
Kegugupan sepertinya masih enggan meninggalkan Tristan saat berada dalam satu ruangan dengan Kirana. Terlebih pemilik kamar itu sepertinya sengaja mengabaikannya. Kirana tidak mengajak bicara sejak Tristan masuk ke kamar itu bahkan kini tampak acuh membuka lemari kemudian masuk ke kamar mandi membawa baju ganti.
Selang beberapa menit, Kirana keluar dari kamar mandi. Gamisnya telah berganti dengan home dress pendek selutut dengan rambut dicepol memperlihatkan kulit leher yang putih bersih.
Tanpa disadari oleh Kirana, ekor mata Tristan mengikuti ke mana pun arah geraknya.
Kirana cantik, meski tidak berlebihan. Tinggi badannya hanya rata-rata. Namun semua bagian tubuhnya terlihat pas. Kirana mendadak tampak menarik dalam penglihatan Tristan. Daster batik yang tipis memperlihatkan lekuk tubuh yang indah Juga sepasang squishy yang menantang begitu menggemaskan. Terlihat besar dengan postur tubuh Kirana yang mungil. Ah! Sepertinya otakku mulai kotor, pikir pria itu.
"Mentari apa kabar, Mas?" tanya Kirana memecah keheningan seraya menghempaskan diri ke atas tempat tidur. Lalu dia duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Dua hari ini dia demam," jawab Tristan.
"Kenapa justru kamu tinggal ke sini?" tanya Kirana dengan pandangan fokus pada layar ponsel yang baru dibukanya.
"Dia selalu menanyakan kamu."
"Ooh. Jadi itu alasan kamu ke sini?"
"Salah satunya," jawab Tristan dengan kegiatan yang sama. Ponsel memang alat paling ampuh untuk mengalihkan perhatian saat seseorang tidak ingin menatap lawan bicara. Kirana sepertinya masih marah padanya. Tristan pun harus menyadari jika dia memang sudah sangat keterlaluan, marah dan mengusir Kirana dari rumah.
"Ada alasan lainnya?"
Tristan beranjak dari sofa panjang yang sejak tadi didudukinya. Kemudian berpindah ke ranjang bersisian dengan Kirana. Lirikan tajam dari istrinya dia abaikan.
"Ada yang ingin saya katakan padamu."
"Katakan saja," balas Kirana masih enggan menatap suaminya.
Kirana menoleh saat jemarinya diraih oleh Tristan. Sedetik kemudian rasa hangat menjalar melalui genggaman tangan itu. Kirana baru menyadari wajah Tristan yang sudah begitu dekat. Mungkin pria itu merasakan tangan Kirana yang mendadak dingin karena gugup. Genggaman tangan itu terasa semakin erat.
Tidak ada kata yang terucap. Hanya netra yang telah bertemu. saling tatap dan mencoba menyelami isi hati masing-masing. Namun Kirana tak senyali itu untuk terus beradu pandang dengan Tristan. Dia pun membuang wajah ke sembarang arah.
"Kirana!"
__ADS_1
Mendengar namanya terucap dari bibir kemerahan itu, rasanya seperti tersiram air es. Mungkin ini pertama kalinya Tristan menyebut namanya terkecuali saat akad nikah.Terdengar begitu lembut hingga masih terngiang meski sudah berlalu beberapa detik.
"Lihatlah ke marii, Istriku!"
Blush! Pipi Kirana mungkin sudah semerah cherry saat Tristan mengangkat dagunya dan memaksa dia untuk kembali menatap mata elang itu. Tangan Kirana semakin dingin dan genggaman Tristan pun semakin erat.
"Saya ingin …."
Sedetik, dua detik, Tristan tak juga melanjutkan ucapannya. Namun tatapan mata Tristan tak beralih dari wajah Kirana yang masih merona.
"Ingin …. apa, Mas?" tanya Kirana semakin gugup.
"Ingin memelukmu, boleh?"
Bibir Kirana menipis. "Sejak kapan ada larangan suami memeluk istrinya?"
Tristan pun melengkungkan bibirnya. Dia merengkuh bahu Kirana dan membawa dalam dekapannya.
Kirana merasakan sebuah sentuhan yang terasa lama mendarat di dahinya. Menyalurkan sebuah energi yang kemudian mengalir membersamai aliran darahnya. Cinta, mungkin semacam itu. Kirana tidak mampu mendefinisikannya. Yang dia rasakan saat ini hatinya memgembang atas perlakuan suaminya.
