
"Mas! Mas Tris! Bangun" Kirana berbisik di telinga Tristan agar suaminya itu terbangun.
"Jam berapa?" sahut lelaki itu tanpa membuka mata.
"Jam lima. Aku mau belanja ke pasar. Di kulkas nggak ada apa-apa."
Terlalu lama ditinggalkan, tidak ada bahan makanan bisa diolah untuk makan pagi. Kirana hanya menemukan beberapa botol minuman instan di kulkas. Tidak ada stok bahan mentah untuk diolah.
Sepertinya Tristan tidak pernah masak selama tidak ada dirinya di rumah itu. Bahkan mi instan pun tidak ada.
Pagi ini semua akan kembali beraktivitas seperti biasa. Tristan akan ke kantor dan Mentari pergi ke sekolah. Kirana harus menyiapkan makan pagi untuk mereka.
Menyusuri jalanan yang masih sepi mereka berdua pergi ke pasar pagi. Letaknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke pasar.
Kirana,masuk ke dalam pasar berjubel dengan para pembeli lain dan juga kuli panggul.
"Seperlunya saja ya. Jangan kelamaan," ujar Tristan.
Kirana menangkap raut tidak nyaman di wajah Tristan. Tentu saja karena orang sepertinya pasti tidak pernah menginjakkan kaki di pasar tradisional.
"Mas tunggu saja di mobil kalau nggak mau ikut belanja," balas Kirana.
Namun Tristan tetap mengekor ke mana istrinya melangkah. Kirana memilih beberapa sayuran segar dan juga bumbu dapur. Harga di pasar yang jauh lebih murah membuatnya kalap. Satu kantong besar penuh sayuran dan bumbu dapur pun diambil Tristan dari penjual sayur. Terlalu berat jika Kirana yang membawanya. Apalagi dengan perutnya yang besar.
"Ini sudah?"
"Belum. Beli ikan sama ayam dulu."
Baru saja masuk ke kios pedagang ikan, perut Tristan serasa diaduk. Pria itu bergegas menjauh dan membiarkan istrinya masuk ke kios ikan sendiri.
Melihat suaminya mual, Kirana urung membeli ikan. Dia menyusul Tristan yang berjalan ke luar dari pasar.
"Hoek!" Tristan tidak tahan untuk segera memuntahkan isi perutnya. Meski tidak ada sesuatu yang keluar.
"Kita pulang aja ya, Mas?" Kirana tidak tega memaksa suaminya untuk tetap menunggunya belanja.
Kirana menyempatkan membeli ayam pada pedagang yang membuka lapak di luar pasar. Kemudian menyusul Tristan ke mobil. Sepertinya hari ini dia harus menahan keinginannya untuk makan ikan.
Mau bagaimana lagi, suaminya sepertinya tidak bisa masuk ke pasar. Bahkan sampai mual- mual. Lain kali dia akan pergi sendiri tanpa minta untuk diantar.
Kirana memijat tengkuk suaminya yang masih saja terdiam seperti menahan sesuatu yang hendak keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Minum dulu, Mas!" Kirana mengambil botol air mineral sisa kemarin yang masih tersimpan di pintu.
Namun Tristan menolak. Dengan alasan dia tidak bisa minum air tawar dingin karena mualnya akan semakin menjadi.
Perlahan mobil pun melaju. Meninggalkan tempat parkir pasar kembali menuju rumah mereka.
"Mas nggak pernah ke pasar?" tanya Kirana saat di perjalanan.
"Pernah. Dulu seminggu sekali ke pasar. Elita lebih suka belanja sayur di pasar daripada supermarket."
"Mual juga?"
Tristan menggeleng. "Mas juga nggak tahu kenapa tadi tiba-tiba mual waktu nyium bau ikan."
Mereka tiba di rumah saat Mentari sudah bangun. Dan Bu Ratih terlihat sedang merapikan tempat tidur anak kecil itu.
Kirana menerobos masuk ke dapur. Mendidihkan air lalu membuat teh hangat untuk Tristan.
Sementara pria itu masih berada di kamar mandi. Menuntaskan rasa mual yang masih saja menyiksanya.
"Tristan kenapa?" tanya Bu Ratih pada Kirana.
"Di pasar tadi mual-mual, Ma. Sampai rumah juga masih mual. Nggak tahu kenapa."
Tristan yang baru keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lunglai menarik kursi lalu menyesap teh hangatnya.
"Masuk angin mungkin, Mas. Kemarin habis perjalanan jauh." Kirana menempelkan punggung tangannya ke dahi dan leher Tristan.
"Biasa aja," gumamnya kemudian.
"Duh kasihan anak mama. Istrinya yabg hamil kamu yang mual-mual." Bu Ratih menggoda Tristan sambil memijit bahu putranya.
