beli, Mas?"


"Iya. Pas kan ukurannya?"


"Iya. Makasih ya, Mas. Tapi mungkin yang dipakai daster-dasternya dulu. Perutnya sudah mulai begah kalau pakai celana atau rok."


Kirana membentangkan kain yang baru saja diambilnya. Dia terbelalak melihat baju yang diambilnya. Daster tanpa lengan dengan satu tali dan potongan bagian dada yang terlalu rendah. Baju yag lebih layak untuk dipakai di dalam kamar. Dan dia menjadi tahu satu hal lagu tentang Tristan. Suaminya itu menyukai penampilan wanita yang seksi mempertontonkan bagian tubuh lebih terbuka.


"Ini kamu milih sendiri?" tanya Kirana memastkkan. Baju sebanyak itu butuh berapa lama waktu untuk memilihnya?


"Hmm. Bagus, kan? Suka, nggak?"


Kirana mendesah pelan lalu kembal melipat baju itu. Dia mengambil baju yang lain lagi dalam satu tumpukan. Dan semuanya serupa. Baju tidur tanpa lengan dengan.yang menampakkan belahan squishy.


"Ini semua dasternya kamu beli model yang sama? Nggak ada yang lebih tertutup untuk di luar kamar?"


Tristan tersenyum kikuk seraya menggeleng.


"Di dalam rumah nggak masalah kan pakai baju itu?"


"Masalah kalau tiba-tiba ada orang lain masuk ke rumah."


"Nggak. Itu nggak mungkin terjadi di rumah ini. Pakai yang ini ya, ya, ya?" Tristan tersenyum penuh makna serya menunjukkan selembar baju warna biru muda yang pertama kali diambil Kkrana tadi.


Kirana membuang nafas pasrah. Dia mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.


****


Saat tengah malam dan semua penghuni rumah sudah kembali terlelap, Kirana tiba-tiba terbangun. Sejak tadi tidurnya memang tidak bisa benar-benar lelap. Bayangan sedapnya kuah sip ikan buatan Bi Elis terus saja mengganggunya. Meski sore tadi Tristan sudah membelikan makan dengan ayam goreng menuruti kemauan Mentari.

__ADS_1


Dengkurn haus terdengar menandakan lelaki di sampingnya sudah terbawa mimpi. Kirana mengusap pelan rahang suaminya tnoa bemaksud untuk membangunkan. Terlalu berlebihan jika harus membangunkan. Dia hanya ingin mengagumi wajah tampan yang sejak lama hanya bisa dipendam. Namun kini dia bisa leluasa menyentuh pahatan-pahatan di wajah suaminya.


"Belum tidur?" ucapan itu terdengar serak meski mata pemiliknya masih terpejam.


"Kebangun," jawab Kirana.


Tristan merapatkan tubuhnya. Mencoba memberi kenyamanan dan berharap Kirana akan kembali terpejam. Namun istrinya itu justru menegakkan punggungnya. Sehingga dia perlahan membuka mata.


"Kenapa?" tanyanya.


"Lapar?" Tristan kembali bertanya. Dia masih mengingat saat Elira hamil Memtari seringkali terbangun tengah malam karena lapar.


"Mau sop ikannya Bi Elis." Kirana menyahut dengan nada mengiba.


Tristan mendesah pelan. Dia menyingkap selimutnya lalu beringsut turun dari ranjang.


"Mas mau ke mana?"


"Ke rumah Mama. Mau minta tolong Bi Elis masakin."


Tengah malam seperti ini, Tristan pun tidak tega jika harus membangunkan Bi Elis untuk memasak. Dia hanya berharap masakan sore tadi masih ada. Mamanya tidak pernah makan banyak. Apalagi jika malam, kadangkala justru tidak makan.


Lelaki itu mengenakan celana panjang lalu melapisi tshirtnya dengan jaket. Sungguh, Kirana tidak tega harus membuat suaminya serepot itu. Membangunkan tidurnya hanya demi makanan yang dia mau. Dia pun tidak menyangka jika Tristan akan mengabulkan ucapannya tanpa tapi tanpa nanti.


"Pergi dulu ya." Tristan mendaratkan kecupan di dahi Kirana.


"Mas, beneran nggak papa?"


Tristan yqng sudah hendak meninggalkan kamar menghentikan langkahnya.


Kirana tersenyum mengangguk meski perasannya jiustru diliputi rasa bersalah.


Jalanan cukup lengang sehingga Tristqn bisa sampai lebih cepat di rumah mamanya. Pintu pagar sudah dikunci oleh Pak Cip. Dan Tristan terpaksa menganggu tidur laki-laki paruh baya itu untuk membukakan pagar. Beruntungnya Pak Cip baru saja terjaga. Karena dia pun harus memastikan rumah majikannya dalam keadaan aman saat malam hari. Sehingga dia terbiasa bangun saat jam-jam tertentu.


