Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
16. Mentari Sakit


__ADS_3

"Papa! Onty Sisil!"


Mentari memaku diri di depan pintu kamarnya. Menatap dua orang dewasa yang berada di dapur dengan tatapan tak mengerti. Seketika Silvia pun melepas dekapannya. Sementara Tristan terdengar memgumpat dirinya sendiri.


Mentari kembali masuk ke dalam kamar dan membanting pintu.


"Pulanglah, Sil!" ujar Tristan menahan geram. Lalu dia menyusul Mentari ke dalam kamar. Banyak hal.yang harus dijelaskan pada putrinya. Meski usianya belum genap enam tahun, Mentari terlalu kritis. Apa yang baru saja dilihatnya tentu akan menjadi sebuah pertanyaan besar.


"Mentari!" Tristan meraih bahu putrinya namun Mentari beringsut menjauh darinya.


"Papa kenapa peluk-peluk Onty Sisil?Mentari nggak suka!"


Tristan mengusap wajahnya kasar. Menyesali kebodohannya karena membiarkan Silvia kembali menggodanya. Selama ini Tristan mati rasa seberapa pun gencarnya Silvia mendekatinya. Dia tetap saja menganggap jika Silvia adik ipar yang harus dijaga. Namun kali ini, kerinduan akan sentunan lembut wanita mendesak ingin dicurahkan.


"Mentari nggak mau kalau Papa sayang sama Onty Sisil! Harusnya Papa sayang sama Bunda. Tapi Papa malah marah sama Bunda. Bunda pergi karena dimarahi Papa, kan?" Tangis Mentari pun pecah.


Lidah Tristan mendadak kelu. Dia tak menyangka jika Mentari mengetahui pertengkarannya dengan Kirana. Dan berakhir dengan perginya Kirana dari rumah itu.


"Papa jahat sama Bunda!"


"Mentari, Papa minta maaf."


"Nggak mau!" Mentari menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya agar tak terlihat lagi oleh papanya.


Tristan menyalakan pendingin ruangan dan membiarkan Mentari yang sedang marah padanya. Membujuknya pun akan sia-sia. Sifat dirinya yang menempel pada putrinya. Dia hanya akan luluh jika kemauannya sudah dituruti.


***


Tristan membuka pintu kamar Mentari yang masih tertutup rapat. Dia berniat mengajak Mentari ke kantor karena tidak mungkin membiarkan putrinya itu sendirian di rumah. Mentari terlihat masih terlelap memeluk gulingnya. Namun mulutnya terdengar mengigau. Tristan bergegas mendekat ke tempat tidur. Racauan dari bibir tipis nan mungil itu semakin jelas terdengar.


"Bunda."


Tristan kembali tersayat harus melihat pemandangan yang sama saat dia dipaksa menerima permintaan Mentari untuk menikahi dengan Kirana.


"Mentari!" Tristan menyibak rambut panjang yang menutup wajah Mentari.


Jemari Tristan teras menghangat saat bersentuhan dengan kulit Mentari.Punggung tangannya pun reflek mengecek dahi dan leher putrinya. Tidak yakin dengan tangannya, Tristan pergi ke dapur untuk mengambil termometer.

__ADS_1


Dengan gelisah Tristan menunggu termometer yang diselipkan di bawah lengan Mentari. Panik, selalu itu yang menderanya saat terjadi sesuatu dengan anak semata wayangnya. Dia kembali menyesali kehadiran Kirana dalam hidup putrinya. Jika bukan karena Kirana, Mentari tak akan mengalami demam dan sakit berturut-turut dalam dua bulan terakhir.


"Pa!" Panggilan lirih itu mengalihkan pandangan Tristan dari stik yang di pegangnya.


"Mau sama Bunda," gumam anak kecil itu kemudian.


Tristan tidak tahu harus menjawab apa permintaan Mentari baru saja. Rasanya dia sudah kehabisan kata untuk mencari alasan demi menunda keinginan Mentari bertemu Kirana.


"Mau sama Bunda, Pa," rengek Mentari lagi.


Bunda, Bunda dan Bunda. Hanya kata itu yang terucap dari bibir Mentari. Seolah keberadaan Tristan di sampingnya tidak cukup. Begitu besar pengaruh Kirana pada diri Mentari. Tristan tak mengerti bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi. Sedang dia yang bahkan telah menggendongnya sejak usia di dunia baru beberapa menit seolah tersingkirkan.


Tristan beranjak dari ranjang single itu untuk mengambil ponsel di kamarnya. Dia menghubungi Diana sebelum dokter anak itu membuka praktek pagi di kliniknya.


Diana memang selalu merespon cepat panggilan Tristan jika terjadi sesuatu dengan Mentari. Tak lebih dari setengah jam, wanita itu sudah tiba di rumah Tristan.


"Demam sejak kapan, Tan?" Diana membuka tas berisi perlengkapannya.


