
Kirana menoleh ke arah pintu. Mendapati Tristan yang kini memakai sarung yang menutup celana pendeknya tadi. Wajahnya terlihat lebih bersih khas orang yang baru saja mencuci wajah dengan rambut yang masih lembab. Tampan, kata itu ungkapan wajah Tristan. Rahang tegas, kulitnya bersih. Sorot mata setajam elang selaras dengan hidung yang mancung Rambutnya lurus hitam kelam begitu juga dengan alisnya. Bibirnya kemerahan meski dia sesekali menghisap tembakau.
Kirana masih ingat betul pertama kali melihat Tristan saat mengantar Mentari berangkat sekolah. Itu pun dari balik kaca jendela. Kesombongan mungkin sudah melekat dalam diri pria itu sejak dulu. Dia tidak pernah turun dari mobil saat mengantar Mentari. Selalu membiarkan Mentari dijemput oleh gurunya begitu turun dari mobil. Bahkan menyapa sang guru pun tidak pernah. Kiran sempat ilfill saat Mentari slaah memakai seragam dan dia mengingatkan Tristan namun hanya diabaikan oleh pria yang kini justru menjadi teman satu kamarnya.
"Dari mana, Mas?" tanyanya saat Tristan merebahkan diri di sampingnya
"Tadi diajak Ayah ke masjid."
Kirana pun membulatkan bibir. Dia tahu, ayahnya memang tidak akan membiarkan laki-laki dewasa di rumah saat waktu sholat.
Tristan pun menjatuhkan diri ke atas tempat tidur. Tubuhnya terasa sangat lelah. Juga rasa kantuk yang tidak dapat lagi ditahan. Namin suara Kirana yang melarangnya untuk tidur setelah waktu maghrib membuatnya kembali membuka mata.
Kirana keluar dari kamar setelah sebelumnya berpesan pada Tristan untuk makan malam.
Pria itu pun beranjak dan mengikuti Kirana ke meja makan. Di mana dua orang tua mereka sudah duduk di sana. Tristan merasa tidak enak karena membuat mereka menunggu. Saat hendak masuk ke kamar tadi, Bu Ambar sudah mengatakan padanya untuk makan malam. Namun rasa lelah dan kantuk membuatnya mengangguk tanpa berniat menuruti ucapan ibu mertuanya.
Kebahagiaan terpancar di wajah kedua orang tua Kirana. Terlebih sang ibu. Menantu idaman seolah bukan lagi laki-laki yang selama ini dipujinya. Tristan telah menggesernya dalam sekejap hingga kini dialah yang menempatinya.
Bu Ambar menawarkan makanan yang dimasaknya sendiri. Hampir satu meja penuh dengan makanan. Entah siapa yang akan menghabiskannya nanti. Kirana sempat heran dengan ibunya yang memasak begitu banyak makanan. Dan ibunya hanya menjawab untuk menjamu menantunya.
"Nak Tristan. Ayo dicobain masakan ibu!" kata Bu Ambar. Sikap ketus wanita itu saat Tristan datang tadi telah berganti menjadi ramah dan hangat.
Tristan pun mengambil piring dan mengambil nasi. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk istrinya.
"Sayang, mau makan sama apa?"
__ADS_1
Kirana terperangah dan menoleh pada Tristan. Kemudian beralih pada kedua orang tuanya yang saat ini menatap ke arahnya seraya menahan senyum.
"Saya ambil sendiri, Mas," jawab Kirana mengambil piring.
"Tidak baik menolak perhatian suami, Na."
Ucapan ibunya membuat Kirana urung mengambil nasi. Dia pun meminta Tristan mengambilkan sayur asem dan sepotong ayam goreng.
"Terima kasih," ucapannya yang dibalas anggukan kepala ditambah senyum manis dari suaminya.
Kirana kembali melirik kedua orang tuanya. Dia mendengus. Mereka tidak tahu saja apa yang diminta Tristan nanti malam sehingga memberi perhatian berlebihan pada Kirana. Atau mungkin Tristan sedang mencoba mengambil hati orang tuanya jika dia telah memperlakukan putri mereka dengan baik.
Tristan memang pandai mengambil hati ibu mertuanya. Berkali-Kali dia memuji masakan Bu Ambar di sela makan. Wanita paruh baya itu pun tak lepas dari senyum. Kirana sampai bosan mendengar pujian Tristan untuk ibunya.
