
"Saya berangkat ya, Mas." Kirana mematut diri sekali lagi di depan cermin.
"Masih kerja? Kenapa nggak cuti? Kan sudah dihandle teman kamu,"Tristan melihat Kirana sudah rapi dengan blus dan celana panjangnya.
"Ya dia lagi bulan madu lah, Mas. Memangnya kamu, sore mau nikah pagi masih kerja. Besoknya sudah berangkat kerja lagi," sarkas Kirana.
Wajah Tristan pun berubah masam. "Harus banget dibahas?" ujarnya.
Kirana terkekeh sembari memasukkan ponsel, dompet dan juga pouch berisi peralatan make up ke dalam tasnya.
"Salim, Mas. Biar berkah?" ujarnya sambil mengulurkan tangannya. Namun Tristan mengabaikannya begitu saja. Selama menikah hanya sekali Kirana mencium punggung tangan suaminya yaitu saat akad nikah. Itu pun hanya untuk formalitas.
"Tunggu. Saya ikut." Pria itu mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.
Kali ini Kirana menurut. Menunggu Tristan yang akan mengantarnya. Karena dia pun sedang tidak terburu-buru. Dia menunggu Tristan sambil berselancar di dunia maya. Mengirim pesan pada sahabatnya yang baru saja melewati malam pertama.
Perhatian Kirana teralih saat melihat benda di sampingnya menyala. Ponsel milik Tristan yang mendapat panggilan dari seseorang. Silvia, nama itu terpampang di layar. Kirana pun membiarkan panggilan itu hingga berhenti dengan sendirinya. Bahkan sampai tiga kali panggilan.
Selang beberapa detik, bunyi notifikasi pesan terdengar. Rasa penasaran memancing Kirana untuk membuka pop up pesan. Benara saja, Silvia yang mengirim pesan. Sesuai dengan dugaannya.
Mas, kenapa aku dipindah jadi stafnya Bu Keke? Aku nggak mau.
Senyum miring terbit di bibir Kirana. Sebegitu dekatnya kah Silvia dengan Tristan. Hingga berani meminta sebuah posisi di kantor? Mungkin label adik ipar yang membuatnya bersikap seolah yang punya kantor. Kirana tak pernah tahu kedekatan mereka saat di lingkungan pekerjaan. Kantor Tristan saja dia tidak tahu tempatnya.
Bunyi notifikasi pesan kembali terdengar.
Tolong aku, Mas. Kenapa Tante Ratih yang mindahin aku. Bukannya kamu yang punya kuasa di sini? Ini nggak fair buat aku. Masalah pribadi dilibatkan dengan urusan pekerjaan.
Kirana semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Tapi nanti saja, dia akan tanyakan pada ibu mertuanya.
Ponsel itu pun diletakan kembali ke temoat semula. Bersamaan dengan bunyi pintu kamar mandi dibuka.
"Ada telpon dari Silvia."
"Apa katanya?"
__ADS_1
Kirana mengedikkan bahu. Apa artinya ucapan Tristan sebuah ungkapan permisif jika Kirana boleh membuka benda pribadi miliknya?
"Tidak saya angkat! Kamu telpon balik saja. Siapa tahu penting," ujarnya kemudian.
"Biarkan saja," sahut Tristan tanpa berniat menyentuh ponselnya. Karena dia justru mengambil baju ganti yang tergeletak di samping benda itu.
Setelah berpakaian lengkap dan merapikan rambut, Tristan mengambill tas laptopnya. Mereka pun beriringan keluar dari kamar.
Meski ibunya sudah menyiapkan sarapan pagi, Semenjak hamil. Kirana selalu menolak untuk makan pagi. Apalagi ibunya selalu menyiapkan menu makanan berat. Dia terlalu khawatir dengan berat badannya yang mulai baik dengan ugal-ugalan. Tidak hanya bagian dada dan pantat yang membesar, tetapi beberapa bagian tubuh yang lain pun mulai berisi.
"Namanya juga lagi hamil, ya wajar kalau berat badannya naik. Nanti kan setelah melahirkan bisa dijaga lagi."
"Ya kalau bisa balik lagi, Bu. Kalau tetap bengkak kan …."
"Takut kalau suamimu melirik perempuan lain?"
"Apaan sih, Bu?! Ya nggak nyaman kalau kelebihan berat badan." Kirana melirik Tristan terlihat tenang di kursinya seolah tidak mendengarkan pembicaraan mereka.
