Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
90. Hari Bahagia


__ADS_3

"Mbu!" Bocah 10 bulan itu menarik dress yang dikenakan Kirana.


"Ya, Sam? Sebentar ya, Ibu lagi rapikan baju Papa dulu, ya."


Namun Samudra tetap menarik-narik dress yang dikenakan ibunya sambil merengek.


"Mbu!" rengeknya sambil menunjuk pakaiannya sendiri.


Kirana pun terkekeh. Samudra memang seringkali cemburu jika Kirana dekat-dekat dengan Tristan. Dia pun mengabaikan baju batik yang belum terkancing sempurna karena Sam tidak berhenti merengek.


"Baju Sam sudah rapi, Nak," ujar Kirana sambil mengusap-usap baju yang bermotif sama dengan yang dipakai Tristan.


Hanya sedikit perhatian dengan menyentu bajunya, Sam sudah berhenti merengek. Kirana pun kembali merapikan pakaian Tristan.


Dua lelaki itu seringkali berebut perhatian dari Kirana. Dari saat di tempat tidur sampai sata di meja makan. Tristan yang suka sekali menggoda Sam dengan berpura-pura mendekati Kirana atau meminta disuapi saat di meja makan.


"Sudah rapi. Aku mau lihat Mentari dulu."


Mentari tak kalah beda. Anak itu meski sudah kelas satu tetap saja seringkali tidak mau mengalah dengan adiknya. Ada saja hal yang membuatnya merasa iri. Dan Kirana harus pandai-pandai menjaga perasaan putri sambungnya agar tidak merasa dinomor duakan.


Benar saja, dress anak itu masih tergeletak di atas kasur. Nining yang sedang membujuknya pun tidak berhasil.


"Sudah, Ning. Tinggalkan saja!"


"Baik, Bu."


Kirana pun mengambil dress yang sengaja dibuat serupa dengan dress yang dikenakannya. Dia membujuk Mentari untuk segera mengenakannya.


"Ayo, Nak. Nanti kita terlambat. Papa sama Adik Sam sudah siap."


"Kenapa Bunda sekarang lebih sayang Papa sama Adik Sam? Bunda nggak sayang Mentari lagi?"


Kirana tertegun sejenak. Dia sudah berusaha untuk tidak membedakan anak kandungnya dengan Mentari. Sepertinya ada yang harus dibenahi sehingga Mentari berpikiran seperti itu

__ADS_1


"Bunda tetap sayang sama Mentari, Nak." Kirana membawa Mentari ke dalam pangkuannya.


"Tapi sekarang kan ada Adik Sam. Jadi Mentari juga harus berbagi sayangnya Bunda sama Adik Sam. Dulu sayangnya Bunda kan cuma buat Mentari sama Papa. Sekarang harus dibagi tiga, Mentari, Papa, sama Adik Sam. Kalau Bunda punya kue satu, dibagi untuk Mentari sama Papa dapatnya setengah. Kalau dibagi bertiga sama adik Sam, dapatnya sama atau berkurang?"


"Berkurang."


"Nah, seperti itu sayangnya Bunda. Semua dapat tapi harus berkurang. Jadi bukan berarti Bunda nggak sayang lagi sama Mentari."


Anak kecil itu pun terdiam. Dia mengangguk saat Kirana memintanya untuk memakai bajunya. Mentari pun menurut saat Kirana memoles wajahnya.


"Cantiknya anak Papa!" Suara Tristan terdengar dari arah pintu. Rupanya dia sejak tadi berdiri di depan pintu mengamati istrinya yang membujuk Mentari.


"Iya, dong," sahut Kirana menimpali. "Mau pakai hijab seperti Bunda?" tanyanya kemudian.


"Mau." Mentari mengangguk.


Kirana memasangkan hijab warna senada dengan dress yang dikenakan Mentari dan dirinya.


Setelah semuanya rapi, Kirana mengambil tas pestanya. Dan juga tas berisi perlengkapan Samudra.


Hari ini mereka akan menghadiri acara pernikahan Nabila dan Daniel. Yang akan diadakan di rumah Nabila.


Tristan mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Jalanan cukup lengang di pagi akhir pekan. Masih banyak waktu sehingga mereka tidak harus terburu-buru untuk sampai tujuan.


