
Merasa jenuh harus menunggu Tristan di ruang kerjanya, Kirana menghampiri meja Nabila. Asisten suaminya itu sedang sibuk dengan tumpukan berkas di mejanya. Namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa jenuh.
Nabila ternyata tidak berubah. Dia tidak pernah merasa terbebani dengan segala sesuatu yang menjadi tugasnya. Jika dulu Nabila tidak pernah keberatan dibebani dengan banyaknya tugas kegiatan kampus, saat ini Nabila pun terlihat enjoy meski pekerjaannya menumpuk. Dia terlihat sangat menikmati hidupnya.
"Hai, Na! Bosan di dalam?"
Kirana mengangguk lesu. "Meetingnya kapan selesai, Bil?" tanyanya kemudian.
"Ya ampun! Baru juga setengah jam."
Setengah jam yang baru dilalui Kirana untuk menunggu Tristan selesai rapat. Entah berapa lama. Namun Kirana merasa sudah menghabiskan banyak waktunya di dalam ruang kerja suaminya.
"Meeting sama siapa sih, Bil? Kok kamu nggak ikut?"
"Sama anak-anak marketing. Penjualan lagi menurun. Pasti dia lagi bertanduk tuh di ruang meeting."
Kirana mengernyit. Dia memang tidak tahu seberapa killer suaminya jika sedang di kantor. Yang dia tahu, Tristan saat memecat langsung dua karyawan yang dulu kedapatan tengah menggunjingnya.
"Emang Mas Tris galak ya kalau di kantor?"
"Nana ….Nana…. Masak nggak tahu kalau suamimu itu kulkas sepuluh pintu. Jangan ditanya lah kalau lagi marah seperti apa."
"Iya, sih. Tapi sekarang freonnya udah habis.,"
Nabila pun terkekeh. "Berarti dia ngisi freon dulu kalau berangkat ke kantor," selorohnya yang dibalas senyum tipis oleh Kirana.
__ADS_1
Kirana mengetuk-ngetukkan ujung kukunya seirama dengan detak jarum jam. Semakin ditunggu, rasanya semakin lama. Kirana pun iseng membuka gawainya. Menggeser-geser layar tanpa tau tujuan. Karena keinginannya untuk aktif di media sosial pun sekarang sudah berkurang. Kirana merasakan malas semalas-malasnya saat perutnya kini sudah terlihat besar.
"Bil, kamu tahu nggak? Cewek ideal menurut Mas Tris yang gimana?"
Pertanyaan itu membuat Nabila menghentikan pekerjaannya.
"Ada nggak pertanyaan yang lebih aneh dari itu?" sahut Nabila. "Kamu itu udah jadi istrinya Bang Tristan. Bukan lagi mau pedekate. Ngapain nanya cewek ideal menurut dia?"
"Ya…ingin tahu aja. Kamu kan tahu, aku nikah sama dia karena apa?"
Nabila pun mendesah pelan. "Ok. Aku kasih tahu. Bang Tristan itu sukanya cewek bohay. Yang banyak tonjolannya tapi bukan lemak di perut. Kamu pernah lihat foto istri pertamanya, kan?"
Kirana mengingat postur tubuh Elita. Yang memiliki dada yang cukup besar dan badannya yang berisi namun tidak tergolong gemuk. Mungkin karena tubuh Elita yang tinggi jadi terlihat menarik. Sedang dia apa kabar?
"Sorry kalau kamu insecure karena kamu lagi gendutan sekarang. Tapi saran gue, habis melahirkan kamu jangan diet, Na. Hanya butuh menurunkan sedikit berat badan. Jangan terlalu kerempeng kayak kamu waktu baru nikah dulu. Bang Tristan nggak nafsu lihat cewek krempeng."
Beberapa lama mengganggu waktu kerja Nabila, orang yang ditunggunya datang dengan senyum lebar. Sepertinya dugaan Nabila jika Tristan marah di ruang meeting tidak benar. Wajah pria itu tidak menunjukkan jika dia baru saja meluapkan rasa marahnya.
Kirana mengambil tasnya setelah Tristan mengajaknya ke rumah sakit saat itu juga.
"Aku duluan ya, Bil."
"Ya, jangan lupa pulangnya beliin makan siang. Titipin, Bang Tristan."
"Iya." Begitu mudahnya menyuap Nabila. Hanya dengan traktiran makanan, semua curhatannya dijamin tidak akan bocor ke telinga Tristan.
__ADS_1
Tristan mengendarai mobilnya menuju ke sebuah rumah sakit yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Selain memeriksakan kandungan, mereka juga akan survei kamar untuk persiapan melahirkan nanti.
"Mas, aku kayak gajah bengkak nggak, sih?"
Tristan mendesah kasar. Pertanyaan itu sudah dilontarkan Kirana tiga kali pagi ini. Tidak terhitung kemarin dan sebelum-sebelumnya. Dia pun bingung harus menjawab apa. Jika mengatakan sesuai fakta, maka sudah pasti dia akan didiamkan lagi oleh Kirana.
"Wajarlah namanya juga sedang hamil. Kamu kenapa jadi nggak percaya diri gitu, sih? Nanti kalau anak kita sudah lahir kan bisa diatur makannya," sahut Tristan akhirnya.
Tristan memang melarang Kirana untuk mengurangi porsi makan. Selama masih dalam batasan normal menurut yang dia tahu. Karena ini bukan pertama kalinya dia menghadapi kehamilan istrinya.
Mobil pun berhenti di parkiran rumah sakit. Kirana menolak saat Tristan menawarkan kursi roda untuknya. Dia ingin melawan rasa malasnya.
Setelah mengantongi nomor antrian, mereka menunggu di poli kandungan. Tatapan Kirana tertuju pada wanita berambut gelombang yang duduk sendiri di kursi tunggu.
"Mas, itu bukannya Silvia, ya?"
Tristan pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Kirana. Dia menggandeng tangan istrinya menuju bangku kosong yang ada di samping Silvia.
"Sil!" sapa Tristan sambil menjatuhkan diri di kursi.
Silvia pun mendongak. "Eh, Mas, Kirana?"
Kirana mengangguk mendengar Silvia menyebut namanya untuk pertama kali.
"Sendirian? Lucky mana?"
__ADS_1
Silvia terdiam. Terlihat ragu akan menjawab pertanyaan Tristan. Wajah wanita itu pun mendadak sendu meski sedang berusaha ditutupi dengan senyuman.