Kirana harus menunggu Tristan yang sedang menikmati makan paginya. Suaminya itu tidak mungkin akan menolak. Apalagi nasi goreng kampung buatan ibunya memang juara rasanya.
"Ingatkan Nana kalau dia menunda-nunda makan," pesan Bu Ambar pada menantunya.
"Iya Bu. Nanti saya paksa dia makan," jawab Tristan setelah menghabiskan air putih dalam gelasnya.
"Boleh satu lagi, Bu? Buat saya nanti siang," imbuhnya. Bu Ambar dengan senang hati menyiapkan satu bekal lagi untuk Tristan.
"Siang mana enak makan nasi goreng dingin." Kirana menimpali.
"Ada microwave, kan?" tanya Tristan kemudian.
"Nggak ada. Adanya kompor."
"Ya sudah, nanti kita beli," pungkas Tristan. Lalu mengajak Kirana berangkat ke kantor istrinya itu.
Tristan sengaja melajukan motor dengan pelan. Hawa pedesaan yang begitu sejuk dan sedikit polusi berbeda sekali dengan pagi yang setiap hati dia temui di kota. Saat matahari belum begitu tinggi, hamparan sawah dan pemandangan beberapa gunung yang menjulang tampak di kejauhan.Mendadak pikiran untuk menetap di kampung pun melintas. Meski mungkin bukan dalam waktu dekat, namun menghabiskan masa tua di desa sepertinya akan menjadi wacana.
__ADS_1
Tristan semakin memperlambat laju kendaraannya saat melewati kebun sayur
"Keren! Kebun sayurnya luas banget," gumam Tristan tetapi terdengar oleh Kirana.
"Mas tahu ini punya siapa?"
"Siapa memangnya."
"Punya Mas Baraka. Dia mulai membuat kebun inii dari sepetak. Sampai sekarang seluas ini. Dari dibantu satu orang sampai sekarang sudah puluhan orang yang bekerja di sini."
"Pasarnya sudah bukan lokal lagi, Tapi sudah menyuplai supermarket di beberapa kota loh."
Tristan mendengarkan Kirana berbicara panjang lebar menjelaskan tentang kebun sayur milik Baraka. Telinganya sampai memanas karena Kirana tanpa sadar terlalu banyak memuji Baraka. Bahkan hingga mereka sampai di pabrik, Kirana baru berhenti berbicara.
Kirana menyapa beberapa karyawan sepanjang jalan dia menuju ke ruangan yang biasa dipakai oleh Syifa. Dia meletakkan tasnya tanpa mempedulikan Tristan yang berwajah kesal.sejak dari kebun sayur tadi.
Kirana baru menyadari, menjadi Syifa ternyata tidak mudah. Banyak pekerjaan mendetail yang belum sama sekali dia kuasa. Hingga dia harus beberapa kali menelepon Syifa untuk meminta bantuan.
"Aku ke situ aja ya, Na," sahut Syifa dari seberang telepon.
"Nggak usah. Sore ini jadi kan berangkat?"
"Jadi. Tapi kan masih nanti sore. Sekarang masih sempat, kok."
"Nggak usah. Kamu siap-siap aja. Happy honeymoon. Jangan lupa pulangnya bawa oleh-oleh keponakan ya,"
Kirana menutup panggilannya. Dia merasa tidak enak hati meski dengan sahabat sendiri. Syifa jarang sekali mengambil cuti. Selalu totalitas dalam bekerja. Dan sore ini dia akan berangkat ke Bali dengan Baraka. Namun Kirana masih saja mengganggunya dengan urusan pekerjaan. Rasanya sangat keterlaluan.
Kirana pun mendesah pelan. "Gimana jadinya kalau nanti Mas Baraka nggak ngijinin Syifa kerja," gumamnya pada dirinya sendiri.
"Bisa tidak kalau menyebut suami temanmu itu pakai namanya saja." Laki-laki yang duduk di kursi rotan kuno menyambar ucapan Kirana.
Kirana menengok ke arah Tristan yang sejak tadi diabaikannya.
"Oh, jealous? Saya biasa saja waktu sekretarismu memanggil kamu Mas, Mas," balas Kirana dengan bibir dibuat tak berbentuk.
__ADS_1
"Ganjen!" lanjutnya tak kalah ketus.