Mereka sampai beberapa menit sebelum acara dimulai. Daniel sudah rapi dengan beskap putihnya. Wajahnya masih terlihat kuyu dan tubuhnya terlihat lebih kurus karena baru kemarin dia keluar dari rumah sakit. Dia harus menjalani perawatan karena penyakit tumor otak yang belakangan baru diketahui. Dan sebab penyakit itulah restu dari orang tua Daniel turun. Terlihat di belakang pria itu seorang pria berambut putih dan wanita yang masih terlihat cantik meski usianya tidak muda lagi. Mereka adalah orang tua Daniel.


Bahkan wanita yang mengenakan kebaya serupa dengan kebaya yang dikenakan mama Nabila itu sendiri yang meminta Nabila agar mau menikah dengan Daniel. Dia tidak akan menghalangi Daniel untuk memilih. Karena baginya kebahagiaan putra tunggalnya adalah segalanya. Dia hanya ingin Daniel bahagia di sisa usianya yang entah akan sampai kapan bisa bertahan dengan penyakitnya. Daniel seperti sudah kehilangan semangat hidupnya bahkan enggan untuk menjalani terapi. Satu-satunya yang membuatnya ingin bertahan hidup adalah Nabila.


Entah sebesar apa perasaan Nabila terhadap Daniel, meski mengetahui Daniel dengan kondisinya sekarang, hal itu tidak sedikit menyurutkan perasaannya pada Daniel. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk menguji perasaan mereka masing-masing hingga sampai pada hari ini.


"Ma, titip Sam, ya," ujar Kirana karena dia diamanati untuk mendampingi Nabila. Sementara Tristan akan menjadi saksi pernikahan Daniel dan Nabila.


Kirana masuk menemui Nabila yang sedang menunggu di dalam sebuah kamar bersama seorang MUA. Nabila sangat cantik dengan kebaya putihnya. Karena memang wajah perempuan itu sudah cantik dari sananya.

__ADS_1


"Gugup, Bil?" tanya Kirana melihat Nabila yang sejak tadi hanya diam.


"Banget, Na!" sahutnya menempelkan telapak tangannya yang terasa dingin pada tangan Kirana.


Acara di depan sudah di mulai. Mereka mengamati Daniel mengucap qabul dengan papa Nabila dari layar kaca. Nabila tak bisa menahan rasa harunya saat semua saksi menyatakan pernikahan mereka telah sah. Statusnya oun kini menjadi Nyinya Daniel Wijaya.


Nabila mengambil selembar tisu yang diulurkan Kirana untuk menyeka sudut matanya yang berembun.


"Kamu ok kan, Bil?" tanya Kirana saat merasqkan tangan Kirana yang semakin dingin.


"Hmm. Gue cuma gugup banget. Nggak tahu kenapa."


"Wajar. Yang penting nanti malam jangan gugup," gurau Kirana.


"Gue lagi mens," sahut Nabila membuat Kirana terkekeh.


"Yah, kasihan dong Abang Daniel," gurau Kirana lagi.


Dia pun menggandeng Nabila untuk mempertemukannya dengan pengantin pria. Semua mata menyorot ke arah mereka saat mereka keluar dari dalam pintu ruang tamu rumah itu.


Daniel tampak berkaca-kaca melihat pengantinnya yang hari ini terlihat begitu cantik. Tidak hanya Daniel, orang tua Daniel, orang tua Nabila, dan sebagian yang hadir ddalam acara itu tampak sibuk dengan tisu di tangan masing-masing. Acara pemikahan paling mengharukan yang pernah Kirana saksikan. Banyak hal yang harus dikorbankan hingga ikatan mereka kini terjalin.


Nabila tak mampu membendung air matanya saat harus mencium punggung tangan suaminya. Begitu juga dengan Daniel.


Ucapan selamat mengalir setelah acara akad nkah selesai yang dilanjutkan dengan reseps. Tidak banyak yang hadir. Hanya keluarga dan kerabat dekat dari pihak kedua keluarga. Mengingat kondisi kesehatan Daniel yang belum pulih benar.


"Semoga kalian bahagia selalu, Bila, Daniel, ucap Kirana lalu dia memeluk erat sepupu suaminya itu.


"Thanks, Na," balas Nabila.


Pelukan erat pun diberikan Tristan untuk sepupunya dan Daniel yang kini sah menjadi bagian dari keluarga besarnya.


"Mas!" Kirana mengulurkan tisu untuk suaminya yang tanpa sadar netranya berkaca-kaca menatap sepasang pengantin yang duduk di pelaminan minimalis sesuai konsep acara.

__ADS_1


"Mas nggak nyangka akhirnya mereka bisa duduk di sana!" gumam Tristan.


Meski dibanjiri air mata namun wajah keduanya menyiratkan bahagia yang tidak terukur.


__ADS_2