Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
87. Si Gemoy


__ADS_3

Acara aqiqah Samudra baru saja usai. Tamu undangan sudah pulang, tersisa beberapa kerabat dekat yang masih ingin berlama-lama di rumah itu untuk sekedar mengobrol melepas rindu.


Kirana menemani ibunya yang tengah memangku Samudra. Seolah tidak rela jika hari ini menjadi hari terakhirnya berada di rumah besan. Karena ayah dan ibu Kirana akan kembali ke kampung. Harus berpisah dengan cucu pertamanya menjadi hal paling berat. Meski sudah satu minggu membersamai cucunya.


"Ibu tinggal di sini dulu saja, Ayah biar pulang duluan."


Saran Kirana tentu saja ditolak. Meski sudah 27 tahun menikah, Kirana tahu jika ayahnya tidak bisa jauh dari ibunya. Begitu pun sebaliknya. Hal itu yang selalu membuat Kirana kagum. Dan dia memimpikan seorang suaminya yang seperti ayahnya.


Saat awal pernikahan, Kirana tak yakin jika dia akan merasakan bagaimana rasanya begitu dicintai suami seperti yang dirasakan ibunya. Namun, semakin bertambah usia pernikahannya, Tristan benar-benar berubah. Dia yang dulu tidak dianggap, kini merasakan cinta yang begitu dalam dari suaminya.


"Sayang, ada Lucky sama Silvia di depan!" panggil Tristan yang datang dari ruang tamu.


"Iya, Mas. Temani mereka dulu. Nanti aku nyusul ke depan," sahut Kirana. Dia merapikan kerudung yang tadi dilepasnya karena merasa gerah.


"Silvia? Maksudnya perempuan yang pernah kamu ceritakan itu?" tanya ibu Kirana setelah menantunya tidak terlihat lagi.


Kirana tertegun. Ternyata ingatan ibunya memang sangat kuat. Mendengar nada bicara yang sedikit sinis, dia mengkhawatirkan sesuatu. Mengingat ibunya terkadang bisa sedikit bar-bar.


"Iya. Tapi hubungan kamu sudah baik kok, Bu. Silvia juga sudah menikah dengan temannya Mas Tris," jawab Kirana.


Namun di luar dugaannya, ibunya beranjak dari sofa dan pergi ke depan sambil menggendong Samudra. Kirana yang sejak tadi duduk di kursi roda pun memutar kursi roda untuk menyusul ibunya.


"Ibu mau ngapain?" tanya Kirana cemas sambil mengikuti ibunya.


Dia ikut berhenti saat ibunya menghentikan langkah dan mengintip ke ruang tamu. Kirana menunggu di belakangnya dengan was-was.


"Itu yang namanya Silvia?" tanya ibu Kirana. Kirana pun mengangguk pelan meski belum melihat siapa yang ada di ruang tamu.


"Pantas kamu cemburu. Cantik begitu," ujar wanita itu kemudian lalu kembali ke dalam.


Kirana bernafas lega. Dia sudah terlanjur berpikir berlebihan jika ibunya akan berbuat macam-macam.

__ADS_1


Ibunya memang benar, Silvia cantik. Bahkan saat hamil dia terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Kirana justru heran kenapa Tristan menolak Silvia. Padahal dari segi rupa, Silvia sangat mirip dengan kakaknya.


Kirana menggeleng. Membuang pikiran konyolnya. Dulu dia sering kali dibuat cemburu oleh Silvia, tapi mendadak dia berpikiran aneh. Jika Tristan mau dengan Silvia tentu saja dia akan kehilangan Tristan selamanya. Atau bahkan tidak pernah bertemu dengan suaminya itu.


Cup!


Kirana tersentak. Dia memukul lengan suaminya yang mendaratkan bibir tiba-tiba. Lucunya Kirana, yang masih saja malu saat Tristan menciumnya di sembarang tempat.


"Memikirkanku?"


Kirana mencebik mendengar pertanyaan Tristan yang sama sekali tidak meleset.


"Sok tahu ah!"


Tristan tertawa pelan. "Tentu saja aku tahu. Yang ada dalam pikiranmu cuma aku."


Kirana melengos sambil melajukan kursi rodanya. Sepasang lengan Tristan mencengkeram kursi roda itu dan membantunya mendorong kursi roda itu ke depan.


