
Seberapa pun beratnyai, pada akhirnya perpisahan itu tetap terjadi. Kirana harus kembali meninggalkan kampung halamannya. Kembali ke rumah suaminya sebagai rumah yang sesungguhnya sekarang.
Setelah menghabiskan waktu hampir sepuluh jam di perjalanan, mereka tiba di Ibukota.
"Kita singgah ke rumah Mama dulu, ya"
Kirana mengangguk. Sejak Tristan mengambil arah yang berbeda dari arah rumahnya, Kirana sudah mengira jika mereka akan singgah di rumah ibu mertuanya.
Mereka tiba di sebuah rumah dua lantai yang menjadi tempat bersejarah bagi pernikahan mereka berdua. Rumah yang megah dan besar namun terlihat sepi.
Kirana menekan bel perlahan. Beberapa saat kemudian, pintu setinggi dua meter itu pun terbuka.
"Nana?" Bu Ratih seolah tak percaya ketika melihat Kirana berdiri di depan pintu. Bahkan wanita itu samapi membetulkan letak kacamatanya.
Merka sengaja memberi kejutan untuk Mentari dan omanya. Sehingga Tristan meminta Kirana untuk merahasian kedatangan mereka.
"Kalian benar-benar, ya?!"sambut Bu Ratih saat melihat Tristan membawa koper.
Kirana tersenyum melihat raut wajah ibu mertuanya yang maaih terkejut.
"Apa kabar, Ma?" Kirana membalas dekapan ibu mertuanya.
"Alhamdulilah. Kamu dan cucu Mama sehat, kan?"
Kirana tersenyum mengangguk kala ibu mertuanya mengusap perutnya.
Mereka beriringan masuk ke dalam rumah. Mentari yang terlihat baru saja selesai mandi memekik melihat kedatangan Kirana dan juga papanya.
"Bunda!" gadis kecil itu menghambur le arah Kirana.
"Mentari, perut Bunda ada adik bayinya .Sini gendong Papa!" Tristan mengulurkan kedua tangannya saat Mentari meminta untuk digendong oleh Kirana.
Seolah mengerti Mentari tidak lagi meminta untuk digendong. Dia mengusap perut buncit Kirana dengan rasa penasaran. Bahkan meminta Kirana untuk segera duduk agar dia bisa memeluk mencium calon adiknya yang masih ada di dalam perut.
Pertanyaan-pertanyaan polos ala anak kecil pun terlontar dari mulut Mentari. Hingga ketiga orang dewasa itu kesulitan menjawab dan sesekali tergelak oleh celotehannya.
"Bunda nanti adiknya cewek aja, ya? Kalau cowok nanti nakal, kayak Denis." celetuknya.
Kirana pun terkekeh saat Mentari menyebut salah satu teman yang dulu suka merundungnya.
"Kalau besok adiknya cowok, Kakak Mentari harus ajarin adik supaya jadi anak yang baik," sahut Kirana.
__ADS_1
Setelah berbincang sebentar, Bu Ratih meminta Kirana untuk beristirahat di salah satu kamar. Kamar yang dulu pernah disiapkan untuk Tristan dan Kirana.
Namun sepertinya Kirana tidak bisa benar-benar istirahat karena Mentari terus saja membuntutinya. Rasa rindunya belum terobati setelah 2 bulan terpisah. Dan Kirana sama sekali tidak keberatan saat Mentari memaksa ingin ikut masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Tristan sengaja ditahan mamanya di ruang tengah. Sejak masuk tapi, dia seperti diabaikan oleh mamanya. Sikapnya masih dingin seperti saat terakhir kali bertemu.
"Ikut Mama ke atas!" titah sang mama.
Tristan pun beranjak mengikuti langkah mamanya ke lantai dua.masuk ke sebuah ruangan yang dulu dipakai untuk ruang kerja oleh mendiang ayahnya
Hawa dingin menyergap meski pendingin ruang itu tidak dinyalakan. Tristan menghempaskan diri di kursi yang ada di depan meja.
Sedangkan Bu Ratih tetap berdiri menatap intens ke arah Tristan.
"Apa yang sedang kamu rencanakan?" Bu Ratih menodong putranya dengan pertanyaan yang membuat Tristan mengerutkan dahi.
"Maksud Mama?".
"Kamu sengaja berdamai dengan Kirana dan membawanya ke mari untuk mengambil hati Mama, bukan?"
"Ma, Kirana itu istri saya. Tentu saja saya akan membawa dia tinggal bersama," sahutnya kemudian.
Senyum remeh pun terbit di bibir wanita paruh baya itu. "Kamu pikir Mama tidak tahu kalau Kirana sedang berencana menggugat cerai kamu? Apa yang kau lakukan sampai dia secepat inj kembali luluh?"
"Untuk apa? Untuk kamu sakiti lagi? Biarkan dia di sini. Bersenang-senanglah dengan perempuan tidak tahu diri itu!"
