
Tristan menatap sendu Kirana yang masih juga belum sadarkan diri. Di tangannya tertancap selang infus dan sebuah selang yang mengalirkan cairan merah dari kantong darah.
Menurut penuturan dokter, istrinya mengalami pendarah yang begitu hebat. Dia kehilangan banyak darah dan membuatnya syok. Bahkan sejak beberapa jam operasinya selesai, Kirana belum juga sadar.
Kecemasan semakin detik semakin merongrong Tristan. Rasa yang juga sama saat dia duduk di samping Elita di akhir hayatnya. Tristan ingin menghujat, kenapa harus dirinya yang diuji dengan kehilangan orang tercinta. Saat dia sudah merelakan kepergian istri pertamanya, sekarang dia justru kembali dihadapkan pada ketakutan itu. Takut jika Kirana tidak akan pernah bangun lagi selamanya. Pikiran buruk itu ingin dia enyahkan. Namun Tristan tidak mampu.
Mungkin dirinya memang bukan pria baik. Sehingga kebahagiaan yang baru saja sekejap dirasakan selalu saja dirampas. Tristan kembali menyalahkan dirinya sendiri. Yang tidak mampu menjaga istrinya dengan baik.
"Na!" bisik Tristan pilu tepat di telinga Kirana.
Nyatanya istrinya masih saja terpejam. Tristan mengusap pipi yang benar-benar seperti bakpao, putih dan mengembang. Entah sentuhan bibir yang ke berapa dia daratkan di atas kulit yang terasa kenyal itu. Namun tak juga membuat istrinya membuka mata. Meski sebelumnya Kirana sangatlah peka. Hembusan nafas Tristan yang menyapu wajahnya saja bisa membangungkan Kirana. Bibir pria itu melengkung getir. Kirana benar-benar sangat lelap.
"Bangun, Sayang! Kamu nggak ingin melihat anak kita? Dia tampan sekali," racaunya terdengar begitu menyayat hati Bu Ratih yang duduk di sofa menunggu cucunya.
Tangis bayi di dalam box membuatnya terkesiap. Seolah berlomba, dia beranjak dari samping Kirana bersamaan dengan sang mama.
Bu Ratih pun mengalah. Membiarkan Tristan menggendong bayinya untuk memberikan botol susu. Satu-satunya hal yang bisa menghibur Tristan agar tidak terlalu larut dalam ketakutannya.
"Kayaknya susunya terlalu dingin, dia nggak mau minum, Ma," kata Tristan karena bayinya menolak dot yang diberikannya. Dan justru menangis semakin kencang.
"Coba sini Mama yang ngasih. Mungkin dia belum pandai untuk menghisap."
Bu Ratih mengambil bayi yang usianya belum genap sehari itu dari gendongan Tristan. Kemudian mencoba memasukkan dot ke dalam mulut mungil itu. Namun kembali ditolaknya. Bu Ratih pun ikut panik saat tidak mampu menenangkan bayi yang kembali menangis itu.
__ADS_1
"Ugh! Sayang! Mau gendong Papa lagi?"
Tristan mengambil kembali bayi laki-laki itu dari gendongan mamanya. Menggendong dengan menyandarkan kepala bayi di bahunya membuat Bu Ratih memekik karena khawatir.
Ditimangnya bayi itu sambil mengusap punggung kecilnya. Perlahan tangisnya reda, entah karena sudah merasa nyaman atau mungkin karena capek. Namun saat hendak diletakkan kembali ke dalam box, bayi itu kembali menangis. Tristan pun menggendong kembali anaknya. Tidak mungkin dia membiarkan mamanya yang terlihat lelah harus menggendong bayinya. Bahkan hingga dini hari, wanita itu masih saja ikut terjaga.
"Tidur aja, Ma. Jangan ikut-ikutan begadang."
Dalam keadaan kondusif saja Bu Ratih sering kali terjaga tengah malam lalu tidak bisa tidur lagi sampai subuh. Apalagi saat harus melihat putranya yang begitu kacau. Rasa kantuk pun seolah enggan singgah. Sejak tadi dia tidak lepas mengamati Tristan yang meratapi keadaan Kirana. Jangankan mengasup makanan, sekedar minum pun Tristan tidak ingat.