Lucky dan Silvia terlihat duduk bersisian. Pujian ibunya tadi tidak salah. Silvia yang mengenakan kaftan dan rambutnya yang bergelombang itu terlihat sangat cantik dengan make up natural.


"Iya. Nggak apa-apa," sahut Kirana diiringi senyuman.


"Kelamaan nyari kado jadi nggak ikut pengajian," balas Silvia sambil mengurai pelukan.


Kirana melihat sebuah mobil aki range rover merah tergeletak di ruang tamu. Kado yang dibawa Lucky dan Silvia untuk Samudra.


"Makasih ya, Sil." ucap Kirana.


"Hmm. Mana Sam?" tanya Silvia yang ingin sekali menggendong bayi montok yang menggemaskan itu.


Kirana pun meminta Tristan mengambil mereka yang mungkin masih digendong sang nenek. Sejak acara berlangsung tadi, Kirana bahkan belum sempat menggendong bayinya. Karena Samudra menjadi rebutan saudara-saudara Tristan yang datang ke acara itu.

__ADS_1


"Aku mau gendong, Mas?" Silvia beranjak dari sofa karena tak sabar ingin menggendong Samudra. Dia mengambil bayi itu dari gendongan Tristan. Kemudian mengajak bercengkerama sambil menimangnya.


"Eh, dia senyum," Silvia memekik saat bibir mungil itu tertarik ke samping. Lucky pun mendekat ingin tahu. Sepertinya pria itu sudah berubah. Lebih memperhatikan Silvia dan kandungannya. Badan Silvia yang lebih berisi dan pipinya yang tak lagi tirus menunjukkan jika kondisi Silvia sudah jauh lebih baik.


"Kalau anak gue perempuan nanti kita jodohin mereka, ya." Lagi-lagi Lucky melempar candaan yang langsung dibantah oleh Tristan.


"Nggak. Gue nggak mau besanan sama lo." sahut Tristan.


"Ya udah, gue doain aja biar anak kita jodoh. Lo nggak lihat emaknya cantik begini, bapaknya jangan ditanya. Kalau anak gue perempuan udah pasti cantiknya pakai banget."


Tristan mendecih. Silvia yang duduk di samping Lucky seolah tak terganggu dengan ucapan suaminya. Dia sibuk menimang Samudra sambil mengajak berbincang bayi yang baru bisa menangis itu.


"Bang! Disuruh Tante Ratih ke dalam. Makan!" Suara Nabila menyela pembicaraan mereka. Menyuruh Lucky dan Silvia masuk ke dalam.


"Sama lo juga, Na. Kata ibu lo dari tadi lo belum makan. Ingat, ibu menyusui harus banyak makan biar asinya tumpah-tumpah," cerocos Nabila kemudian


"Sok tahu banget lo, Bil. Kek udah pernah punya bayi aja," timpal Lucky.


"Ya gue kan baca artikel, makanya tahu."


Lucky terkekeh. "Udah siap kawin nih kayaknya. Bacaannya udah tentang ibu hamil aja."


"Kawin mah siap kapan aja, Bang," jawab Nabila asal. "Sini, si gemoy biar sama gue dulu, Sil!" ujarnya kemudian mengambil bayi dari gendongan Silvia. Meski tidak rela, Silvia membiarkan Nabila mengambil Samudera dari gendongannya.


"Hai, everyone!" Suara dari arah pintu membuat semua kompak menoleh.


Seorang laki-laki berkaos putih dengan celana krem berdiri depan pintu seraya membuka kacamata hitamnya. Mata sipit itu semakin rapat tatkala senyum lebarnya mengembang.


"Eh! Nih orang udah nongol aja," ujar Tristan melihat Daniel tiba-tiba ada rumahnya.


"Gayanya sok-sokan minggat. Udah gue bilang, lo nggak bakalan betah jauh dari kita," imbuh Lucky.

__ADS_1


"Ya.…gimana lagi. Gue kebayang-bayang anaknya Tristan."


"Lo kebayang anak gue apa yang lagi gendong anak gue?" sambar Tristan. "Hari gini masih modusin cewek mulu, kapan kawinnya?" ledeknya kemudian yang membuat Daniel keki. Bagaimana tidak? Dua sahabatnya sudah menikah. Lucky pun sebentar lagi akan memiliki anak. Sedang dirinya…. Ah sudahlah, lebih baik mengekor mereka ke meja makan daripada pusing memikirkan jodoh.


__ADS_2