"Nggak usah cemas, Na. Sejak kamu hamil dia memang sering mual-mual," ujarnya kemudian pada sang menantu.Wanita itu kemudian berlalu kembali ke kamar Mentari untuk membantu cucunya bersiap berangkat ke sekolah.
"Benarkah?" Kirana hampir tak percaya jjka hal itu bisa terjadi. Dia bahkan tidak pernah merasakan mual di pagi hari semenjak hamil. Rupanya semua derita itu sudah ditanggung oleh suaminya.
Dia pun mengahmburvmemeluk Tristan. "Ugh! Kasihan suamik,u" ujarnya mengusap pipi suuaminya.
"Mas mau makan apa? Biar aku masakin." lanjut Kirana.
"Nasi goreng spicy sama ayam goreng tepung yang kriuknya banyak."
__ADS_1
"Ok. Tunggu ya. Mandi dulu sana!"
Kirana membuka kantong belanjanya. Untung saja dia sempat membeli daging ayam tadi. Dia oun mencuci beberapa potong ayam yang keseluruhannya bagian paha. Memarinasi ayam itu llalu memasukkannya ke dalam kulkas. Sementara menunggu bumbu mereap, Kirana membuat bumbu nasi goreng kampung rresep ibunya. Hampir setiap hari menu itu diminta Tristan saat berada di kampung.
Kirana menepuk dahinya. Dia upa jika belum menanak nasi. Namun melihat penanak nasi menyala, Kirana pun membukanya. Syukurlah dia mempunyai ibu mertua yang sangat pengertian. Rupanya selama dia ke pasar, ibu mertuanya sudah memasak nasi.
Dai mengambil beberapa sendok nasi. Sengaja memasak banyak karena Tristan pastii minta untuk bekal.
Wangi aroma nasi goreng menembus ke seluruh ruangan. Bahkan sampai ke kamar atas. Bunyi derap langkah tergesa menuruni anak tangga pun terdengar. Tristan dengan kemeja yang jauh dari kata rapi menuruni anak tangga lalu duduk di meja makan menunggu Kirana selesai masak.
"Jangan kayak anak kecil deh, Mas. Kemejanya dimasukkan dulu." Kirana meminta tsuaminya untuk berdiri kemudian membantu merapikan kemejanya.
"Nggak pakai dasi?"
"Nggqk. Lagi malas rapi."
Kirana menggeleng heran lalu kembali berkutat di depan kompor. Menyiapkan minyak untuk menggoreng ayam. Tristan sudah tidak sabar menunggu. Terdengar dari bunyi ketukan kuku-kukunya di meja makan.
Ayam berbalut tepung itu pun berenang di dalam minyak panas. Sembari menubngu kering. Kirana menyiapkan empat piring nasi goreng. Vibesnya sudah seperti sedang mengikuti kompetisi memasak di televisi. Harus serba cepat karena tuntutan waktu.
Empat piring nasi goreng itu pun siap di meja makan. Dengan satu piring berbumbu tidak pedas untuk Mentari. Disusul dengan ayam goreng yang baru saja diangkat dari penggorengan.
Kirana mengusap pinggangnya dan mbuang nagas dari mulutnya.
"Capek, ya?" Tristan ikut mengusap punggung Kirana. Mentransfer energi agar Kirana kembali tersenyum.
"Aku panggil Mentari sama Mama dulu, ya."
Ternyata sekian lama berada di dalam kamar, Bu Ratih salah mengambilkan seragam untuk Mentari. Sehjngga harus kembali dilepas dan memakai seragam hari itu.
Melihat Kirana ada di depan ointu, Memtari justru merengek minta untuk dikepang. Dai pun beranjak dari pangkuan omanya dan menghampiri Kirana.
"Eh, Bunda sudah capek masak. Sama Oam saja, cegah Bu Ratih saat Mentari beranjak ingin minta dikepang oleh Kirana.
"Nggak apa-apa, Ma. Mama sarapan dulu saja sama Mas Tris, nanti kami menyusul."
Sepertinya kesibukan kKrana akan semakin bertambah. Karena tidak hanya Mentari saja yang manja, tetapi juga papanya.
Setelah merapikan rambut putrinya, Kirana mengajak Mentari untuk makan pagi. Anak itu sama antusiasnya dengan sang ayah melihat menu di meja makan. Karena ayam goreng memang makanan kegemarannya.
"Kalau ada Bunda enak kan, Pa? Tiap hari dimasakin sama Bunda," celotehan itu seolah sebuah sindiran pedas bagi Tristan.
__ADS_1
"Bunda jangan pergi-pergi lagi, ya. Papa suka marah-marah kalau nggak ada Bunda," adu Mentari yang membuat Kirana melirik suaminya.