
Tristan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Hidup semakin hampa saat Mentari tak lagi tinggal bersamanya. Waktunya sengaja dia habiskan di kantor dan selalu pulang larut malam membuat mamanya melarangnya membawa pulang Mentari karena gadis kecil itu pasti sudah terlelap. Lambat laun Tristan semakin terbiasa membiarkan putrinya tinggal di rumah utama. Dan hidup dalam kesepian di temani kenangan.
Tristan menatap foto yang tergantung di dinding ruang kerjanya. Foto Elita bersama dirinya yang mengenakan baju casual saat mereka baru menikah. Tatapannya pun kemudian beralih pada layar di tangannya. Foto wanita berjilbab yang diambil dari akun media sosial milik wanita dalam foto itu. Demi apa Tristan sampai rela stalking akun Kirana yang isinya melulu tentang jualan baju karena akun pribadinya diprivate. Beberapa foto Kirana dia temukan di sana. Salah satunya yang sengaja diambilnya.
Andai Kirana tahu, dia sedang berjuang mati-matian membuka hati untuk istrinya itu. Andai Kirana tahu, setiap malam Tristan dibayangi rasa bersalah atas perlakuannya.
Keputusan Kirana untuk mengakhiri semuanya tentu saja membuatnya kecewa. Merasa usahanya tidak dihargai. Kirana yang konon katanya mempunyai kesabaran seluas samudera ternyata hanya omong kosong mamanya. Karena nyatanya, perempuan begitu mudah menyerah. Bahkan di saat Tristan sedang berusaha menurunkan egonya dan tetap ingin mempertahankan pernikahan mereka. Tapi kesempatan itu tak lagi diberikan untuknya. Terlalu dini jika dikatakan terlambat. Usia pernikahan mereka baru seumur jagung.
Sifat sabar tanpa batas itu justru dimiliki oleh Silvia. Tidak pernah mengeluh atau protes meski kerap mendapat perlakuan yang menyakitkan. Kerap mendapat ucapan pedas namun Silvia tidak pernah sakit hati karenanya. Tidak hanya paras yang mirip, namun kesabaran Silvia menghadapinya tidak jauh berbeda dengan Elita.
Meski berulang kali ditolak perasaannya Silvia tidak pernah menyerah. Tak pernah meninggalkannya sejengkalpun. Tetap profesional dalam pekerjaannya tanpa melibatkan masalah pribadi.
Tristan menyuruh masuk seseorang yang mengetuk pintu ruangannya. Dengan malas dia menegakkan punggungnya. Jam kerja sudah berakhir, entah siapa yang masih bertahan di kantor.
"Nggak pulang lagi, Mas?" Silvia muncul dari balik pintu. Berjalan mendekat ke arah Tristan.
"Aku boleh nginap di rumah nggak, Mas? Kangen sama Mbak Elita."
Saat masih ada Elita, Silvia memang kerap menginap di rumah Tristan Bahkan lebih banyak tinggal di sana daripada di tempat kost.
"Saya pulang ke rumah Mama," sahut Tristan.
"Jadi boleh, aku tidur di rumah?"
Tristan berdehem sebagai jawaban. "Sekalian besok kamu bersih-bersih. Sudah seminggu nggak dibersihkan," sambung Tristan sambil beranjak menuju ke mejanya untuk membereskan barang-barangnya.
"Ya ampun! Kenapa nggak minta tolong Bi Elis, Mas?"
"Bi Elis sakit "
Tristan menenteng tas kerjanya meninggalkan Silvia. Wanita itu pun bergegas mengikuti Tristan dan berjalan beriringan menuju ke lift.
Hanya mereka berdua di dalam.kotak besi itu. Masih dengan berdiri berdampingan. Silvia memang terlalu nekat. Tak segan menempel pada laki-laki yang berstatus bosnya. Sekalipun dia kakak iparnya. Wanita itu terlampau percaya diri. Memiliki wajah yang tergolong cantik dan tinggi badan semampai berharap Tristan akan tergoda olehnya. Jika disandingkan keduanya tampak serasi. Bahkan banyak karyawan yang mengira jika Tristan akan turun ranjang melihat hubungannya dengan Silvia yang begitu dekat.
Mereka berpisah di tempat parkir. Masuk ke dalam.kendaraan masing-masing dengan tujuan yang berbeda. Silvia ke rumah Tristan. Sedangkan Tristan pergi ke klub. Memenuhi undangan party dari Daniel.
__ADS_1
Hingar bingar suara musik memekakkan telinga menyambut kedatangannya. Daniel memesan VIP room untuk party. Dialam ruangan sudah ada beberapa kawan mereka. Tristan menolak saat seorang wanita dengan pakaian minimalis menyambutnya. Rupanya Daniel menyewa beberapa wanita untuk menemani mereka. Satu orang satu wanita.
