Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
74. Belanja Perlengkapan Bayi


__ADS_3

Kirana melihat-lihat baju-baju kecil yang terlihat lucu-lucu. Model-model yang menggemaskan dengan hiasan pita-pita. Ingin rasanya dia memasukkan beberapa potong baju-baju mungil itu ke dalam keranjang.


"Calon anak kita laki-laki, Sayang." Tristan yang berdiri di sampingnya sambil mendorong troli mengingatkan


"Oh iya, Lupa." Kirana terkekeh menertawakan kekonyolannya sendiri.


"Lucu-lucu ya, Mas."


"Iya. Topi anak cowok masa mau dipakein dress. Besok saja, yang berikutnya boleh cewek-cewek."


Kirana .menjulingkan matanya. "Emang mau ada yang berikutnya berapa?'


"Yang banyak. Tiga ,Empat …."


"Oh,maaf. Bisa nggak hamilnya didelegasikan ke suami aja? Kalau bisa sih nggak apa mau sepuluh juga."


"Itu namanya nyalahin kodrat." Tristan menyentil hidung Kirana yang makin tenggelam karena desakan pipinya yang bertambah mengembang.


Kirana pun kembali melanjutkan langkahnya. Meninggalkan deretan baju bayi perempuan yang seolah masih melambai untuk dipinang. Ah jika seperti ini rasanya berbelanja pakaian bayi,mungkin Kirana akan menyetujui usul Tristan untuk menambah anak dua tiga atau empat. Bayi-bayi mungill dengan dress lucu-lucu pasti akan terlihat menggemaskan.


Tanpa disadarinya, Keranjang belanja sudah terisi beberapa lembar baju. Tristan yang memasukkannya. Baju-baju bayi new born dominan warna biru. Kirana memberi keleluasaan pada suaminya untuk mempersiapkan kelahiran jagoan kecil yang begitu dinantikannya. Karena dia memang mendamba anak pertama lahir laki-laki. Namun justru Mentari yang hadir pertama kali.


"Kata ibu yang newborn jangan terlalu banyak, Mas.nanti sebulan udah ganti ukuran," ujar Kirana.


"Nanti beli lagi kalau udah nggak muat," sahut Tristan sambil memasukkan beberapa baju bayi lagi. Hingga keranjang itu penuh dengan pakaian bayi.


Pria itu pun kembali mendorong troli. Memasukkan beberapa mainan. Kirana membiarkan suaminya memilih kebutuhan-kebutuhan untuk calon anak mereka. Dia hanya menambahkan beberapa yang kebetulan disukainya. Toh Tristan sudah paham apa-apa yang harus dibelinya. Bahkan dari hal yang sedetail apa pun sampai pemotong kuku bayi pun dimasukkan ke dalam keranjang.


Dan dua keranjang belanja penuh dengan perlengkapan bayi.

__ADS_1


"Kita beli box bayi sama stroller sekalian, ya?" ujar Tristan.


"Buat apa, Mas? Di rumah kan ada bekas Mentari dulu."


"Masa pakai bekas kakaknya?" protes Tristan.


"Memangnya kenapa? Masih bagus, kok. Ngapain beli lagi?"


Box bayi milik Mentari memang terlihat masih bagus. Bahkan seperti tidak pernah dipakai. Karena dulu Elita tidak rela jika tidur terpisah dengan Mentari.


Tristan pun mengalah. Kendati dalam hatinya meronta ingin anaknya mendapat perlakuan yang sàma. Tapi daripada mendapat omelan Kirana, akan lebih baik jika dia menuruti saran istrinya yang hidupnya terlampau sederhana itu.


"Yang, kamu nggak mau daster baru atau bra buat menyusui nanti? Sekalian kita beli, ya? Setelah ini kita nggak ada acara belanja lagi. Takut tiba-tiba kamu kontraksi di jalan kan nggak lucu."


"Udah beli online, Mas."


Tristan pun hanya bor-o saja. Pantas istrinya tidak pernah terlihat berbelanja, rupanya kebutuhannya selalu dibeli lewat online.


Sejak bulan lalu, dia sudah mengajak Kirana membeli perlengkapan untuk calon bayi mereka. Namun Kirana selalu menolak dengan alasan malas.


"Mas, kok perutku sakit, ya?"


"Hah?! Yang benar?!" Tristan yang sedang memasukkan belanjaan mereka ke bagasi pun bergegas mendekati Kirana yang hendak membuka pintu mobil.


"Masuk dulu! Kita langsung ke dokter!" Tristan membukakan pintu mobil untuk Kirana. Memastikan istrinya duduk dengan benar lalu kembali memasukkan barang belanjaannya hingga semua masuk ke dalam bagasi.


Tristan melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata meski tengah terburu-buru karena keluhan istrinya. Namun Kirana terlihat masih tenang tanpa mengeluh lagi.


"Nggak sakit lagi?" tanyanya memastikan.

__ADS_1


"Sakit sih. Mules. Kayaknya tadi aku makan sop kebanyakan sambal, deh," sahut Kirana.


"Jangan bercanda deh, Na. Aku beneran khawatir," ujar Tristan dengan wajah seriusnya.


Hari perkiraan lahir masih terlalu jauh. Namun Tristan tetap saja cemas saat Kirana mengeluh sakit perut dan mules. Dia tidak mau kejadian Mentari terulang lagi. Elita kontraksi saat sedang praktek karena menolak cuti lebih awal. Hal itu menjadikan dia lebih berhati-hati dengan kehamilan Kirana saat ini.


"Nggak usah ke dokter, Mas. Aku mau langsung pulang aja."


"Benar nggak apa-apa?" tanya Tristan.


"Hmm. Tapi nanti kamu belikan aku seblak, ya?"


"Nggak. Pasti kamu minta yang pedas," tolak sang suami tanpa pikir panjang.


"Kalau gitu ayam geprek,ya?"


"Nana!" sahut Tristan kesal. Kirana pun terkekeh melihat wajah dilipat yang sudah lama tidak dilihatnya.


Ponsel Kirana di dalam tas berdering. Dia mengambil benda pipih itu lalu melihat layar yang menyala.


"Assalamu'alaikum, Bu." Kirana menyapa ibunya di seberang.


"Wa'alaikumsalam. Na, gimana? Udah bukaan berapa?"


Kirana mengernyit. "Bukaan apa, Bu?"


"Loh, kata Tristan tadi kamu kontraksi. Ini Ibu sama Ayah mau siap-siap ke sana."


Kirana pun menatap Tristan yang juga tengah menatapnya.

__ADS_1


"Aku pikir kamu beneran kontraksi, makanya tadi aku langsung telpon ibu," jelas Tristan yang mendengar perbincangan Kirana dan ibunya.


__ADS_2