Tulang Rusuk Pengganti

Tulang Rusuk Pengganti
67. Perbincangan Di Meja Makan


__ADS_3

"Kamu nggak mau babymoon ke mana gitu?" tanya Tristan saat mereka bersiap pergi ke dokter untuk memeriksa kandungan Kirana yang sudah berusia tujuh bulan. Tapi sebelumnya, Kirana harus ikut ke kantor karena ada meeting penting yang tidak bisa ditinggalkan.


"Nggak lah, Mas. Mager. Bawa badan aja udah susah."


Berat badan Kirana naik 15 kilo. Tubuhnya yang tidak seberapa tinggi bertambah bulat. Terkadang dia merasa insecure. Jika nanti setelah melahirkan bobot tubuhnya tidak bisa kembali normal, apakah suaminya masih akan memujinya.


Bagaimana pun bentuk tubuhmu, kamu tetap cantik di mataku. Kalimat itu hanya seperti sebuah ungkapan untuk menghibur Kirana. Agar dia tetap bahagia menjalani kehamilannya.


"Mikirin apa? Hmm?" Tristan memeluk Kirana dari belakang. Perempuan itu pun menggeleng. Dia kembali menatap cermin untuk merapikan kerudungnya kemudian menguncinya dengan bros.


"Ayo! Mama sama Mentari pasti sudah menunggu." Kirana mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja.


Sejak sebulan lalu, Kirana tidak perlu lagi mengurus Mentari setiap pagi untuk berangkat sekolah. Mereka telah mempekerjakan seorang ART. Karena Tristan tidak tega melihat Kirana yang kepayahan dengan semua keriwehan setiap paginya. Dengan alasan kesehatan Kirana dan calon adiknya, Mentari pun menurut. Dibantu Nining, ART baru mereka untuk menyiapkan keperluan sekolah.


Mereka juga masih tinggal di rumah utama atas permintaan Kirana. Dia yang mengerti kehampaan ibu mertuanya, meminta pada Tristan untuk menemani Bu Ratih menghabiskan masa tuanya di rumah itu.


"Hari ini jadi periksa, Wi? tanya Bu Ratih saat mereka tiba di meja makan.


"Jadi, Ma. Tapi ke kantor Mas Tris dulu." Kirana menarik sebuah kursi.

__ADS_1


Bu Ratih mengangguk paham. Lalu berdehem pelan. "Sebenarnya Mama penasaran sama cucu Mama yang kedua nanti cewek apa cowok. Tapi kalau kamu mau menjadikannya kejutan saat melahirkan nanti, ya….nggak masalah," ungkap ibu mertua Kirana.


"Mentari juga ingin tahu," timpal bocah yang duduk di sebelah Bu Ratih.


"Papa juga." Tristan mengimbuhi.


Kirana menatap mereka bergantian.


Sejauh ini dia memang sengaja tidak ingin tahu apa gender calon anaknya nanti. Bahkan dia ingin tahu langsung saat melahirkan nanti.


Namun pagi ini, permintaan tiga orang terdekatnya membuatnya gundah. Terlebih menatap wajah Tristan. Suaminya itu begitu mengingin anak laki-laki. Kirana takut membuat kecewa jika anak yang tengah dikandungnya ternyata perempuan. Meski Tristan sudah mengatakan tidak akan mempermasalahkannya.


Dari ucapannya, Kirana pun menyimpulkan jika keinginan ibu mertuanya sama dengan Tristan.


"Tapi Mentari maunya cewek, Oma." Mentari tidak mau kalah.


"Kita belum tahu, Sayang. Mau adiknya cewek atau cowok, Mentari harus tetap sayang," tutur Bu Ratih pada cucunya.


Mereka pun menyudahi perbincangan. Menghabiskan sarapan masing-masing karena jarum jam terus berputar. Mentari harus segera ke sekolah dan Tristan yang dikejar jadwal meeting.

__ADS_1


Tristan mengambil kursi roda yang beberapa minggu masukkan ke gudang karena dia sudah tidak memakainya lagi.


"Kok bawa kursi roda, Mas?" tanya Kirana heran.


"Buat kamu. Katanya kamu susah bawa badan kamu."


"Nggak perlu, Mas. Kalau masih jalan dekat-dekat masih bisa lah. Cuma kalau harus ke luar kota seperti tawaranmu tadi, enggak sekarang. Lain kali saja kalau bayi udah lahir," ujar Kirana lalu meminta Tristan mengembalikan kursi roda itu.


"Yah, nggak bisa pacaran kalau bawa bayi." Tristan menggerutu sembari membawa kursi roda itu untuk dikembalikan ke gudang.


Mereka pun berangkat bersama mengantar Mentari lebih dulu ke sekolah. Kemudian menuju kantor Tristan yang jaraknya lebih jauh jika ditempuh dari rumah utama.


Sepanjang jalan, Kirana melepas pandangannya ke jalanan. Tanpa mengajak Tristan bicara.


"Kepikiran ucapan Mama?" tanya Tristan memecah keheningan. Kirana pun mengangguk pelan.


"Nggak usah dijadikan beban, Sayang. Mama kan nggak maksa. Kalau kamu memang belum mau tahu sekarang, mau nunggu setelah lahir nggak jadi masalah."


Kirana masih terdiam. Karena baginya yang menjadi masalah adalah ketika gender anaknya nanti tidak sesuai ekspektasi suaminya.

__ADS_1


__ADS_2