Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
28. Kejutan Lagi


__ADS_3

Kirana urung keluar kamar. Dia bergegas mendekat ke arah ranjang. Menghampiri gadis kecil yang tidur meringkuk memeluk guling.


Dengan pelan dia duduk di tepi ranjang agar Mentari tidak terganggu tidurnya. Kirana mendekap tubuh mungil itu. Menumpahkan kerinduan yang akhir-akhir ini begitu menggebu. Dia rindu rengekan Mentari, meminta ini itu tentang semua keperluannya. Rindu menyisir rambut panjangnya lalu dan mengepang seperti tokoh animasi idolanya. Rindu mendongengkan cerita sebagai pengantar tidurnya.


Malam ini, entah bagaimana sosok yang dirindukanya itu bisa dipeluk secara nyata. Kirana bukan sedang bermimpi. Dia bahkan mencubit pipinya untuk membuktikan bahwa Mentari benar-benar sedang berada dalam dekapannya.


"Mama boleh masuk, Wi?"


Kirana menoleh ke arah pintu. Ibu mertuanya tampak berdiri di ambang pintu dengan senyum hangat seperti biasa.


Kirana beranjak dengan pelan lalu menyusul ke pintu. Pelukan hangat kembali diterima dari sosok yang telah melahirkan laki-laki angkuh dan sekeras karang. Entah menurun dari siapa watak itu hingga menempel pada diri Tristan.


"Mama kenapa tidak bilang kalau mau ke sini?"


"Mentari yang minta untuk kejutan katanya. Mama pusing dia merengek terus minta ke sini. Tristan sepertinya sudah tidak peduli lagi sama anaknya. Waktunya dia habiskan di kantor. Entah apa yang dikerjakan sampai pulang larut malam setiap hari. Makanya Mama larang dia bawa Mentari pulang."


Kirana tidak tahu harus bereaksi apa keluhan ibu mertuanya. Dia tersenyum canggung yang lebih mirip seperti orang meringis.


Sebenarnya dia tidak tega jika Mentari akhirnya harus berada dalam pengasuhan omanya. Namun meminta Mentari tinggal bersamanya untuk saat ini bukan hal yang tepat. Hal itu bisa menjadi celah bagi Tristan untuk sering datang mengunjunginya. Dengan alasan menjenguk Mentari.


Sedangkan membiarkan Mentari tinggal bersama omanya, Kirana khawatir akn menjadi beban. Meski ibu mertuanya sama sekali tidak keberatan. Hanya saja, jika sudah merengek Mentari susah dibujuk.


Seperti saat sekarang. Jauh-jauh dia meminta datang ke rumah Kirana karena ingin mengantarkan sendiri kado ulang tahun untuk Kirana. Rasa haru pun tidak mampu disembunyikan Kirana. Mentari bahkan memgingat tanggall lahirnya yang entah diketahui dari siapa.


"Mas Tristan tahu Mama ke sini? tanya Kirana.


"Tidak. Dia sedang ke Batam. Proyek di sana sedang ada masalah. Katanya agak lama di sana." Bu Ratih menjeda ucapannya dengan helaan nafas kasar.


"Mama justru khawatir jika dia lama-lama akan tergoda dengan sekretarisnya. Sikap perempuan itu sudah tidak wajar. Berkali-kali Mama mengingatkan Tristan untuk memindahkan dia ke bagian lain. Tapi ada saja alasannya. Seolah-olah tidak ada orang lain yang lebih pintar dan sanggup menempati posisinya."


Mengingat Silvia, sejak awal Kirana memang muak dengan sikap perempuan itu. Mau protes pun tidak akan mungkin didengar. Lagi-lagi pasti akan dikaitkan dengan Elita. Hubungan satu darah yang membuat Silvia besar kepala karenaTristan akan selalu melindunginya.


Kirana membiarkan ibu mertuanya tetap berada di dalam kamarnya. Sementara dia pergi ke kamar mandi. Tubuhnya sudah tidak nyaman setelah seharian bepergian menghabiskan waktu. Bertemu dengan teman-temannya sedikit merefresh pikirannya.


Mengenakan piyama pendeknya, dia keluar dari kamar mandi. Rasanya tidak sabar ingin membuka kotak pemberian putrinya. Namun harus dia tahan karena ingin Mentari menemaninya saat membuka kotak itu. Dan sepertinya dia harus menunggu sampai pagi karena Mentari terlalu nyenyak untuk diganggu.

__ADS_1


Kirana pun menyelonjorkan kakinya di atas matras. Berseberangan dengan ibu mertuanya dengan Mentari sebagai sekat. Malam ini mungkin mereka akan berjubel tidur dalam satu ranjang. Dan membiarkan kamar tamu kosong.


Pergi seharian penuh dan menyetir pulang pergi ternyata membuat Kirana merasakan otot-ototnya kaku setelah semua aktifitasnya hari ini punggung dan kakinya terasa pegal hingga dia harus mengoleskan roll on nyeri.


Bibirnya mendesis saat merasakan perutnya seperti diremas. Sakit yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Kirana menekan perutnya sembari meringis kesakitan.