"Mas, ada apa tengah malam ke sini?" tanya Pak Cip yang terlihat panik karena kedatangan Tristan.


"Kirana minta sop ikan, Pak. Tadi katanya Bi Elis masak sop ikan."


Pak Cip terkekeh. "Istri kalau lagi ngidam itu memang suka tidak lihat waktu ya, Mas. Yang sabar, ya."


"Iya Pak. Sudah tidak kaget."


Tristan menipiskn bibirmya lalu menerobos masuk ke dalam rumah.


Sebelum membangunkan Bi Elis, dia mengecek ke meja makan dan dapur. Di meja makan, dia melihat satu panci berisik potongan ikan yang bergelimpangan di dalam kuah. Tristan pun bernafas lega. Karena dia tidak perlu membangunkan Bi Elis.


Tristan pergi ke dapur untuk mengambil kotak yang biasa dipakai mamanya saat mengirim makanan ke rumahnya. Setiap kabinet dia buka namun tidak menemukannya. Tristan heran dengan mamanya yang begitu sayang dengan perabaotan dapurnya. Bahkan sampai menyimpannya di tempat yang sulit ditemukan.


"Cari apa kamu, Tan?"


Tristan menoleh. Mamanya yekah berdiri di arah dekat meja makan.


"Kotak makannya Mama di mana? Yang biasa buat ngirim makanan ke rumah?"

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Kirana minta sop ikannya Bi Elis. Sampai nggak bisa ttidur."


Bu Rarth membuka salah satu kabinet yang ada di bawah lalu mengambil sebuah kotak berukuran besar.. Dipindahkanmya semua sop ikan yang ada di dalam panci ke dalam wadah itu.


"Sudah benar tadi kalian menginap di sini. Kamu malah bawa pulang anak sama istrimu. Repot kan jadinya?"


"Nggak papa, Ma. Namanya juga nurutin istri lagi hamil."


Bu Ratih mengunci rapat wadah ialu memasuikannya ke dalam tas.


"Duduk dulu! Mama mau bicara."


Tristan tidak membantah. Dia menarik kursi duduk bersisian dengan mamanya.


"Kamu benar sudah berbaikan Kirana?" tanya Bu Ratih ingin meyakinkan.


"Benar, Ma. Kurang bukti apalagi sih, Ma. Kirana sudah hamil anak Trsitan."


"Itu tidak cukup iuntuk membuktikan. Bisa saja kamu melakukannya karena terpaksa, atau tidak sadar?"


"Terserah, Mama lah. Mama mau percaya atau tidak. Kami yang menjalani pernikahan ini. Saya cuma minta Mama untuk tidak meracuni pikiran Kirana."


"Astaghfirullah! Kamu nufuh Mama sembarangan, ya?!" Bu Ratih menarik telinga putranya lalu memelintirnya. Hingga Tristan meringis kesakitan.


"Beruntung sekali Kirana mau membuka hatinya untuk kamu. Jika sampali kamu sakiti dia lagi, kamu akan berhadaoan dengan Mama."


"Enggak,, Ma. Trsitan justru mau berterima kasih sama Mama. Karena sudah memilihkan istri terbaik untuk Tristan."


Bu Ratih kembali menarik telinga anaknya. "Ke mana saja kau selama ini, hah?!"


"Aduh! Ampun, Ma! Lepasin! Tristan mau pulang. Nanti kalau kelamaan Nana bisa ngambek."


Bu Ratih pun melepaskan teilnga anaknya.


"Besok kembalilah ke kamtor. Cutimu sudah selesai," ujarnya.


"Nggak janji. Tristan sudah terlanjur nyaman kerja dari rumah. Biisa ngelus istri kapan pun mau," sahut Tristan sambil beranjak dan mengambil kotak makan. Kemudian berlalu dari ruang makan itu.


"Besok kamu harus ke kantor, Tristan!!" seru mamanya mengulang perintahnya.


"Kapan-kapan aja, Ma. Nunggu mood.!"


"Tristan!" Mamanya kembai memekik sambil mengejar Trsitan yqng sudah hampir mencapai ruang tamu.


"Tidur, Ma. Sudah malam. Jaga kesehatan," sahut Tristan tanpa menoleh.


Bu Ratih semakin geram.dengan anaknya dia mengikuti Tristan hingga ke luar rumah bahkan sampai masuk ke dalam.mobil.


"Mama ngapain ikut masuk? Tristan mau pulang, Ma."


"Mama ikut ke rumah kamu," jawab Bu Ratih dengan ketus.

__ADS_1


Tristan menggeleng heran lalu perlahan mepajukan mobilnya.


"Mertua sama menantu kaau sudah punya mau sama-sama bikin puyeng," gumammya yang kemudian mendapat pelototan dari sang mama.


__ADS_2