Tristan mendesah kasar. "Kalau Mama begitu membenci Silvia, kenapa masih mempertahankan dia? Bukankah Mama sudah mengancam akan memecatnya?"
"Tidak semudah itu. Hatimu yang seperti malaikat penolong untuknya itu tentu tidak akan membiarkan dia menderita karena tidak punya pekerjaan. Dan hidupnya akan bergantung sepenuhnya sama kamu."
Tristan pun beranjak dari duduknya. "Saya akan menerima konsekuensi paling berat sekalipun jika sampai itu terjadi," pungkasnya.
Tristan mengayun langkah keluar dari ruangan itu. Meninggalkan mamanya yang masih mematung di tempatnya.
Dia masuk ke dalam kamar yang dipakai oleh Kirana. Istrinya Itu terlihat sedang bercengkerama dengan putrinya.
Seolah tidak terjadi sesuatu, Tristan mengukir senyum di wajahnya.
"Kita pulang sekarang, ya?"ajaknya.
"Katanya kita mau menginap di sini?" sahut Kirana heran.
__ADS_1
Meski diliputi tanda tanya, Kirana pun beringsut dari tempat tidur saat Tristan menyeret koper mereka. Dia menggandeng Mentari keluar dari kamar mengikuti langkah Tristan.
"Mas, kita nggak pamit sama Mama?" tanya Kirana saat melihat Tristan menarik koper tanpa mempedulikan siapa pun.
"Saya sudah. Kamu sama Mentari saja. Mama ada di ruang kerja Papa."
Keanehan pun kembali ditunjukkan oleh Tristan. Namun Kirana sedang tidak ingin banyak tanya. Sedikitnya Kirana tahu, Tristan tidak suka dicecar untuk masalah tertentu. Apalagi jdia mencium aroma perseteruan antara Tristan dan mamanya.
Kiran pun mengajak Mentari naik ke lantai dua. Di dalam ruangan yang ditunjuk Tristan, dia mendapati ibu mertuanya tengah termenung. Kirana bahkan segan untuk sekedar menyapa.
"Kalian mau pulang?" tanya wanita yang tengah duduk di kursi kerja itu dengan wajah datar.
"Iya, Ma. Mas Tristan mengajak kami pulang. Maaf, malam ini kami tidak jadi menginap di sini." sesal Kirana. Dia sangat mengerti jika ibu mertuanya tentu sangat kesepian. Menempati rumah sebesar itu hanya ditemani Bi Elis dan Pak Cip.
"Mama ingin bicara denganmu. Sebentar."
Kirana pun mengangguk. "Baik, Ma," jawabnya. Lalu meminta Mentari untuk menemui Tristan terlebih dulu.
Keheningan kembali terjadi. Kirana duduk di kursi berhadapan dengan ibu mertuanya. Hatinya gusar menunggu ibu mertuanya bicara. Namun wanita itu masih saja diam. Hembusan kasar pun terdengar.
"Kirana, Mama sangat bahagia jika kamu akhirnya mengubah keputusanmu dan memilih untuk tetap menjadi menantu. Mama. Terapi Mama ingin tahu alasan kamu berubah pikiran. Apa yang Tristan janjikan untukmu?" Pertanyaan itu membuat Kirana diam untuk beberapa saat.
"Saya tidak ingin cucu Mama tumbuh dakma keluarga yang tidak utuh. Mas Tristan juga tidak pernah menjanjikan apa-apa. Saya memutuskan untuk berdamai dengan Mas Tristan demi anak kami."
"Itu saja?"
Kirana menggeleng. "Mas Tristan sudah banyak berubah."
"Dan kamu benar-benar sudah jatuh hati padanya?" Pertanyaan itu membuat Kirana tersipu.
Bu Ratih pun tersenyum remeh. "Ternyata kamu bucin juga," godanya yang semakin membuat Kirana merona.
"Kirana, meskipun Tristan anak Mama, tapi jika dia kembali menyakitimu jangan sungkan untuk memberitahu Mama. Mama akan pasang badan untuk kamu."
Kirana merasa terharu dengan ucapan ibu mertuanya bahkan kasih sayang untuknya melebihi sayang pada anaknya sendiri. Dia juga tidak bisa menepis rasa kagumnya pada wanita itu, sikapnya sangat lembut, namun ada kalanya ketegasannya mampu membuat siapa pun merasa segan.
Kirana pun berpamitan setelan ibu mertuanya memperbolehkan dia keluar dari ruangan itu. Sosok Tristan dan Mentari sudah tidak ditemuinya di dalam rumah. Mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil dan menunggu Kirana.
Sepanjang perjalanan, keduanya tidak saling membuka mulut. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Suasana semakin hening karena Mentari telah terlelap sejak mereka mulai meninggalkan rumah utama.
"Mas, kita beli makan dulu, ya?" ujar kirana memecah keheningan.
__ADS_1
"Delivery saja." Jawaban singkat itu membuat Kirana kembali terdiam.