"Wi! Kamu kenapa?" tanya Bu Ratih panik melihat wajah Kirana yang menahan sakit.


"Sakit, Ma."


"Belum makan?"


Kirana menggeleng


"Datang bulan?" tanya Bu Ratih lagi karena dua hal itu kemungkinan penyebab sakit perut. Namun Kirana kembali menggeleng. Dia masih menekan perutnya menahan sakit. Dam Bu Ratih tampak semakin panik karena Kirana wajah Kirana semakin memucat.


Bu Ratih pun keluar dari kamar. Menemui orang yang paling mengerti tentang riwayat hidup Kirana daripada dirinya. Memberitahukan jika sesuatu telah terjadi pada Kirana.


"Kamu makan apa, Nduk sama teman-temanmu?"


Bu Ambar mengusapkan minyak ke punggung dan perut Kirana. Dengan harapan bisa mengurangi rasa sakit. Selama ini Kirana tidak pernah mempunyai pantangan dalam makanan. Dia juga jauh dari masalah pencernaan.


Kepanikan dua wanita itu pun belum kunjung usai melihat Kirana semakin kesakitan. Hingga memabngunkan anak kecil yang terlelap di samping Kirana.


"Bunda kenapa Oma?" tanya Mentari dengan polos.


"Bunda sakit perut."


Mentari pun langsung diam. Dia mendekat dan mengusap punggung Kirana yang tidur meringkuk.


"Bunda jangan nangis!" ujarnya lalu mengusap sudut mata Kirana.


Menahan sakit yang luar biasa itu tanpa sakit yang luar biasa itu tanpa sadar Kirana mengeluarkan air matanya.


Kedua wanita paruh baya itu pun memutuskan membawa Kirana ke dokter. Sama-sama merasa memiliki peran yang penting bagi Kirana, mereka sempat berebut untuk mengantar Kirana. Pak Restu yang heran dengan dua wanita itu meminta mereka untuk ikut. Begitu juga dengan Mentari.

__ADS_1


Sesampai di tempat praktek dokter, antrian mengular. Bu Ambar tidak sanggup melihat Kirana yang terus-terusan merintih. Dia pun meminta Pak Restu mengantar ke rumah sakit terdekat agar Kirana segera mendapat tindakan.


Sepuluh menit menempuh perjalanan mereka tiba di rumah sakit. Kirana digeledek ke ruang IGD dengan brankar. Sementara para orang tua berbagi tugas mendaftar dan menemani Kirana.


Serangkaian pemeriksaan di IGD pun dilalui oleh Kirana. Ditemani ibunya dan ibu mertuanya. Pak Restu yang meminta. Biar adil dan menghindari perdebatan yang tidak penting.


"Apa yang terjadi dengan anak kami, Dok?" tanya Bu Ratih.


"Kemungkinan ada masalah dalam kandungannya."


Jawaban dokter jaga itu mengejutkan BU Ratih dan Bu Ambar. Bayangan beberapa kemungkin Kirana menderita penyakit dalam rahimnya pun menghantui mereka. Namun keduanya memutuskan untuk diam dan menemui Kirana yang akan melakukan USG. Seolah tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan.


"Selamat , ya. Usia kandungannya empat minggu." ucapan dokter itu membuat Kirana mengernyit.


"Maksud Dokter.... saya hamil?


Dokter wanita itu tersenyum mengangguk. "Iya. Tapi harus bedrest, ya. Janinnya sangat lemah. Kita usahakan agar bisa dipertahankan."


Rasa haru tiba-tiba menyergap. Cairan bening itu pun berkumpul di sudut mata hingga akhirnya menitik tanpa mampu ditahan. Begitu juga dengan kedua wanita yang seketika memeluk Kirana.


Setelah melalui semua tindakan, kini Kirana sudah berada di ruang rawat. Semua berkumpul dengan perasaan haru bercampur bahagia. Ada Pak Restu yang terlihat tenang sambil menggendong Mentari, meski pancaran kebahagiaan itu tampak jelas. Bu Ambar dan Bu Ratih yang siap melayani Kirana. Kedatangan calon bayi dalam kandungan Kirana seolah begitu istimewa bagi mereka.


"Kamu tidak ingin membagi kebahagiaan ini dengan suamimu?" tanya Bu Ambar. Bagaimanapun juga Tristan berhak tahu tentang kehamilan Kirana.


Kirana pun menatap ibu mertuanya .


"Mama terserah kamu saja." ujar Bu Ratih kendati Kirana tidak berucap, namun dia tahu jika menantunya itu tengah meminta persetujuan.


"Nana akan tetap melanjutkan rencana semula," putus Kirana dengan yakin.


"Kehamilan tanpa didampingi suami itu nggak mudah, Nduk. Apalagi dengan kondisimu seperti sekarang ini."


"Nana bisa, Bu,."


Bu Ambar pun terdiam. Putrinya jika sudah punya niat memang sulit untuk digoyahkan.

__ADS_1


__ADS_2