"Ceileh! Yang lagi kasmaran." Kirana yang sedang mencuci piring menggoda ibunya.
"Bukannya kamu yang habis dapat perhatian dari suami?" balas Bu Ratih.
"Ibu nggak tahu aja dia lagi cari muka sama mertua."
"Hus! Ngawur kamu. Ibu tahu dia tulus."
Kirana tersenyum remeh membelakangi ibunya. Dia harus mengacungkan jempol untuk kepiawaian Tristan mengambil hati seseorang. Termasuk ibunya yang kini terdengar memuji-muji tentang Tristan. Mulai dari bertanya tentang keseharian menantunya itu hingga pekerjaan yang Kirana sendiri tidak tahu pasti. Yang dia tahu, Tristan mengelola usaha peninggalan papanya.
"Jadi kapan kalian akan memberi ibu dan ayahmu cucu yang lucu-lucu?"
__ADS_1
Kirana pun mendesah kasar. Pertanyaan klasik yang akan diajukan orang tua pada anak mereka yang sudah menikah. Tidak hanya ibunya, harapan itu pun sepertinya yang dinanti ibu mertuanya. Meski tak mengucapkan secara langsung, ucapan Mentari yang bersumber dari Bu Ratih cukup untuk membuktikannya.
"Ibu sudah tua. Mumpung masih kuat menggendong."
Alasan yang tidak masuk akal. Seandainya Kirana memiliki anak nanti, dia pun tidak akan membiarkan ibunya mengasuh cucu.
"Memangnya usia Ibu berapa? Baru juga lima puluh. Belum terlalu tua."
"Tapi secepatnya, ya." Permintaan yang terdengar memaksa. Bu Ambar pun mulai membandingkan Kirana dengan pencapaian anak tetangga yang sudah berhasil memberi orang tua mereka cucu. Kirana hanya menghela nafas menanggapi ibunya.
Dia pun akhirnya memilih kembali ke kamar daripada harus mendengar ungkapan hati sang ibu yang kini naik level mendamba seorang cucu. Bukan seorang, melainkan banyak, karena kata lucu-lucu tentu saja bermakna lebih dari satu. Agar rumah itu tak lagi sepi. Setelah berpuluh-puluh tahun tidak ada tangis dan cicitan anak kecil.
Derit pintu terdengar saat Kirana sedang melipat mukena. Senyum manis Tristan yang dia dapatkan saat menoleh. Masih dengan baju yang sama dan sarung yang mungkin pemberian ibunya. Karena setahu Kirana, suaminya tidak pernah memakai kain semacam itu. Dan entah kenapa, Kirana menyukai penampilan Tristan saat memakai sarung meski atasnya dipadu dengan t shirt.
Kirana mengambil baju ganti dari dalam lemari. Perintah suami adalah hal yang harus dipatuhi. Selagi bukan suatu kemungkaran. Kain merah berenda itu dia pandangi cukup lama. Hingga akhirnya ******* pelan lolos. Kirana membungkus kain itu dengan kimono putih lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Cukup lama dia di dalam bilik itu. Meyakinkan diri jika dia akan melepasnya malam ini. Kirana membersihkan diri seperlunya sebelum memakai baju dinas malam berwarna merah itu. Kemudian membalutnya dengan piyama kimono berbahan satin.
Gugup, rasa itu kembali menyergap saat dia membuka pintu kamar mandi. Namun hanya sesaat rasa itu berganti dengan hembusan nafas lega saat melihat Tristan sudah terbaring lelap di atas tempat tidur.
Kirana pun mengambil sisi ranjang yang lain. Merebahkan diri di samping Tristan meski bukan untuk tidur. Hanya ingin mengistirahatkan badan setelah seharian dia disibukkan dengan acara launching produk baru.
Menunggu rasa kantuknya datang, Kirana membuka ponselnya untuk melihat respon dari pengikut akun media sosialnya tentang produk barunya. Namun tubuhnya membeku seketika saat sebuah lengan tiba-tiba melingkari pinggangnya.
"Ready?" bisikan itu seolah mantra yang membuat Kirana meletakkan gawai lalu membalik badannya.
__ADS_1