
"Saya mencari Kirana, Pak."
"Kirana anak saya? Mas ini siapa, ya?"
Tristan ingin menertawakan dirinya sendiri saat ayah mertuanya saja tidak mengenalinya. Menantu macam apa dia yang tidak pernah berkabar apalagi berkunjung ke rumah mertuanya. Hingga orang yang seharusnya dianggap orang tua sendiri sampai tidak mengenalinya.
"Saya Tristan, Pak. Suami Kirana, menantu Bapak." Tristan pun meraih punggung tangan laki-laki-laki yang rambutnya sudah memutih lalu menciumnya.
Pak Restu tampak terkejut mendengar pengakuan Tristan. Dia sendiri nyaris lupa bagaimana rupa suami putrinya. Proses pernikahan Kirana begitu cepat. Mereka tidak sempat bertemu sebelum acara akad nikah. Bahkan saat hari pernikahan, berbincang untuk saling mengenal pun tidak karena Bu Ambar buru-buru mengajaknya pulang setelah acara selesai.
"Astaghfirullah. Maaf, Ayah sepertinya sudah semakin tua. Ingatannya sudah berkurang. Ayo masuk!"
Tristan terlanjur berpikir berlebihan karena mengira ayah mertuanya akan menyambutnya dengan tidak baik. Namun di luar dugaannya, Pak Restu justru memeluknya dan menuntun masuk ke dalam rumah. Bahkan menyuguhkan air putih yang memang selalu tersedia di atas meja di sudut ruangan.
Seperti yang terlihat dari luar, rumah besar itu sangat sepi. Tidak terdengar suara selain detak jarum jam. Membuat suasana semakin canggung.
Pandangan Tristan menyapu seluruh ruang tamu itu. Beberapa bingkai foto berjajar di dinding. Foto keluarga saat Kirana wisuda dan beberapa moment penting .Tak ada ekspresi wajah Kirana yang seperti saat mereka tinggal bersama. Semua foto itu menunjukkan wajah Kirana yang ceria. Tristan baru menyadari lesung di kedua pipi istrinya dan mata bulat yang begitu indah.
"Sehat, Nak Tristan?"
Tristan melengkungkan bibirnya mendengar pertanyaan ayah mertuanya yang seprtinya berusaha mengusir kecanggungan.
"Alhamdulillah. Maaf saya baru berkunjung ke sini," balas Tristan kaku.
"Tidak apa-apa. Kami mengerti kesibukanmu," balas Pak Restu.
Tristan berharap Kirana akan segera muncul. Kendati hubungannya dengan istrinya itu sedang tidak baik, namun setidaknya ada orang ketiga yang akan mencairkan suasana.
__ADS_1
Namun mendadak Tristan diselimuti khawatir. Bagaimana kalau ternyata Kirana memang tidak pulang ke rumah itu?
"Kalau mau istirahat bisa di kamar Kirana. Sambil menunggu dia pulang," ujar Pak Restu seolah mengerti isi pikiran menantunya.
Tristan pun bernafas lega. "Kirana ke mana, Pak?" tanyanya kemudian.
"Dia sedang mengajar ngaji di TPQ."
Kekhawatiran Tristan lenyap seketika saat mengetahui jika Kirana memang benar pulang ke rumah orang tuanya.
"Ya begitulah Kirana. Dia memang sangat menyukai anak-anak. Setiap pagi dia ke pos PAUD. Kalau sore ya mengajari anak-anak mengaji. Dia tidak bisa jauh dari dunia anak-anak."
Tristan mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan Pak Restu. Entah apa yang harus diucapkan.
Meski tubuhnya lelah, Tristan merasa tidak enak kalau harus masuk ke kamar Kirana. Sehingga dia tetap bertahan di ruang tamu bercengkrama dengan ayah mertuanya. Banyak hal yang baru diketahui tentang istrinya. Ayah mertuanya bercerita panjang lebar tentang kehidupan Kirana yang selama ini tidak ingin dia ketahui. Tristan kini mengerti, dari mana sifat sabar Kirana menurun.
"Ayah minta maaf karena tidak bisa mendidik Kirana sehingga dia belum bisa menjadi istri yang baik untuk Nak Tristan. Dia anak kami satu-satunya dan sangat manja sejak kecil." Ucapan itu justru seperti belati yang menghujam tepat di jantung Tristan. Terlebih melihat wajah ayah mertuanya yang datar.
Seharusnya makian yang diterima Tristan. Saat dia membiarkan Kirana pulang dengan luka di tubuh. Tetapi Pak Restu menyikapinya dengan sangat bijak. Bahkan Tristan merasa sangat malu saat ini.
"Saya minta maaf. Ini semua salah saya. Saya yang sudah membuat Kirana kecewa," sahut Tristan dengan kepala tertunduk. Apalagi yang bisa diucapkan selain sebuah pengakuan. Dia sedang berhadapan dengan seorang ayah. Yang pasti akan sama dengan dirinya, tidak rela jika anaknya tersakiti.