"Semalam sih masih normal. Cuma nggak mau makan. Barusan dicek 38."


"Dia rindu mamanya?"


******* kasar Tristan terdengar. Diana salah satu orang yang mendukungnya untuk menikah lagi. Siapa pun itu yang terpenting sayang dengan Mentari. Karena menurutnya, Mentari butuh sosok seorang ibu.Bukan sekali Diana menyodorkan kandidat sebagai ibu pengganti untuk Mentari. Namun Tristan selalu menolak. Kabar pernikahannya dengan Kirana pun tidak sampai ke telinga Diana.


"Kamu nggak kasihan Mentari? Aku tahu kamu tidak bisa melupakan Elitan tapi nggak harus dengan cara seperti ini. Mentari butuh kasih sayang seorang ibu." Ucapan Diana tidak mendapat tanggapan dari Tristan..


"Sorry kalau aku lancang. Aku hanya kasihan melihat Mentari," lanjut Diana dengan perasaan tidak enak karena terlalu masuk dalam urusan pribadi Tristan yang notabene suami sahabatnya .Dia tahu betul bagaimana perjuangan Tristan meraih hati Elita. Elita yang awalnya ragu dengan perasaan Tristan karena berpikir hanya akan mempermainkannya. Status sosial mereka terlampau jauh. Sehingga Elita merasa jika mustahil Tristan akan serius dengannya.


"Aku resepkan obatnya, ya."


Diana mengambil bundel kertas dari dalam tasnya. Mencoret kertas berisi daftar obat untuk Mentari. Lalu mengulurkannya pada Tristan.


"Sesekali ajaklah dia ke rumah. Biar main sama Alea."


Tristan mengangguk. "Thanks, Di."


"Hmm." Diana membalas dengan senyuman

__ADS_1


"Cepat sembuh ya, Sayang." ujarnya lagi lalu mengecup dahi Mentari.


Diana hampir lupa jika dia membawa sebuah boneka untuk Mentari. Dia mengambil boneka besar warna pink dari yang masih tersimpan di mobilnya.


"Tadi Kak Alea nitip ini untuk Mantari." Diana meletakkan boneka itu di samping Mentari.


"Makasih, Tante" ucap Mentari lirih


"Sama-sama, Sayang. Tante pulang dulu, ya. Nanti kalau Mentari sembuh, kita main sama-sama lagi. Ok?"


Mentari pun mengangguk. Dipeluknya boneka teddy yang entah menjadi boneka pemberian ke berapa dari Diana. Sahabat mamanya itu memang sering sekali mengirim hadiah untuknya.


Tristan mengantar Diana hingga ke depan rumah. Dan mobil merah menyala itu menghilang dari pandangan matanya.


Setelah mengantar Diana, Tristan menghempaskan diri sofa ruang tengah rumahnya alih-alih kembali ke kamar Mentari. Ucapan Diana kembali terngiang. Dia bukan tidak mengerti keinginan Mentari. Namun kenangan bersama Elita seolah membelenggunya.v


Mencoba membuka hati untuk perempuan lain, hal tersulit yang harus dia lakukan. Namun keadaan menuntut untuk melakukannya.


"Argh!" Tristan meremas rambutnya frustasi.


Bayangan Kirana menyeret koper dengan luka di tangan dan kakinya seolah menari di pelupuk mata. Apa kabar dia sekarang? Tristan menggeleng. Mencoba menepis rasa hatinya yang mendadak peduli dengan Kirana.


.


"Mama kan sudah bilang. Biarkan Mentari di rumah Mama." Suara Bu Ratih terdengar seiring langkah kaki wanita itu yang tergesa-gesa.


Tristan menghubungi mamanya dengan harapan agar bisa membantu mengurus Mentari. Namun dia justru harus kembali mendapat omelan


"Kamu terlalu egois. Cari Kirana sampai ketemu! Kamu nggak kasihan lihat anakmu?!"


"Tapi, Ma …"


"Harus pakai tapi? Apa kamu nggak mikir, dia itu istrimu! Tanggung jawabmu! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Kirana, bagaimana kita mempertanggungjawabkan pada orang tuanya. Ingat Tristan, Kirana pun punya orang tua yang tidak akan rela kalau anaknya disakiti."


Tristan seperti tertampar oleh rentetan kalimat yang terlontar dari mulut sang mama. Dia pun seorang ayah yang tidak akan tela anaknya tersakiti. Bagaimana bisa dia mengabaikan tentang hal itu selama ini?


Rasa bersalah seketika menyelinap. Tristan beranjak dan naik ke kamarnya. Mengambil kunci mobil lalu pamit. Bu Ratih hanya menggeleng melihat Tristan pergi dengan kaos rumahan dan celana pendek. Kendati dia sudah tahu keberadaan Kirana, namun sengaja tidak memberitahu putranya.

__ADS_1


__ADS_2