"Mau ke mana, Bro! Baru juga masuk!" sergah Daniel saat Tristan hendak keluar dari ruangan itu.
Atas dasar pertemanan dan menghargai undangan Daniel, Tristan pun masuk kembali. Dengan syarat dia tidak mau ditemani salah satu dari wanita-wanita yang ada dalam ruangan itu. Seberapapun mereka menggodanya, Tristan lebih memilih menuangkan minumannya sendiri.
"Dokter Alan bilang, Mas nggak boleh minum minuman beralkohol lagi." Ucapan itu tiba-tiba kembali terngiang.
Tristan pun kembali mengumpat. Dan menuangkan kembali isi botol ke dalam gelas. Bayangan Kirana seolah menari-nari di pelupuk mata. Dia pun mulai meracau mengumpat habis perempuan itu.
Tubuhnya yang sudah tak berdaya, tergeletak di sofa. Daniel terkekeh melihat Tristan yang tidak pernah bisa bertahan saat minum. Baru sedikit saja pria itu sudah tumbang.
Meski dengan tubuh terhuyung, Daniel membantu Tristan berdiri. Tiugasnya kali ini mengantar temannya itu pulang. Meski dalam kondisi mabuk, Damiel masiih bisa sanggup menyetir sampai mengantar Tristan ke rumah.
Dia harus menekan bel berulang-ulang untuk membangunkan penghuni rumah. Bahkan sampai menggedor-gedor pintu karena tak kunjung dibukakan pintu.
Hingga akhirnya pintu terbuka. Dan sosok perempuan muncul berdiri di belakang pintu.
"Sorry, gue nganter suami lo!" ujar Daniel yang terdengar seperti orang meracau.
"Temani saya, Kirana!" Tristan menarik lengan Silvia hingga jatuh tersungkur menimpa tubuhnya.
"Mau ke mana kamu?" Tristan mendekap tubuh Silvia.
"Aku Silvia, Mas!"
"Saya butuh kamu, Kirana!" racau Tristan tanpa peduli ucapan Silvia.
Silvia pun mendengus pelan. Dia menyeringai saat sebuah ide tiba-tiba melintas di kepalanya.
"Iya, Mas. Saya nggak ke mana-mana," balasnya sambil membalas dekapan Tristan.
****
Tristan memijit kepalanya sambil mengernyit. Lengannya terasa kebas karena sebuah benda menimpa. Perlahan dia mengerjapkan mata. Tristan terperanjat saat mendapati Silvia tengah terlelap berbantal lengannya dan menjadikan tubuhnya sebagai guling.
__ADS_1
Semakin terkejut saat mendapati dirinya tanpa sehelai benang. Kemeja dan celananya telah terlepas dan teronggok di lantai. Tersisa celana boxer masih melekat menutup bagian bawah tubuhnya. Sedangkan perempuan yang masih terlelap di sampingnya.mengenakan baju malam tanpa lengan memperlihatkan kulit tubuhnya yang putih susu.
"Sial!" umpatnya.
"Engghh!" Silvia menggeliat beberapa detik kemudian dia membuka mata.
"Pagi, Mas." ucapnya dengan senyum. Bertolak belakang dengan wajah Tristan yang kacau.
Dia semakin panik saat mendengar bunyi bel di rumahnya menjerit-jerit. Dan juga suara anak kecil berteriak di depan rumah.
"Mentari!" ucapnya panik.
Tristan melongok jam yang menempel pada dinding kamar yang sudah menunjuk angka sembilan. Dia sudah berjanji membawa Mentari jalan-jalan pagi ini. Namun rencana itu sepertinya akan kacau. Mentari tidak mungkin pulang ke rumah sendirian.
Dengan menahan kepala yang masih terasa berat, Tristan beringsut turun dari ranjang lalu mengenakan kembali celana panjang dan kaos dalamnya. Dia keluar dari kamar itu tanpa mempedulikan Silvia yang masih bergelung dalam selimut.
Klek! Tristan menarik gagang pintu.
Mentari tersenyum lebar lalu menghambur ke arahnya. Meminta untuk di gendong.
"Papa baru bangun?"
"Iya," jawab Tristan sambil berjalan membawa Mentari masuk ke dalam rumah diikuti oleh Bu Ratih.
Mentari menolak saat Tristan ingin mencium pipi cubbynya.
"Papa bau!"
Tristan pun terkekeh. Lalu menurunkan Mentari di sofa.
"Papa mandi dulu, ya, " ujarnya kemudian.
Pria itu menaiki tangga menuju ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti didepan pintu kamarnya saat mendengar suara mamanya.
"Silvia ada di sini?" Pertanyaan itu membuat tubuhnya membeku.
__ADS_1