"Kamu makan dulu, ya. Ada makanan tadi dibawain Tante Tiara," bujuk wanita itu.
Tristan menggeleng. Sepanjang menunggu Kirana hanya kenyang yang dia rasakan. Dia tidak ingin apa pun, selain terbukanya mata sang istri.
Bu Ratih membuka kotak makanan yang dibawakan oleh adiknya sore tadi saat membesuk. Nasi dan lauk terpisah sehingga meski sudah berjam-jam kondisinya masih bagus.
Wanita itu benar-benar menyodorkan sendok berisi nasi dan potongan ayam ke depan mulut anaknya. Pria dewasa yang bahkan sudah tumbuh bulu di rahangnya itu membuka mulut. Dan berusaha mengunyah makanan meski terasa hambar.
"Udah, Ma." Tristan menolak suapan kedua. Dia kembali menimang bayinya berjalan ke sana ke mari di ruangan serba putih itu saat terdengar rengekan kecil dari sang bayi.
Lambat laun, tubuhnya yang memang sudah terlalu itu pun menyerah. Meminta haknya untuk diistirahatkan meski sejenak. Tristan mendekat ke arah bed. Mengecek keadaan Kirana meski masih terlihat belum ada yang berubah.
"Tidur sama Mama, ya." Tristan berbicara pada bayinya sebelum meletakkannya ke samping Kirana. Jangankan melakukan skin to skin, melihat anak yang dilahirkannya saja Kirana belum sempat. Mungkin apa yang dilakukan Tristan adalah sentuhan pertama ibu dan bayi itu.
__ADS_1
"Dijaga, takut kalau jatuh," ujar Bu Ratih mengingatkan.
Tristan mengiyakan. Meski terjatuh hal yang sangat kecil kemungkinannya. Karena bayinya belum bisa menggerakkan tubuh untuk berpindah tempat. Dan Kirana juga hanya bisa berdiam diri di tempatnya berbaring.
"Bangun dong, Sayang. Kamu dengar suara anak kita, kan?"
Seperti mendapat kehangatan di antara lengan dan tubuh ibunya, bayi mungil itu pun terlihat tenang. Sembari menyusu dari botol yang dipegang oleh Tristan dengan lahapnya.
Tristan mengamati gerak mulut kecil yang terlihat begitu menggemaskan. Pipinya merah terlihat bulat seperti Kirana. Hidungnya menyerupai miliknya. Namun bibir yang tengah menghisap botol itu duplikasi bibir Kirana. Bobot lahirnya 4,1 kilogram membuatnya terlihat seperti bayi berusia dua bulan. Itu mengapa perut Kirana pun begitu besar saat mengandung.
Lambat laun rasa kantuk pun menyergapnya. Kedua mata Tristan pun perlahan memejam.
Tristan tersentak saat mendengar suara bayi menangis. Dia mengerjapkan mata dan melongok jam yang melingkar di lengannya. Jam 4 pagi, entah berapa lama dia terlelap karena terlalu lelah. Dia menoleh ke arah bed penunggu. Mamanya terlihat tenang dengan mata terpejam.
Tristan pun mengecek popok bayinya yang sudah penuh. Rupanya bayinya menangis karena sudah saatnya dia mengganti popok.
Seusai mengganti popok, Tristan membuatkan susu. Pekerjaan itu sudah tidak canggung lagi dilakukannya. Dia sudah terlalu terlatih karena anak pertamanya pun tidak memakai jasa baby sitter.
Mulut kecil itu merengek saat kesulitan mendapatkan posisi dot yang pas. Tristan harus mencoba berulang-ulang hingga ujung dot terhisap sempurna oleh bayinya. Dan sedikit demi sedikit isi dot menyusut
Tatapaan Tristan tertuju pada bola mata indah yang sepertinya masih enggan bangun. Kendati tangannya masih memegang botol susu. Satu tangannya terulur mengusap pipi cubby Kirana.
"Selamat pagi, Sayang," ucapnya dengan senyum meski suaranya terdengar pilu.
__ADS_1
Belum ada tanda-tanda jika Kirana akan terjaga. Wanita masih tenang dalam tidurnya. Bahkan tangis bayi yang tadi membangunkan Tristan pun sepertinya tidak terdengar oleh Kirana.