Perbincangan mereka terjeda saat seorang wanita paruh baya masuk ke dalam rumah. Tristan meyakini jika itu adalah ibu mertuanya. Wajahnya hampir serupa dengan Kirana.
"Ini….Tristan? Suaminya Kirana?" tanya Bu Ambar dengan kerutan di dahinya.
"Iya, Bu." Tristan pun mengangguk mengiyakan. Dia beranjak dari sofa dan menyalami ibu mertuanya.
__ADS_1
Lain halnya dengan sang ayah, sambutan ibu mertuanya begitu dingin. Tristan memaklumi itu semua. Bahkan jika dimaki pun Tristan harus terima. Dia memang patut mendapatkan itu semua.
Namun hal itu tidak sampai sampai dilakukan oleh ibu mertuanya. Hanya sedikit berbicara ketus meskipun dia masih sudi membuatkan teh hangat untuknya menantunya.
"Ibu pikir kamu tidak akan datang ke mari." Kalimat itu terdengar seperti sebuah sindiran di telinga Tristan. Hingga akhirnya dia harus kembali meminyabmaaf jarena telah menjadi menantu kurang adab yang tidak pernah mengunjungi mertuanya.
Mamanya dan ibu mertuanya seperti sebuah duplikat. Atau memang semua mama-mama seperti itu. Tetapi dia tidak menemukan hal serupa pada diri Elita maupun Kirana yang selalu lembut pada Mentari.
Meski ucapannya terdengar pedas, Tristan merasa mendapat perhatian saat Bu Ambar memintanya istirahat di kamar. Bukan kamar tamu, tetapi sama dengan anjuran Pak Restu. Dia diantar ke kamar Kirana. Hal itu cukup menunjukkan bahwa dia masih dianggap sebagai suami putri mereka.
Kamar bernuansa pastel yang girly. Sepertinya Kirana mempunyai kebiasaan seperti Elita. Senang mengabadikan moment perjalanan hidupnya. Banyak foto istrinya sejak masih sekolah hingga dewasa terpajang di kamar. Terselip sebuah foto yang tidak asing baginya di antara deretan bingkai-bingkai kecil. Tristan mengambil bingkai kecil di salah satu rak dinding. Tersenyum hambar menatap kebahagiaan palsu yang mereka ciptakan demi Mentari. Ternyata moment itu begitu berarti untuk Kirana. Hingga dia meletakkan foto itu di antara foto-foto koleksinya.
Tristan menarik sebuah pintu ke dalam sebuah bilik yang di dalam kamar itu. Kamar mandi berukuran kecil dengan sebuah bathup dan shower. Di dalam ruang itulah Tristan membersihkan diri setelah menempuh perjalanan dan tubuh terasa lengket. Dia bahkan baru sadar jika sejak pagi hanya sempat mencuci muka dan menggosok gigi. Fokusnya hanya tertuju pada Mentari.
Mengingat putrinya, Tristan mengambil gawai untuk menghubungi mamanya. Panggilan Tristan di sambut dengan cepat dan wajah Mentari telah terpampang di layar. Tentu saja yang pertama ditanyakan adalah keberadaan Kirana. Tetapi Tristan tak lagi mempermasalahkan hal itu. Setidaknya Mentari sudah bisa tersenyum mengetahui jika dia dia sudah sampai di rumah Kirana.
Tristan keluar dari kamar setelah menutup teleponnya. Bersamaan dengan Pak Restu yang sedang mengambil kunci motor yang tergantung di samping kamar Kirana.
"Ayah mau jemput Kirana dulu. Tadi dia berangkat nebeng sama temannya," ujar Pak Restu.
"Biar saya saja yang jemput, Yah," sahut Tristan dengan panggilan yang sudah berbeda.
"Kamu tidak capek? Istirahat saja dulu!"
"Tidak apa-apa, Yah."
Pak Restu pun memberikan kunci motor di tangannya pada Tristan. Lalu memberikan petunjuk arah di mana Kirana mengajar.
__ADS_1
Mengendarai motor ayah mertuanya, Tristan mencari temlat Kirana mengajar. Jalanan kampung yang tampak sunyi meski hari sudah sore. Rumah-rumah berjarak dengan tanah kosong tidak berjejal seperti di kota. Sesekali dia harus mengangguk saat orang menyapanya. Awalnya Tristan heran karena merasa tidak mengenal mereka namun begitu ramah menyapanya.
Tristan berhenti di depan sebuah rumah klasik dengan papan berdiri di halaman rumah itu. Anak-anak terlihat sedang bermain dihalaman yang cukup luas itu. Pandangannya menelisik ke segala arah. Hingga kemudian bertemu dengan wanita berjilbab dengan gamis warna pastel tengah berbincang dengan seorang pria di teras. Terlihat sangat akrab meski menjaga jarak. Tristan turun dari motor lalu menghampiri dua orang itu dengan perasaan yang dia tidak mengerti kenapa muncul begitu saja. Dia …. cemburu.