Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
77. Siapa Yang Melamar Nabila


__ADS_3

Hari ini Nabila lamaran, tapi tidak ada kabar apa pun yang mampir ke telinga Tristan. Bahkan mamanya mungkin juga tidak tahu. Sejak siang Bu Ratih sibuk di toko bunga. Dan dia juga tidak memberi tahu apa pun pada Tristan.


Lalu siapa yang melamar Nabila? Bi Asih bilang acaranya mendadak. Dia bahkan baru diberitahu untuk menyiapkan minuman saat tamu-tamu itu sudah berdatangan. Saat Tristan bertanya Bi Asih tidak tahu siapa laki-laki yang datang melamar. Nyonya rumah hanya memintanya menyiapkan minum dan suguhan lain. Semua seperti tanpa rencana. Bahkan nampan-nampan catering masih tertutup seal dan tergeletak di meja dapur.


Kirana tidak bisa diam saja melihat kerepotan Bi Asih. Wanita itu satu-satunya asisten rumah tangga yang menginap. Karena beberapa ART rumah itu memang pulang saat sore hari. Dia menyiapkan meja makan untuk menata nampan-nampan kaca berisi sayur dan lauk yang sepertinya baru dipesan oleh Tante Tiara.


"Neng, nggak usah! Biar Bibi saja," cegah Bi Asih.


Namun Kirana memaksa. Meski Tristan yang telah duduk di ruang keluarga karena penasaran dengan pembicaraan di ruang tamu ikut mencegahnya.


"Kasihan Bibi, Mas. Kalau acaranya selesai dan makanannya belum siap kan malu," sahutnya bersikeras. Toh hanya menata makanan. Bukan mengangkat beban berat.


Kirana tetaplah Kirana. Oang yang ringan tangan. Dia memang tidak segan mengerjakan pekerjaan rumah meski sudah ada asisten rumah tangga. Siapa yang akan menyangka, jika dia seorang pengusaha yang sedang menyamar menjadi ibu rumah tangga yang sederhana.


Satu persatu nampan kaca tertata rapi di meja makan. Kirana tidak tahu berapa tamu yang datang sampai pemilik rumah menyiapkan makanan sebanyak itu.


"Terima kasih banyak ya, Neng," ucap Bi Asih. "Maaf udah ngerepotin. Tadi sih Nyonya udah telpon Murni, tapi anaknya lagi demam. Jadi nggak bisa balik ke sini lagi."


"Iya. Nggak papa, Bi. Ini apa lagi yang mau ditata?"

__ADS_1


"Udah. Nanti yang lain biar Bibi. Neng Kirana duduk saja. Ngeri ih lihat perutnya. Udah bulannya ya, Neng?" sahut Bi Asih yang merasa ngeri melihat perut Kirana seperti balon.


"Iya, Bi. Tinggal nunggu beberapa hari."


"Mudah-mudahan lancar deh nanti lahirannya."


Kirana mengaminkan doa Bi Asih. Lalu kembali ke ruang keluarga sambil menekan punggungnya yang terasa pegal karena bolak-balik dari dapur ke meja makan.


Dari ruang keluarga, lamat-lamat terdengar suara orang berbicara di ruang tamu. Mereka mengenali suara mama Nabila yang menyilakan tamunya untuk masuk ke ruang makan.


Dan seperti sebuah kejutan, Nabila memekik melihat keberadaan keluarga Tristan di dalam rumah. Kedua mata Nabila terlihat merah seperti baru saja menangis.


"Cie! Akhirnya dilamar!" goda Tristan. Namun Nabila justru merangkulnya dan kembali menumpahkan air matanya.


"Udah, Bil. Banyak tamu!" bisik Tristan.


Nabila pun mengurai pelukannya. Wanita yang mengenakan kebaya kebaya coklat itu menyeka sisa lelehan air matanya.


"Na!" Namun pelukannya berpindah pada Kirana.

__ADS_1


"Selamat, ya," ucap Kirana sambil mengusap punggung Nabila.


Nabila tak menyahut. Dia kembali tersedu di pelukan Kirana untuk beberapa saat. Sampai Bu Ratih yang ternyata hadir di acara itu mengingatkan jika perut Kirana tertekan karena ulahnya.


"Bil, mana cowoknya?" bisik Tristan yang sejak tadi penasaran dengan pria yang melamar Nabila. Karena di antara tamu-tamu yang datang tak satu pun yang dikenalinya.


Nabila pun mencari-cari pria yang tadi menyematkan cincin di jari manisnya. Namun di antara pria-pria yang berkemeja batik, dia tidak terlihat.


"Bentar, aku cari dulu." Nabila kembali ke depan.


Beberapa saat kemudian dia kembali lagi menggandeng seorang pria berkacamata yang mengenakan kemeja batik.


"Ini Bang Tristan!" ujar Nabila mengenalkan Tristan pada laki-laki yang baru saja melamarnya.


"Ravi!" Pria itu memperkenalkan istrinya.


"Dan itu istrinya!" Nabila menunjuk Kirana yang sedang berbicara pada Bu Ratih dan Mentari.


"Na!" panggilnya pada Kirana.

__ADS_1


Kirana pun menoleh. Ravi terkejut melihat wajah wanita hamil yang menoleh padanya.


"Kirana?!" gumam Ravi lirih.


__ADS_2