
"Selamat Siang, Mas!"
"Siang, Sil!" Tristan membalas sapaan orang yang baru saja masuk ke ruangannya.
"Saya mau mengantar laporan yang diminta Mas."
"Oh, ya letakkan di meja."
Silvia menatap Tristan dengan kesal karena sikap lelaki itu yang semakin acuh padanya. Dia pun meletakkan map di meja. Kemudian duduk di depan Tristan meski tidak dipersilahkan.
"Mas Tristan nggak makan siang?"
"Sebentar lagi. Menunggu pesanan makan siang saya datang," dustanya karena dia sama sekali belum memesan makanan. Bahkan tidak sempat. Karena selama ditinggalkannya, pekerjaannya justru menumpuk. Mamanya hanya mengerjakan sebagian. Mau protes pun pasti akan kena sembur. Alasan usia yang sudah lanjut pasti akan dipakai oleh mamanya untuk berkilah.
"Ribet kan, Mas. Nggak pakai sekretaris. Semua dihandle sendiri. Sampai kapan Mas sanggup?"
"Urus saja pekerjaanmu Sil. Jangan terlalu mencampuri yang bukan kapasitasmu" sahut Tristan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
Silvia semakin kesal. Tristan benar-benar tidak peduli lagi dengan nasibnya. Padahal dulu, Tristan tidak pernah membiarkan dirinya terlihat buruk di mata orang. Lelaki itu akan menjadi orang pertama yang akan selalu melindunginya.Tetapi sekarang, Tristan tidak peduli sekalipun orang satu kantor tengah menggunjingnya terkait mutasi jabatannya.
Silvia sakit hati diperlakukan seperti itu. Lebih sakit daripada saat dia mendapat ucapan kasar ataupun makian saat dirinya berlaku melampaui batas. Namun ucapan kasar itu hanya di bibir lelaki itu. Karena nyatanya, selama dia menjadi sekretaris, Tristan tidak pernah benar-benar marah padanya.
Semua ini karena wanita tua itu, umpat Silvia dalam hati.
"Mas, apa Mas sudah benar,-benar tidak peduli lagi padaku?" Pertanyaan itu membuat Tristan menghentikan kegiatannya.
Silvia pun bersorak dalam hati. Akhirnya dia bisa kembali mengambil perhatian Tristan. Dia memasang wajah mengiba agar Tristan tetap memperhatikannya.
"Peduli soal apa maksud kamu? Kamu sudah dewasa, bukan anak kecil lagi. Saya tidak perlu lagi mengawasimu seperti dulu saat kamu masih anak-anak."
"Tapi apa Mas tahu kalau semua orang di kantor ini memandang aku sebelah mata. Seolah-olah aku ini telah melakukan sebuah kesalahan besar dalam. pekerjaan sampai harus dimutasi."
"Jangan pedulikan ucapan orang."
Sejujurnya dia pun akan pontang panting tanpa keberadaan Silvia sebagai sekretarisnya. Tetapi dia pun tidak mau ambil resiko memantik permasalahan baru dengan mamanya dan juga Kirana jika Silvia dikembalikan ke posisinya semula.
__ADS_1
"Mas tahu kan gaji aku sekarang berapa? Aku nggak tahu lagi bagaimana membayar cicilan-cicilan dengan gajiku sekarang.,"
Tristan membuang nafas kasar. Dia heran jika sampai Silvia masih punya cicilan. Selama menjadi sekretarisnya, Silvia mendapat gaji yang sangat layak untuk mencukupi kebutuhan hidup sebagai perempuan yang masih single. Bahkan kendaraan yang dipakai Silvia pun dia yang membelikan. Seharusnya Silvia bisa berinvestasi bukan malah mempunyai cicilan. Entah gaya hidup seperti apa yang dianut oleh adik iparnya itu. Selama ini Tristan tidak terlalu peduli dengan pergaulan Silvia.
"Ah sudahlah! Mungkin Mas Tristan memang sudah menganggap saya orang lain. Sampai-sampai nomor saya pun diblokir. Saya nggak nyangka kalau ternyata Mas bisa sejahat itu." Silvia beranjak dari tempat duduknya.
"Tapi Mas harus ingat kalau saya tidak akan membiarkan diri saya tersakiti. Saya tidak segan membuka ke khalayak skandal yang pernah kita lakukan. Ingat itu, Mas," lanjutnya lalu pergi dari hadapan Tristan.
"Silvia!" panggil Tristan namun diabaikan oleh Silvia.
"Argh!" Pria itu memukul meja kerjanya frustasi.
"Assalamu'alaikum!"
Tristan kembali menoleh ke arah pintu mendengar suara yang sangat dia kenal menyapanya. Kirana telah berdiri di depan pintu dengan senyum mengembang di bibirnya. Dan sebuah tas bekal di tangannya.