Kirana pun mengangguk dalam dekapan suaminya.
Tembok keangkuhan Tristan telah runtuh. Kirana hanya tidak bisa sedikit bersabar menunggunya. Atau memang kehilangan yang sementara itu yang menyadarkan Tristan. Namun mungkin juga karena … Mentari. Tristan melakukan ini semua demi Mentari.
Kirana tidak boleh lupa bahwa Tristan bisa melakukan apa pun untuk Mentari. Termasuk bersandiwara sedemikian rupa. Bukankah selama ini mereka sudah sering melakukannya di depan Mentari?
Dugaan itu pun semakin menguat. Saat Tristan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Mentari. Melakukan panggilan video call. Sebagai bukti bahwa dia telah bertemu dengan Kirana. Anak kecil di seberang telepon seolah tak lagi merasakan sakit yang sudah dua hari ini menyerangnya.
Mentari berceloteh panjang lebar. Meminta Kirana untuk segera pulang ke rumah mereka. Dan lagi, meminta dibawakan adik kecil. Itu sudah pasti bujukan dari omanya.
"Iya. Nanti Papa sama Bunda pulang bawa adik buat Mentari. Mentari sama Oma dulu, ya. Adiknya mau dibikin dulu," ujar Tristan diiringi lirikan tajam Kirana.
Anggukan kepala Mentari terlihat di layar mendengar ucapan ayahnya.
__ADS_1
"Dua ya, Pa," balas Mentari dengan polos yang diiyakan oleh Tristan.
Kirana beringsut ke tepi ranjang saat Tristan menutup panggilan dan meletakkan ponselnya ke atas nakas.
"Skill berbohongmu semakin mahir ya, Mas?" sarkasnya.
"Kali ini saya tidak berbohong!" jawab Tristan.
Kirana kembali terhempas ke atas ranjang. Dia menatap pelaku yang menarik tangannya dengan sedikit kesal.
Namun kekesalan itu berubah menjadi kegugupan saat Tristan menatapnya lekat dan mendekatkan wajah mereka.
"Saya punya hak atas diri kamu, bukan? Boleh saya ambil?"
Pertanyaan itu membuat Kirana kelu. Kedua matanya seketika memejam saat wajah Tristan semakin dekat bahkan tak lagi berjarak. Dia merasakan benda kenyal menempel di bibirnya dan perlahan ********** dengan lembut. Detak jantungnya seolah berpacu lebih cepat.
Tristan begitu pandai menuntun Kirana untuk mengikuti permainan bibirnya. Hingga Kirana larut dan begitu menikmati sensasi yang baru pertama kali dirasakannya.
Kirana pun menarik diri karena nyaris kehabisan nafas. Dia yakin pipinya kini kembali merona. Pandangannya jatuh saat Tristan menatapnya seraya mengulum senyum.
"Cantik." Pujian itu justru membuat Kirana ingin menenggelamkan diri di dalam selimut. Sayang tangannya tertahan saat dia hendak beringsut mengambil kain tebal di ujung ranjang.
"Tidak sekarang, Kirana. Saya tahu kamu butuh waktu untuk menerima saya."
Huft! Kirana pun bernafas lega. Tristan ternyata begitu tahu kerisauan yang ada dalam pikiran
"Tapi nanti malam. Pakailah yang merah." Tristan berbisik kemudian mengedipkan sebelah matanya.
Dahi Kirana mengernyit. "Merah?"
"Hmm. Saya tahu kamu sudah menyiapkan banyak pakaian untuk memanjakan saya."
Kirana mendesah pelan saat tahu maksud ucapan Tristan. Beberapa baju dinas malam memang tersimpan dalam kopernya waktu itu. Tapi dari mana Tristan tahu?
__ADS_1
Kirana mendesah pelan. Saat menyadari Tristan telah beranjak dari ranjang dan terlihat sedang membuka pintu kamar. Kemudian menghilang di balik pintu.
Sesaat kemudian, bibirnya melengkung. Rasanya masih sulit dipercaya secepat itu sikap Tristan berubah. Kirana mengusap bibirnya, otaknya reflek memutar kembali kejadian beberapa menit lalu. Jejaknya masih begitu terasa bahkan mungkin tidak bisa dia lupakan selamanya.