"Wa'alaikumsalam. Kok kamu tahu kantor ini?" Pertanyaan aneh namun tidak salah. Karena Kirana memang tidak pernah tahu di mana tempat suaminya bekerja.
"Saya masih punya mulut untuk bertanya. Nggak disuruh masuk, nih?"
Kirana tertawa pelan seraya melewati pintu. Kemudian menutup pintu yang sejak tadi terbuka oleh Silvia. Bahkan dia sempat berpapasan dengan mantan sekretaris suaminya. Bahkan dia juga sempat mendapat tatapan tajam dari Silvia.
Kirana duduk di sofa menyiapkan makan siang yang sengaja dibawanya untuk sang suami. Pagi tadi nasi goreng buatannya tandas sehingga tidak tersisa bekal untuk dibawa Tristan.
"Mas belum pesan makanan, kan?" tanya Kirana sambil membuka satu persatu kotak makanan.
"Belum sempat. Pekerjaan hari ini banyak sekali. Mungkin nanti akan lembur juga." Tristan menghempaskan dirinya di samping Kirana.
Wajah Kirana pun seketika murung. Tristan menangkap jelas ketidaksukaan Kirana akan rencana memperpanjang waktu kerja. Lelaki itu pun tersenyum jail menggoda istrinya.
"Bisa jadi akan tidur di kantor."
"Kalau begitu saya ikut tidur di kantor," sahut Kirana.
Tristan terkekeh seraya melingkarkan lengan ke bahu istrinya. "Ya sudah. Saya pulang tepat waktu tapi siap dianggurin di rumah."
__ADS_1
"Itu lebih baik daripada aku tidak tenang membiarkanmu di luar rumah," balas Kirana.
"Sekarang waktunya makan," lanjutnya sambil mengulurkan kotak bekal berisi nasi, capcay dan ayam goreng.
Meski kurang menyukai sayuran, namun makanan yang dimasak oleh Kirana pantang untuk dibuang jika tidak ingin mendapat kuliah panjang lebar tentang manfaat sayuran bagi tubuh. Menjenuhkan, lebih baik Tristan memaksa diri menelannya. dan menghabiskan isi kotak itu sehingga tidak tersisa nasi sebutir pun.
"Mas, aku boleh ngajar lagi, nggak?"
Tristan mendesah pelan.
"Kirana Sayang. Kamu bisa nggak diam saja di rumah. Mengurus saya dan anak-anak kita. Biarkan saya yang bekerja. Saya sudah terlalu mentolerir kamu bekerja selama di kampung. Saya tidak akan membiarkan kamu melakukannya di sini. Apalagi kamu sedang hamil. Kamu bisa nggak memikirkan diri kamu sendiri yang untuk membawa diri saja sudah kepayahan."
"Kata siapa kesusahan? Saya masih bisa sampai di sini."
"Hmm. Tadi kamu ke sini naik apa? Jangan bilang naik motor." tanya Tristan menyelidik.
Kirana nyengir memperlihatkan deretan giginya. Tanpa bermaksud menjawab pertanyaan Tristan yang pasti akan membuat suaminya itu marah padanya.
"Naik apa?" ulang Tristan mendesak Kirana.
"Naik …. motor kamu."
"Apa?!" Kedua bola mata Tristan bahkan nyaris lepas mendnegar jawaban mengejutkan Kirana. Badan yang tidak seberapa tinggi dan tengah berbadan dua namun nekat menaiki motor besarnya.
" Kamu …..Benar-benar nggak bisa dibiarkan. Semakin hari semakin pecicilan. Berikan kuncinya!"
"Nggak. Nanti aku pulang naik apa?"
"Tetap di sini sampai Mas pulang nanti. Berikan kuncinya, Kirana!" ucap Tristan dengan tegas.
Kirana mendengus seraya merogoh tasnya untuk mengambil kunci motor. Lalu menyerahkannya pada suaminya.
"Saya akan jual motor itu kalau kamu nekat mencari kesempatan untuk memakainya," ancam Tristan.
Kirana menunduk. Kebebasannya semakin terancam. Setelah dilarang untuk bekerja, dia pun dilarang membawa kendaraan sendiri. Jika akan bepergian harus menunggu Tristan atau menghubungi Pak Cip untuk mengantarnya.
__ADS_1
"Mengertilah Kirana, saya lakukan ini semua untuk keselamatan kamu. Saya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi sama kamu," ujar Tristan agar Kirana tidak lagi melayangkan protes. Trauma akan kejadian masa lalu begitu membekas. Dia tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Terlalu memberi kebebasan hingga membuatnya lalai akan keselamatan istrinya.